
Kamu memang bukan prolog bagiku. Namun, kupastikan bahwa kamu akan menjadi epilog yang menutup kisah hidupku.
***
"Elang," panggil Valerie pada kekasihnya yang masih setia berada di alam mimpi.
Lima belas menit sudah Valerie berada di kamar Elang untuk membangunkannya. Namun, hasilnya nihil ... pria itu tidak bergerak sama sekali.
"Lang," Valerie mencolek-colek hidung bangir Elang. "Masih gak bangun juga, aku tinggal lho ini. Mending aku telepon Robert, suruh nganterin dia."
Baru saja Valerie hendak mengambil ponselnya, Elang menarik tangan gadis itu sehingga terjatuh di sebelahnya.
"Jangan sebut nama pria lain di hadapanku, Sayang, aku bisa khilaf," ucap Elang masih dengan mata tertutup.
Elang menarik Valerie agar lebih mendekat. Dipeluknya pinggang sang kekasih.
"Kalau di belakang kamu berarti boleh?" tanya Valerie sambil terkekeh. Ia sengaja menggoda sang ketua Arakata angkatan tujuh itu.
Elang langsung membuka matanya, menatap gadis di hadapannya dengan tajam.
"Lakukan saja." Elang memberi jeda pada perkataannya. "Jika kamu ingin melihat pria yang kau bicarakan itu habis di tanganku"
"Jika pria yang aku bicarakan itu ayahku, bagaimana?" tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya.
"Silahkan bicarakan sebanyak-banyaknya. Kalau beliau, aku tidak sanggup meghabisi," jawab Elang, membuat Valerie terbahak.
"Buruan bangun, Lang ...," ucap Valerie sambil menggerak-gerakan badannya, mencoba lepas dari pelukan Elang.
Namun, hal itu malah membuat Elang mengerang.
"Mau kemana emangnya?" tanya Elang sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Valerie. Kalau terlalu lama dalam posisi seperti itu bisa bahaya, bagaimanapun Elang adalah seorang pria dewasa, yang tentunya punya ... ya, begitulah.
"Ponakan Bu Diandra ngajak aku jalan-jalan. Dia suruh aku ajak kamu, mau kenalan sama kamu katanya. Noh, orangnya udah nunggu di rumahku."
"Cewek apa cowok?"
"Cewek, kenapa?"
"Kalau cowok gak boleh," jawabnya santai sambil masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirrullah, punya pacar posesifenya gak karuan," ucap Valerie sambil mengusap dadanya.
***
"Kenapa malah ke sini?" tanya Elang. Pria itu melongo menatap pria di hadapannya yang juga ikut terkejut.
Mereka berada di kediaman keluarga Andrew. Iya, mereka ada di rumah Robert Andrew, atas permintaan Eli.
"Aku mau ngapelin pacarku, Kak," jawab Eli sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Robert. Membuat Robert merinding ngeri.
"Pacar?" tanya Elang bingung.
"Robert sama Eli udah jadian," jawab Valerie sambil tersenyum, senyum itu juga menular pada Elang.
"Baguslah kalau elo punya pacar," ucap Elang sambil tersenyum miring pada Robert. "Saingan gue kurang satu lagi."
__ADS_1
"Enak aja, gue belum bilang kalau mau pacaran sama elo ya, Piyik." Robert mencubit hidung mungil Eli.
"Kemarin waktu di cafè Kak Tama, Kak Robert bilang iya kan waktu Eli tanya. Bener gak, Kak Eri?"
Valerie mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
"Kak Bagus juga bisa dijadiin saksi," ucap Eli lagi.
"Anjir, elo bertiga sekongkol, kan?" Robert melotot pada Valerie dan Eli.
"Sudah dibilang gak boleh ngumpat," ucap Eli sambil menepuk mulut Robert. "Beneran mau dibakar itu mulut."
"Sadis," ujar Elang dan Valerie bersamaan.
"Untung cewek, kalau cowok udah gue tinju lo," gumam Robert sebal.
"Tinju aja, asal elo udah siap berhadapan sama Om Laks," ujar Elang sambil terkekeh membuat Robert berdecak sebal.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Robert ketus pada Eli.
"Mau jenguk anak-anak ayam aku yang gemesh-gemesh," jawab Eli sambil melenggang menuju kandang ayam milik Robert. "Siapa tahu, sekarang ayam-ayamnya udah gede. Jadi bisa di goreng."
"Eh bocil. Elo kemarin baru dari sini, dan tuh ayam--ayam masih sekutil. Terus mana bisa dalam semalam bisa jadi gede!"
"Elo yang udah enam belas tahun aja tingginya masih sedengkul. Elo kira gue tukang sulap yang bisa bikin ayam gede hanya dalam semalam!" lanjut Robert masih dengan nada yang tidak santai.
"Kenapa jadi bahas tinggi badan Eli, sih!" Eli memukul lengan Robert, tingginya hanya sebatas dada pria itu. "Tapi kata temen Eli, kalau buat bayi bisa langsung jadi hanya dengan satu malam, kok," ucap gadis itu polos.
Elang, Valerie, dan Robert mendadak tersedak berjamaah.
"Siapa yang ngomong begituan ke elo?" tanya Robert dengan sorot matanya yang tajam.
"Besok waktu berangkat sekolah gue anter, tunjukin ke gue mana cowok yang namanya kanan itu."
"Conan, Kak ... bukan kanan," protes Eli.
"Ya pokoknya itu lah, gak penting gue tahu namanya!"
"Cie, yang mulai posesife. Ehem," ledek Elang, "buruan diiket, biar gak lepas. Bocil manis gitu, bakalan banyak semut yang ngerubung. Udah bagus ada gadis SMA yang mau sama bangkotan macam elo!"
"Nyadar, Mas ... nyadar!" teriak Robert, "umur kita sama, berarti elo juga bangkotan."
"Gue bangkotan yang berkelas, dong ...," ucap Elang sombong sambil menepuk dadanya. "Buktinya gue udah punya cewek. Gue kan rangers." Elang menarik pinggang Valerie dan memeluknya.
"Rangers, rangers ... ****** rangers elo mah," gerutu Robert, membuat ia ditertawakan oleh Elang dan Valerie. Kalau Eli hanya diam sambil melongo, tidak paham dengan apa yang di katakan Elang dan Robert.
"Emang ada ya jagoan ****** rangers? Setahu Eli hanya power rangers deh," ujar Eli sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Di lain tempat, tepatnya di sebuah makam. Berdiri seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah. Pria itu berdiri sambil memandang makam almarhumah istri tercinta.
"Assalamu'alaikum, Sofie ...," salam Laksmono sambil berjongkok dan mengusap nisan almarhumah istrinya.
"Aku meminta ijin padamu," lanjutnya, "meminta ijin untuk menikah kembali. Aku bertemu dengan seorang wanita yang baik. Dan yang terpenting, dia menyayangi anak-anak kita. Wanita yang dulu pernah dikenalkan putri kita padaku, wanita yang dulu sempat aku tolak. Sekarang dia hadir kembali dalam kehidupan kami. Seperti pesan yang kamu titipkan pada Eri, aku tidak mencari pasangan hanya sebagai penggantimu. Namun, aku mencari pasangan yang bisa mendampingi hidupku dan anak-anak kita.
Aku akan menjaga dan membahagiakannya, seperti aku menjaga dan mambahagiaanmu dan anak-anak kita selama ini. Aku menjadikan pernikahanku ini sebagai ibadah. Sebagai wujud cintaku pada sang pencipta, sebagai wujud cintaku pada anak-anak kita, sebagai wujud cintaku pada calon istriku, dan sebagai wujud cintaku padamu. Kamu tidak akan pernah tergantikan Sofie Maharani."
__ADS_1
***
Pagi ini, matahari bersinar cerah. Warna biru langit pun kenambah suka cita orang-orang yang menghadiri pernikahan sang pendiri Arakata.
Pukul tujuh tadi, akad berjalan khitmad dan lancar. Sekarang, saatnya resepsi untuk merayakan kebahagian kedua mempelai.
Laksmono ingin mengadakan acara resepsi yang sederhana. Namun, mengingat sepak terjangnya sebagai pendiri Arakata dan pengusaha yang terkenal. Tidak mungkin jika acara itu diadakan hanya sederhana dan seadanya.
Tamu undangan dibagi tiga sesi. Sesi pertama, yaitu pagi adalah sesi dimana tamu yang diundang adalah anak-anak yatim piatu. Sesi kedua adalah siang hari, dimana tamu undangannya adalah orang-orang sekitar dan rekan bisnisnya. Dan sesi ketiga dijatuhkan pada malam hari. Dengan tamu undangan seluruh anggota Arakata dari angkatan pertama sampai angkatan yang sekarang, yaitu angkatan delapan. Dan juga anggota-anggota geng sekutu Arakata. Seperti Rajawali, Blue Eagle, Gester, dan yang lain.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana menyeramkan dan menyenangkannya resepsi sesi ketiga ini. Menyeramkan karena yang datang, semuanya anggota geng yang disegani di Jakarta.
Menyenangkannya, karena dibalik nama besar geng mereka, berdiri pria-pria yang yang baik, hangat, humoris, dan pastinya setia kawan.
Bisa bayangkan bagaimana menyenangkannya berada di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang apa adanya, tidak pernah munafik dan basa-basi. Namun, masih bisa menjaga mulut dan sikap mereka agar tidak menyakiti hati orang lain.
Melodi Arakata juga ikut memeriahkan acara Laksmono. Malam ini formasi mereka tidak sama dengan biasanya. Ada dua vocallis, yang satu sudah pasti Valerie, dan yang satunya lagi adalah piyik manis milik Robert, Eli Wulan.
Suara gadis itu sangat merdu, apalagi didukung oleh parasnya yang imut. Bahkan, Robert sampai melongo dibuatnya.
"Gila! Bening bener tuh bocil, gue speak dikit bisa, nih," ujar Andi asal, tidak melihat muka Robert yang sudah ditekuk-tekuk.
"Sampai elo berani ngelirik tuh cewek, apalagi sampai pegang-pegang. Gue jadiin samsak, Lo!" gertak Robert sambil melenggang ke belakang panggung, menemui bocil tersayangnya.
Setelah penampilan Melodi Arakata, Laksmono naik ke panggung. Pria itu memegang mick yang diberikan putrinya.
"Assalamu'alaikum, semuanya," sapa Laksmono.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua tamu undangan.
"Saya berdiri di sini, untuk mengucapkan sesuatu pada seseorang. Seseorang yang baru saja telah halal untuk mendampingi sisa usia saya. Diandra Maharani, nama belakangmu sama dengan almarhumah perempuan yang telah menemaniku di saat aku memulai semuanya dari nol. Walau nama kalian mirip, bukan berarti aku menikahimu untuk menjadi penggantinya. Karena dia tidak akan pernah terganti, kamu pun tidak akan pernah terganti. Aku menikahimu karena aku ingin menjagamu, melindungimu, membuatmu tertawa, dan yang pasti karena aku mencintaimu. Diandra Maharani, berbahagialah bersamaku dan anak-anakku."
Ucapan Laksmono membuat Diandra terharu. Valerie berjalan menuju bunda barunya. Gadis itu menuntun sang bunda untuk mendekat ke arah sang ayah berada.
Diandra berdiri di hadapan Laksmono sambil tersenyum haru. Sang pendiri Arakata tersenyum mengusap buliran bening yang menetes di pipi wanita yang sekarang telah resmi menjadi istrinya itu.
"Berbahagialah bersamaku," ucap laksmono sambil mengulurkan sebelah tangannya dan meraih pergelangan tangan Diandra.
"Tidak ada yang bisa aku ucapkan selain rasa syukurku kepada sang pencipta yang telah mempertemukanku denganmu dan anak-anakmu. Aku dedikasikan sisa usiaku untuk bahagia bersamamu dan anak-anakmu, Laksmono Aji Wibowo."
Laksmono tersenyum sambil meraih tubuh sang istri dalam dekapannya.
Hal itu mengundang banyak tepukan dan sorakan dari para tamu yang hadir.
"Sahabat gue so sweet banget sih," ucap Afghi sambil bersorak.
"Om, saya mau diromantisin juga dong," teriak Gema, yang membuat Gaung menutup wajahnya malu.
"Adek lo belok, bhuahahaha ...," ujar Elang sambil terbahak. Adik satu-satunya Gaung itu memang agak gesrek. Namun, bisa dipastikan kalau dia adalah pria tulen. Hahahaha.
"Elang!" teriak Garindra, "buruan nikahin Eri. Papa gak mau ya kalau kamu sampai nangis guling-gulingan lagi gara-gara ditinggal Eri. Kalau sampai Eri digondol kucing, baru tahu rasa kamu!"
Teriakan Garindra begitu kencang, membuat Elang menutup wajahnya. Menahan malu karena mendapat tertawaan dari semua yang hadir di sana.
"Setuju, Om!" teriak Gema, "kalau Bang Elang gak buruan nikahin Kak Eri, gue aja yang gantiin. Kak Eri mau kan sama brondong? Brondong itu lebih empuk dan gurih, lho. Daripada marning yang keras, bikin gigi copot!"
"Bhuahahaha ... rasain!" Sekarang giliran Gaung yang menertawakan Elang. Menertawakan keapesannya karena memiliki ayah dengan sifat yang gesrek seperti adiknya itu.
__ADS_1
"Kamprettt! Gue dikatain marning sama bocil stres," umpat Elang dengan hati gondok, segondok-gondoknya.