Arakata

Arakata
Berpisah


__ADS_3

Apakah aku harus menjadi lemah, agar kau merasa sebanding denganku?


***


"Jangan main-main dengan ucapanmu, Lang!" bentak Garindra pada putra semata wayangnya itu. Elang berada di kediaman Laksmono untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Valerie.


Setelah pulang dari taman, Elang langsung mendatangi kediaman Laksmono. Kebetulan di sana juga ada Garindra dan Jelita.


"Elang seius, Pah." sahut Elang. Pria itu menatap Laksmono dan Garindra dengan tatapan memohon. "Elang rasa, ini jalan yang terbaik buat Eri. Karena Elang gak yakin bisa membuat Eri bahagia nantinya."


"Apa ini yang membuat kamu meminta ke ayah buat ngirim kamu ke luar kota? Kamu bukannya mau ngurus perusahaan tapi mau melarikan diri dari masalah ini, kan!"


"Kamu ada perempuan lain?" tanya Laksmono, pertanyaan yang sama dengan apa yang ditanyakan oleh Valerie.


"Dari dulu hingga sekarang, hanya Eri yang Elang cinta," jawab Elang mantap.


"Kalau kamu sangat mencintainya, kenapa kamu memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahanmu dengannya?" tanya Laksmono kembali.


"Karena Elang terlalu cinta sama Valerie, Elang takut jika nanti malah membuat Valerie sengsara. Elang baru akan merintis karir, sedangkan Eri? Eri sudah sukses dengan bisnisnya, Eri juga mandiri, dia bisa melakukan apapun sendiri. Eri gak butuh Elang, Om," sahut Elang, "Elang rasa, Eri akan lebih bahagia jika tidak ada Elang dalam hidupnya."


"Ego kamu terluka karena merasa Eri berada di atasmu? Ego kamu terluka karena merasa bahwa Eri mandiri, bisa melakukan apapun tanpa bantuan kamu?"


Elang mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Laksmono.


"Saya kira kamu orang yang kuat, ternayata kamu hanya pria biasa yang kalah oleh ego. Hingga tidak memikirkan apakah perempuan yang kamu cintai itu akan terluka atau tidak. Apa kamu juga sudah memikirkan jika kamu membatalkan acara pernikahan ini akan membuat Eri malu? Kabar pernikahan kalian sudah menyebar, undangan juga sudah dicetak, persiapan sudah hampir seratus persen. Dan jika semua gagal, apa kamu pikir orang-orang di sekitar tidak mengguncingkan Eri?"


Semua pertanyaan Laksmono membuat Elang terdiam. Ia memang tidak memikirkan dampaknya sampai sedetail itu. Ia hanya berpikir, ia belum pantas buat Valerie jadi ia belum bisa menikah dengannya sekarang. Ia tidak memikirkan dampak setelah pernikahan mereka dibatalkan. Dan ia memilih ditugaskan di luar kota, hal itu malah terkesan ia melarikan diri, dan membiarkan Valerie menanggung semuanya sendiri.


Bukan, dia tidak bermaksut membiarkan Valerie menanggung semuanya sendiri. Ia hanya tidak memikirkan dampaknya sampai sejauh itu.


"Dari raut wajah kamu, kamu tidak memikirkan dampaknya sampai sejauh itu, kan?" tanya Laksmono kembali. Laksmono itu sebisa mungkin berusaha bersikap tenang, walau sebetulnya ia ingin marah pada pria yang ada di hadapannya itu. Ayah mana yang tidak sakit hati jika putri yang setengah mati dijaganya, berulang kali disakiti oleh orang yang sama. "Kamu sudah menyampaikan hal ini pada Eri?"


Elang mengangguk. "Sudah, sebelum Elang kesini, Elang meminta Valerie untuk bertemu di taman. Dan Elang sudah mengatakan semua."


"Setelah itu Eri kemana?" Wajah Laksmono mulai terlihat panik.


"Eri pergi meninggalkan Elang sendiri di taman."


"Kamu gak mengejarnya?" Kini giliran Garindra yang bertanya.

__ADS_1


Elang menggelengkan kepala. "Enggak, Elang pikir Eri butuh waktu untuk sendiri."


"Elang!" bentak Garindra. Wajah pria paruh baya itu penuh amarah. "Bagaimana mungkin kamu membiarkan Eri seorang diri, setelah hal buruk yang kamu lakukan padanya! Kamu bisa mikir apa enggak? Kenapa kamu jadi tolol begini!"


Laksmono melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil, dan kembali keluar.


"Saya cari Eri dulu, kamu tunggu di rumah, siapa tahu Eri udah pulang sebelum saya kembali," pinta Laksmono pada Diandra, istrinya itu mengangguk.


"Elang ikut, Om," pinta Elang.


"Biarkan saya sendiri," sahut Laksmono tegas. "Saya tidak yakin masih bisa bersabar dengan kamu. Saya sudah seringkali memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kamu terhadap putri saya. Dan kamu masih mengulang kesalahan yang sama itu hingga sekarang."


Tubuh Elang membeku, Laksmono sudah mulai hilang kesabaran dengannya. Baru kali ini ia melihat Laksmono yang semarah itu terhadapnya. Dan hal itu memang pantas ia dapatkan, ia telah melakukan kesalahan yang fatal kali ini.


"Laks, gue temenin lo," ucap Garindra.


"Kali ini biarin gue sendiri, Ndra," tolak Laksmono. Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya menuju garasi mobil.


Garindra terus memandang punggung sahabatnya itu hingga menghilang di luar pintu. Ia tahu, sahabatnya itu sangat kecewa pada putranya. Berulang kali Elang melakukan salah, berulang kali pula putranya itu mendapatkan ampunan dari Laksmono. Namun, saat ini putranya sudah sangat keterlaluan. Ia sendiri pun tidak akan bisa memaafkan putranya dengan mudah.


"Ayo pulang, ada yang harus papah omongin sama kamu," ucap Garindra pada Elang.


Elang menganggukkan kepala, ia tahu setelah ini ia tidak akan lepas dari ayahnya. Ia tahu jika ayahnya itu sangat menyayangi Valerie, dan lagi-lagi ia telah melukai gadis itu. Ia sendiripun tidak ingin melakukan hal ini, tapi ada sisi hatinya yang memang mengharuskan itu terjadi.


***


Hati Laksmono terasa sakit, melihat sang putri menangis sesenggukkan di samping makam orang-orang terkasihnya. Setelah segala kesedihan dan penderitaan yang gadis itu alami, ia masih harus menghadapi kenyataan jika calon suaminya telah membatalkan rencana pernikahan mereka secara sepihak.


Ia tahu betul jika putrinya yang terlihat tangguh dan kuat itu sebenarnya sangat rapuh. Namun, selama ini gadis itu tidak pernah memperlihatkan beban-beban yang ditanggungnya. Sehingga, secara kasat mata orang-orang menilainya sebagai perempuan yang kuat dan mandiri.


Hal itu pula yang ada di otak Elang, sehingga pria itu merasa jika Valerie berada jauh di atasnya.


Gadis itu masih menangis, tidak menyadari jika dari beberapa menit yang lalu sang ayah berada di dekatnya. Laksmono memegang pundak Valerie, ia tidak ingin membiarkan putrinya tenggelam dalam kesedihannya terlalu lama lagi.


"Sayang," panggil Laksmono.


Bahu Valerie menegang, dengan tergesa ia mengusap air matanya. Ia ingin menyembunyikan rasa sedihnya dari sang ayah, Tapi percuma, karena Laksmono sudah tahu apa yang terjadi.


"Ayah," jawab Valerie. Gadis itu mendongak, ia menatap sang ayah dengan matanya yang sembab.

__ADS_1


"Ayah sudah tahu semuanya, Dek. Elang datang ke rumah, dia sudah membicarakannya dengan ayah."


"Jadi, dia benar-benar serius dengan keputusannya, Yah?" tanya Valerie. Gadis itu memandang sang ayah dengan pandangan penuh harap. Ia berharap jika Elang mengubah keputusannya.


"Iya," jawab Laksmono, kepalanya mengangguk. "Kamu gimana, Dek? Menerima keputusannya itu?"


"Apa Eri ada pilihan lain, Yah? Kalaupun Eri tidak menerima keputusan itu, apa hal itu bisa mengubah keputusan Elang? Enggak, kan ... jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, Eri harus bisa menerima. Eri harus bisa legowo kan, Yah ...," Bulir air mata menetes lagi dari netra indahnya.


Laksmono meraih tubuh Valerie dalam pelukannya kembali. Pria itu mencoba memberi kekuatan untuk putrinya agar bisa tegar menghadapi cobaan yang sedang dialaminya ini.


"Yah, apakah salah jika Eri bersikap mandiri? Apa sikap Eri itu melukai ego pria? Apa Eri harus berpura-pura lemah, agar tidak membuat pasangan Eri jadi minder?"


"Gak ada yang salah dengan kamu," sahut Laksmono, pria paruh baya itu mengusap lembut rambut panjang anaknya. "Kamu gak perlu bersikap pura-pura hanya untuk menyenangkan seseorang. Jadilah diri kamu apa adanya, karena sejatinya cinta tidak memilih yang sempurna, tapi memperbaiki diri bersama."


"Eri sudah menjadi diri Eri sendiri, tapi kenapa Elang masih ninggalin Eri?"


"Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk tetap tinggal bersama kita. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha agar mereka bisa bertahan lebih lama, hanya sekedar berusaha ... setelahnya, kita ikuti apa yang sudah ditentukan oleh semesta."


Tangisan Valerie semakin menjadi, membuat Laksmono juga merasakan rasa sedih yang sama.


"Kita pulang yuk, Nak. Kamu sudah terlalu lama berada ada di sini," ajak Laksmono.


"Gendong," manja Valerie. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, minta digendong. Tentu saja hal itu hanya sekedar candaan dari Valerie, sekuat apapun Laksmono ... pendiri Arakata itu sudah cukup berusia.


"Kamu mau kalau encok ayah kumat?" Laksmono balik bertanya.


Valerie terkekeh, gadis itu mengusap air matanya. Sudah cukup kesedihannya, ia tidak mau terlarut dalam kesedihannya secara berlebihan. Karena ia sadar, sesedih apapun itu ... tidak akan merubah semua yang sudah terjadi.


"Bukan ayah yang bakalan gendong kamu," ucap Lakmono lagi. "Tapi mereka." Laksmono menunjuk pada ketiga putranya yang ternyata juga berada di sana.


"Abang-abang kok juga ada di sini?" tanya Valerie.


"Kami datang bersama ayah," sahut Pratama, "tapi hanya ayah yang lo lihat, Dek."


"Sekarang, tuan putri mau digendong siapa, nih?" tawar Gerry, "pangeran-pangeran tampan ini siap membawa tuan putri kemana pun yang tuan putri kehendaki."


Senyum Valerie mengembang, mendengar apa yang dikatakan kakak-kakaknya itu.


"Tuan putri mau digendong Pangeran Rey, terus begitu sampai rumah mau dipijitin Pangeran Gerry, mau tidur dipeluk Pangeran Tama, dan makan disuapin Raja Laks," sahut Valerie sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


"Gak mau sekalian dimasakin sama pangeran Tama?" tanya Pratama, menawarkan diri.


"Gak usah!" seru Valerie, Laksmono, Reyhan, dan Gerry secara bersamaan, membuat Pratama terbahak.


__ADS_2