
Jangan pernah menganggap rendah orang lain, siapa tahu dari sudut pandang orang lain kamu terlihat lebih rendah, atau bahkan tidak ternilai.
***
"Jangan lo toel-toel pantatnya, Ogeb!! Pelecehan lo!" omel Valerie, untuk kesekian kalinya.
"Jangan cekek lehernya, elo mau bunuh dia!!" masih omelan Valerie yang tedengar. Yang diomelin pun mulai hilang kesabaran.
"Terus apanyanya yang boleh gue pegang, Eri?" Robert mendudukkan pantatnya di tanah. Merasa lelah, karena dari tadi apapun yang dilakukannya selalu salah di mata Valerie.
Mereka sekarang berada di taman belakang markas Gester. Gester mengundang Arakata, Rajawali, Blue Eagle dan sekutu Arakata lain berkumpul di basecamp mereka. Gester meminta bantuan geng-geng besar itu untuk mempersiapkan acara mereka.
Gester mengadakan acara amal untuk beberapa panti asuhan se-Jakarta. Mereka akan mengadakannya di basecamp mereka. Mereka memiliki halaman yang sangat luas, jadi pasti bisa menampung banyaknya anak-anak panti dan tamu undangan lainnya.
Valerie mendapat bagian membuat kue-kue dan hidangan untuk acara besok. Jadi, sekarang gadis itu bisa bersantai-santai d isaat Elang dan yang lainnya bersih-bersih ataupun menyiapkan tempat acara.
"Mending gue bantuin anak-anak ngedekor tempat acara aja ya, Er?" pinta Robert dengan memelas.
"Enggak!" tolak Valerie, "udah banyak yang bantu dekorasi. Elo di sini aja sama gue. Enak aja lo melihara binatang tapi gak mau ngurusin."
"Kan elo yang maksa gue melihara tuh ayam-ayam mini. Gue mah ogah," gerutu Robert yang masih bisa didengar Valerie.
Iya, Valerie bersedia memaafkan Robert, dengan syarat cowok itu harus bersedia memelihara anak ayam sebanyak dua belas ekor. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih, dan tidak boleh ada yang mati. Dan hari ini Valerie meminta Robert membawa peliharaannya itu.
"Udah, gak usah banyak ngeluh. Mending buruan elo mandiin anak ayamnya. Kasihan kelamaan bugil gitu entar masuk angin."
"Emang ayam kan bugil, Er. Kecuali kalau elo buatin tuh ayam-ayam baju, jadi gak bakal masuk angin," omel Robert yang mulai jengkel dengan mulut cerewet Valerie. Namun, cowok itu belum sadar kalau perkataannya itu bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Wah, ide bagus itu, Bek." Valerie menjentikkan jarinya. "Entar elo bikinin Emol, Emel, Emul, Gimbil, Gembol, Gembel, Gombol, Gembleh, Gombloh, Encrat, Encrit, sama Encret baju ya. Warna bajunya harus beda, biar lucu." Valerie bertepuk tangan girang.
Robert memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening. Dia lupa dengan siapa dia berbicara sekarang. Sudah terlanjur kata-kata itu keluar dari mulut lemesnya. Dan harus berakhir dengan permintaan Valerie yang unik lagi.
"Kalau elo suka yang warna-warni gitu, mending gue beli lagi anak ayam yang warna-warni aja. Jadi gak usah pakai baju itu anak ayam, entar pada gerah malah minta ruangan ber-AC lagi."
"Enak aja, enggak ya, Robek!" protes Valerie, "anak ayam yang warna-warni itu kan di cat. Kasihan, gak tega gue lihat anak ayam gak berdosa itu terkena cat di bulu halusnya. Mending elo pakein baju yang warna-warni aja, kan lebih lucu, Bek. Ya, ya, ya Robek, ya ...." Valerie mengedip-ngedipkan mata bulatnya di hadapan Robert, membuat pria itu lemah seketika. Siapa yang tidak lemah melihat gadis manis memandangnya sedekat itu dan mengedip-ngedipkan matanya, yang terlihat errrr, imut.
"Iya." Robert mengangguk yang membuat Valerie jingkrak-jingkrak kegirangan.
__ADS_1
"Terus ini gue mandiinnya gimana? Megang leher entar nyekek, pegang pantat, elo bilang gue pelecehan. Terus gue suruh pegang apanya?"
"Ya udah, sini gue bantuin mandiin. Kan gue cewek, jadi gak papa pegang pantatnya, kan. Bukan pelecehan."
"Kalau tuh anak ayam cowok sama aja elo pelecehan, Er," protes Robert.
"Biar aja sih, Bek. Orang anak ayamnya gak protes juga. Jadi gak masalah." jawab Valerie cuek, membuat Robert mengelus dadanya sambil ber-istigfar.
Robert melihat Bagus mangap-mangap seperti berucap yang sabar bro. Setelah itu Bagus terbahak, diikuti teman-temannya yang lain. Cewek bernama Valerie memang seunik itu. Jadi, sedia usus yang panjang ya abang ganteng. Biar sabar, hehehe.
Valerie menginap di markas Gester. Karena gadis itu harus membuat kue-kue malam ini dan memasak untuk hidangan pada pagi harinya.
"Gue titip Eri ya," pesan Elang pada Tyan. "Gue sama yang lainnya pulang dulu. Besok pagi kita kesini lagi sekalian bawa baju ganti buat Valerie."
"Valerie biar pakai baju gue aja," ujar Sinta.
Valerie memandang style Sinta yang terlihat sangat feminim, membuat Valerie bergidik ngeri.
"Gak usah repot-repot, Sin, Biar Elang bawain baju gue aja," tolak Valerie dengan semangat empat puluh lima.
"Tenang aja, Lang. Valerie aman kok di markas Gester," sahut Tyan sang ketua Gester.
"Ngomong apaan lo, Robek! Elo ikut gue ke dapur aja bantuin bikin kue." Valerie menarik kerah baju Robert, seperti narik anak kucing.
"Ya Allah, berat sekali cobaan yang engkau berikan hari ini pada hamba mu yang tampan nan rupawan ini!" teriak Robert yang lebih terdengar seperti ratapan. Membuat teman-temannya tertawa bahagia. Kapan lagi melihat Robert yang terkenal garang, tunduk sama seorang perempuan.
***
"Nih, dimakan dulu." Valerie meletakkan semangkuk sop ayam yang terlihat menggiurkan di hadapan Robert.
"Yang lain udah pada makan, Er?" tanya Robert sambil menyesap kuah sop buatan Valerie yang terasa lezat.
"Iya, yang lain juga lagi pada makan di ruang tengah," jawab Valerie, ia dan Robert berada di dapur. Pria tampan itu mendapat tugas menjaga kue-kue yang sedang di oven.
"Elo gak capek, Er?" tanya Robert, "dari tadi elo bikin kue yang segitu banyaknya, terus sekarang malah masakin kita makanan."
"Enggak lah, Bek. Kan tadi Sinta sama yang lain juga ikut bantu. Lagian gue udah biasa kayak gini, nyiapin makanan dan segala keperluan ayah dan abang-abang gue."
__ADS_1
"Emang nyokap lo ke mana?"
"Bunda gue udah meninggal," jawab Valerie lesu, "beliau meninggal saat umur gue empat tahun."
"Maaf, Er. Gue gak ...."
"Gak apa-apa, Bek," potong Valerie, gadis itu tersenyum memandang pria yang duduk di sebelahnya. Mereke duduk lesehan di lantai dapur. "Gak ada alasan buat gue sedih. Karena masih banyak yang sayang sama gue, termasuk ayah dan sahabat-sahabat gue."
"Elo cewek yang kuat, Er," puji Robert. Menurutnya cewek di sebelahnya ini adalah perempuan yang memiliki kepribadian menarik. Mungkin tidak apa-apa jika ia menyampaikan keluh kesah pada sahabat barunya ini. "Mamah gue juga sudah meninggal lima tahun lalu." Valerie memandang Robert penuh minat.
"Mamah gue sakit gagal jantung. Gue sempat terpuruk karena kematian mamah. Gue jadi tertutup dan sering membangkang. Puncaknya tiga tahun lalu, waktu papah gue memutuskan untuk menikah lagi. Gue pikir papah udah gak cinta sama mamah gue lagi. Gue jadi sering ngerokok, balap dan ke Bar. Istilahnya gue berontak sama keadaan."
"Elo gak boleh gitu, Bek. Kasihan papah lo. Papah lo butuh pendamping, buat tempat keluh kesahnya. Gue aja pengen ayah gue nikah lagi, tapi beliau belum mau. Coba deh elo bicarain baik-baik sama papah lo. Hadapi, jangan hindari. Bukan Arakata banget." Valerie terkekeh geli, membuat Robert ikut tertawa.
"Iya, Er. Entar gue coba. Gue jadi pengen cepet-cepet pulang, terus ngobrol sama papah gue." Robert terlihat antusias membuat Valerie tersenyum senang. "Bunda kamu juga sakit, Er?" Pertanyaan Robert berikutnya membuat Valerie menegang, teringat kejadian memilukan itu.
"Bukan." Valerie menggelengkan kepalanya. "Bunda kecelakaan mobil, bareng gue yang masih berusia empat tahun. Bunda menghindari truck yang ugal-ugalan, tapi malah menabrak pagar pembatas. Bunda nyelamatin gue. Tapi, sebelum bunda bisa diselamatkan, mobil bunda sudah keduluan masuk ke jurang. Da-dan me-meledak," ucap Valerie terbata-bata, membuat Robert tidak tega. Pria itu mengusap punggung Valerie. "Bunda meninggal di depan mata gue, tanpa gue bisa berbuat apa-apa. Karena itu, gue harus jadi cewek yang kuat. Cewek yang bisa ngebela diri gue sendiri dan orang lain. Agar tidak ada yang kehilangan nyawanya lagi di hadapan gue, tanpa gue bisa
berbuat apa-apa."
Robert masih setia memandang wajah Valerie, wajah yang penuh senyum itu. Senyuman itu tulus, bukan senyuman yang dipaksakan. Betapa tangguhnya gadis itu, dia bisa menceritakan hal yang memilukan dalam hidupnya seperti tanpa beban.
"Mending sekarang elo pulang, mumpung baru jam sebelas malam. Elo bicara sama bokap lo, gak usah pakai acara nangis bombay. Gue tahu elo cengeng!"
Robert mencebik kesal mendengar bagian terakhir perkataan Valerie.
"Kalau gue pulang, yang bantu elo nyelesaiin ini kue-kue siapa?"
"Elah, banyak yang bantu gue, ada Sinta sama yang lainnya. Lagian udah selesai, tinggal nungguin yang di oven aja."
"Oke, gue pulang dulu." Robert bangkit dan memakai jaketnya. "Jangan rindu, entar berat kayak Dillan."
"Masih berat dosa elo!" jawab Valerie cepat yang membuat Robert gondok.
"Kampret," ucapnya sambil terkekeh.
__ADS_1