Arakata

Arakata
Rencana Harus Tetap Berjalan


__ADS_3

"Kapan elo bakal jalanin rencana kita?" tanya seorang pria pada Cakrawala.


Sekarang, mereka sedang berada di sebuah gudang yang sepertinya menjadi markas Cakrawala dan anak buahnya.


"Waktu kita udah lama terbuang, elo kayak gak niat buat laksanain balas dendam kita," lanjut pria itu, "atau jangan-jangan ... elo udah main perasaan sama target kita?" Pria itu menatap tajam pada Cakrawala.


"Tunggu sebentar lagi, gue sedang nunggu waktu yang tepat, Dit ...," sahut Cakrawala, pria bertatto itu menguncir rambutnya yang gondrong.


"Tunggu ... tunggu ... selalu kata itu yang elo ucapkan! Mau nunggu sampai kapan lagi, hah!" seru pria yang sedang berbincang dengan Cakrawala, namanya Dito. Nada suaranya mulai meninggi. "Elo udah lupa sama apa yang terjadi pada sahabat kita? Apa yang telah cowok brengsek itu lakuin ke Felicia, dan semua itu terjadi karena cewek brengsek itu, yang berani-beraninya ganggu hubungan Felicia sama pria yang disukainya!"


"Tapi itu juga bukan kesalahan Elang sama Eri," sahut Cakrawala, "kita gak bisa memaksakan perasaan orang lain, Dit. Seharusnya Felicia juga paham hal itu."


"Brengsek! Sekarang elo malah mau nyalahin Felicia, hah!" bentak Dito, ia menarik kerah baju Cakrawala dan mencengkeramnya.


"Gue gak nyalahin Felicia, dan gak seharusnya juga klita nyalahin orang lain. Selama ini kita udah dibutakan oleh dendam, sehingga gak bisa bedain mana yang salah dan yang benar. Jangan sampai kita menyakiti orang yang gak bersalah, Dit."


"Persetan! Orang brengsek macam lo masih bisa ngomongin yang salah dan benar. Hahaha, lucu sekali ...," Dito terbahak, ia menatap remeh pada Cakrawala.


"Gue udah berhenti lama dari dunia sialan itu, gue udah tobat, Dit" jawab Cakrawala, pria itu mencoba bersabar menghadapi temannya yang temperamen itu.


"Ingat, kalau elo itu berasal dari dunia hitam, dan sampai kapanpun ... label brengsek gak akan hilang dari hidup lo! Cuh ...," Dito meludah di hadapan Cakrawala, setelah itu ia melangkahkan kaki menjauhi Cakrawala. Namun, baru berjalan beberapa langkah, pria itu kembali berhenti. "Kalau elo nunda-nunda terus buat nyelakain gadis itu, gue sendiri yang bakal bertindak!" Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari gudang.


"Arghhh!" teriak Cakrawala sambil mengusap wajahnya kasar. Pria itu merasa frustasi dengan apa yang terjadi.


Cakrawala merasa bimbang, di satu sisi ia harus membalaskan dendam sahabatnya yang telah tiada, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin menyakiti Valerie.

__ADS_1


Ia sudah lama keluar dari dunia hitam. Semenjak bertemu dengan anak-anak asuhnya, ia bertekad untuk mencari nafkah yang halal. Tapi sekarang, tangannya harus terlumuri darah lagi, dan darah itu berasal dari orang yang sangat dicintainya. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu ....


***


Seorang pria melangkahkan kaki perlahan memasuki kamar yang didominasi warna merah muda. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia tersenyum melihat sebuah foto yang masih terpajang rapi di atas nakas. Ia mengambil figura foto tersebut, dan duduk di pinggir ranjang.


Pria yang tidak lain adalah Cakrawala itu mengusap wajah ayu yang ada di foto. Ia tersenyum mengingat kebersamaannya dulu dengan pemilik senyum manis itu.


"Hay, Feli. Gue rindu," ucap Cakrawala, sekarang ia berada di kamar mendiang sahabatnya itu. "Gue rindu ngejahilin elo, gue rindu main sama elo, gue rindu meluk elo, gue rindu semuanya tentang elo. Kenapa elo lebih milih buat ninggalin gue secepat ini? Elo tega, bukankah dulu elo bilang kalau elo sendiri yang bakal buatin baju pengantin buat gue dan calon istri gue kelak, tapi elo malah pergi ninggalin gue. Elo nasehatin gue agar milih pendamping hidup yang baik, pengertian, peduli dengan sesama, gue udah nemuin perempuan itu, Fel. Namanya Valerie, dia perempuan yang cantik, senyumanya manis sama seperti elo." Cakrawala terkekeh mengingat sosok Valerie yang sudah membuatnya jatuh hati.


"Dia cewek yang kuat, elo tahu ... dia itu panglima perang di Arakata, sebuah geng besar yang disegani banyak orang. Dia perempuan yang tangguh, dia juga peduli dengan sesama, bahkan dia lebih mementingkan orang lain daripada sirinya sendiri. Cara berpikirnya gak ribet, dia selalu memandang segala sesuatunya dari segi yang berbeda. Gue merasa nyaman di dekatnya, gue selalu bisa tertawa jika ada di sampingnya. Baru pertama kali ini gue merasakan hal seperti ini, elo tahu sendiri kalau gue paling gak peduli sama yang namanya perempuan. Tapi kalau dengan Eri beda, dengan mudahnya dia bisa buat seluruh perhatian gue teralih ke dia. Dengan mudahnya dia bisa buat gue jatuh sejatuh-jatuhnya dalam perasaan gue sendiri.


Gue jatuh cinta, Fel. Eri adalah perempuan yang tidak beruntung itu karena udah buat gue jatuh cinta." Cakrawala tertawa, ia merasa Valerie tidak beruntung karena telah bertemu dengannya dan membuatnya jatuh cinta. Namun, sebaliknya ... ia merasa sangat beruntung karena bisa berjumpa dengan gadis tercintanya itu. "Tapi yang buat gue sedih, dia adalah perempuan yang dicintai Elang, perempuan yang telah mengambil perhatian Elang, sehingga Elang tidak bisa nerima elo. Gue bingung, Fel ... gue gak mau nyakitin dia, tapi Dito terus desak gue buat ngelaksain balas dendam ke Eri dan Elang."


Pertama kali yang ia lihat adalah sebuah buku kecil bergambar upin-ipin, tokoh kartun kesukaan gadis itu.


"Fel, gue minta ijin buat buka buku lo ... iya, buka aja gak apa-apa, Kra," ucap Cakrawala. Ia meminta ijin dan ia juga yang menjawabnya, dasar Cakra. Kemudian ia membuka secara acak lembar buku itu dan membacanya.


Upin ....


Perasaanku ke Elang semakin hari semakin besar. Dan aku udah gak bisa menyimpannya lagi, aku memutuskan untuk mengatakan isi hatiku ini. Aku udah gak mau lagi nahan-nahan perasaan ini. Eek ditahan aja bikin perut sakit, apalagi perasaan ... entar hatiku bisa sakit.


"Nih bocah, perasaan disamain sama eek," ucap Cakrawala sambil terkekeh.


Urusan entar diterima atau ditolak pikir belakangan aja.

__ADS_1


Harapan sih diterima, tapi kenyataan ... siapa yang tahu.


Cakrawala kembali membuka halaman berikutnya dan membacanya.


Upin ....


aku udah nyatain perasaan aku ke Elang dan aku ditolak. Ternyata Elang udah punya perempuan yang dicintai, dia memperlihatkan foto perempuan itu padaku. Perempuan itu sangat cantik, dan kayaknya dia juga baik.


Cinta pertamaku kenapa berakhir tragis begini ya ....


Tapi tak apa-apalah, yang penting aku udah ngungkapin perasaanku. Aku menjadi lega, paling enggak aku udah berani jatuh cinta, dan aku juga udah berani menyatakannya. Gak kayak Cakra, jangankan menyatakan cinta, cewek yang dicinta aja dia gak punya. Aku khawatir kalau dia itu belok, hehehe.


"Kampret, gue dibawa-bawa, pakai ngatain belok lagi," gerutu Cakrawala, ia menjulurkan lidah ke arah foto Felicia yang ada di nakas.


Aku memang sedih, tapi paling sebentar agi aku juga akan pulih. Karena aku punya sahabat yang baik kayak Cakra, dia pasti menghiburku. Aku beruntung memilikinya.


Upin ....


Aku ikhlas melepas Elang, semoga dia bahagia bersama perempuan yang ia cintai. Amiin ....


Doaku bersamamu, Elang Rayan Garindra ... cinta pertamaku.


"Dari yang gue baca, Feli ngerasa ikhlas kok melepas Elang. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati atau terguncang. Terus apa yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?"


Dahi Cakrawala berkerut, ia merasa ada sesuatu di balik kematian sahabat baiknya itu yang ia tidak tahu. Dengan segera ia membuka halaman berikutnya di buku milik Felicia itu. Mungkin ada rahasia yang bisa ia ungkap.

__ADS_1


__ADS_2