Arakata

Arakata
Kembalinya Bidadari Arakata


__ADS_3

Jangan coba-coba berpikir untuk meninggalkanku lagi. Namun, jika kau ingin aku hancur, maka pergilah dariku ... dan kau akan menemukan ragaku masih bernyawa, tapi tanpa rasa.


***


"Elo udah ketemu sama Riki?" tanya Valerie pada Valero, sekarang mereka berada di dalam mobil Riki.


"Kemarin gue datang ke kantornya, nanya tentang dia yang udah nyelakain lo sama Bang Bayu."


"Elo tanya apa elo labrak?" tanya Valerie sambil tersenyum miring.


"Ck, elo kira gue emak-emak komplek yang ngelabrak tukang kredit panci!"


"Kirain, kan ... secara kan sekarang mulut lo lemes juga."


"Didikan sahabat lo."


"Salah lo juga, dididik Bagus buat lemes kok nurut aja. Eh, kok elo tadi bisa ada di kantor polisi, sih?"


"Semalam, Riki telepon gue. Dia minta gue ke kantor polisi buat jemput seseorang. Mana gue gak boleh bawa kendaraan sendiri, harus pakai taksi," gerutu Valero atas permintaan saudara tirinya itu.


"Elo udah tahu kabar tentang ayah tiri lo, kan?" tanya Valerie agak ragu, takut menyinggung perasaan sahabatnya itu.


"Tahu," jawab Valero sambil mengangguk.


"Bagaimana sama hati lo?"


"Gue gak tahu, Er," jawab Valero sambil menghembuskan napas agak kasar. "Di satu sisi gue seneng karena gak ada lagi orang yang bakal ngusik hidup gue dan keluarga gue. Di sisi lain gue juga ngerasa sedih, karena walau bagaimanapun, dia adalah ayah kandung Azizah."


"Gue tahu elo pasti kuat, elo pasti bisa ngadepin semua ini" sahut Valerie sambil mengusap pundak Valero, berusaha memberikan semangat pada sahabatnya itu. "Setelah melewati hal buruk selama puluhan tahun, gue yakin kalau elo dan keluarga lo pasti akan mendapatkan kebahagiaan, Amiin."


"Amiin, makasih," ucap Valero. Pria itu memandang wajah Valerie untuk sesaat. Betapa bahagianya ia semalam saat Riki memberitahukan padanya jika Valerie masih hidup. Dunianya yang sempat terhenti, kini berputar kembali. "Asal elo tahu, calon suami bucin lo udah hampir gila karena mengira elo udah bener-bener meninggal. Dia gak mau makan dan minum, sampai dia di infuse di kamarnya."


Valerie membolakan matanya, mendengar penuturan Valero. Ada rasa khawatir yang menyusup di hatinya, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pria yang dicintainya itu.


"Sahabat lemes lo juga ngotot kalau elo masih hidup," lanjut Valero kembali. "Berulang kali dia meyakinkan kami kalau jenazah yang terbakar bersama mobil lo itu bukan elo."


"Firasat Bagus memang gak pernah salah," ucap Valerie sambil tersenyum. "Mereka udah tahu kalau gue masih hidup?"


"Belum ada yang gue kasih tahu," sahut Valero sambil menggelengkan kepala. "Nah, silahkan berikan kejutan yang manis untuk mereka. Pagi ini, gue sengaja ngumpulin keluarga lo dan sahabat-sahabat lo. Dengan alasan gue mau ngenalin calon istri gue, hahahaha."


Mobil yang Valero kendarai sudah terparkir manis di garasi rumah Laksmono.


"Gila, Lo!" seru Valerie sambil memukul pelan lengan Valero.


Valero terkekeh sambil mengusap lengannya. Walau pukulan Valerie pelan, tapi tetap saja tenaga Valerie cukup menyakitkan, hahaha.


":Ero," panggil Valerie, suaranya terdengar ragu-ragu.


"Kenapa, Sayang," sahut Valero sambil memandang lembut pada Valerie, membuat wajah gadis itu memerah.


"Ish, bisa serius gak sih!"


"Hahaha, iya Eri, kenapa?" Lagi-lagi Valero mengusap-usap lengannya. Dan kali ini karena mendapatkan cubitan maut dari gadis manis di sebelahnya.


"Gue kangen sama mereka semua," lirih Valerie. Satu tetes bening jatuh membasahi pipi mulusnya.


Valero tersenyum, ia mengusap tetes bening itu. "Selamat datang kembali bidadari Arakata." Pria itu membukakan pintu mobil untuk Valerie, dan menyodorkan tangannya untuk digandeng gadis itu. "Ayo kita masuk, gak baik membuat mereka terlalu lama penasaran, calon istriku."

__ADS_1


"Gue tampol ya mulut lo," ancam Valerie sambil menyambut uluran tangan Valero. "Elang juga ada?"


"Enggak," jawab Valero sambil menggeleng. "Calon laki lo gak kuat bangun, kayak udah gak punya semangat hidup dia. Entar lo samperin khusus ke kamarnya aja. Pasti dia langsung sehat, gue jamin."


Valerie terbahak mendengar penuturan Valero tentang calon suaminya itu. Begitu sampai di depan pintu rumahnya, Valerie menarik napas.


"Gue masuk duluan, elo masuk kalau udah gue panggil, ya," pinta Valero sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Udah kayak cewek panggilan aja gue," dumel Valerie membuat Valero terkekeh.


"Jangan banyak protes," ucap Valero sambil menarik hidung bangir Valerie. "Elo itu udah kayak zombie, udah mati malah hidup lagi."


"Oh, jadi elo maunya kalau gue mati beneran aja?" tanya Valerie, gadis itu menaik-turunkan alisnya.


"Amit-amit, Er." Valero mengetuk-ngetuk kepalanya. "Jangan sampai, gue seminggu kemarin udah kayak orang yang hanya punya napas separo, waktu ngira elo udah meninggal. Udah jangan banyak omong yang gak penting, gak mulai-mulai nih kita."


"Elo juga yang mulai ngomong yang gak penting," dumel Valerie, tidak terima disalahkan.


"Assalamu'alaikum," salam Valero, ia melangkah duluan meninggalkan Valerie di belakangnya.


"Wa'alaikumsallam," jawab semua yang ada di sana.


Benar apa yang dikatakan Valero, rumah Laksmono penuh dengan keluarga Valerie dan sahabat-sahabatnya.


"Mana calon bini, lo?" todong Bagus begitu Valero ada di hadapannya.


"Sabar, Brow. Gak sabaran amat," sahut Valero sambil berdecak. "Awas aja ya kalau lo sampai berani peluk-peluk calon istri gue."


"Ck, ogah gue meluk-meluk calon bini orang," sahut Bagus sambil bergidik jijik.


"Gue pegang omongan lo, kalau sampai elo peluk dia, gue tendang bokong lo!" ucap Valero sambil tersenyum miring. "Sayang, sini." Valero melambaikan tangannya, memanggil Valerie masuk ke ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum," salam Valerie. Gadis tangguh itu memandang semua orang yang ada di sana satu persatu. Tatapan rindu jelas terlihat di netra indahnya. Walau mereka terpisah hanya seminggu, tapi rasa rindu itu sudah mendesak.


"Wa'alaikumsallam," jawab mereka bersamaan, setelahnya mereka langsung terdiam. Tubuh mereka seakan membeku, bahkan ada yang mengusap mata untuk membuktikan apakah ia salah lihat atau tidak.


"Apakah gak ada yang mau peluk Eri?" tanya gadis itu sambil merentangkan kedua tangannya. "Ayah, Eri pulang." Gadis itu memandang wajah Laksmono yang terlihat lelah. Netra bening Valerie berkaca-kaca.


"Eri," lirih Laksmono dan semua yang ada di sana.


Setelah terdiam beberapa saat, mereka langsung berlari mengfhampiri Valerie. Mereka sampaikan rasa rindu mereka dengan memeluk tubuh gadis yang sangat mereka sayangi itu.


"Eri, rindu," ucap Valerie sambil membalas pelukan Laksmono. Menetes sudah air mata yang sedari tadi ia tahan, air mata kebahagiaan dan rasa syukur atas kesempatan hidup yang masih ia dapatkan.


"Ini beneran Eri, putri ayah?" tanya Laksmono masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pendiri Arakata itu memegang wajah anak gadisnya, seakan memastikan bahwa yang ada dihadapannya itu benar-benar putri kesayangnnya.


"Iya, Ayah," jawab Valerie sambil mengangguk. "Emang ini siapa kalau bukan putri ayah satu-satunya." Valerie memeluk ayahnya lebih erat.


"Bener kan kata gue, Eri masih hidup!" seru Bagus, begitu Laksmono mengurai pelukannya, Bagus langsung membawa Valerie dalam pelukannya. "Udah gue bilang kalau malaikat pencabut nyawa ogah urusan sama dia. Eri, gue takut kalau elo beneran pergi dari gue." Bagus semakin mempererat pelukannya, air matanya pun menetes.


"Eits, tadi udah gue bilang kan kalau elo gak boleh meluk-meluk calon istri gue," celetuk Valero sambil menarik Valerie dari pelukan Bagus, kemudian ia menendang pantat Bagus.


"Calon istri mata lo! Dibanting Elang baru tahu rasa, lo!" seru Bagus sambil mengusap-usap pantatnya.


Valero hanya mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan apa yang dikatakan Bagus. Membuat pria itu berdecak jengkel.


Semua yang ada di sana bergantian memeluk panglima perang Arakata angkatan delapan itu.

__ADS_1


"Bertahun-tahun gue kenal Eri, baru kali ini bisa peluk dia," celetuk Roxy yang langsung mendapat bogeman dari Braga.


"Cari-cari kesempatan, Lo!" ucap Braga .


Roxy menanggapi omelan Braga hanya dengan sebuah senyuman manis yang membuat Braga merinding.


"Bagaimana ceritanya Eri bisa selamat dari kecelakaan maut itu?" tanya Garindra, "terus siapa jenazah yang kita makamkan seminggu yang lalu?"


Valerie menceritakan apa yang terjadi selama seminggu itu, Valero pun ikut menceritakan apa yang ia ketahui tentang sosok Riki Rahwana. Semua yang ada di sana mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Em, kalian punya foto si Riki itu gak?" tanya Garindra, wajahnya terlihat seperti sedang berpikir. "Kalau ada foto semasa dia masih kecil."


"Eri punya," jawab Valerie, ia sempat mengambil beberapa foto Riki yang ada di kamar pria itu dengan kamera ponselnya. Valerie memperlihatkan foto masa kecil Riki yang ada di layar ponselnya kepada Garindra.


Bola mata Garindra membulat begitu melihat foto Riki.


"Benar dugaanku," ucap Garindra, "tolong kirim foto ini ke nomor om ya, Er."


"Iya, Om," jawab Valerie sambil mengangguk.


"Sayang aku pamit keluar dulu, ya. Ada yang harus aku urus," pamit Garindra pada Jelita.


"Iya, Pah. Hati-hati di jalan."


***


Valerie membuka pintu kamar Elang dengan perlahan, takut mengganggu istirahat pria yang dicintainya itu. Dengan hati-hati, ia melangkah mendekati ranjang Elang. Air matanya menetes melihat wajah Elang yang begitu pucat, tubuh kekar kekasihnya itu terlihat lebih kurus. Dia jadi berpikir, apakah sepuluh tahun yang lalu, saat ia pergi keadaan Elang juga seburuk ini.


Dengan perlahan, Valerie mengusap pipi calon suaminya itu. Ia tidak menyangka jika pria yang terkenal garang dan jarang menampilkan ekpresi wajah, bisa seterpuruk itu karena kehilangan dirinya. Ia jadi menyadari sepenting itu arti hadirnya dalam kehidupan Elang Rayan Garindra.


Dahi Elang berkerut, mungkin ia menyadari jika ada seseorang di sisinya. Matanya mengerjap, dan perlahan terbuka. Begitu membuka mata, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah menawan sang kekasih yang sedang tersenyum padanya.


"Apa gue juga udah meninggal?" tanya pria itu, membuat Valerie terkekeh.


"Belum, Sayang," sahut Valerie sambil tersenyum manis. "Allah masih memberikan kesempatan kita hidup di dunia. Masih banyak yang harus kita lakukan untuk membantu sesama."


Elang langsung terbangun agar bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya itu benar-benar calon istrinya. Namun, ia merasakan pusing saat memaksakan diri untuk duduk. Valerie menahan tubuh pria itu, ia duduk di samping Elang dengan tubuh pria itu bersandar di pada Valerie.


"Jangan bangun dulu, Lang," ucap Valerie, "kamu harus banyak istirahat."


"Ini benar-benar kamu, Sayang?" tanya Elang. tangannya yang tidak diinfuse mengusap wajah Valerie yang lembut.


"Iya, Sayang. Aku Eri, calon istri kamu. Emang kamu punya calon istri berapa lagi?" Tanya Valerie sambilĀ  mengedipkan sebelah matanya, menggoda sang kekasih.


"Sayang." Elang memeluk erat tubuh Valerie, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. "jangan tinggalkan aku lagi, jangan buat aku ketakutan lagi." Tubuh Elang bergetar, pria itu menangis. Tangisan karena ketakutan dan rasa senang bercampur menjadi satu.


"Iya, Sayang," jawab Valerie sambil mengusap rambut Elang yang tebal. "Aku akan berusaha untuk selalu bisa ada di sampingmu, menemanimu hingga kita tutup usia. Aku mohon, jangan menangis lagi."


"Dasar cengeng!" Dengan tidak tahu dirinya, Bagus dan kawan-kawannya yang lain masuk ke kamar Elang tanpa permisi.


"Katanya ketua Arakata yang paling kuat dan tegas, eh malah nangis gara-gara cewek," celetuk Gandi sambil tersenyum miring.


"Di depan musuh aja jadi singa, eh di depan pacar malah kayak kucing rumahan yang minta peluk terus," ejek Roxy, pria itu masuk ke dalam kamar Elang dan duduk di sebelah Valerie. Ia menarik tubuh Valerie agar lebih mendekat padanya. Membuat Elang menjadi geram.


"Keluar atau gue tebas satu-satu!" seru Elang seraya mengambil sesuatu dari dalam laci nakasnya.


"Kabur, Elang pasti ngeluarin katana-nya, tuh!" seru Bagus sambil lari keluar dari kamar Elang, diikuti oleh pria-pria yang lain.

__ADS_1


"Apaan sih? Gue cuma mau ambil obat gosok, malah pada lari, cih ...," Elang menyodorkan obat gosok itu pada Valerie, agar kekasihnya itu mengusapkan di punggungnya yang terasa pegal.


Valerie terbahak karenanya, hingga gadis itu memukul-mukul ranjang Elang saking gelinya. Hal itu yang sangat ia rindukan selama seminggu ini, kekonyolan bersama teman-teman dan keluarganya. Kebahagiaan yang tidak akan pernah ia temukan lagi di tempat lain.


__ADS_2