Arakata

Arakata
Abang Pilot vs Opa Polisi


__ADS_3

"Sayang," panggil Raja, pria itu menyenderkan badan kekarnya pada meja pantry. Ekor matanya selalu mengikuti kemanapun Valerie bergerak. Hobi barunya selama empat tahun ini adalah memperhatikan gadis tercintanya berkutat di dapur.


"Hem," jawab Valerie sambil memindahkan rendang daging buatannya ke piring. Andien sedang hamil anak pertamanya. Istri Gerry itu ngidam rendang daging, dan harus dimasak oleh adik iparnya itu.


"Kamu gak capek?" tanya Raja, pria itu berjalan menghampiri Valerie. "Dari tadi kamu belum istirahat." Raja melepaskan kunciran rambut Valerie yang terlihat berantakan, dan membenarkan lagi kunciran itu.


"Nanti setelah mengantarkan makanan ini ke rumah Papah Garindra, aku langsung istirahat," jawab Valerie, gadis itu memasukkan rendang daging ke dalam rantang yang telah ia siapkan.


"Ke rumah Elang?"


Valerie menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kamu mau ikut?" tanya Valerie dengan rantang yang telah siap di gengganmannya.


Raja menggelengkan kepalanya. "Aku nunggu di sini saja, belum siap ketemu mantan kamu."


"Ckk," decak Valerie, "aku dan Elang belum pernah pacaran, jadi kami bukan mantan.


"Tapi dia adalah pria yang selalu ada di hati kamu. Mungkin sampai sekarang," ucap Rajawali, nada suaranya terdengar kelu seperti ada rasa takut di sana.


Valerie memukul pelan mulut Raja. "Calon suami apa yang selalu mengingatkan calon istrinya tentang masa lalunya. Kamu ingin aku lebih memilihnya dan meninggalkanmu," ucap Valerie sebal.


Saat Valerie hendak berlalu dari hadapannya, Raja meraih tubuh gadis itu dalam dekapannya.


"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku," lirih Raja, di kecupnya lembut dahi Valerie. "Aku telah jatuh sejatuh-jatuhnya padamu. Jika kamu meninggalkanku, bagaimana caranya aku bisa bangkit lagi."


"Gombal," gerutu Valerie, didorongnya tubuh Raja agar menjauh darinya. "Aku pergi dulu. Kamu istirahat dulu aja jika aku lama. Soalnya Papah Garindra pasti akan menahanku agak lama di sana." Setelah mengatakan itu, Valerie berlalu pergi.


"Aku akan nunggu kamu, jam berapa pun kamu kembali. Seperti aku yang selama ini selalu menunggu hati kamu berpaling sepenuhnya padaku," gumam Raja pada dirinya sendiri, yang tentunya tidak didengar Valerie.


***


"Asslamu'alaikum," salam Valerie. Seperti kebiasaannya dulu, gadis itu langsung nyelonong masuk jika pintu rumah Elang tidak dikunci.


"Wa'alaikumsalam."


"Valerie?" Garindra dan Jelita membulatkan matanya tidak percaya.


"Mamah kangen sama kamu, Sayang," ujar Jelita sambil memeluk Valerie. Disusul Garindra di belakangnya.

__ADS_1


"Papah hampir memusuhi ayahmu, karena merahasiakan keberadaanmu, Nak,"


"Maaf," lirih Valerie, gadis itu mempererat pelukannya pada kedua orangtua sahabatnya itu. Ia sangat merindukan mereka.


Elang memperhatikan interaksi antara orang tuanya dan Valerie. Terlihat jelas jika orang tuanya sangat menyayangi pujaan hatinya itu.


"Eri bawain rendang buat papah, mamah dan Elang." Valerie memperlihatkan rantang makanannya.


"Habis pulang dari acara tadi, elo langsung masak?" tanya Elang yang duduk di sofa ruang keluarga.


"He'em," jawab Valerie sambil mengangguk. "Kak Andien pengen rendang, jadi gue masakin dulu. Gue tahu elo sama papah juga suka rendang. Jadi, gue buat banyak."


"Ya sudah, mamah siapin makanannya dulu. Kamu ngobrol aja sama Elang."


"Biar Eri bantu, Mah."


"Gak usah, biar papah yang bantu mamah. Kamu sama Elang aja di sini. Kamu pasti capek." Jelita menarik tangan Garindra untuk mengikutinya.


"Kamu nyiapin sama bibi aja, Sayang, aku masih kangen sama Eri," gerutu Garindra.


"Jangan banyak protes! Beri waktu Eri dan Elang untuk ngobrol berdua," bisik Jelita.


"Gombal!" cibir Jelita


"Elo mau berdiri terus di situ?" tegur Elang yang melihat Valerie masih berdiri canggung. "Sini ...," Elang menepuk sofa di sebelahnya. "Gak usah takut, gue gak mungkin nyakitin elo."


"Terakhir kali kita ketemu, elo nyakitin gue."


Elang langsung membeku mendengar perkataan Valerie. Ia teringat perbuatannya sepuluh tahun yang lalu.


"Maaf," lirih Elang penuh sesal.


"Gak usah tegang gitu." Eri duduk di sebelah Elang. "Gue udah lupain semua, gue sudah maafin lo." Valerie tersenyum tulus.


"Tapi rasa sesal itu masih menghantui gue sampai sekarang, Er."


"Lang, sekarang kita sudah dewasa. Kita lupain kenangan buruk di masa lalu. Oke?"


Elang menganggukkan kepalanya. Perasaannya menjadi lega, karena telah mendapat maaf dari perempuan yang sangat berarti untuknya.

__ADS_1


"Gue gak nyangka, bentar lagi elo bakalan menikah. Dia pria yang baik?"


Valerie menganggukkan kepalanya. "Selama empat tahun ini, dia yang selalu ada buat gue. Dia juga tulus cinta sama gue" Valerie menuturkan hal tersebut sambil tersenyum, teringat dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Elo cinta sama dia?"


Valerie terdiam, seketika senyumnya lenyap, ia pun bingung harus menjawab apa. Elang tersenyum miring melihat Valerie yangterlihat salah tingkah. Mungkin, hati gadis itu masih menjadi miliknya.


"Bagaimana kalian bisa kenal?"


Valerie tersenyum kembali mengenang awal perjumpaannya dengan Rajawali.


"Pertama kali gue ketemu Raja, empat tahun yang lalu. Waktu itu gue ngeliput berita tentang kasus narkoba. Dan Raja adalah polisi yang memimpin penyergapan malam itu, gue terpisah dari kameramen gue. Keadaan saat itu sangat kacau. Waktu gue hubungin kameramen gue, gue ketemu dia. Tapi dia mengira gue adalah bagian dari komplotan yang sedang mereka cari. Dia merampas ponsel gue, dia mengira gue sedang menghubungi bandar narkoba.


Begitu gue memperlihatkan kartu identitas, dia langsung meminta maaf. Dia terlihat sangat lucu malam itu. Mulai saat itu gue sering meliput berita yang penggrebekannya di pimpin Raja. Mulai saat itu kami menjadi dekat."


"Dia polisi?"


"He'em." Valerie mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaan Elang.


"Keinginan lo semasa kecil terkabul ya. Dulu elo pengen punya suami seorang polisi."


Valerie terbahak mendengar penuturan Elang.


"Kebetulan itu, Lang. Lagian itu hanya keinginan konyol gue semasa kecil."


"Gak punya niat buat rubah keinginan lo? Jadi istri pilot misalnya, entar gue ajak terbang setiap hari."


Valerie terkekeh. "Elo lupa kalau gue takut ketinggian, Lang? Gue menunda pulang sampai sepuluh tahun ini, salah satu alasannya karena gue takut naik pesawat. Gak mungkin gue pulang berenang, kan?"


"Gue kasih tahu satu rahasia.." Elang mendekat ke arah telinga Valerie. " Alasan gue jadi pilot adalah untuk hilangin fobia elo sama ketinggian. Gue gak mau elo kalah sama trauma lo."


Jantung Valerie berdebar kencang mendengar penuturan Elang. Pipi gadis itu bersemu merah.


"Perasaan gue masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, Er. Gue cinta sama elo."


"Gak lucu, Lang." Valerie mendorong tubuh kekar Elang untuk menjauh darinya. tapi percuma, tubuh Elang lebih kuat, Elang hanya bergeser sedikit dan kembali memotong jarak antara keduanya.


"Gue gak lagi ngelucu, Er," jawab Elang dengan wajah yang serius. "Gue gak pernah main-main kalau menyangkut perasaan."

__ADS_1


__ADS_2