Arakata

Arakata
Rencana Berhasil


__ADS_3


Break Time - Arakata Time


"Kenapa? Apa sekarang panglima perang terkuat di Arakata merasa takut sama gue? Apa elo ngerasa takut karena sendirian, temen-temen lo sekarang ada di danau, kan? Dengan mudahnya gue bisa nipu kalian, dan lihat sekarang ... elo sendirian. Gue yang punya kuasa, gue yang menang. Kita akan bersenang-senang, sebelum elo menemui ajal."


"Lihat di depan sana." Dito menunjuk ke luar mobil yang penuh dengan pria-pria berbadan tegap. Pria-pria itu mengenakan baju serba hitam, dan topi yang berwarna hitam juga. Mereka berdiri di sekitar sebuah rumah yang cukup besar. Ada rumah di tengah hutan begini, mungkin itu adalah markas mereka. "Mereka semua anak buah gue. Yang artinya, elo udah terkepung ... Valerie Livia Laksmono. Panglima perang Arakata, yang menurut orang-orang adalah panglima paling kuat. Jika berhadapan dengannya sudah dipastikan akan kalah, tapi lihat sekarang. Panglima perang itu ada di tangan gue. Dan sebentar lagi akan bertekuk lutut di hadapan gue."


Dito semakin mendekatkan tubuhnya pada Valerie. Bukannya melawan, Valerie malah terdiam. Sama sekali bukan seperti Valerie yang biasanya. Sekarang, ia seperti terlihat pasrah dengan apa yang akan menimpanya. Dito terus mendekat, hingga wajah pria itu berada tepat di hadapannya.


"Akan kunikmati wajah menawanmu ...." Dito membuka pintu mobilnya, dan ia juga membukakan pintu untuk Valerie. "Ayo kita bersenang-senang, Sayang." Dito menarik pergelangan tangan Valerie keluar dari mobilnya. "Kalian jaga tempat ini, jangan sampai ada yang menyusup ke dalam markas. Jika ada yang macam-macam, kalian tahu harus apa, kan? Habisi!" Dito memberi perintah pada anak buahnya.


"Yakin kalau mereka bakalan ngelaksanain perintah lo?" tanya Valerie. Setelah beberapa saat, Valerie mulai angkat bicara. "Yakin kalau mereka bakalan patuh sama elo, hm?" Valerie tersenyum miring.


"Apa maksut, Lo?" Dito mengerutkan dahinya. Pria itu heran dengan perubahan ekpresi wajah Valerie yang begitu cepat. Tadi, gadis itu hanya terdiam dan wajahnya terlihat datar. Namun, sekarang ekspresinya seperti sedang mengintimidasi.


"Mereka gak akan patuh sama perintah lo, karena mereka hanya akan mematuhi perintah yang diberikan oleh panglima perang mereka. Bukan begitu Arakata?"

__ADS_1


"Siap, Panglima," sahut pria-pria berbaju serba hitam itu.


Dito membolakan matanya, melihat jika yang ada di sekelilingnya itu bukan anak buahnya, melainkan anggota Arakata. Elang, Cakrawala, Gaung, Bagus, Gandi, Gema, Asel, dan anggota yang lain membuka topi dan memperlihatkan wajah mereka yang dipenuhi senyuman puas.


"Cakra," ucap Dito, pria itu menatap pada Cakrawala dan Elang secara bergantian. "Elo ngehianatin gue? elo malah berpihak pada orang yang udah jadi penyebab Feli mengakhiri hidupnya!"


Cakrawala melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dito berdiri. Ia menatap lurus pada sahabatnya itu, terlihat jelas ada luka di sorot matanya. Luka dan rasa tidak percaya yang berbaur menjadi kekecewaan.


"Gue gak pernah berkhianat, gue selalu menempatkan kepentingan orang-orang yang gue sayangi di atas kepentingan gue sendiri. Tapi apa yang gue dapat sekarang?" Cakrawala tersenyum getir, ia masih tidak percaya jika sahabatnya itu begitu kejam. "Elo sahabat yang udah gue anggap saudara, tega nusuk gue dari belakang. Bahkan, dengan kejinya ... elo ngebodohin gue dan memanfaatkan gue untuk melancarkan rencana jahat elo."


Dito terkekeh, ia menatap remeh pada Cakrawala. "Elo ngatain gue jahat? Terus apa kabar dengan elo, hah! elo juga bajingan! Elo sama kayak gue!"


Dito terbahak mendengar penuturan Cakrawala. "Elo udah kenal gue begitu lama, dan elo baru nyadar sekarang kalau gue gila? Gue gak bakal bunuh Feli, kalau dia gak sok jual mahal. Gue udah menawarkan hati gue buat dia, tapi dia malah milih pria brengsek itu!" Dito menatap tajam pada Cakrawala.


"Yakin elo cowok?" tanya Valerie, ia tersenyum remeh pada Cakrawala. "Cowok kok beraninya main kekerasan sama cewek. Cowok kok sukanya pakai cara licik buat dapetin apa yang dia mau. Ada rencana buat ganti gender?"


"Brengsek!" umpat Dito. Pria itu hendak menampar Valerie, tapi dengan gerakan cepat ... Cakrawala dan Elang melindungi Valerie. "Udah jadi anjingnya Arakata elo ternyata!"

__ADS_1


"Anjing? Buat Arakata ... Cakra itu teman, sahabat ...," ucap Valerie sambil tersenyum. "Kami saling membantu karena kami ingin saling melindungi. Bukan seperti apa yang lo bilang tadi ... apa tadi? Anjing? Tapi disebut anjing juga bagus sih, karena anjing itu binatang setia. Bukan seperti anak buah lo yang ninggalin elo sendiri dan memilih melarikan diri karena sudah babak belur di tangan kami."


"Lebih baik elo siapin diri sekarang, karena sebentar lagi elo bakalan mendapat ganjaran atas apa yang elo lakukan!" seru Cakrawala, "sudah saatnya elo ngerasain apa yang dinamakan karma. Sudah saatnya elo menyadari kalau apa yang elo lakuin selama ini tuh salah. Sudah saatnya elo instropeksi di balik jeruji besi."


Dito terbahak mendengar penuturan Cakrawala. "Karma? Ganjaran? Semua hal itu gak akan pernah gue dapatkan, karma yang akan lari kalau ketemu gue. Dan gue bakal masuk ke jeruji besi? Itu gak mungkin, gue kebal hukum!"


"Kebal hukum?" Valerie melangkahkan kakinya lebih mendekat pada Dito. "Ini yang bikin elo kebal hukum, kan?" Valerie memperlihatkan sebuah foto yang ada di layar ponselnya. Foto seorang pria paruh baya yang ditangkap oleh aparat hukum. "Sepintar-pintarnya elo nyimpen bangkai, pasti akan tetap tercium. Karena bangkai tetaplah bangkai, walau disiram air kembang tujuh rupa ... tetap saja berbau busuk."


"Brengsek!" Dito menarik pergelangan tangan Valerie, ia melingkarkan tangan kirinya pada leher Valerie. Pria itu mengambil pisau lipat yang ada di saku celananya, kemudian ia mengarahkan pisau itu di leher putih Valerie. "Gue akuin gue kalah, tapi gak akan gue biarin gue kalah sendirian. Valerie Livia Laksmono ... elo juga harus ikut hancur bareng gue." Dito menekan pisau itu lebih dalam, hingga menggores  leher Valerie. Darah segar menetes dari leher jenjang Valerie, hal itu membuat Elang dan yang lainnya panik.


"Bangsat! Lepasin Eri!" teriak Bagus, HUMAS Arakata angkatan tujuh itu hendak mendekat, tapi Dito mencegahnya. Ia mengarahkan pisau itu ke arah Bagus dan kembali pada Valerie lagi.


"Elo berani mendekat ... gue gak segan-segan buat nancepin pisau gue lebih dalam lag!" gertak Dito. Pria itu menarik tubuh Valerie mendekat ke arah mobilnya berada. "Minggir elo semua! Jangan ada yang halangin jalan gue, kalau elo semua gak mau panglima perang kalian ini kehilangan nyawa."


Dengan berat hati, mereka memberikan jalan pada Dito. Mereka tidak mau jika terjadi sesuatu dengan panglima perangnya.


Begitu sampai di depan mobil, Dito mendorong Valerie masuk ke dalam dan ia sendiri masuk ke sisi pengemudi. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


"Gue paling gak suka dengan kekalahan," ucapnya, sembari masih mengemudikan mobilnya. "Jadi, kalau gue sampai kalah, gue gak mau kalah sendirian. Daripada gue harus mendekam di penjara, mending gue mengakhiri hidup. Dan elo ... harus ikut sama gue!"


Valerie tidak bereaksi, ia hanya terdiam sambil melihat jalan yang semakin menuju ke tepi jurang.


__ADS_2