Arakata

Arakata
Jodoh Untuk Ayah


__ADS_3

Jangan paksa aku untuk berhenti mencintainya, dan menggantikan dia dengan yang lain. Karena hal itu akan membuat ku semakin jatuh dalam jurang kesepian.


***


"Ayah," panggil Valerie disaat mereka sedang bersantai sehabis sarapan pagi.


"Apa, Sayang," jawab Laksmono lembut.


"Temen Eri punya mamah tiri, tapi beliau orangnya baik yah. Sayang sama temen Eri, padahal temen Eri bukan anak kandungnya. Dan mamah tirinya sedang mengandung, bentar lagi dia punya adik."


"Terus?"


"Emmm, anu, itu," jawab Valerie gugup. Dia bingung bagaimana cara mengungkapkan keinginannya. Ia takut jika apa yang akan dikatakannya akan menyingung perasaan ayahnya.


"Mendadak gagu lo, Dek." Gerry memukul pelan punggung adiknya.


"Ish, apaan sih, Bang!" Valerie balik memukul punggung Gerry, dengan keras tentunya. Membuat sang kakak mengaduh nyeri. "Ayah gak ada niat buat nikah lagi?" Pertanyaan Valerie sukses membuat sang kepala keluarga menyemburkan kopi yang baru saja akan diminumnya. Dan naas, Gerry berada di hadapan ayahnya dan sang anak ke empat itu mendapat kehormatan terkena semburan dari sang pendiri Arakata.


"Ayah," geram Gerry, "kalau ayah mau banting stir jadi dukun, jangan Gerry yang jadi uji cobasemburannya dong.  Wajah Gerry yang tampannya cetar membahana jadi ternoda, kan." Dumel Gerry sambil membasuh mukanya di wastafel.


Gerry memejamkan matanya sambil membasuh wajah. Tapi, dengan isengnya Rey menuangan sabun cuci piring cair pada kedua telapak tangan Gerry yang menengadah.


"Eh, apaan nih, kok berbusa. Baunya kok kayak ...," Gerry membuka matanya sedikit dan menjerit seketika begitu tahu apa yang ada pada kedua telapak tangannya. "Aaaaaaaaa!"


Hal itu membuat Laksmono dan anaknya yang lain terbahak.


"Kamu gak usah punya pikiran aneh-aneh ya, Dek. Sampai kapanpun hanya bunda kamu yang ada dalam hati ayah. Tidak ada yang bisa gantiin. Buruan  berangkat sekolah,udah di tunggu Elang itu."


"Iya, Yah. Valerie pamit berangkat sekolah dulu." Valerie menyalimi ayah dan abang-abangnya. Setelah itu dia berlari menghampiri Elang yang udah nangkring di motor sport hitamnya.


***


Jam pertama kelas 12 IPS 1 adalah pelajaran ekonomi yang diajar oleh seorang guru muda bernama Diandra. Valerie sangat menyukai guru ini, karena kepribadiannya yang baik dan parasnya juga cantik.


Tiba-tiba gadis cantik itu menjentikkan jarinya. Muncul sebuah ide di otaknya yang cemerlang.


Setelah pelajaran selesai, Valerie menghampiri gurunya yang akan keluar kelas.

__ADS_1


"Bu Diandra."


"Iya, Valerie. Ada apa?"


"Ada materi yang belum Valerie mengerti. Bu Diandra mau bantuin Valerie, gak? Tapi ngerjainnya di cafè aja nanti sore. Sekitar jam lima, Bu. Gimana?"


"Ya sudah, ibu nanti juga ada keperluan di luar. Jadi sekalian aja."


"Oke bu," jawab Valerie ceria, kelewat ceria sehingga membuat teman-teman sekelasnya curiga.


"Gue nyium bau-bau siasat ini," ujar Maul yang mendengarkan percakapan Valerie dan sang guru.


"Gue lagi mengemban misi negara," jawab Valerie sambil cengengesan. "Gue mau telepon bokap gue, elo semua jangan berisik." Valerie meletakkan jari telunjuknya di mulut mungilnya, menyuruh teman-temannya itu untuk diam.


"Assalamu'alaikum, Yah."


".........."


"Entar pulang kantor, ayah mampir ke cafènya Bang Tama ya. Eri mau ngomong sama ayah."


"........"


"Wah, kelihatannya gue mulai paham nih," ujar Faris sambil manggut-manggut.


"Elo emang cowok yang peka," ujar Valerie sambil mengedipkan matanya membuat Faris merinding ngeri.


***


Malam harinya Valerie dan inti Arakata main di rumah Elang. Valerie sedang berbincang dengan Jelita dan Garindra.  Elang main PS dengan Gandi, Bagus memainkan game di ponselnya, Gaung asyik mengotak-atik rubignya.


Semua kegiatan berhenti seketika, saat Laksmono masuk diikuti keempat abang Valerie.


"Eri!" panggil Laksmono dengan nada yang tegas.


"Sabar dulu, Yah. Kita omongin baik-baik ke adek." Bayu berusaha meredakan emosi Laksmono yang terlihat siap meledak.


"Jelasin maksut kamu?" tanya Laksmono yang lebih terdengar seperti perintah.

__ADS_1


"A-apa, Yah?" tanya Valerie dengan ketakutan. Baru kali ini ayahnya itu membentaknya.


"Maksut kamu tadi mempertemukan ayah dengan guru kamu apa? Apa ini ada hubungannya dengan permintaan kamu tadi pagi yang ingin ayah nikah lagi!" Garindra mengusap punggung Laksmono, berharap mengurangi emosi sahabatnya itu. Garindra merasa kasihan melihat wajah Valerie yang sudah pucat karena ketakutan.


Valerie hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan ayahnya.


"Udah ayah bilang berulang kali, bahwa tidak ada yang bisa gantiin bunda kamu di hati ayah!" Valerie semakin gemetar melihat tatapan ayahnya yang penuh amarah dan kekecewaan. "Jangan paksa ayah untuk berhenti mencintai bunda mu, dan menggantikan dia dengan yang lain. Karena hal itu akan membuat ayah semakin jatuh dalam jurang kesepian." Satu tetes bening jatuh dari netra yang terluka itu, membuat Valerie semakin merasa bersalah.


"Er-Eri, Eri hanya ...."


"Apa kamu sudah bosan mengurusi ayah?" Pertanyaan dari Laksmono berikutnya membuat hati Valerie semakin terluka, karena memang bukan itu yang ia inginkan. "Kamu sudah capek mengurus ayah dan abang-abang mu? Makanya kamu mencarikan istri untuk ayah?"


Valerie menggelengkan kepalanya, gadis itu menangis sesenggukan. Jelita memeluk gadis itu dari samping, memberikannya kekuatan.


"Ayah udah, perkataan ayah ke adek udah keterlaluan." Bayu berusaha menyadarkan ayahnya dari emosi yang masih menguasai. "Jika itu mau kamu, kamu bisa bebas dari tugas kamu tanpa harus mencarikan ayah istri. Mulai


sekarang kamu tidak perlu memasak atau mengurusi keperluan ayah dan abang-abang kamu."


Lutut Valerie lemas seketika, mendengar perkataan ayahnya. Ia terjatuh, untung dengan sigap Elang menangkap tubuhnya. Pandangan mata gadis itu terlihat kosong. Membuat semua yang melihatnya ikut merasakan sakit yang dirasakan hati gadis itu.


"Laks, cukup!" bentak Garindra yang merasa ucapan sahabatnya itu sudah keterlaluan. Laksmono memang sangat mencintai mendiang istrinya. Tapi, bukan berarti dia bisa bicara seperti itu pada Valerie.


"Er-Eri, Eri hanya ingin seperti anak perempuan yang lain, Yah," lirih gadis itu dengan pandangan yang kosong. Memang raganya sedang berada di sana. Tapi, raga itu seperti kosong tanpa jiwa. "Eri ingin seperti teman-teman Eri yang maskeran bareng mamanya kalau malam, shopping dengan mamanya, ke salon bersama, curhat dengan mamanya. Eri ingin ngerasain itu yah, Eri ingin merasakan pelukan seorang ibu." Tubuh Valerie bergetar, air mata sudah membasahi pipi mulusnya.


Perkataan Valerie membuat Laksmono menegang seketika. Selama ini ia hanya berpikir kalau dia tidak memerlukan seorang istri, karena hanya Sofie yang ia cintai. Namun, ia tidak pernah berpikir kalau anak perempuannya itu juga membutuhkan figur seorang ibu.


Selama ini ia hanya egois memikirkan perasaannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan putri kecilnya. Sofie meninggal waktu Valerie berusia empat tahun. Tentu saja putrinya belum puas merasakan perhatian seorang ibu. Dan bodohnya Laksmono tidak memikirkan itu.


Ia hendak melangkah meraih putri kesayangannya. Namun, Valerie malah beringsut menjauh.


"Eri juga ingin ayah mempunyai teman berbagi di usia ayah yang semakin senja. Eri tidak mau ayah merasa kesepian jika Eri atau abang-abang sibuk dengan urusan kami sendiri. Eri hanya ingin ayah bahagia, hanya itu. Alhamdulillah, Eri merasa ikhlas memasak dan mengurusi keperluan ayah dan abang-abang. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Eri untuk lari dari tanggung jawab. Karena Eri tidak pernah menganggap itu sebagai tanggung jawab, tapi sebagai wujud cinta Eri ke kalian, wujud sayang Eri ke kalian." Valerie semakin beringsut dalam pelukan Jelita.


"Udah sayang," Jelita mengusap punggung gadis yang terlihat tangguh namun memiliki hati yang rapuh itu.


Laksmono merasa sangat menyesal. Bagaimana mungkin ia bisa berpikiran buruk tentang putrinya yang sangat penurut itu. Seharusnya ia tidak seemosi ini. Ia sadar perkataannya tadi bagai pedang yang melukai hati putrinya.


"Maafin ayah, Dek," ucap Laksmono penuh sesal. "Kita pulang, yuk."

__ADS_1


"Eri mau tidur sama Mama Jelita," ucap gadis itu tanpa memandang ayahnya.


__ADS_2