
Dia tidak tergantikan,dia tidak hanya kuat secara fisik, tapi otak dan mentalnya pun, masih belum ada yang bisa menggantikan.
***
Pagi akhir pekan ini, Elang bersama sang ibu sedang melakukan rutinitas mereka di kala senggang, yaitu berkebun. Elang memangkas daun-daun dan ranting yang kering, Jelita bertugas menyirami tanaman-tanaman itu. Dan di manakah Garindra berada? Wakil Arakata angkatan pertama itu sudah bertamu di rumah Laksmono setelah shalat subuh tadi.
Untuk apa? sudah pasti jawabannya adalah untuk meminta nomer telepon anak bungsu Laksmono. Mana bisa pria itu jauh-jauh dari gadis ceria kesayangannya, yang digadang-gadang jadi calon menantunya itu.
Beberapa saat kemudian, Garindra keluar dari rumah Laksmono dengan muka yang ditekuk sambil manyun. Kalau Afghi lihat, udah di ledek habis-habisan pria itu.
"Awas aja Laks, gue ngambek ma elu," dumel Garindra, sambil duduk di kursi panjang yang ada di teras rumahnya.
Jelita dan Elang saling berpandangan, kemudian mereka menghampiri Garindra.
"Papah kenapa?" tanya Jelita sembari duduk di sebelah suaminya.
"Laks, noh," sahut Garindra, menunjuk rumah Laksmono dengan dagunya. "Pelit bener, papah minta nomer ponselnya Valerie gak dikasih."
Jelita tersenyum, ia tahu bahwa suaminya itu sangat menyayangi Valerie. Ia pun sama, siapa yang tidak suka dengan gadis manis yang penurut dan baik hati seperti Valerie.
"Emang kenapa gak dikasih, Pah?" tanya Jelita kembali.
"Eri yang ngelarang," sambar Elang, "dia gak mau ada yang tahu nomer barunya, kecuali keluarga." Elang terduduk di rumput, ia menyandarkan kepala pada paha ibunya. Bahunya bergetar, pemuda itu kembali menangis, menangis dengan penyebab yang sama, yaitu kepergian gadis yang dicintinya, Valerie.
"Semua ini salah Elang," lanjut Elang, "Eri pergi karena kebodohan Elang, ini salah Elang ...."
Jelita mengusap punggung putranya. "Stt, kamu gak boleh menyalahkan diri sendiri, Nak. Eri pasti juga gak akan suka kalau ngelihat kamu terpuruk terus seperti ini."
Garindra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, wajahnya menengadah, memandang birunya langit.
__ADS_1
"Lang," panggil Garindra pada putranya.
"Iya, Pah," sahut Elang.
"Papah pernah bilang kalau kamu sampai ngejar-ngejar Eri, papah bakal ngakak sambil gelinding-gelinding. Papah mau ngelakuin itu, tapi encok papah kumat. Jadi, kamu yang gantiin papah gelinding, ya ... biar papah yang ngakak." Permintaan Garindra membuat Jelita dan Elang menganga tak percaya. Sungguh unik dan tak masuk akal permintaannya.
"Papah yang bikin janji gak jelas gitu, kenapa Elang yang harus ngejalanin?" protes Elang, pemuda itu bangkit berdiri, lalu duduk di sebelah ibunya. Ia memeluk lengan Jelita, meminta perlindungan.
Namun, percuma ... Garindra menarik pergelangan tangan Elang, Elang hanya bisa merengut pasrah.
"Ayo gelinding," pinta Garindra, "kalau encok papah kumat kasihan mamahmu, gak bisa olahraga nanti malam."
Elang berdecak sebal, setelahnya ia tetap menuruti permintaan sang ayah. Pemuda itu merebahkan tubuhnya di rumput, dan mulai menggelinding kesana-kemari. Garindra dan Jelita terbahak melihat putra semata wayang mereka, sungguh orang tua yang sangat baik.
Tanpa mereka sadari, Laksmono melihat dari teras rumahnya yang berseberangan.
"Maaf, Ndra. Bukannya gue mau menutup-nutupi keberadaan Eri, tapi dia sendiri yang memintanya, Putri kecil gue itu perlu waktu untuk sendiri," ucap Laksmono, kemudian pria itu masuk ke dalam rumahnya.
***
"Masa sih , Den? Itu bibi nurut sama resep yang ditinggalin Non Eri, kok," jawab Bi Minah.
"Beda banget, Bik ... aaaaa, gue mau Eri pulang, gue mau masakannya Eri," rengek Gerry yang membuat Laksmono dan ketiga anaknya yang lain geleng-geleng kepala. "Aduh," Gerry mengaduh karena dahinya mendapat lemparan mentimun dari Pratama.
"Tinggal makan aja pakai banyak omong, lo," omel Pratama, "buruan dimakan, kasihan Bi MInah udah susah-susah masakin"
"Tapi kan, Bang ...," Baru saja Gerry akan protes lagi, Pratama meliriknya tajam, lirikan yang sarat akan ancaman.
"Makan masakan Bi MInah atau gue yang akan masak khusus buat lo?"
__ADS_1
Pertanyaan Pratama yang lebih terdengar seperti pernyataan itu membuat Gerry merinding ngeri. Ia mengedarkan pandangannya, ia melihat ayahnya dan kedua abangnya yang lain ikut menatapnya tajam. tatapan itu seperti berkata 'kalau sampai Tama masak lagi, kami buang kamu ke laut.'
Gerry langsung terdiam sambil memanyunkan bibirnya, pemuda itu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Yah, kita beneran gak boleh ngasih nomer adek ke sahabat-sahabat dekatnya?" Kini giliran Bayu yang angkat bicara. Sang anak sulung itu mendapat teror dari anak-anak Arakata dan geng sekutu lain, mereka terus-terusan meminta nomer telepon Valerie. "Bayu udah kayak artis, Yah. Sehari bisa dapat ratusan telepon dengan tujuan yang sama, yaitu meminta nomer telepon adek."
"Bukan cuma Bang Bayu yang begitu, Yah," sela Reyhan, "galery lukisan Rey penuh cowok-cowok kekar, udah kayak demo aja. Karyawan Rey sampai ketakutan, dikira tawuran."
"Iya, Yah. Pelanggan cafe Tama juga kebanyakan pada tanya keberadaan adek," sahut Pratama ikut menimpali.
"Andien sampai turun tangan, Yah. Dia ngintilin Gerry terus cuma buat minta nomer teleponnya adek. Gerry kira Andien mau ngajak jalan, ternyata diminta Gandi buat nanya keberadaan adek." Gerry bercerita sambil berdecak sebal.
"Jangankan kalian, tadi aja Indra subuh-subuh udah nongol di depan pintu cuma buat nanya nomer telepon adek. Gak ayah kasih juga, ya alhasil tuh bangkotan ngambek sama ayah," sahut Laksmono, dia menyebut sahabatnya bangkotan, tak sadar jika usia mereka sama. " Tapi mau gimana lagi, adek yang meminta kita buat merahasiakan semua tentangnya, entah itu alamat, nomer telepon, bahkan adek sampai ganti semua akun sosial medianya, Itu sudah menjadi keputusan adek, kita harus menghormatinya."
Semua yang ada di sana mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Laksmono.
"Arakata gimana? Udah ada pergantian panglima perang yang baru?" tanya Laksmono kembali.
"Belum, Yah." jawab Bayu, "mereka tidak mau jika panglima perang mereka diganti. Mereka tetap menginginkan adek yang menjadi panglima perang."
Laksmono mengangguk paham. "Tapi apa tak masalah? Bagaimana jika sewaktu-waktu ada geng lain yang berbuat rusuh? Apa Arakata bisa bergerak bebas tanpa adanya panglima perang? Panglima perang itu ibarat ujung tombak, ia sangat dibutuhkan dalam penyerangan maupun pertahanan."
"Justru karena itu, Yah," sahut Pratama, "kita tidak bisa sembarangan mencari panglima perang. Tidak bisa kita ingkari jika panglima perang dari angkatan pertama hingga angkatan tujuh, yang terkuat adalah Eri. Eri tidak hanya kuat secara fisik, tapi setiap strategi penyerangan darinya selalu membawa kemenangan bagi Arakata. Secara fisik, otak, mental ... belum ada yang bisa menggantikan Valerie, Yah." Pratama tersenyum, begitupun dengan yang lain. Mereka merasa bangga memiliki Valerie di tengah-tengah mereka.
"Kalau begitu kita tunggu saja, sampai panglima perang terkuat kita itu siap untuk kembali," ucap Laksmono dan mendapat anggukan setuju dari keempat putranya.
__ADS_1