Arakata

Arakata
Terungkap


__ADS_3

Valerie mengendarai motornya ke sebuah area pemakaman. Akhir-akhir ini ia merasa rindu dengan sang bunda dan Rajawali.


Setelah berziarah ke makam bundanya, dan bercerita bahwa sekarang ia mendapat bunda baru, yaitu Diandra. Valerie melangkahkan kakinya menuju makam Rajawali.


Gadis itu menaburkan bunga seraya memanjatkan doa.


"Raja, gak terasa kamu sudah pergi selama lima bulan. Tapi, aku merasa kalau kamu masih hidup, kamu hanya pergi untuk melaksanakan tugas berbulan-bulan seperti biasanya. Aku ikhlas kok melepas kepergian kamu, agar kamu tenang di sana," ujar Valerie sambil mengusap batu nisan bertuliskan Rajawali Putra Angkasa.


"Aku sudah jadian sama Elang. Seperti janji dia ke kamu, dia selalu menjagaku. Dan seperti janjiku padamu, aku akan selalu bahagia. Raja, ada satu rahasia yang aku pun baru sadar sekarang. Aku cinta sama kamu. Walau aku terlambat mengatakannya, tapi perasaan ini sungguh nyata adanya. Aku menganggap rasaku selama ini hanya sebagai rasa sayang terhadap saudara dan sahabat. Namun, setelah kehilanganmu, aku baru sadar bahwa tanpa aku sadari hatiku mulai terbuka untukmu. Sekarang kamu telah pergi ke tempat yang lebih baik. Aku yakin kamu pasti bahagia di sana, karena kamu adalah orang baik dan akan mendapatkan tempat yang terbaik pula. Doaku akan selalu bersama mu. Rekan kerja, sahabat, saudara, dan kekasih ku, Rajawali Putra Angkasa."


Di tempat tidak jauh dari sana, ada seseorang yang sedari tadi mengikuti kemanapun Valerie pergi. Sampai ke pemakaman ini pun orang itu masih mengikuti dan memperhatikan gerak-gerik Valerie.


Dibidikkannya kamera ke arah Valerie, entah sudah berapa foto yang sudah ia ambil. Sambil memperhatikan foto Valerie di layar kameranya, pria itu tersenyum miring.


"Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu, Livia. Apapun caranya," ujar pria itu sambil menyeringai, lalu mencium foto Valerie yang ada di layar kameranya.


***


"Woe, kutil kuda, kembaliin kentang goreng gue!" teriak Andi yang tidak terima karena camilannya dirampas oleh Roxy.


Hari minggu ini mereka berkumpul di markas Arakata. Bukan hanya anggota Arakata yang ada di sana. Anggota Blue Eagle, Rajawali, dan Gester juga ikut nimbrung.


Setiap hari libur, mereka selalu berusaha untuk berkumpul bersama. Ada yang membawa anak dan istri, kalau yang nasibnya masih jomblo ya harus sabar hanya dengan membawa diri sendiri. Contohnya satu cowok yang mengaku playboy ini, Roxy.


"Medit lo, minta dikit aja gak boleh."


"Minta itu bilang dulu baru ambil, bukannya kaya elo. Ambil dulu, kalau ketahuan baru bilang. Ambilnya gak tahu diri pula, minta itu ambilnya sedikit. Lha ini?!" Andi mengangkat-angkat tempat kentang gorengnya yang sudah kosong. "Gue goreng lo!"


"Tega lo goreng cowok semanis gue? Entar spesies cowok imut yang sudah hampir punah jadi tambah berkurang lagi," ujar Roxy sambil memanyunkan bibirnya sok imut. Membuat siapa saja yang melihatnya ingin memyumpah serapahi.


"Amit." Andi bergidik ngeri sambil mengusap-usap lengannya.


"Berisik lo berdua!" seru Elang, "gak usah bawel gara-gara camilan, bentar lagi cewek gue datang bawa banyak camilan."


Ucapan Elang mendapat tanggapan yang meriah dari teman-temannya.


"Wah, Eri emang juara," puji Choky, "kalau elo gak buruan nikahin tuh cewek lo, jangan salahin kalau sampai gue tikung."


"Gue juga daftar, dong," ucap Roxy sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Gue siap kalau suruh nikahin Eri hari ini juga," ujar Robert yang membuat wajah Elang menjadi masam.


"Sini-sini, gue daftarin dulu siapa yang mau nikung Eri dari Elang." Braga mengambil kertas dan pulpen, mulai mencatat nama-nama calon penikung. Hahaha.


"Gila, Lang. Yang daftar ada puluhan orang!" teriak Bagus heboh. "Woy Sarmidi. Elo udah punya bini, ngapain ikut daftar!"


"Namanya juga usaha, Gus. Siapa tahu Eri mau jadi bini kedua gue," jawab pria yang bernama Sarmidi itu.


"Kampret, Lo!" seru teman-temannya sambil terbahak.


"Elo masih lajang aja belum tentu Eri doyan, apalagi udah punya bini. Gue coret aja nama elo!" Braga mencoret nama Sarmidi dari daftar. Sang empunya nama hanya meringis tanpa dosa.


"Sobek gak tuh daftar nama!" perintah Elang, "kalau gak muka kalian yang bakal gue sobek-sobek!"


Ancaman dari Elang tidak membuat teman-temannya takut, malah semakin kencang tertawanya.


"Makanya, kalau gak mau ditikung buruan dihalalin," ujar Bagus sambil menepuk pundak Elang. "Nunggu apalagi sih lo? Kerjaan mapan, materi berlimpah, umur juga udah pas buat nikah. Nunggu apaan lagi? Nunggu keduluan sama cowok lain? Kalau sampai Eri digondol cowok lain, bisa nangis guling-gulingan lo."


"Gue juga pengen buruan nikah sama Eri. Tapi gue takut kalau Eri yang belum siap," lirih Elang dengan muka masam.


"Elo bego apa tulalit sih," ejek Gandi, "emang lo gak nyadar kalau selama ini Eri sering ngodein elo buat buruan nikahin dia!"


"Pintar di urusan akademik belum menjamin pintar juga tentang perasaan. Ini orang contohnya." Choky menunjuk Elang dengan dagunya.


"Eri kan baru aja batal nikah, gue masih khawatir kalau dia belum siap untuk dilamar lagi."

__ADS_1


"Gimana elo tahu kalau elo belum mencoba?" Robert tersenyum miring. "Apa perlu gue yang mencoba buat melamar Eri, siapa tahu diterima."


"Kampret, Lo!" umpat Elang sambil melemparkan kulit kwaci. "Berani nikung, gue kebiri satu-satu!"


"Sebejat-bejatnya dan sebrengsek-brengseknya kita, keluarga dan sahabat nomor satu," ujar Choky, "dan sedalam-dalamnya perasaan kami ke Eri. Dia udah milih elo, jadi kami tidak akan mengusik. Beda ceritanya kalau elo sampai nyakitin dia. Gak pakai lama, bakalan gue rebut Eri dari elo, apapun caranya ...."


"Assalamu'alaikum," salam Valerie, gadis itu membawa beberapa kantong yang berisi kue dan camilan.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua pria yang ada di sana. Mereka langsung menghampiri Valerie, membantu gadis itu yang tampak kesusahan membawa kantong-kantong yang begitu banyaknya.


"Panjang umur lo, Er," ujar Bagus, "baru aja kita omongin."


"Omongin apa?" tanya Valerie sambil duduk di samping Elang.


"Gak usah dengerin mereka, lagi pada kumat," jawab Elang asal, "kenapa gak bareng aku aja tadi?"


"Aku mampir dulu ke makam bunda sama Rajawali,"


Elang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Valerie mengamati ponselnya yang berdering, di layarnya tertera nomor yang tidak dikenal. Valerie mengerutkan dahinya kemudian mengangkat sambungan telepon itu.


"Hallo," sapa Valerie di telepon.


"Hallo, Livi. Long time no see." sapaan itu membuatnya membeku seketika. Yang memanggilnya Livia hanya Rajawali dan satu orang lagi.


"Siapa?"


"Baru beberapa bulan gak ketemu, kamu sudah melupakan suaraku?"


"Hans?" tanya Valerie ragu-ragu.


Elang di sebelahnya sudah merasa penasaran dengan siapa sang kekasih berkomunikasi.


"Karena yang memanggilku Livia hanya Raja dan kamu."


"Hahaha, iya juga, ya. Gimana kabar kamu, Princess?"


"Alhamdulillah, baik. Kabar kamu sendiri gimana?"


"Baik, sedikit lelah setelah penerbangan yang lumayan lama."


"Emang kamu kemana? Masih di Korea, kan?"


"Aku di Indonesia, berlibur."


"Sungguh? Wah ...."


"Besok bisakah kau luangkan waktumu untukku? Aku rindu denganmu, Princess"


"Boleh, dimana?"


"Nanti alamatnya aku kirim lewat chat. Ada titipan dari Rajawali sebelum dia pergi."


"Oke, sampai jumpa besok, bye..."


"Bye, Princess."


"Siapa?" tanya Elang, begitu Valerie selesai menelepon.


"Hans, temanku dan Raja sewaktu di Korea. Dia juga polisi, sama seperti Raja. Kebetulan dia ada di Indonesia, jadi dia mau ketemu aku. Katanya ada titipan dari Raja."


Jawaban Valerie membuat dahi Elang berkerut, seperti ada yang janggal. Ingin ia melarang kelasihnya itu untuk bertemu Hans. Namun, ia tidak mungkin mengekang Valerie dan melarangnya untuk bertemu teman semasa ia di Korea.


"Aku boleh ikut kamu ketemu Hans?"

__ADS_1


"Boleh." Valerie mengangguk. "Nanti aku kenalin kamu ke dia."


"Terimakasih," jawab Elang sambil mengusap rambut Valerie yang lembut.


***


Valerie menghentikan motornya di sebuah rumah yang letaknya di pinggiran kota Jakarta. Suasana sekitar rumah itu terlihat sepi. Hanya ada kebun dan semak-semak.


Semalam Hans menghubungi Valerie lagi, memberitahukan alamat dimana ia tinggal. Valerie ingin mengajak Elang, tapi Hans melarangnya. Pria itu bilang ada hal yang hanya ingin ia bicarakan dengan Valerie, tanpa adanya orang lain.


Valerie tidak merasa curiga, karena Hans adalah sahabat Rajawali. Dulu mereka juga sering pergi bertiga. Jadi, tidak ada yang perlu dicurigai dari Hans.


Valerie memencet bel di pintu rumah itu. Tidak lama setelah itu pintu dibuka. Di hadapannya berdiri pria gagah berparas tampan yang sudah beberapa bulan ini tidak ia temui.


"Hay, Princess," sapa Hans dengan senyum sumringahnya. "Silahkan masuk, Princess."


Valerie terkekeh melihat sikap Hans yang belum berubah. Pria itu masih memperlakukannya seperti seorang putri.


Sebenarnya dulu Rajawali pernah memperingatkannya untuk jangan terlalu dekat dengan Hans. Tapi Valerie tidak terlalu menggubris peringatan Rajawali. Ia hanya menganggap bahwa Rajawali cemburu terhadap sahabat seprofesinya itu.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Valerie sambil masuk ke dalam, mengikuti sang tuan rumah.


"Kemarin begitu sampai di Indonesia, aku menyewa rumah ini untuk sementara aku tinggali selama aku di sini."


"Kenapa nyari rumah yang lingkungannya sepi?"


"Aku ke sini niatnya liburan, Vi,. Masa nyari tempat tinggalnya yang padat penduduk?"


Hans menarik tangan Valerie untuk duduk di sofa sebelahnya.


"Apa yang dititipin Raja ke kamu?"


"Entar dulu dong, gak sabaran banget." Hans terkekeh sambil mencubit gemas hidung Valerie. "Aku buatin minum dulu, ya." Pamit Hans sambil berjalan ke arah dapur.


"Aduh," rintih Valerie, pergelangan tangannya yang mengenakan jam pemberian dari Rajawali tiba-tiba terasa panas. Valerie mengusap-usap pergelangan tangannya.


"Kenapa?" tanya Hans sambil membawa segelas minuman untuk Valerie.


"Gak tahu, Hans. Tiba-tiba jam tangan pemberian Raja terasa panas di pergelangan tanganku."


"Kalau gitu buka aja, mungkin tangan kamu alergi pakai jam itu."


"Biasanya gak terasa panas, kok."


"Udah copot dulu aja, entar pakai lagi," ujar Hans sambil mencopot jam di pergelangan tangan Valerie dan meletakkannya di meja. "Minum dulu juice jeruknya."


"Terimaķasih," ucap Valerie sambil meminum juice jeruknya. "Sekarang bilang ke aku, apa yang dititipin Raja ke kamu?" Valerie menengadahkan tangannya pada Hans.


Namun, bukan memberikan apa yang dia janjikan tadi. Pria itu malah menggenggam tangan Valerie, dan menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.


"Hans! Apa yang kamu lakuin!" bentak Valerie, "aduh, kepala ku ...," rintih Valerie yang merasakan sakit di kepalanya.


"Pusing ya, Sayang. Sebentar lagi juga hilang kok pusingnya," ujar Hans sambil mengusap rambut Valerie.


"Apa yang kamu masukin ke minuman ku, Hans?" tanya Valerie disisa kesadarannya. Gadis itu mendongak, menatap Hans. Namun, matanya terasa berat dan kabur.


"Maaf, hanya dengan cara ini aku bisa dapatin kamu. Aku mencintaimu, Princess."


Setelah mendengar pengakuan dari Hans, kesadaran Valerie terenggut sepenuhnya.


"Aku akan mendapatkanmu seutuhnya, Sayang." Seringaian muncul dari bibir Hans, pria itu membopong Valerie masuk ke dalam kamarnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2