Arakata

Arakata
Awal Arakata 2


__ADS_3

Sampai kapanpun penyesalanku takkan berujung. Tapi, aku akan melakukan sesuatu agar tidak ada yang memiliki nasib yang sama seperti mu lagi. Sahabat baik ku.


***


Mereka berlima sedang berkumpul di rumah Laksmono. Setiap malam minggu mereka selalu berkumpul di rumah pemuda yang berlesung pipit itu. Rumah keluarga Laksmono memang tidak terlalu besar, tapi mereka selalu nyaman berada di sana.


Bukannya mereka tidak mampu membeli rumah yang besar dan mewah. Namun,  kesederhanaan ini yang selalu Laksmono dan keluarganya inginkan. Ayah Laksmono adalah seorang arsitek profesional dan ibunya adalah seorang bidan yang memiliki klinik persalinan sendiri di dekat rumahnya. Ibunda Laksmono selalu membantu persalinan warga sekitar yang kurang mampu dalam ekonomi. Jadi, wajar saja jika warga sekitar bersikap baik dan


sering membantu keluarga itu tanpa diminta. Bukan karena sungkan atau apa, tapi karena bentuk terimakasih mereka atas kepedulian keluarga Laksmono pada lingkungan sekitar.


Bahkan Garindra yang notabene nya berasal dari keluarga yang lebih mampu dan memiliki rumah mewah saja lebih senang menginap di rumah sahabatnya itu. Rumah Laksmono memiliki sesuatu yang tidak ada di rumahnya, yaitu kehangatan keluarga. Bukan orangtuanya tidak sayang padanya, tapi orangtuanya sering berada di luar kota untuk mengurus bisnisnya.


"Kenapa dengan muka lo?" Tanpa basa-basi Afghi menanyakan perihal ujung bibir Teguh yang sobek dan lebam-lebam di wajah sahabatnya itu.


Baru saja cowok itu masuk ke dalam rumah, sudah di berondong pertanyaan oleh Afghi.


"Oh, ini tadi gue kepleset di kamar mandi, kepentok bak mandi." Teguh mengusap luka di wajahnya yang belum sempat ia obati.


"Elo kira kita ini bocah yang bakal percaya sama alasan bodoh lo itu." Alif yang biasa bersikap tenang pun ikut emosi melihat luka sahabatnya itu.


Teguh hanya menunduk mendengar penuturan sahabat-sahabatnya itu tanpa menjawabnya. Mereka sudah saling mengenal sedari masa sekolah. Jadi, akan percuma jika berbohong dan mencoba mengelabui para sahabatnya itu.


Laksmono datang dari dalam kamar sambil membawa kotak P3K dan baskom kecil berisi air hangat.


Cowok itu membersihkan luka di wajah sahabatnya itu. Walau sikapnya tenang tapi ada emosi di kilatan matanya. "Elo lupa sama omongan gue kemaren?" Laksmono memberikan kapas dan obat merah pada Teguh. "Nih obatin sendiri luka lo.Berasa homo gue ngusap-ngusap wajah lo."


Perkataan Laksmono membuat Teguh tersenyum dan agak mencairkan suasana yang terkesan mencekam di ruangan itu.

__ADS_1


"Maaf." Hanya kata itu yang terucap dari cowok tampan berkacamata itu.


"Elo sudah gak nganggep kita sebagai sahabat elo?" Afghi menatap tajam Teguh.


"Sudah, lo tenang dulu, kasihan Teguh kalau lo desak terus." Garindra mencoba menenangkan Afghi yang emosinya mulai naik. Diantara mereka, Afghi memang yang paling gampang tersulut emosi.


Afghi melempar kunci motornya sembarangan untuk meluapkan emosinya, "gue kayak gini juga karena kasihan sama dia. Gue gak mau dia disiksa terus sama adek sialannya itu. Masih aja dia nutupin kelakuan bejat si Ryan. Gue juga ikut sakit melihat elo luka gini Guh. Arggg,,, sial!!!" Afghi mengusap kasar wajahnya yang sudah merah karena amarah.


"Guh, jujur sama kita, apa yang terjadi sampai muka lo babak belur kayak gini?!" Laksmono menepuk pelan punggug Teguh. Tapi reaksi berlebihan sahabatnya itu membuatnya mengernyit bingung.


"Aduhh," rintih Teguh menahan sakit.


"Buka baju lo!!" perintah Laksmono tegas. Cowok itu berpikir pasti ada yang tidak beres. Tidak mungkin cuma ditepuk ringan, Teguh bisa sampai kesakitan. Kecuali kalau ....


Teguh masih diam tanpa melakukan permintaan Laksmono yang lebih terkesan sebagai perintah.


Cowok berkacamata itu membuka bajunya perlahan. Dan betapa terkejutnya empat cowok itu melihat punggung dan dada ringkih sahabat mereka itu penuh dengan lebam. Seketika amarah melingkupi mereka. Mereka tidak rela sahabat sedari kecil mereka itu dilukai oleh orang yang baru setahun ini menjadi adik tiri sahabatnya itu.


"Anjing!!" umpat Afghi, tangannya mengepal menahan amarah.


"Ceritain ke kita apa yang terjadi selama setahun ini Guh. Jangan buat kita jadi sahabat gak berguna dengan tidak tahu apa-apa tentang penderitaan elo." Laksmono berusaha menahan emosinya. Walau sejujurnya ingin sekali dia mendatangi Ryan dan membuat luka yang sama seperti yang cowok itu lakukan pada sahabatnya.


"Hufttt," Teguh menghembuskan nafas nya. Mungkin sekarang saatnya ia menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatnya. Para sahabatnya berhak tahu perihal yang terjadi padanya.


Lalu mengalirlah cerita itu. Dimana selama ini ayah dan adik tirinya itu tidak pernah bersikap baik padanya, bukan hanya padanya tapi juga pada ibunya.


Jika ada masalah pribadi, ayah tiri Teguh itu selalu melampiaskan pada ibunya. Teguh yang berusaha membela juga ikut terkena imbasnya. Setiap hari hidup Teguh bagai di neraka. Siksaan demi siksaan dia dapatkan.

__ADS_1


Adik tirinya yang tidak tahu diri itu selalu menyuruh Teguh mengerjakan tugasnya. Jika nilai tugasnya tidak A, Ryan tidak terima dan memukul Teguh membabi buta. Seperti yang terjadi kemarin. Tugas Ryan yang dikerjakan Teguh tidak mendapat nilai A, sehingga Ryan menghajarnya habis-habisan.


"Kenapa elo gak lapor polisi?" wajah Garindra mengeras, dia tak terima jika sahabat yang sudah dianggap saudaranya itu diperlakukan tak berprikemanusiaan. "Gue akan minta ke bokap gue agar pengacaranya bantu elo jeblosin tuh dua iblis ke penjara."


"Gak usah Ndra, " cegah Teguh, "gue gak mau ibu gue sedih. Setelah ayah gue meninggal, cuma ibu, orang tua yang gue punya. Gue gak mau bikin beliau sedih."


"Kalau elo sayang sama ibu lo. Elo harus terima tawaran Indra." Alif mencoba memberi pengertian sahabatnya itu agar tidak lagi menolak bantuan mereka. "Elo gak mau ibu lo disiksa terus kan?"


Perkataan terakhir Alif itu membuat Teguh berpikir. Mungkin benar juga apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya itu. Kalau dibiarkan terus, ayah dan adik tirinya itu akan terus semena-mena. "Iya, gue setuju buat ngelaporin mereka ke polisi," perkataan Teguh itu membuat Laksmono dkk tersenyum lega. Akhirnya penderitaan sahabatnya itu akan segera berakhir.


Mereka menyesal, seandainya mereka lebih awal mengetahui perihal ini. Sahabatnya itu tidak akan mendapat luka di sekujur tubuhnya ini.


"Gue pake baju lagi ya." Teguh memakai bajunya lagi dengan perlahan karena seluruh badannya berasa remuk. "Berasa kayak jalang gue telanjang dada di depan elo semua." Teguh menaik turunkan alisnya dengan wajah yang menggoda. Membuat keempat temannya bergidik ngeri dan jijik.


"Anjir, gak nafsu gue liat dada rata lo." Garindra melempar kulit kacang yang ada di meja sampingnya pada Teguh.


"Elo napa celingak-celinguk gak jelas gitu Ghi?" tanya Alif bingung melihat Afghi yang celingak-celinguk tidak jelas.


"Ini, gue nyari kunci motor. Tadi waktu gue emosi, gue lempar kunci motor gue. Gue lupa nglemparnya kemana." Afghi menggaruk tengkuknya sambil nyengir bodoh.


"Buahahahaha, mampus lo. Siapa suruh sok-sok'an lempar kunci motor." Garindra terbahak melihat kebodohan sahabatnya yang emosian itu. "Kalau gak ketemu tuh kunci, nasib lo bopong motor sampai rumah. Huahahahaha."


"Temen sialan lo, bukannya bantuin malah ngetawain!" umpat Afghi kesal.


"Mungkin kunci motor lo udah bosan sama lo. Jadi, dia lebih memilih minggat." Perkataan Alif membuat Afghi tambah dongkol, tapi membuat sahabatnya yang lain tertawa lepas, termasuk Teguh.


Dan siang hari itu mereka habiskan dengan mencari kunci motor Afghi yang entah berada di mana.

__ADS_1


__ADS_2