Arakata

Arakata
Angkatan delapan beraksi


__ADS_3

Persaudaraan tak hanya tentang ikatan darah. Keterikatan untuk saling melindungi itulah yang menjadikan kata persaudaraan itu ada.


***


Setelah pulang dari rumah Rahmad, Asel langsung kembali ke rumahnya. Pemuda itu masuk ke dalam kamar kakaknya. Kamar itu masih kamar yang sama, kamar yang berisi banyak foto kebersamaannya dengan sang kakak.


Akhir-akhir ini Restu jarang pulang ke ruamah. Entah, kemana pemuda itu tinggal.


"Gue mau jadi fotografer," ucap Restu kala itu, saat mereka masih sering bersama. "Gue mau mengabadikan semua momen-momen spesial. Gue mau menangkap kebersamaan sebuah kenangan dalam selembar foto. Dengan begitu, walau kita udah berpisah dengan orang yang kita sayang, kenangan akan selalu ada."


Asel mengambil sebuah figura kecil di nakas, figura itu berisi foto keluarganya. Foto yang diambil saat mereka berempat sedang berlibur di pantai.


"Bang, gue gak mau hidup hanya dengan kenangan lo," ucap Asel sembari mengusap figura foto tersebut. "Gue mau hidup dengan elo yang ada di sisi gue. Gue mau kita ngumpul lagi berempat kayak dulu, Bang. Elo abang terbaik gue, dan hal itu gak akan berubah." Tubuh Asel bergetar, pemuda yang biasanya selengek'an itu kini terlihat rapuh. Air bening menetes dari netra tajamnya.


Tanpa Asel sadari, ada seseorang yang mengintipnya dari luar pintu kamar.


"Gue sayang sama elo, Dek. Melebihi rasa sayang ke diri gue sendiri, jaga diri lo baik-baik." Setelah mengatakan itu, orang tersebut kembali pergi dari sana.


***


Kediaman Laksmono malam ini kembali rame, penuh dengan pemuda-pemuda tampan milik Arakata dan Rajawali.


"Gue gak bisa tinggal diam, mereka udah ngacak-ngacak markas Rajawali," ucap Choky yang mulai tersulut amarah.


Sore hari tadi The Drugs yang dipimpin Restu mencari masalah dengan menyerang markas Rajawali. Hal itu membuat mantan pentolan Rajawali itu menjadi tersulut emosi.


"Gue belum puas sebelum bikin si Restu itu babak belur." Rahang Choky mengeras, jelas terlihat ada emosi yang memuncak di sana.


"Tenang, Chok," ucap Elang berusaha meredakan emosi Choky. "Amarah gak akan menyelesaikan apapun."


"Bang, maaf kalau kesannya gue egois," ucap Asel mulai angkat bicara. "Gue tahu apa yang dilakuin abang gue itu udah keterlaluan. Tapi gue mohon, biar gue dan Arakata angkatan delapan yang ngurus semua ini. Kalau setelah ini, Bang Restu masih buat ulah, gue yang bakalan tanggung jawab, Bang."


"Oke, gue bakal serahin tuh geng songong ke elo. Tapi kalau sampai mereka bikin rusuh lagi, elo yang bakalan gue cari," jawab Choky yang langsung mendapat anggukkan kepala dari panglima perang Arakata angkatan delapan itu.


"Ini penampilan perdana kalian tanpa Arakata angkatan tujuh, kan?" tanya Valerie, "gue harap elo semua bisa redam emosi dan jangan termakan amarah."


"Gak ada yang lebih penting dari keselamatan semua anggota," ucap Elang ikut menimpali.


"Awas aja kalau kalian sampai bikin masalah hukum," ujar Roxy, "gue semen satu-satu entar."


"Tapi gue heran deh, Bang. Baru kali ini lho gue nemuin ada geng yang taat hukum, mau perang aja pakai diajak diskusi dulu lawannya. Kalau geng lainnya mah, kalau ada yang nantang ... langsung aja sikat!"


Valerie dan sahabat-sahabatnya terkekeh mendengar penuturan Abdul.


"Itulah Arakata," jawab Valerie, "Arakata melindungi, bukan menyakiti."


"Mau juga dong dilindungi Kak Eri," ucap Gema sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Valerie.

__ADS_1


"Gue gaplok lo, ya!" omel Elang yang langsung menarik tubuh Valerie dalam dekapannya.


"Ck, posesif," gerutu Gema, "baru aja mau gue peluk, udah langsung di dekepin. Coba kalau mau gue cium, udah langsung dikarungin pasti."


"Buruan pada berangkat sana!" teriak Elang, "awas aja kalau kalian sampai kalah, gue kebiri satu-satu!"


"Jangan, Bang. Kalau dikebiri entar gak bisa jadi imamnya Kak Eri!" seru Gema sambil berlari keluar rumah. Pemuda itu langsung naik motornya diikuti oleh teman-temannya yang lain.


"Adek lo yang dulu gemesin, kenapa sekarang jadi ngeselin sih, Ga ...," keluh Elang pada sahabatnya.


"Tanya sama Bagus, noh!" jawab Gema sambil menunjuk Bagus dengan dagunya.


"Kenapa jadi tanya gue," gerutu Bagus tidak terima.


"Semenjak sembuh dari sakit, dia sering bergaul sama elo. Bahkan sering nginep di rumah, Lo. Lo ajarin apa aja?"


"Hehehe ...," Bagus menjawab pertanyaan Gaung dengan kekehan. "Kalau rumah lo isinya orang kaku modelan elo semua, bisa kayak kuburan, senyap. Jadi dengan adanya Gema yang bobrok, bisa netralisir semua."


Jawaban ngawur Bagus tersebut jelas mendapat hadiah tatapan tajam dari Gaung.


***


"Sel, elo beneran mau ngelakuin ini?" tanya Rahmad, mereka telah berada di depan markas The Drugs.


"iya," jawab Asel dengan yakin. "Daripada kita nunggu mereka di jalanan, mending kita duluan yang nyamperin. Kita datang ke markas The Drugs bukan untuk cari masalah, tapi menyelesaikan masalah."


"Apa, Mad?"


"Tolong balikin sahabat gue kayak dulu lagi,gue rindu dia yang dulu," tutur Rahmad dengan sendu.


"Bukan elo aja yang pengen Bang Restu balik kayak dulu, gue juga mau abang gue itu bisa balik jadi Bang Restu yang sayang sama keluarga dan sahabat-sahabatnya lagi," lirih Asel, kepalanya tertunduk.


"Gue percaya lo pasti bisa," ucap Gema yang menyemangati Asel.


"Iya, kita bakalan selalu ada untuk dukung lo," ujar Rama.


Asel tersenyum mendengar penuturan sahabat-sahabatnya, ia sangat beruntung karena memiliki orang-orang yang menyayanginya dan akan selalu ada untuknya.


"Kalau begitu, ayo kita masuk. Jangan buat mereka terlalu lama menunggu!" seru Asel sambil mengangkat tangan kanannya.


Mereka mulai melangkahkan kaki, masuk ke dalam markas The Drugs dengan Gema dan Asel yang berada di barisan paling depan.


"Assalamu'alaikum, selamat malam saudara-saudara semua," salam Gema begitu masuk ke dalam markas The Drugs. Jangan tanya kenapa mereka bisa mudah masuk ke sana, jawabannya ya karena ada Rahmad yang notabenenya ketua The Drugs bersama mereka.


"Wa'alaikumsallam, woah ... The Drugs kedatangan tamu," sahut Restu, "ada pak ketua juga ternyata. Udah jadi peliharaannya Arakata nih, Pak?" Restu tersenyum miring, sengaja menyulut emosi Rahmad. Namun, pemuda itu tetap bersikap santai.


"Bukan peliharaan," sahut Rahmad santai. "Lebih tepatnya, gue udah jadi bagian dari keluarga Arakata. Mereka saudara gue."

__ADS_1


"Saudara? Ngomong-ngomong soal saudara, ada adek gue juga nih." Restu menatap Asel, jelas terlihat ada rindu pada sorot matanya. Namun, ia segera mengalihkannya. "Ada keperluan apa, sehingga para petinggi Arakata datang kemari?"


"Elo pura-pura lupa atau memang daya ingat lo yang payah?" tanya Gema, pemuda itu melangkahkan kakinya mendekat pada Restu.


"Bisa dua-duanya, mungkin ...," jawab Restu, pemuda itu mengangkat kedua bahunya, pertanda ia tidak peduli.


"Restu Adetama Akbar, wakil ketua The Drugs yang mencoba menggulingkan posisi ketuanya," lanjut Gema, "berusaha merajai jalanan, melakukan banyak tindakan semena-mena, bahkan baru saja berbuat onar di markas Rajawali. Entah elo gak hati-hati atau elo memang sengaja melakukan semua hal itu dengan terang-terangan."


Restu terdiam, apa yang disampaikan Gema menohoknya.


"Gue rasa, orang secerdas dan sekuat elo gak akan mungkin melakukan hal dengan sembarangan. Dan sepak terjang lo beberapa hari ini, seakan menunjukkan kalau lo itu terang-terangan bikin semua orang agar nyerang elo. Hal itu terjadi karena elo kurang perhitungan atau elo memang sengaja cari mati."


"Banyak omong!" bentak Restu, "serang!" Restu mengangkat tangannya, mengomando anggotanya untuk mulai menyerang.


Anggota The Drugs dari kubu Restu mulai menyerang, Gema dan pasukannya pun mulai meladeni apa yang diinginkan sang tuan rumah. Restu dengan cekatan menyerang Gema dengan tendangan dan pukulan, tapi Gema juga bisa menghindarinya dengan gesit.


Gema mengangkap tangan restu yang akan memukul wajahnya. Pemuda itu membuka genggaman tangan Restu dan menarik jari telunjuknya, diarahkannya jari telunjuk itu ke hidungnya yang bangir ... ia gunakan jari telunjuk Restu untuk ngupil.


"Anjir! Jorok lo!" teriak Restu histeris, yang membuat Gema terbahak senang. Bukan Gema namanya kalau gak usil, benar-benar didikan Bagus Setya Aji.


Restu menarik tangannya, dia usapkan jarinya pada jaket yang dikenakannya sambil meringis jijik.


"Hebat kan jurus gue, bisa buat lo teriak histeris," ujar Gema dengan tampang tengilnya. "Spiderman aja kalau lihat jurus gue tadi, pasti mohon-mohon buat jadi murid gue."


"Brengsek!" umpat Restu sambil menendang perut Gema, tapi tentu saja bisa dihindari oleh adik Gaung itu.


Netra tajam Restu tidak sengaja melihat anak buahnya yang sudah terkapar dengan posisi diduduki oleh Abdul. Pemuda malang itu berteriak karena bulu kakinya dicabutin oleh Abdul.


Restu mengarahkan pandangannya lagi ke sudut yang lain, di sana dia melihat anak buahnya yang lain sedang terkapar juga dengan kedaan yang lebih mengenaskan dari anak buahnya yang tadi. Pemuda itu terduduk dengan tangan yang dipegang ke belakang oleh Rama, dan rambutnya yang agak gondrong di kuncir kecil-kecil oleh Hasan.


"Untung gue tadi sempat minta karet kuncir ke adek gue," ucap Hasan sambil tetap melakukan kegiatannya.


Diseberangnya, Restu melihat Asel yang mengeluarkan se-pack kartu dari saku jaketnya. Adiknya itu mengambil selembar kartu, kebetulan kartu yang diambilnya adalah jocker hitam.


"Buat apa lo bawa-bawa kartu?" tanya salah satu anggota The Drugs sambil tersenyum meremehkan.


"Hati-hati sama dia!" seru Restu, "kartu itu bisa jadi setajam pisau jika ada di tangannya. Hindari serangannya, kalau lo gak mau kepala lo putus!"


Restu tahu pasti, bahwa Asel mahir menggunakan selembar kartu sebagai senjatanya. Selembar kartu itu bisa menancap dalam pada objek yang diincar Asel, Restu sudah seringkali melihatnya.


Wajah anngota The Drugs yang diperingatkan Restu itu menjadi pucat, ia melangkah mundur. Asel mengapit selembar kartu jocker itu pada jari telunjuk dan jari tengahnya. Asel semakin menarik jarinya kebelakang, seperti melakukan ancang-ancang. Begitu jari Asel semakin terarah ke depan, anggota The Drugs itu memejamkan matanya, merasa takut dan ngeri.


"Nih, kartu buat lo, ini buat gue, ini buat lo lagi, yang ini buat gue lagi," ucap Asel sambil membagi kartu. Asel menarik tangan lawannya itu agar duduk di lantai. "Kita main cangkul dulu, yang kalah entar wajahnya di coret bedak. San, gue minta bedak, woe!" Asel berteriak memanggil sahabatnya.


"Nih." Hasan melemparkan bedak bayi berwarna pink pada Asel. "Jangan dihabisin entar emak gue nyariin, bedaknya adek gue tuh."


Restu melongo karenanya. Tadinya ia berpikir bahwa Asel akan menggunakan kartu yang dibawanya sebagai senjata untuk menghabisi angota-anggotanya. Ternyata adiknya itu malah ....

__ADS_1


Perang macam ini! Satu kata itu yang ada di benak semua anggota The Drugs.


__ADS_2