
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk rasa cinta. Jika kau mencintai seseorang terlalu dalam, saat ia meninggalkanmu ... kau akan hancur sehancur-hancurnya, hingga menjadi debu.
***
Setelah kejadian Valerie yang mencabut selang infusnya, gadis itu masih sering melamun. Silih berganti para sahabatnya menjenguk, tapi reaksi gadis itu tetap sama. Bahkan, lelucon dari Bagus yang biasanya selalu bisa membuatnya terbahak, kali ini tidak mempan sama sekali. Jangankan terbahak, senyum pun tidak tersungging dari bibir manisnya.
Patung bernyawa, itulah kondisi Valerie saat ini. Semakin hari, berat badannya semakin menyusut. Bagaimana tidak? Gadis itu sama sekali tidak mau makan, minum pun hanya satu sesap. Para sahabat yang datang menjenguk, tidak kuasa menahan kesedihannya melihat kondisi Valerie yang seperti ini.
Jangan tanya bagaimana perasaan Laksmono melihat putri kesayangannya seperti itu, hancur sudah pasti. Berulang kali ia berusaha mengajak bicara putrinya itu, tapi Valerie sama sekali tidak bereaksi. Yang dilakukan gadis itu tiap harinya hanya melamun, menangis, dan parahnya ia suka memukuli kepalanya sendiri.
Elang meminta ijinnya untuk menjenguk Valerie, tadinya ia tidak mengijinkan. Namun, Pratama bilang padanya untuk membiarkan saja, siapa tahu dengan hal itu malah bisa menjadi jalan penyembuhan untuk Valerie. Hingga kini, pria itu sudah berada di ruang rawat inap Valerie.
Bagitu melihat kondisi Valerie, air mata pria itu langsung menetes. Ia tidak menyangka jika imbas dari perbuatannya bisa sampai sebesar ini. Bukan hal ini yang ia mau, bukan hal ini yang ia harapkan. Ia meninggalkan Valerie, demi kebahagiaan dan keselamatan gadis itu, bukan malah membuatnya jadi seperti ini.
Demi keselamatan? Iya, Elang Rayan Garindra melakkukan semua ini bukan tanpa alasan. Ia yang posesif dan sangat mencintai Valerie, tidak akan mungkin meninggalkan gadis itu jika tidak memiliki alasan yang berarti. Namun, pria itu belum bisa mengungkapkan alasan sebenarnya, karena bisa sangat beresiko.
Ia melangkah perlahan mendekati ranjang di mana Valerie sedang berbaring. Tangisannya semakin menjadi melihat gadis yang sangat dicintainya itu kini tak berdaya. Wajah yang memucat. tubuh yang kurus, ... sangat jauh dengan penampilan Valerie selama ini.
Tubuh pria itu bergetar, setengah mati ia menahan suara isakan tangisnya agar tidak mengganggu gadis itu.
"Sayang, gadisku yang tangguh ... kumohon jangan sepeerti ini," ucap Elang dengan lirih. "Kamu gadis yang kuat, aku tak menyangka jika perkataanku bisa berimbas sebegini parah. Aku tak menyangka efek kepergianku bisa sangat menghancurkanmu. Lebih baik kau membenciku, daripada kau terpuruk karenaku."
"Elang, jangan pergi ...," igau Valerie. Gadis itu bergerak gelisah dalam tidurnya, keringat menetes di wajahnya yang ayu.
"Sst, aku tak akan benar-benar pergi," ucap Elang pelahan. Ia mengusap keringat Valerie dengan punggung tangannya. "Bagaimana bisa aku pergi dari gadis yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan? Bagaimana bisa aku pergi dari orang yang selalu memberikan kebahagiaan untukku? Aku masih ada untukmu, Sayang. Namun, untuk sementara ini, aku belum bisa terang-terangan berada di dekatmu. Ada yang mengancam keselamatanku, dan aku tidak mau jika keselamatanmu juga diincarnya. Aku bisa gila jika kamu gak ada, dan pasti itu yang dia mau. Aku mencintaimu, melebihi diriku sendiri."
Netra matanya melihat dahi Valerie yang lebam, ia teringat dengan perkataan Pratama yang bilang jika akhir-akhir ini gadis itu sering mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri. Ia merasakan sesak di dadanya, sebegitu parahkah kondisi gadis yang sangat dicintainya itu?
"Sebegitu besarkah rasa cintamu padaku, Sayang? Hingga kau hilang akal seperti ini. Kau tahu? Aku juga merasakan sakit yang sama denganmu. Setiap kali kamu menyakiti dirimu sendiri, aku juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, jika kau tidak ingin aku terluka, kau juga harus menjaga dirimu baik-baik," bisik Elang di dekat telinga Valerie, agar perkataannya itu bisa menjadi sugesti untuk Valeri di bawah alam sadarnya.
Beberapa saat kemudian, gadis itu bangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan.
"Elang," lirih Valerie, ia mengerutkan dahinya, masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hay," sapa Elang, pria itu memalingkan wajah sejenak untuk menghapus air matanya.
"Kamu di sini?"
Elang mengangguk. "Menjengukmu, aku membawakan makanan untukmu. Mamah memasakannya khusus untuk putri kesayangannya." Elang membuka kotak makanannya, dan memperlihatkannya pada Valerie.
Namun, seperti yang sudah-sudah, gadis itu menggelengkan kepalanya. Namun, bukan Elang namanya, jika ia tidak keras kepala. Pria itu menyendokkan makanan untuk Valerie.
"Aku gak lapar," lirih Valerie. Suara gadis itu terdengar lemah. Bagaimana tidak lemah, ia tidak mau memakan apapun untuk beberapa hari ini.
"Makan, mama memasak makanan ini bukan untuk dibuang," sahut Elang.
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar tidak lapar," kekeh Valerie. Jika Elang keras kepala, seperti itu juga Valerie. Mereka memiliki sifat yang hampir sama.
"Kau ingin mati konyol?" tanya Elang sarkas. Pria itu meletakkan kotak makanannya kembali ke meja. Ia menatap tajam pada Valerie. "Kau lupa jika kau memiliki ribuan bahkan jutaan orang yang menyayangimu? Kau lupa jika ada banyak orang yang membutuhkanmu? Kau lupa jika kau punya tanggung jawab atas anak-anak yatim yang selama ini kau santuni? Kau lupa, hm?"
Satu tetes bening mengalir dari netra indah Valerie yang sayu, Elang mengusap air mata itu dengan lembut.
"Hidupmu itu bukan hanya milikmu, banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada keberadaanmu. Jika kau menghilang, apa kau pikir mereka masih bisa baik-baik aja? Berhenti bersikap egois, kau ingin jika keluarga dan sahabat-sahabatmu tipa hari menangis karena keadaanmu yang seperti ini?"
Valerie menggelengkan kepala.
"Kau ingin jika anak-anak yatim dan orang tidak mampu yang selama ini kau santuni akan terlantar jika kau tidak ada?"
Valerie kembali menggelengkan kepala.
"Kau ingin jika Om Laks terbaring sakit karena terus-terusan melihat keadaanmu yang seperti ini?"
"Enggak, aku gak mau semua hal itu terjadi, Lang!" seru Valerie, tangisannya semakin menjadi, ia menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Elang langsung membawa tubuh ringkih Valerie dalam pelukannya.
"Jika kau tidak ingin semua hal buruk itu terjadi, berhentilah bersikap egois. Kembalilah menjadi kuat, kembalilah menjadi panglima perang Arakata yang tangguh, yang selalu bisa melindungi orang-orang yang disayanginya. Kau mau jika mereka terpuruk karena kehilanganmu?"
"Jangan." Gadis itu kembali menggelengkan kepala.
"Kalau begitu jangan biarkan hal buruk itu terjadi. Kembalilah menjadi Valerie Livia Laksmono yang tangguh dan selalu melindungi orang-orang di sekitarnya."
Valerie menganggukkan kepalanya, hal itu membuat Elang tersenyu. Pria itu mengambil kembali tempat makanan di meja, ia kembali menyendokkan nasi untuk Valerie.
"Elang, aku bukan bayi yang makan harus disuapi," protes Valerie, tapi gadis itu tetap saja membuka mulutnya dan menerima suapan dari Elang.
"Kamu kan emang bayi," sahut Elang cuek, membuatnya mendapat cubitan mau dari Valerie. "Awh, kebiasaan deh, sukanya nyubit-nyubit. Tanggung jawab ya entar kalau sampai badan aku biru-biru."
"Bodo, wlekk," sahut Valerie, ia menjulurkan lidahnya, meledek Elang. *Ini baru aku cubit, belom aku gaplok." Valerie mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada Elang.
Elang tersenyum bahagia, ia merasa lega karena gadis yang dicintainya itu perlahan sudah mulai kembali seperti dulu.
"Kumohon jangan berbuat hal konyol lagi, jangan mencoba menyakiti dirimu lagi," pinta Elang, pria itu membelai pipi mulus Valerie.
"Iya, Lang," jawab Valerie, ia menganggukkan kepala. "Maaf."
"Bukannya waktu itu kamu bilang jika kamu menghormati keputusanku?"
"Iya. Maaf jika aku sempat terlarut dalam kesedihanku. Maaf jika aku kalah dengan egoku," sesal Valerie.
"Bukan kamu yang salah, seharusnya aku yang meminta maaf, karena lagi-lagi aku menjadi pria brengsek yang selalu menyakitimu-" Ucapan Elang terhenti karena Valerie menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Jangan lagi bahas itu, biarkan hal itu menjadi kenangan yang tertinggal di belakang," ucap Valerie, gadis itu tersenyum manis, hal itu membuat Elang tersipu, jantungnya berdebar kencang. Pesona Valerie masih sangat berpengaruh padanya.
__ADS_1
Valerie mengulurkan tangannya di hadapan Elang.
"Kita mulai semuanya dari awal sebagai seorang teman," ucap Valerie, "aku sudah bisa dengan ikhlas melepas kepergian dirimu dari hatiku."
Elang terdiam sesaat, ia merasakan sakit di hatinya saat Valerie mengatakan hal itu. Tapi memang hal itulah yang dia inginkan, untuk menjauhkan Valerie dari hidupnya saat ini. Demi melindungi keselamatan gadis itu. Ia menyambut uluran tangan Valerie.
"Teman," sahut Elang sambil tersenyum tulus.
Tanpa mereka sadari ada seorang pria paruh baya yang berdiri di balik pintu kamar rawat inap Valerie. Ia tersenyum lega, karena putri yang disayanginya itu bisa kembali tersenyum.
"Aku tak tahu apa yang menjadi penyebabmu meninggalkan putriku, tapi aku berterimakasih karena kamu sudah mengembalikan senyumannya," ucap Laksmono dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
***
"Astaghfirullah, muka elo Sel." Valerie terbahak melihat wajah Asel yang cemong dengan bedak bayi.
Asel dan komplotannya sedang bermain kartu di kamar rawat inap Valerie. Entah mengapa hari ini raja gamers itu selalu kalah dalam permainan, hingga wajahnya cemong bak cewek jadi-jadian. Setelah pulang dari sekolah, Gema dan yang lain langsung datang menjenguk Valerie. Valerie tidak ikut dalam permainan itu, ia hanya menjadi penonton dan komentator.
Laksmono dan Diandra duduk di sofa sambil sesekali ikut tertawa karena ulah anak-anak muda yang agak gesrek itu. Mereka merasa lega, karena putri mereka bisa kembali ceria. Semoga hal seperti ini tidak pernah terulang lagi. Semoga apapun yang terjadi kela, gadis itu bisa menghadapinya dengan bijaksana.
Asel tersenyum jahil, ia mendekati Valerie dan naik ke ranjangnya. Pemuda itu langsung memeluk Valerie, ia mengusap-usapkan pipinya ke pipi Valerie, hingga gadis itu ikutan cemong.
"Wua, Asel ... ampun," seru Valerie, gadis itu terbahak. Tangannya sudah tidak lagi diinfus. keadaannya sudah membaik.
"Biar Kak Eri ikutan cemong," sahut Asel sekenanya. Untung aja saat ini tidak ada para seniornya, kalau ada bisa habis si Asel ... karena berani memeluk gadis kesayangan mereka.
"Wah si kampret malah modus," celetuk Gema, "ikutan ah ...," Gema ikut bergabung dengan pelukan Valerie dan Asel. Begitupun dengan Hasan, Abdul, dan Rama. Tubuh Valerie tenggelam dalam pelukan para juniornya itu.
Tawa Valerie berhenti, ketika ia mendengar suara isak tangis. salah satu tubuh pemuda yang memeluknya bergetar.
"Kak Eri jangan kayak kemarin lagi, ya. Gue takut," ucap Asel di sela tangisannya. "Gue takut kalau sampai kehilangan Kak Eri. Kak Eri gak boleh pergi."
"Kalau ada apa-apa, Kak Eri bilang sama kami," ucap Gema, "walau kami belum dewasa, tapi kami bisa diajak berbagi cerita. Jangan pendam sendiri, Kak Eri punya kami."
"Kak Eri selalu siap menjadi garda terdepan jika kami ada masalah. Namun, ada kalanya Kak Eri bisa mundur ke belakang jika lelah, biar gantian kami yang berada di depan untuk melindungi Kak Eri." Giliran Rama yang angkat suara.
Air mata Valerie menetes, ia merasa terharu. Ia tidak menyangka jika para juniornya itu begitu peduli padanya. Seharusnya ia tidak menanggung semua bebannya sendiri, ia bisa berbagi ... karena begitu banyak orang yang menyayanginya.
Valerie mengurai pelukannya, ia memandang satu persatu para pemuda di hadapannya itu, ia tersenyum.
"Terimakasih, adik-adikku," sahut Valerie, "maaf jika beberapa hari ini Kak Eri bikin kalian takut. Maaf jika beberapa hari ini Kak Eri bersikap egois. Terimakasih karena kalian sudah mau peduli , gue sayang kalian." Valerie kembali memeluk juniornya itu.
"Wah, apa-apaan ini!" seru Bagus heboh. Pria itu masuk ke ruang rawat inap Valerie dengan masih mengenakan baju kerja. Di belakangnya juga ada Valero dan Gandi. "Pelukan gak ajak-ajak. Ikut...."
"Wua! Sesek, Bang ... gak bisa napas," teriak Asel yang badannya terjepit tubuh kekar Bagus.
__ADS_1
"Ketek lo bau, Bang ... wuek!" Abdul menutup hidungnya dengan pandangan sok jijik.
"Wah, penghinaan nih bocil," sahut Bagus, "sini lo! Gue ketekin lo berdua, rasain!" Bagus memiting kepala Abdul dan Asel, membuat kedua pemuda itu tambah berteriak histeris. Yang lain hanya menyaksikan sambil geleng-geleng kepala. Kalau mereka sudah berkumpul jadi satu, begitulah ... pasti ada keributan, keributan yang menyenangkan.