
Ragamu memang sudah tidak bersama kami, tapi kenangan dan semua kebaikanmu akan selalu kami ingat.
***
Valerie menyandarkan tubuhnya pada sofa di ruang kerjanya. Sedari tadi ia selalu melakukan kesalahan, entah itu menjatuhkan piring, menggosongkan kue, hingga tangannya harus terluka karena ia mengangkat loyang dari oven tanpa sarung tangan.
Pandangannya menerawang, entah apa yang terjadi. Ia merasa ada yang salah dengan perasaannya. Ia merasa akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Perasaan ini sama persis seperti saat ia harus kehilangan ibundanya dan Rajawali.
"Jangan lagi, aku mohon jangan lagi ya Allah. Jangan ambil orang-orang yang aku sayangi lagi," gumam Valerie, pandangannya masih terlihat kosong. Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.
Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerja Valerie terbuka secara kasar dari luar. Terlihat pria tampan nan gagah di balik pintu itu. Pria itu berlari tergesa ke arah Valerie yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Elang, ia mengusap telapak tangan Valerie yang diperban.
Valerie hanya terdiam sambil menunduk.
"Hey, Sayang," panggil Elang sekali lagi. Ia menengadahkan wajah Valerie agar memandangnya. Diusapnya pipi halus Valerie dengan sayang. "Apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku gak tahu, Lang," jawab Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Perasaanku kayak gak enak gitu, perasaan yang sama seperti waktu aku kehilangan bunda dan Rajawali. Aku takut, Lang. Aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayang lagi."
"Stt, kamu gak boleh berpikiran seperti itu," sahut Elang sambil mengusap air mata calon istrinya.
Ponsel Valerie berdering, ia meraih ponselnya dan tertera nama Bang Bayu di layar. Abangnya itu melakukan panggilan Video.
"Assalmu'alaikum, Bang," sapa Valerie pada sang abang.
"Wa'alaikumsallam, Dek. Kamu masih di toko roti?" Valerie mnegangguk-angguk. "Kamu sakit, Dek? Kok pucat gitu wajah kamu?"
"Enggak, Bang. Adek baik-baik aja. Abang di mana tuh?" Valerie mengerutkan keningnya, melihat ada banyak kursi tunggu di sekeliling kakaknya, seperti sedang berada di rumah sakit.
"Rumah sakit."
"Siapa yang sakit?" tanya Valerie dengan panik, ia langsung menegakkan tubuhnya. Elang membantu Valerie, Disandarkannya tubuh sang kekasih di dada bidangnya, agar wanita kesayangannya itu merasa nyaman.
"Enggak ada yang sakit, Dek. Gak usah khawatir," jawab Bayu sambil tersenyum. "Kamu bakalan jadi tante lagi."
"Hah? Maksutnya?"
"Kakak kamu hamil lagi, Dek. Abang kamu ini bakalan jadi daddy lagi," jawab Bayu dengan sumringah.
"Serius, Bang?"
"Serius lah, abang kamu ini kan tokcer," sahut Bayu sambil menepuk dadanya bangga. "Kedipin mata dikit, langsung bisa jadi anak."
"Alhamdulillah," ucap Valerie dan Elang bersamaan.
"Eh, ada calon adek ipar lakhnat juga toh," ucap Bayu yang melihat Elang ada di belakang adiknya.
"Iya, calon abang ipar kampret," sahut Elang, "Awhh!" Teriak Elang, karena mulutnya ditabok, dan pelakunya adalah kekasihnya sendiri. "Kok mulut aku ditabok sih, Yang."
"Salah sendiri ngatain Bang Bayu kampret," sahut Valerie cuek.
__ADS_1
"Abang kamu juga ngatain aku lakhnat lho, Yang. Kok cuma aku yang kamu tabok?" protes Elang tidak terima.
"Emang kamu lakhnat."
Jawaban Valerie membuat Elang melongo, mau protes nanti kekasihnya itu malah tambah ngotot. Mau marah tapi gak tega. Mau ganti pacar, lebih gak mungkin lagi, hatinya sudah mentok di Valerie.
Bayu terbahak melihat interaksi sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah itu.
"Burung, gue mau ngomong sesuatu sama elo."
"Tadi lakhnat, sekarang burung, terus aja panggil gue pake nama-nama gak jelas gitu, Bang."
"Telepon siapa, Bang?" tanya Ceril, kakak ipar Valerie itu mendudukkan diri di kursi sebelah suaminya.
"Pasangan yang bentar lagi bakalan nikah, Yang," jawab Bayu, pria itu merangkul bahu Ceril, hingga wajah menawan istrinya itu terlihat di layar ponsel.
"Hai, Kak Ceril," sapa Valerie, "selamat ya, Kak. Sebentar lagi mau nambah momongan."
"Iya, makasih ya, Dek. Gak nyangka aja, bentar lagi kakak mau punya anak yang keempat."
"Bikin yang banyak, Kak. Lumayan bisa ternak," sahut Elang yang langsung mendapat tabokan maut dari Valerie. "Aduh, kok ditabok lagi sih, Yang. Entar bibir aku jontor lho." Elang mengusap-usap bibirnya yang kembali menjadi korban telapak tangan maut kekasih tercintanya itu.
"Bodo! Salah sendiri punya mulut lemes banget," sahut Valerie, "lama-lama mulut kamu mirip Bagus. Kamu kira Bang Bayu dan Kak Ceril itu sapi?"
"Gue kan tokcer, Lang. Gue yang jadi ragu sama lo, gue gak yakin kalau lo bisa bikin adek gue buncit," celetuk Bayu sambil tersenyum jahil.
"Wah, ngremehin gue lo, Bang. Apa perlu gue buktiin sekarang kalau gue tokcer?" tanya Elang, pria itu meraih Valerie dalam pelukannya.
"Panik bener, Bang," sahut Elang santai. "Gue gak mungkin ngerusak wanita yang gue sayang. Bakalan gue jaga sampai kapanpun."
Penuturan Elang, membuat Bayu tersenyum puas.
"Bagus kalau begitu. Lang," panggil Bayu lagi, kali ini suaranya terdengar serius. "Jagain permatanya keluarga
Laksmono, jangan buat dia menderita lagi, jangan sampai adek kesayangan abang itu nangis lagi. Saat kalian sudah menikah, jadilah seorang suami dan ayah yang baik dan bijaksana. Jagain bokap dan adek-adek gue yang lain ya, gue tahu mereka pria-pria hebat, tapi terkadang mereka juga suka ceroboh." Bayu terkekeh mengingat ayah dan adik-adiknya itu.
"Bang Bayu ngomongnya kayak mau pesan-pesan terakhir," celetuk Elang yang tentu saja langsung mendapat tampolan maut kembali dari Valerie.
"Mungkin," gumam Bayu sambil tersenyum getir.
"Abang ngomong apa barusan?" tanya Ceril.
"Enggak kok, Sayang," sahut Bayu sambil mengusap rambut panjang Ceril.
"Ngomong gak penting lagi, aku jadiin adonan martabak kamu, Lang," ucap Valerie yang membuat Elang meringis ngeri.
"Dek, abang bisa minta tolong?" tanya Bayu, Valerie kembali mengalihkan pandangan pada layar ponselnya kembali, ia mengangguk patuh. "Tolong jagain istri dan anak-anak abang, ya."
Ceril, Valerie, dan Elang mengernyitkan dahi, bingung dengan permintaan Bayu.
"Mas mau tugas ke luar kota lagi?" tanya Ceril. Bayu menjawab pertanyaan sang istri hanya dengan senyuman.
__ADS_1
***
Wanita tangguh itu menangis histeris. Semenjak ia mendapat kabar bahwa sang abang meninggal dunia, tak henti-hentinya ia mengeluarkan air mata. Sekarang, ia sedang berada di rumah sakit, tepatnya di depan kamar jenazah.
Sampai sekarang, ia masih merasa tidak percaya, tepatnya ia tidak ingin percaya. Baru beberapa waktu lalu Bayu melakukan panggilan video, sekarang ... pria itu sudah terbaring tidak bernyawa.
Setelah pulang dari rumah sakit, Bayu dan Ceril mengalami kecelakaan. Bayu meregang nyawanya saat perjalanan ke rumah sakit. Putra sulung Laksmono itu tidak pergi sendiri, ia membawa sang calon anak bersamanya.
Iya, Ceril harus kehilangan janinnya karena benturan keras pada perutnya. Menantu Laksmono itu juga masih dalam kondisi yang belum stabil.
Valerie melangkahkan kaki memasuki kamar jenazah, sang ayah memeluk bahunya. Pratama, Reyhan, dan Gerry mengikuti dari belakang.
Dengan perlahan, Valerie membuka kain putih yang menutup tubuh jenazah. Matanya membelalak melihat wajah yang sudah dua puluh tujuh tahun ini menemani hari-harinya. Wajah pria yang selalu bisa ia andalkan, seorang abang yang bijaksana dan menjadi tempatnya berbagi cerita.
"Abang!" seru Valerie histeris, Laksmono memeluk tubuh putrinya lebih erat.
Laksmono sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia pun sedang merasakan pukulan terhebat. Putra sulungnya, penerus perusahaannya, putra yang selalu bisa ia andalkan, sekarang terbaring kaku dengan wajah yang mulai memucat.
"Kenapa lo jadi begini, Bang ...," lirih Pratama, air mata sudah mengalir deras di pipinya, begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain.
"Bang, bangun," ucap Valerie sambil menggoyang-goyangkan tubuh Bayu yang sudah mulai kaku. "Bu-bukannya tadi abang pamer ke adek, kalau bentar lagi abang bakalan punya anak ke empat? Bentar lagi adek mau nikah, Bang. Abang gak mau jadi saksi pernikahan adek? Bangun, Bang ...."
"Udah, Dek," ucap Laksmono, mencoba menenangkan putrinya. "Yang ikhlas, kasihan abang kamu. Kamu harus kuat, masih ada Ceril, Lana, Dika, Bunga ... mereka butuh kamu."
"Gak bisa, Yah. Dulu Bang Bayu bilang kalau dia akan selalu ada buat Eri, dia bilang kalau dia bakal gantiiin sosok bunda buat Eri. Terus ... terus kenapa dia pergi begitu aja! Dia jahat, dia ingkar janji, Yah."
Tubuh Valerie luruh ke lantai,
"Lagi ... kenapa lagi-lagi Eri harus kehilangan orang yang Eri sayangi!" Gadis itu memukul kepalanya sendiri.
Laksmono kembali meraih Valerie dalam pelukannya. Pria itu sudah tidak bisa berkata-kata, tenggorokannya terasa kelu.
"Bang ... Bang Bayu," lirih Gerry, pria itu memeluk Reyhan. "Bang Bayu pergi, Bang."
"Iya, Ger," sahut Reyhan, ia menepuk punggung sang adik, berusaha memberi kekuatan. "Abang juga terpukul, abang juga belum siap kehilangan Bang Bayu. Tapi ini sudah menjadi takdir Allah, ini jalan yang tebaik buat Bang Bayu." Reyhan berusaha menenangkan sang adik, walau dia sendiri pun tidak bisa menahan tangisnya.
Ponsel milik Pratama bergetar, pria itu keluar dari ruang jenazah untuk mengangkat telepon. Beberapa saat ia kembali lagi ke dalam ruang jenazah.
"Kecelakaan yang dialami Bang Bayu dan Kak Ceril, bukan murni kecelakaan," ucap Pratama, "Ada yang sengaja menyabotase mobil Bang Bayu, kamera CCTV berhasil merekam wajah pelakunya. Anak buah Bang Bayu berhasil menemukan di mana pelaku sekarang berada."
Penuturan Pratama tersebut sukses membuat Laksmono dan yang lain terkaget. Bagaimana mungkin ada orang yang tega melakukan hal tersebut pada Bayu. Selama ini Bayu selalu berlaku baik pada siapapun, jadi sangat mustahil jika ada yang membencinya, kecuali jika orang itu adalah lawan bisnisnya.
"Hubungi polisi, biar polisi yang ...,"
"Jangan," ucap Valerie memotong perkataan Laksmono. Gadis itu bangkit berdiri, pandangan matanya menajam. "Tak perlu lapor polisi, biar Eri yang turun tangan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa." Valerie mengambil saputangan berwarna cokelat yang menyembul dari saku baju milik Bayu, gadis itu mengikatkan saputangan milik sang kakak pada pergelangan tangannya.
"Akan ku buat orang itu juga mengalami rasa sakit yang sama dengan yang Bang Bayu rasain, dengan tangan ini-" Valerie mengangkat tangannya yang terikat oleh saputangan milik Bayu. "Dengan tangan ini, akan kubuat dia tersiksa sebelum meregang nyawa."
Setelah mengatakan hal itu, Valerie melangkahkan kakinya keluar dari kamar jenazah.
"Eri, jangan!"
__ADS_1