
Jika berada didekatnya aku merasa nyaman, kenapa aku harus menjauh darinya?
***
Tepat pukul delapan malam, Gaung memberhentikan mobilnya di depan rumah Elang.
"Ikut masuk yuk, Ga. Ngobrol bareng Elang sekalian," ucap Valerie pada Gaung.
"Enggak, Er," tolak Gaung sambil menggelengkan kepalanya. "Gue capek, mau langsung tidur. Udah, elo buruan masuk. Entar si burung Elang keburu ngoceh panjang lebar."
"Ish, dia mah emang udah cerewet dari orok," sahut Valerie.
"Iya, iya ... yang udah kenal sama pangerannya sejak dari kandungan mah beda," goda Gaung. Wajah Valerie memerah seketika, membuat Gaung tambah gemas. Seandainya ekpresi itu tertuju untuknya, ia akan merasa sangat bvahagia.
"Ish, Gaung apaan sih," sahut Valerie sambil menutup wajahnya. "Gue masuk dulu ya, elo hati-hati di jalan, jangan ngebut. Bye," Setelah berpamitan, Valerie keluar dari mobil Gaung. Gadis itu berlari masuk ke rumah Elang yang memang tidak dikunci, mungkin memang sengaja agar Valerie bisa langsung masuk.
Pemandangan itu tidak lepas dari netra tajam Gaung, netra yang terlihat terluka.
"Untuk malam ini, gue belum siap bertemu dia, Er. Dia yang telah mengalihkan perasaanmu dari ku, dia yang telah membuatmu jatuh cinta. Pria bodoh yang bahkan tidak menyadari perasaannya sendiri." ucap Gaung, tangannya mencengkeram setir mobilnya.
***
"Assalamu'alaikum," salam Valerie sambil membuka pintu rumah Elang yang memang tidak dikunci.
Begitu membuka pintu, Valerie langsung disambut tatapan tajam dari seorang pemuda yang tidak lain dan tidak bukan adalah Elang Rayan Garindra. Pemuda itu sedang duduk di sofa sambil memainkan gitar akustiknya.
"Wa'alaikumsalam, dari mana aja lo jam segini baru pulang?"
"Kan dari swalayan, elo juga udah tahu." Valerie mendudukan bokongnya di sofa sebelah Elang.
"Elo di swalayan dari jam tiga sampai jam segini?" Elang melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Baju siapa yang elo pakai?"
"Gue tadi mampir ke rumahnya Gaung dulu. Numpang mandi sekalian shalat Maghrib disana. Gue pinjem bajunya Gaung."
Elang meletakkan gitarnya, ia memposisikan duduknya menghadap Valerie. "Pakai pamer foto berdua di IG juga? Biar apa?"
"Apaan sih Lang?" Valerie mulai jengkel dengan pertanyaan Elang yang tidak penting. "Kita semua kan emang sering foto bareng terus dimasukin Ig. Terus kenapa sekarang elo sewot."
Elang hanya diam tanpa menjawab. Dia sendiri bingung, kenapa rasanya dia tidak terima melihat Valerie foto berdua bareng Gaung dengan posisi yang sangat dekat.
__ADS_1
"Mama Jelita mana? Ini belanjaannya."
"Mama lagi ikut papa makan malam sama rekan bisnisnya."
"Kalau Mama Jelita gak ada di rumah, kenapa lo nyuruh gue cepet-cepet pulang?" tanya Valerie, merasa agak jengkel dengan Elang.
"Ini udah jam delapan malam, gak baik elo ada di rumah cowok sampai jam segini," jawab Elang.
"Terus, elo kira sekarang gue gak lagi ada di rumah cowok? Gue ada di rumah cewek, gitu?"
"Beda cerita," jawab Elang, "gue udah kenal elo dari dalam kandungan, jadi mau elo sampai nginep pun gak papa."
"Ngawur," sahut Valerie sambil memukul pelan lengan Elang. "Elo udah makan?"
Elang menggeleng tanpa menjawab. Mood-nya hari ini sedang tidak baik.
"Gue masakin bandeng bumbu kuning ya. Kebetulan tadi gue beli ikan bandeng segar di swalayan."
"Iya, gue bantuin masukin belanjaan ke lemari es." Elang mengangkat dua kantong kresek yang berisi belanjaannya.
Setelah selesai memasukkan semua belanjaan ke dalam lemari es, Elang duduk di kursi mini bar. Ia memperhatikan Valerie yang dengan lincahnya mengolah ikan bandeng menjadi lauknya malam ini.
"Hem," jawab Valerie yang masih sibuk mengolah masakannya.
"Besok-besok, elo berangkat sama pulang sekolahnya bareng gue aja. Gak boleh sama yang lainnya, entah itu Gaung, Bagus atau siapalah."
"Kan elo tadi nganter Lia pulang, jadi gue gak bisa bareng elo, Lang." Valerie mematikan kompor, mengambil mangkuk besar dan menyajikan bandeng bumbu kuning di dalamnya. Setelah itu dibawanya ke meja makan. Elang mengekori setiap pergerakan Valerie.
"Kan elo yang nyuruh gue nganter Lia pulang, bukan gue yang mau," protes Elang sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
"Iya, iya, udah makan dulu." Valerie mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Elang.
"Elo gak makan?"
"Udah tadi, gue makan di rumahnya Gaung."
Elang meletakkan piringnya di tengah antara dirinya dan Valerie. "Kita makan barengan kalau gitu." Valerie baru akan membuka mulutnya untuk menolak, tapi sudah disela dulu oleh Elang. "Kalau elo gak mau makan, gue juga
enggak."
__ADS_1
Valerie menghembuskan napas pasrah. Untung lambungnya sudah biasa menerima banyak makanan, istilah kerennya lambungnya udah melar.
Valerie membuka mulutnya, dan Elang menyuapkan makanan ke mulut gadis itu. Setelah itu,dia memasukkan makanan ke mulutnya sendiri.
Baru beberapa suapan, pintu rumah Elang terdengar ada yang membuka. Terdengar bunyi langkah kaki mendekat ke arah mereka.
"Aelah dek, kita di rumah kelaparan, elo malah asyik suap-suapan disini," cerocos Gerry dengan muka ditekuk. Persis jemuran yang belum disetrika.
"Lah? Emang bibik gak masak, Bang?" tanya Valerie heran, karena jika tidak ada dirinya di rumah biasanya asisten rumah tangganya itu yang memasak.
"Bibik lagi ada urusan di rumah saudaranya. Terus Bang Tama yang masak. Ya Allah dek, rasanya kayak jatah makanan di neraka. Gue kasihan sama ayah, entar takutnya malah kena diare gara-gara makan tuh sup musibah."
"Kalau gitu ajak Om Laks sama yang lain makan di sini aja, Bang. Valerie masak banyak kok," tawar Elang yang langsung mendapat anggukan sumringah dari Gerry.
"Makasih Lang, gue panggil ayah sama yang lainnya dulu." Gerry langsung ngacir menuju rumahnya, menyampaikan kabar gembira ini. Haha, lebay.
Akhirnya malam itu keluarga Laksmono mengungsi makan malam di kediaman Garindra.
"Assalamu'alaikum, wah ... pada ngumpul ya?" Mata Garindra berbinar melihat keluarga kecil sahabatnya itu yang sedang makan malam bersama putranya.
"Wa'alaikusalam," jawab semua yang ada di ruang makan berjamaah.
"Sorry Ndra, gue sama anak-anak malah makan di rumah lo." Laksmono merasa tidak enak pada sahabatnya itu. Karena di saat Garindra tidak ada di rumah, dia dan anak-anaknya malah rame-rame makan di sana.
"Nyantai aja Laks, tau gini tadi mending gue gak ikut makan malam sama client. Kan seru nih ikut makan malam bareng kalian."
"Iya, Om. Jarang-jarang kan kita bisa makan malam barengan gini," celetuk Gerry sambil mengusap perutnya yang kenyang. "Tapi, tadi kita hampir tewas gara-gara makan sup penyabut nyawa, Om."
"Hah?" ucap Garindra dan Jelita bersamaan karena tidak mengerti apa maksut perkataan Gerry.
"Tadi kan Valerie masak di sini, Om. Terus di rumah yang masak Bang Tama. Allahuakbar om rasanya, malaikat pencabut nyawa sekalipun. Kalau makan itu sup, pasti keduluan kecabut nyawanya."
Pletakk!
"Aduh," Gerry mengusap kepalanya yang mendapat lemparan ketimun dari Pratama.
"Hahahaha, kalian ada-ada aja." Garindra tertawa geli melihat ulah anak-anak sahabatnya itu. Laksmono beruntung memiliki mereka. "Om jadi bener-bener nyesel gara-gara gak ikut keseruan kalian tadi."
"Maksut om, keseruan kita yang hampir say goodbyee dari dunia ini tadi?"
__ADS_1
Pertanyaan konyol Gerry barusan dijawab gelak tawa semuanya, kecuali Pratama tentunya. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya ia bereksperimen dengan alat dapur dan para pengikutnya. Aneh, pemilik cafe, tapi gak bisa masak sama sekali.