
Tepat pukul setengah tujuh Valerie sampai di kelasnya. Gadis jangkung berambut pendek itu meletakkan tas ransel yang dicangklongnya ke kursi.
Pagi ini gadis itu berangkat sekolah bareng Elang. Rumah mereka emang tetanggaan. Jadi mereka memang sering berangkat bersama.
Semenjak menikah, Garindra memilih pindah dari rumah orang tuanya. Pria itu membeli rumah di seberang rumah Laksmono. Emang dari dulu si bocah tengil itu tidak bisa jauh-jauh dari Laksmono. Sudah seperti anak ayam yang menempel pada induknya.
Jadi,Elang dan Valerie memang saling mengenal sedari lahir. Berbeda dengan Gaung, Bagus dan Gandi. Dengan ketiga cowok itu, mereka baru saling mengenal semenjak di bangku SMP.
"Lukman, muka lo kenapa?" Valerie memperhatikan wajah teman sekelasnya yang lebam.
"Eh, Eri. Gak kenapa-napa kok Er." Cowok itu terlihat kaget, karena Valerie yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mereka memang teman satu meja.
"Elo mau coba bohongi gue?!" Valerie semakin mendekatkan wajah mengamati temannya itu, membuat sang cowok kelabakan salah tingkah. "Muka sudah kayak ubi ungu begitu masih sok-sok'an bilang gak kenapa-napa. Elo milih cerita ke gue, atau gue bakal gak mau kenal sama elo lagi."
Ancaman Valerie membuat Lukman merinding ngeri, dia tidak bisa kalau harus dijauhi gadis itu. Bukan karena takut. Tapi bagi Lukman, Valerie adalah malaikatnya.
Gadis itu selalu ada jika Lukman kesusahan. Baik itu kesusahan soal pelajaran atau finansial. Lukman adalah seorang anak yatim piatu yang mempunyai dua adik yang duduk di bangku SD dan SMP.
Valerie selalu membantu Lukman mengurusi adik-adiknya, jika Lukman berangkat bekerja. Bahkan gadis itu yang merekomendasikan Lukman untuk bekerja di cafè milik abangnya.
Lukman tidak mau menambah beban Valerie, jika gadis itu tahu apa yang baru saja terjadi dengannya. Namun, dia juga tidak tega menolak permintaan gadis itu untuk menceritakan masalahnya. Lukman yakin, kalau Valerie tidak akan tinggal diam jika tahu apa yang terjadi dengannya. Dan Lukman tidak mau menjadi beban bagi Valerie lagi.
"Sebenarnya tadi gue di hadang anak Gemilang Er, gue gak tahu namanya. Dia malakin gue, gue udah bilang kalau gue gak punya, tapi dia maksa. Dia ngrebut tas gue dan ambil dompet gue. Uang gue yang ada di dompet diambil semua sama dia. Padahal, uang itu mau gue gunain buat bayar sekolah Raka sama Siwi. Sepatu Raka juga udah rusak Er. Kakinya lecet-lecet karena sepatunya udah bolong. Gue gak tega, makanya setelah dapat gaji dari
bang Tama, gue mau beliin Raka sepatu, tapi sekarang uang itu udah hilang."
"Elo gak ngelawan?!" tanya Valerie tenang, tapi tersirat nada marah di sana.
"Gue udah ngelawan Er, tapi mereka berenam. Gue dikeroyok, kebetulan jalan yang gue lewatin tadi juga sepi."
"Bangsat!!" umpat Valerie geram. Membuat teman-teman sekelasnya menengok kearahnya. Mereka tahu kalau Valerie sampai seperti ini pasti tidak ada yang bisa mencegah tindakan gadis itu.
"Elo mau kemana Er?" tanya Lukman yang melihat gadis itu berlalu pergi keluar kelasnya.
"Nyamperin Elang sama yang lainnya. Orang-orang brengsek yang berani malak lo, harus diberi pelajaran Man."
Lukman hanya terdiam memandang kepergian Valerie. Percuma mencegah gadis itu jika sudah seperti ini. Makanya tadi Lukman memilih agar tidak memberi tahu Valerie.
***
Gadis itu berjalan tergesa masuk ke kelas 12 Ipa 1. Hal itu membuat semua penghuni kelas memandang penasaran pada gadis yang berwajah tegang itu. Biasanya gadis itu selalu berwajah ceria dan penuh senyum. Entah kenapa pagi ini wajah ceria itu berubah menjadi kaku dan menakutkan.
Itu yang ada di pikiran penghuni kelas 12 Ipa1. Termasuk oleh keempat sahabat gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa Er?" tanya Elang langsung, begitu gadis itu berada di hadapannya. Padahal tadi waktu berangkat dengannya, gadis itu masih terlihat ceria dan cenderung cerewet.
"Gue mau entar setelah pulang sekolah, kita semua nyamperin SMA Gemilang." Valerie menekankan kata kita semua, yang berarti semua anggota Arakata yang jumlahnya ratusan itu.
"Emang kenapa Er? Bukannya kita sama Gemilang udah gak ada masalah. Gemilang juga udah mau bekerjasama dengan Arakata. Terus kenapa lagi?" lanjut Elang, cowok itu menatap heran pada sahabat sedari kecilnya itu.
"Lukman, tadi dia dikeroyok sama anak Gemilang. Uangnya dirampas, padahal uang itu untuk beli sepatu dan membayar sekolah adik-adiknya. Elo semua tahu kan gimana perjuangan Lukman selama ini, nyari uang buat adik-adiknya. Gue gak terima Lukman diperlakuin kayak gini sama mereka."
"Duduk dulu Er." Gaung mempersilahkan Valerie duduk di kursi yang dia pinjam dari teman sekelasnya. Gadis itu butuh duduk, agar emosinya sedikit mereda.
Valerie merupakan sosok yang paling sabar di antara para inti Arakata. Jadi jika sekarang gadis itu mulai emosi, berarti masalah itu sudah keterlaluan dan melewati batas.
"Ya udah, entar pulang sekolah kita ke SMA Gemilang. Kita bawa beberapa anak Arakata aja, jangan semua. Kita ngomong baik-baik dulu ke Tiyan. Dia kan ketuanya Gester (nama geng SMA Gemilang, kata mereka GESTER itu
singkatan dari GEmilang cenTer) jadi kita bilang dulu ke dia, biar dia yang ngurus anak buahnya," jawab Elang berusaha menenangkan Valerie. "Api dibalas api gak akan padam Er, malah bakal semakin berkobar. Dan gue gak mau kalau elo sampai kebakar kobaran itu. Inget, kita Arakata. Kita pelindung, bukan perusak." Elang mengusap pelan rambut pendek Valerie yang lembut dan halus.
Valerie menganggukkan kepalanya mengerti. "Sorry, gue tadi sempet kemakan emosi." Keempat cowok itu tersenyum lega melihat sorot mata Valerie yang sudah tenang dan tidak lagi didominasi amarah. "Tapi gue tetap bakal ngasih pelajaran sama orang yang sudah bikin Lukman babak belur."
"Sok atuh neng, mangga. Gak bakal kita larang." Bagus terkekeh geli. Sudah tergambar di kepalanya ide gila apa yang akan Valerie lakukan, untuk memberi hukuman orang yang sudah membuat teman sekelas Valerie itu babak belur.
"Teman elo yang satu itu lemah Er, baru digituin aja sudah babak belur. Kayak gitu bisa jadi anggota Arakata."
"Mulut elo kalo sama Lukman napa nyinyir mulu sih Ga!" Valerie menepuk pelan mulut Gaung.
"Udah dibilang jangan main cebong mulu di selokan. Jadi hilang kepekaan lo sebagai cewek." Gandi ikut menimpali.
Semua orang tahu jika wakil ketua Arakata itu mempunyai perasaan lebih pada panglima perangnya. Tapi naas, cewek yang diberi perasaan itu malah gak peka.
Semua siswa yang ada dikelas itu tertawa melihat wajah bodoh Valerie yang masih belum paham. Elang hanya tersenyum getir, entah kenapa ada yang sakit di dadanya, begitu dia tahu bahwa salah satu sahabatnya memiliki
rasa lebih pada temannya sedari kecil itu.
***
Sore ini inti Arakata angkatan tujuh dan beberapa anggotanya berada di pelataran SMA Gemilang. Tadi begitu Valerie datang ke kelasnya, Elang langsung menghubungi Tiyan. Cowok itu menceritakan semua kejadian yang
menimpa salah satu anggotanya.
Begitu Tiyan mendapat kabar dari Elang. Cowok berambut pirang itu langsung mengumpulkan anggotanya dan mencari si biang kerok yang membuat panglima perang Arakata yang terkenal tenang menjadi murka.
Dulu sebelum berteman dengan Arakata, dia sudah merasakan akibat dari amarah Valerie. Cowok itu sempat masuk rumah sakit akibat serangan Valerie. Dan sekarang dia tidak mau merasakannya lagi, kapok.
"Gue mewakili Robert, minta maaf sama Arakata. Terutama buat Lukman yang sudah kena palak." Tyan membuka pembicaraan. Dari tadi dia menghindar dari tatapan tajam Valerie. Gadis manis itu jika sudah marah terlihat
__ADS_1
menyeramkan.
"Ngapain elo yang minta maaf. Emangnya si Robek itu gak bisa ngomong?!" sahut Valerie nyolot. Membuat Elang menyenggolkan sikutnya pelan pada gadis itu.
"Namanya Robert Er, bukan robek."
"Ish, biarin gue typo napa sih, Lang!" gerutu Valerie tidak terima.
"Bukan gitu Er, gue sebagai ketua Gester merasa bertanggung jawab kalau ada anggota gue yang keblinger," sesal Tyan.
"Bagus lah kalo elo nyadar," sahut Valerie dengan nada yang masih ketus.
Tyan meringis kelu menanggapi nada bicara Valerie yang ketus dan jauh dari kesan ramah. Padahal biasanya jika mereka bertemu, Valerie selalu menyapanya dengan senyum yang ramah. Sekarang di hadapannya duduk seorang gadis yang sama tapi dengan sikap yang berbeda.
Ini akibatnya jika berani mengusik Arakata. Satu saja ada anggota yang terluka, semua akan datang membela. Makanya Tyan kagum dan memilih bergabung menjadi seķutu Arakata.
"Maafin gue Er, niat awal cuma iseng gak nyangka bakal jadi gede gini masalahnya." Perkataan Robert membuat Valerie tambah meradang. Emosinya naik kembali.
"Iseng elo bilang!" Gandi memegang pundak Valerie, mencegah gadis itu yang akan menerjang Robert. "Dengan bikin orang babak belur, terus ngambil uangnya. Itu elo bilang iseng? Otak lo jatuh di mana bro?!" teriak Valerie di depan wajah Robert. Membuat cowok itu mengkerut ketakutan.
"Valerie Livia Laksmono, kendaliin emosi lo. Jangan bikin rusuh di sekolah lain." Biasa nya jika Elang sudah memanggil Valerie dengan nama lengkap begini, Valerie akan patuh. Tapi tidak dengan sekarang. Emosinya
benar-benar ada di puncak. Hal itu membuat Elang dan kawan-kawan merasa kuwalahan menenangkan gadis itu.
Bahaya kalau Valerie sampai bertindak. Bisa berakhir di liang lahat si Robert itu.
"Elo bilang gue yang bikin rusuh?!" bentak Valerie pada Elang. Mata gadis itu menatap tajam wajah sahabatnya. Akal sehatnya hilang tertelan emosi."Cowok brengsek itu udah ngambil uangnya Lukman. Uang itu seharusnya
buat beli sepatu dan bayar sekolah adek-adeknya. Elo tau kan kalo Lukman itu udah gak punya orang tua!" Valerie mendorong dada bidang Elang dengan kuat, sehingga cowok itu terdorong ke belakang. "Gue yang jadi saksi perjuangan Lukman buat adik-adiknya. Gue melihat sendiri seberapa mati-matiannya dia banting tulang buat menghidupi adik-adiknya. Sepulang sekolah dia bekerja di cafe Bang Tama. Sepulang dari cafe, dia lanjut bekerja di pom bensin sampai pagi. Begitu seterusnya dari hari ke hari. Dia sampai gak tidur, Lang. Gue yang minta ijin ke guru agar tidak menghukum Lukman kalau ketiduran di kelas. Di sela waktu kosong dia yang sedikit, dia minta tolong ke gue agar ngajarin dia pelajaran yang tertinggal."
Wajah Valerie memerah karena sedih bercampur amarah. Semua anggota Arakata dan Gester terdiam mendengarkan perkataan Valerie. Mereka ikut merasakan apa yang dirasakan Valerie saat ini.
"Semua kerja kerasnya itu buat apa?! Buat dapetin uang Lang! Dan dengan kurang ajarnya si brengsek itu ngambil hasil jerih payah Lukman dengan alasan iseng." Valerie memukul-mukul dada bidang Elang, melampiaskan emosinya.
Elang diam mematung. Baru kali ini dia melihat Valerie sampai terpukul, seperti saat gadis itu harus menyaksikan kematian sang ibu dengan mata kepalanya sendiri.
"Gue melihat semua Lang." Valerie memandang Elang dengan air mata yang mulai menetes di pipinya, membuat Elang langsung membawa tubuh ramping gadis itu ke dalam pelukannya. "Gue melihat semua kerja kerasnya. Gue pernah lihat dia nangis waktu dia sudah capek nangung beban di pundaknya. Gue juga sering lihat dia nahan lapar demi adiknya bisa makan. Gue gak tega lihat adik-adiknya nahan sakit di telapak kakinya karena sepatunya udah gak layak pakai. Gue lihat semuanya sendiri, gue gak tega, Lang. Gue ngerasa gak berguna jadi teman. Tadi ngelihat dia babak belur, gue juga jadi ikut sakit Lang. Gue ...." Tangisan Valerie terdengar memilukan di telinga
semua orang yang ada di sana.
Robert pun jadi ikut menyesali perbuatannya. Dia merasa menjadi pria brengsek yang pengecut.
Elang hanya diam sambil mengusap-usap punggung Valerie. Pria itu hanya mendengarkan semua keluh kesah Valerie, tanpa mengeluarkan kata-kata. Ia tidak mau jika kata-katanya akan terdengar salah dan lebih membuat gadis itu marah. Jadi, yang bisa dia lakukan sekarang hanya memeluk Valerie, memberinya ketenangan.
__ADS_1