
Masa itu, masa yang tidak akan pernah kami lupakan. Masa di mana hanya canda dan tawa yang kami rasakan, masa di mana kami masih anak-anak.
***
Flashback on
"Wua! Adek ... buang," ucap Gerry. Bocah berusia sembilan tahun itu menangis histeris karena perbuatan sang adik.
"Jangan dibuang, Bang. Ini lucu tau, nih lihat." Valerie memperlihatkan seekor cacing di telapak tangannya yang mungil, cacing itu menggeliat-geliat. "Cacingnya goyang, Bang ...," Wajah gadis itu terlihat gembira, sangat kontras dengan wajah sang abang yang ketakutan.
"Buang, Dek. Wuaaa!" jerit Gerry sambil berlari, tapi Valerie malah semakin bersemangat mengejarnya.
Karena ia berlari sambil melihat ke belakang, ia jadi menubruk tubuh Bayu yang berada di hadapannya.
"Gerry, kenapa lari-larian sih? Air minum abang jadi tumpah, kan!" tegur Bayu, baju pemuda yang berusia enam belas tahun itu basah karena tumpahan air minum.
"Adek noh, Bang. Ngejar aku sambil bawa begituan," sahut Gerry membela diri.
"Begituan?" tanya Bayu, dahinya berkerut bingung. "Adek, coba abang lihat sini, adek bawa apaan." Bayu memajukan tangan kanannya, meminta sesuatu yang dipegang adik bungsunya itu, yang kata Gerry begituan.
Valerie membuka telapak tangannya yang menggenggam. Bola mata Bayu membelalak, melihat cacing yang menggeliat di telapak tangan mungil adiknya itu.
"Adek, dari mana dapat cacing itu?" tanya Bayu dengan lembut.
"Bang Tama sama Bang Rey yang ngasih Eri cacing lucu ini, Bang," jawab Valerie sambil menunjuk kedua abangnnya yang tertawa puas. "Eri diminta buat ngasih cacing ini ke Bang Gerry."
Bayu memandang kedua adiknya yang masih menahan sisa tawa mereka.
"Tama, Rey ... kemari." Bayu melambaikan tangannya, meminta kedua adiknya itu untuk mendekat.
Pemuda yang berusia empat belas dan dua belas tahun itu mendekat dengan lesu, takut jika dimarahi oleh kakak sulungnya itu.
"Kenapa kalian melakukan itu?" tanya Bayu lagi.
"Lucu aja, Bang ... lihat Gerry dikejar-kejar adek," jawab Pratama.
"Biar Gerry lebih akrab sama cacing, Bang," lanjut Reyhan ikut menimpali. "Dengan begitu kan, Gerry gak takut sama cacing lagi."
Laksmono melihat interaksi kelima anaknya dari luar pintu rumah, dia sedang berbincang dengan Garindra.
"Gak lo pisah tuh anak-anak, Lo?" tanya Garindra.
Laksmono menggeleng sambil tersenyum.
"Gue yakin, Bayu bisa ngatasin adik-adiknya," jawab Laksmono.
"Kalian kira nakut-nakutin adek kalian itu sebuah tindakan yang lucu? Pakai manfaatin Eri segala."
"Enggak, Bang," jawab Pratama dan Reyhan bersamaan.
"Kami hanya bercanda," ucap Pratama sambil menunduk. Jika abang sulung mereka itu sudah dalam mode serius begini, gak ada yang berani melawan.
"Tama, Reyhan ... kalian kan tahu kalau Gerry itu phobia sama cacing. Kalau kalian takut-takutin terus, phobia Gerry malah akan semakin parah. Kalian mau kalau Gerry ketakutan sama cacing terus?"
Pratama dan Reyhan menggelengkan kepala. Gerry masih sesenggukkan, sedangkan Valerie hanya memandang abang-abangnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Abang gak ngelarang kalian buat bercanda, tapi juga tahu batasan. Paham?"
Pratama dan Reyhan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bayu.
"Kenapa abang marah?" tanya Valerie, memandang Bayu dengan mata bulatnya.
Bayu berjongkok, agar tingginya sejajar dengan Valerie.
"Bang Gerry takut sama cacing, kalau Eri ngejar Bang Gerry sambil bawa-bawa cacing, Bang Gerry bakal semakin ketakutan. Eri mau kalau Bang Gerry ketakutan?"
Gadis mungil itu menggelengkan kepala, kemudian ia memandang Gerry yang masih mengusap sisa-sisa air matanya.
"Cacing masuk tanah lagi, ya. Bang Gerry takut," ucap Valerie sambil meletakkan cacing yang dipegangnya kembali ke tanah. Gadis itu melangkahkan kaki mungilnya ke arah sang kakak. "Bang Gerry, Eri minta maaf. Eri gak tahu kalau Bang Gerry takut cacing." Valerie mengusap air mata Gerry, padahal telapak tangan mungilnya kotor terkena tanah. Jadilah wajah Gerry cemong dengan tanah.
"Abang juga minta maaf, Ger," ucap Pratama dan Reyhan bergantian.
Gerry mengangguk sambil tersenyum. Membuat keempat saudaranya menjadi lega.
Saat Gerry berusia lima tahun, ada beberapa temannya yang suka menjahilinya. Puncaknya, saat ia mendapati kotak makanannya penuh dengan cacing. Cacing-cacing itu menutupi nasi goreng yang dibuatkan sang bunda sebagai bekal. Sejak saat itu, Gerry menjadi takut jika melihat cacing.
"Hebat juga anak sulung, Lo," ucap Garindra, "cara berpikirnya bijaksana. Bisa memimpin adik-adiknya."
"Calon pemimpin perusahaan gue, tuh," sahut Laksmono bangga.
"Anak-anak lo banyak, kenapa cuma Bayu yang lo gadang-gadang jadi penerus perusahaan?"
"Dari semua anak gue, hanya Bayu yang berminat sama dunia bisnis. Gue gak mau maksa mereka untuk menjadi seperti yang gue mau. Apapun yang menjadi cita-cita mereka, bakalan gue dukung sepenuhnya."
Garindra memandang sahabatnya sambil tersenyum.
"Eh iya, mana anak lo? Daritadi gak kelihatan."
"Lagi dimarahin mamahnya noh," sahut Garindra, "tadi habis jorokin anak orang ke got."
"Hahahahaha, kelakuannya persis kayak elo, Ndra. Tengil." Ucapan Laksmono membuat Garindra berdecak sebal.
"Tama, Rey ... kalian tetap dapat hukuman," ucap Bayu.
"Iya, Bang," jawab Pratama dan Reyhan bersamaan.
"Kalian berdua cari cacing dengan jumlah sesuai umur kalian."
Hukuman dari Bayu membuat Pratama dan Reyhan melongo.
"Eri juga mau bantu cari, ah!" seru Valerie bersemangat.
"Gerry boleh masuk rumah kalau takut."
"Enggak, Bang. Gerry juga mau bantu cari cacingnya, Gerry gak mau selamanya takut sama cacing," ucap Gerry dengan yakin.
Bayu tersenyum. "Baiklah, ayo mulai cari cacingnya," ucap Bayu mengomando. Dia yang memberi hukuman pun, ikut mencari cacing, membantu adik-adiknya. Seperti itulah Bayu, bersikap tegas, tapi tetap mengawasi dan mendampingi adik-adiknnya, tak pernah ia biarkan adik-adiknya itu kesusahan.
"Elang ikut!" teriak Elang, bocah itu berlari masuk ke pekarangan rumah Laksmono dengan dikejar Jelita.
"Anak sama istri lo lagi syuting film India?" tanya Laksmono sambil terkekeh. Garindra hanya melirik tajam pada Lakmono tanpa menjawab.
__ADS_1
"Elang mau cari cacing yang jumlahnya sesuai usia papah!" teriak Elang, membuat Garindra membulatkan matanya.
"Weh, kalau kamu cari cacingnya sesuai umur papah, bisa ternak cacing kamu!" seru Garindra yang sama sekali tidak didengar oleh Elang.
"Biarin, lumayan entar cacingnya bisa buat kita mancing," sahut Laksmono.
"Bener juga lo," ucap Garindra, "cari yang banyak, Lang!"
"Jangan banyak-banyak, nanti papah jadi cacingan," jawab Elang yang membuat Garindra gondok segondok-gondoknya.
Flashback off
"Bang, setelah abang pergi ... siapa yang bakal jadi penengah kalau kami berselisih paham?" tanya Pratama sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Bayu Aji Laksmono.
Upacara pemakaman Bayu telah usai. Ceril tidak bisa hadir, karena istri dari almarhum Bayu itu masih belum sadarkan diri.
"Abang, bolehkah gue berharap kalau elo masih bisa kembali lagi," lirih Gerry, air mata pria itu kembali menetes. "Gue gak mau elo tinggal, Bang. Sebentar lagi Andien melahirkan, abang gak mau lihat keponakan abang?"
"Dek, yang sabar. Elo gak boleh gitu, kalau elo berpikir begitu ... sama aja elo ngehalangin jalan Bang Bayu. Kasihan Bang Bayu," ucap Reyhan, mencoba menguatkan adiknya. Walau air matanya sendiri pun tidak bisa berhenti mengalir.
Sedangkan Valerie, gadis itu hanya terdiam. Matanya menatap kosong pada batu nisan sang kakak. Tidak ada satu tetes air mata pun yang mengalir dari netra indahnya. Itu adalah puncak dari rasa sedihnya, sampai air mata pun sudah tidak bisa menetes.
Sejak semalam, sahabat-sahabat Valerie menemani gadis itu. Tidak pernah mereka biarkan Valerie berada di kamar seorang diri. Karena ia tidak berhenti menyakiti dirinya sendiri. Mulai dari menjambak rambut, memukul kepala, hingga menampar pipinya sendiri. Hal itu ia lakukan dengan harapan jika kematian Bayu hanyalah sebuah mimpi. Dan jika dia menyakiti dirinya sendiri, ia akan segera terbangun dari mimpinya.
Elang senantiasa berada di samping Valerie, dan memeluk tubuh ringkih calon istrinya itu. Pria itu memandang wajah sang kekasih yang lebam karena ulah sang pemilik tubuh itu sendiri. Dadanya terasa nyeri, ia tidak bisa melihat wanita yang dicintainya terpuruk sampai seperti itu.
"Papi kok dimasukin situ?" tanya Dika, jagoan Bayu yang masih berusia lima tahun. "Kalau papi dimasukin situ, nanti Dika gak punya papi lagi. Keluarin papi Bayu, jangan masukin papi di situ." Tubuh gempal Dika bergetar, bocah itu menangis sesenggukkan. "Keluarin papi dari situ, Dika mau papi."
"Dika, sekarang tempat ini jadi rumah buat papinya Dika. Papi Bayu tinggal di sini," ucap Laksmono, pria paruh baya itu mati-matian menahan tangisannya.
"Kalau gitu, Dika mau ikut papi aja di rumah barunya," ujar Dika dengan masih memberontak.
"Dika gak boleh ikut Papi Bayu," ucap Pratama, berusaha memberi pengertian pada keponakannya itu. "Dika masih punya Papi Tama, Papi Rey, Papi Gerry."
"Gak mau! Dika maunya Papi Bayu, gak mau papi yang lain!"
"Dek," panggil Lana, putri sulung Bayu yang berusia tujuh tahun. "Adek sayang sama papi?"
Dika menganggukkan kepalanya.
"Adek mau papi bahagia?"
Lagi-lagi Dika menganggukkan kepalanya.
"Kalau adek mau papi bahagia, adek gak boleh nakal. Adek harus nurut sama kakek dan papi-papi yang lain. Kalau adek nakal, nanti papi nangis." Lana meraih tubuh sang adik dalam dekapannya. "Kak Lana bakalan jaga kamu sama Bunga. Kamu juga harus kuat, biar kita bisa jaga mami sama-sama."
Pemandangan itu mengundang air mata semua orang yang ada di sana, termasuk Laksmono. Runtuh sudah pertahanannya sedari tadi.
"Gue harus kuat," lirih Valerie, "gadis sekecil Lana aja bisa kuat, bisa menerima takdir. Gue harus bangkit, agar bisa menjaga istri dan anak-anak Bang Bayu, seperti pesan Bang Bayu sebelum dia pergi."
Elang tersenyum, melihat kekasihnya sudah bisa lepas dari keterpurukannya.
"Kamu gak sendiri, Sayang," ucap Elang, "ada aku dan yang lainnya." Elang menunjuk sahabat-sahabatnya yang juga ada di sana. "Kami akan selalu ada buat bantu kamu ngejaga keluarga kecil Bang Bayu."
Valerie memandang sekeliling, sahabat-sahabatnya mengangguk sambil tersenyum. Dan senyum itu pun akhirnya menular padanya. Senyum pertama setelah kabar kehilangan dari sang kakak yang disayanginya.
__ADS_1