
Pukul dua sore peserta reuni diijinkan pulang. Tapi pukul tujuh malam mereka diwajibkan datang kembali untuk melaksanakan acara api unggun.
Pukul lima sore, Valerie dan perwakilan teman-temannya datang ke rumah sakit untuk menjenguk suami Amelia.
Begitu menemukan ruangan yang diberitahukan Bu Nuri, Valerie mengetuk pintu itu dan masuk ke dalamnya, diikuti teman-temannya yang lain.
"Assalamu'alaikum, Lia," salam Valerie.
"Wa'alaikumsalam," jawab Amelia, wanita itu terkejut melihat teman-temannya semasa SMA dulu ada di sana.
"Bu Nuri yang kasih tahu kami," ujar Valerie, seakan tahu apa yang ada di pikiran Amelia.
"Oh." Amelia terlihat gugup dan takut untuk menatap wajah Valerie. Ia teringat kesalahannya dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah.
"Gimana keadaan suami kamu?" tanya Valerie mewakili teman-temannya.
"Seperti yang kamu lihat, Er." Amelia mengusap dahi suaminya yang masih belum sadar. "Mungkin ini karma dari perbuatanku. Dulu demi mendapatkan perhatian Elang, aku berbohong kalau aku mengidap penyakit kanker. Tapi, sekarang malah suamiku benar-benar terkena penyakit kanker."
"Tapi masih bisa disembuhkan, kan?"
"Bisa, Er," Amelia menganggukkan kepalanya. "Lewat transplantasi sum-sum tulang belakang. Selain belum mendapatkan donor, aku juga gak ada uang lagi untuk biaya operasi. Semua tabungan kami sudah habis untuk biaya pengobatan suamiku selama ini. Aku bingung Er, aku dan suamiku sudah gak punya keluarga lagi. Kami hanya hidup berdua, tapi sekarang suamiku sedang sakit, aku sendirian." Amelia semakin menundukkan kepala, menahan isak tangisnya.
Valerie berjalan mendekati Amelia, gadis itu menepuk pundak Amelia pelan.
"Kamu yang sabar, semua pasti ada jalan. Kamu gak sendirian, ada kami di sini, yang selalu siap membantu kamu dan suamimu. Selalu percaya bahwa Allah selalu ada untuk hamba-hambanya," ujar Valerie sambil tersenyum, senyum itu menular pada Amelia.
"Terimakasih Eri, dan maaf untuk kesalahanku dulu," ujar Amelia sambil memeluk Valerie.
"Aku gak pernah marah sama kamu," jawab Valerie sambil mengurai pelukannya, diusapnya air mata yang menetes di pipi Amelia. "Aku marah sama tuh cowok yang gak bisa ambil sikap." Valerie melirik Elang, membuat teman-temannya terkekeh. "Suami kamu gak punya keluarga yang bisa donorin sum-sumnya?"
"Suamiku yatim piatu, Er,. Dari kecil sudah dititipkan di panti asuhan."
"Kalau selain keluarga masih bisa donorin sum-sum tulang belakangnya gak, Ga?" tanya Valerie pada Gaung.
"Bisa, Er. Asal cocok," jawab Gaung sambil mengangguk-angguk.
"Kalau gitu gue mau coba tes, siapa yang mau ikut gue tes? Siapa tahu di antara kita, sum-sum tulang belakangnya ada yang cocok sama suaminya Lia?"
Semua yang ada di sana mengacungkam jarinya, bersedia membantu Amelia. Amelia tersenyum bahagia, setelah apa yang dilakukannya dulu, Valerie masih bersikap baik terhadapnya. Pantas, Elang tergila-gila oleh Valerie, gadis itu memang istimewa.
***
Malam ini langit terlihat cerah, bintang bertebaran di atas sana, terlihat seperti kumpulan kunang-kunang.
Semua anggota reuni sudah berkumpul di tengah lapangan. Mereka menggunakan baju bebas, tidak lagi memakai seragam sekolah.
Mereka duduk melingkari api unggun. Hari ini khusus mereka gunakan untuk bernostalgia dengan teman lama. Tidak ada yang sibuk main ponsel sendiri. Hari seperti ini tidak akan bisa terulang lagi. Jadi, mereka menggunakannya semaksimal mungkin untuk melepas kangen dengan masa-masa putih abu-abu.
"Biar acara lebih seru, kita panggilkan melodi Arakata. Jangan khawatir, alat musiknya sudah disediakan panitia. Kalian tinggal tampil aja," ujar Virsa selaku pembawa acara.
Valerie, Elang, Gandi, Gaung, dan Bagus berjalan ke tempat yang telah disediakan. Mereka belum melakukan persiapan untuk penampilan hari ini. Tapi, tenang saja, penampilan mereka tidak akan mengecewakan.
"Salam kangen teman-teman," seru Valerie pada semuanya. "Gak nyangka ya, kita udah lulus selama sepuluh tahun dari sekolah kita tercinta ini. Sekarang kita sudah meraih mimpi yang telah kita rancang. Namun, di balik itu semua ada proses yang telah kita lalui. Dan proses itu telah kita lalui bersama. Mulai dari awal kita masuk SMA Garindra ini, mengenal satu sama lain, belajar bersama, dihukum bersama, tidak jarang juga diantara kita ada selisih paham. Tapi, walau bagaimanapun kita tetap melalui semuanya bersama. Karena apa? Karena kita teman, dan lebih dari itu adalah karena kita keluarga. Keluarga yang dilahirkan oleh SMA Garindra, dan dibesarkan oleh pengalaman di dunia luar. Hingga menjadikan kita pribadi yang tangguh dan kuat. Terbanglah setinggi-tingginya dan
sejauh-jauhnya. Tapi, tetap ingatlah untuk merendah dan ingatlah kemana jalan pulang. Jadi, sesukses apapun kita. Jangan pernah lupakan jika kita pernah bahagia bersama. Satu lagu dari Project Pop, Ingatlah Hari Ini.
__ADS_1
Kawan, dengarlah yang akan aku katakan
Tentang dirimu setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Eh, kamu kaya gorila
Cobalah kamu ngaca tu bibir balapan
Daripada gigi lo kaya kelinci
Yang ini udah gendut suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi 'ku tak peduli
Kau selalu di hati
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Ketika kesepian menyerang diriku
Kutahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don't you worry, just be happy
Temanmu di sini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Don't you worry, don't be angry
Mending happy-happy
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
__ADS_1
Ingatlah hari ini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini ....
Valerie mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Sesukses apapun kita, menjadi apapun kita, entah itu pengusaha, polisi, dokter, pilot, arsitek. Ingatlah kalau sepuluh tahun yang lalu kita pernah dihukum berjamaah atas dasar solidaritas," ujar Valerie sambil tersenyum,
membuat yang lain tertawa sekaligus terharu mengingat kejadian waktu itu. Saat Lukman ketiduran di kelas, dia dihukum berdiri di lapangan. Semua temannya tahu alasan Lukman terlambat berangkat sekolah. Dengan kompak, mereka ikut berjemur di lapangan menemani Lukman. Yang aneh, bukan hanya kelas 12 IPS 1 yang ikut berjemur. Namun, semua angkatan kelas dua belas, mulai dari IPS sampai IPA. Jadi penuh lah lapangan dengan anak-anak kelas dua belas.
"Terkhusus pada malam hari ini, gue minta tolong sama teman-teman semua. Saat ini ada teman kita yang sedang mengalami misibah. Dia adalah Amelia, anak kelas IPA satu. Suaminya menderita leukimia, beliau butuh donor sumsum tulang belakang dan biaya untuk operasi. Alhamdulillah, beliau sudah mendapat donor sum-sum tulang belakang yang cocok. Jadi, gue mohon kita semua bisa bantu untuk biaya operasi dan memberikan dukungan moril untuk Lia. Gue percaya hanya dengan salah satu di antara kita pun, pasti bisa menanggung biaya operasi itu. Namun, akan lebih berarti jika kita menanggung biaya itu bersama. Itu sebagai bentuk dukungan kita untuk Lia, agar dia tidak pernah merasa sendirian, karena akan selalu ada kita di sampingnya. Kalian setuju?"
"Setuju, Er," jawab mereka bersamaan.
Valerie tersenyum, inilah alasan kenapa ia akan selalu rindu dengan masa-masa putih abu-abunya. Solidaritas mereka tidak pernah lekang dimakan waktu.
***
"Makan yang banyak, Er," ujar Bagus sambil menyendokkan beberapa lauk di piring Valerie. Sekarang mereka sedang makan malam bersama di aula sekolah. "Elo harus simpan energi, biar besok waktu operasi kondisi tubuh elo fit."
Setelah tadi di cek, Valerie lah yang bisa menjadi pendonor untuk suaminya Amelia.
"Kalian lebay, kalau gini gimana gue makannya. Penuh piring gue!" omel Valerie, karena teman-temannya bergantian memberikan lauk di piringnya. Hingga lauk di piring Valerie menggunung.
"Sini, aku suapin aja sayang," ucap Elang lembut sambil mengambil alih piring Valerie.
"Jijik gue Lang, denger elo ngomong menye-menye gitu," ejek Maul.
"Makanya elo buruan cari pacar, biar tahu gimana rasanya memperlakukan orang yang istimewa buat hidup kita," ujar Gaung membuat Maul tersindir.
"Setelah ini kita langsung pulang, kamu langsung istirahat, ya. Biar besok waktu operasi, kamu dalam kondisi yang baik. Aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-napa," ujar Elang sambil menyuapi Valerie, gadis itu mengangguk sebagai jawabannya.
Semua yang menyaksikan keromantisan Elang dan Valerie tersenyum senang. Akhirnya ketua dan panglima perang Arakata itu bisa bersatu juga. Sebenarnya mereka tahu kalau Elang dan Valerie sudah saling mencintai semenjak masa SMA. Namun, gengsi kedua orang itu terlalu besar untuk mengakuinya.
"Yang kacang, yang kacang," seru Maul yang jiwa jomblonya merasa terinjak-injak.
"Cari cewek, jangan jualan kacang mulu!" ucap Faris yang membuat Maul tambah sebal.
"Lihat aja, kalau sampai gue dapat cewek, bakal langsung gue nikahin, gak pakai pacaran," ucap Maul mantap.
"Tuh, Lang. Maul yang jomblo aja udah berani buat komitmen," ujar Valerie, membuat Elang susah payah menelan minuman yang ia tenggak.
__ADS_1
"Kode keras!" teriak semua orang yang ada di sana. Sekompak itulah mereka, sampai urusan membully Elang pun kompak, hahahaha.