
Hening, itulah suasana yang mendominasi di dalam mobil Choky. Diantara Choky maupun Azizah, tidak ada yang berniat memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Pak," panggil Azizah, akhirnya memecahkan keheningan. "Bapak tidak harus melakukan ini, Bapak tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas anak yang saya kandung." Azizah menundukkan kepalanya, tidak berani memandang bosnya itu.
"Saya memang tidak berkewajiban melakukannya," jawab Choky, "tapi, dengan ikhlas, saya ingin mengambil tanggung jawab itu. Saya ingin menjadi bagian dari hidup kamu, dalam senang maupun susah. Jadi, tolong biarkan saya masuk dalam kehidupanmu. Saya akan berusaha menjaga kamu dan calon anak kita kelak."
Azizah menengadahkan wajahnya, menatap lelaki yang ingin mengambil tanggung jawab atas dirinya itu.
"Mungkin wajah dan penampilan saya terlihat seperti berandalan. Tapi percayalah, saya tidak akan sampai hati menyakiti seorang perempuan. Menikahlah denganku Azizah, mulai semuanya dari awal bersamaku," ujar Choky sambil tersenyum manis, membuat wajah Azizah memerah karenanya.
"Tapi, bapak bisa mencari perempuan yang lebih baik dari saya, perempuan yang masih suci," jawab Azizah sambil menundukkan kepalanya kembali.
Choky mengulurkan tangannya, menengadahkan wajah Azizah agar menatap dirinya.
"Memang menurut kamu, deskripsi perempuan suci itu seperti apa?" tanya Choky.
Azizah hanya terdiam, tidak menjawab.
"Azizah, kita ini hanya manusia biasa, tidak berhak menentukan apakah kita suci atau tidak. Jangan pernah menentukan sendiri apa yang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Saya sudah siap menikah denganmu, jadi saya juga sudah siap menerima kekurangan dan kelebihanmu. Maukah kamu menerimaku, Azizah?" tanya Choky, masih dengan senyum manis yang bertengger di bibirnya.
"Saya bersedia, Pak," jawab Azizah sambil mengangguk, membuat senyum Choky semakin melebar.
"Terimakasih, Calon istriku."
***
"Bagaimana keadaan markas Arakata?" tanya Ryan pada Valero.
"Sebagian markas mereka sudah habis terbakar, Yah," jawab Valero dengan nada bicara yang dibuat sebiasa mungkin. Padahal dalam hatinya, ingin sekali ia menghabisi ayah tirinya itu sekarang ini juga.
Namum, atas saran dari Asel, sebisa mungkin ia berusaha menekan emosinya. Demi keselamatan ibu dan adiknya.
"Bagus, itu baru peringatan buat mereka. Besok, kita akan buat mereka lebih menderita. Kita culik anak gadis Laksmono. Akan kutunjukkan pada Laks, Ryan tidak bisa diremehkan. Hahahaha ...," sesumbar Ryan sambil tertawa lepas. Tidak menyadari jika kehancurannyalah yang akan segera tiba.
"Om Eko," panggil Valero pada salah seorang anak buah Ryan. Ryan telah masuk ke kamarnya. Jadi, Valero lebih leluasa untuk melaksanakan rencananya.
"Iya, Tuan muda," jawab pria paruh baya yang bernama Eko itu.
"Ero tahu bahwa Om Eko adalah orang yang baik. Om Eko mau menuruti perintah ayah karena khawatir dengan keselamatan mamah, kan?"
Eko mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Valero.
"Om mau bantu Ero untuk menyelamatkan mamah?"
"Tentu tuan muda, dengan senang hati," jawab Eko sambil tersenyum.
***
"Sayang," panggil Elang pada Valerie.
"Hem," jawab Valerie, gadis itu sedang duduk diam di ranjang, pasrah dengan rambut panjangnya yang sedang di kuncir-kuncir oleh Azizah.
"Kenapa cowok mafia ini masih ada di sini, sih?!" protes Elang sambil menunjuk Choky yang ada di hadapannya.
"Mafia mata lo!" Choky menyingkirkan tangan Elang dari depan wajahnya.
"Kenapa lo masih ada di kamar calon istri gue?" protes Elang, "ini sudah malam, pulang sana!"
"Gue di sini buat nemenin calon istri gue juga," jawab Choky tidak kau kalah.
"Cih, sombong!"
"Emang situ juga enggak!"
"Tapi gue duluan yang bakalan nikah,"
"Kalau elo gak ngasih pilihan konyol waktu di pesawat, Eri juga ogah nikah sama elo," cibir Choky sambil tersenyum miring.
"Elo ...."
"Kalau mulut elo berdua masih cerewet kayak emak-emak di pasar," ujar Valerie, memotong perkataan Elang. "Gue bakalan lempar elo berdua dari balkon kamar gue!"
__ADS_1
Ucapan Valerie berhasil membuat dua pria itu terdiam seketika.
"Cewek elo serem, Lang," bisik Choky di dekat telinga Elang. Takut jika Valerie mendengarnya, bisa langsung lewat nyawanya.
Elang hanya mengangguk setuju, takut berkomentar.
"Telinga gue masih bisa dengar apa yang elo berdua gibahin," ucap Valerie lagi.
Elang dan Choky meneguk ludahnya susah payah. Lebih baik mereka diam dari sekarang. Dari pada nyawa yang jadi taruhannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa dari Valerie. Membuat Elang dan Choky memandangnya dengan heran.
"Cewek elo sudah mulai gila, ketawa sendiri sama ponselnya," ucap Choky yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Elang.
"Gue tampol mulut lo ya berani ngatain cewek gue!"
"Atau jangan-jangan Valerie lagi chat'an sama cowok lain yang lebih normal dari elo," ujar Choky lagi, "mampus lo, Lang, terancam batal nikah."
"Benar-benar minta ditampol mulut lo!" seru Elang sambil memukul Choky dengan bantal yang berada di dekatnya.
Bughhh!
Valerie memukuli kedua pria itu dengan guling yang dipegangnya.
"Elo berdua milih terjun sendiri dari balkon kamar gue, atau gue yang bakal lempar kalian!" geram Valerie yang mulai jengah dengan keributan yang ditimbulkan kedua mantan ketua geng yang disegani itu.
Wajah Elang dan Choky pucat seketika. Mereka saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.
"Elo sih, berisik mulu," ucap Choky sambil menyenggol lengan Elang.
"Mulut lo itu yang dari tadi nyerocos mulu," jawab Elang tidak mau kalah.
Azizah tertawa melihat interaksi ketiga sahabat itu. Choky terpukau dengan wajah Azizah yang terlihat sangat menawan saat tertawa.
"Mingkem," ucap Elang sambil menutup mulut Choky dengan telapak tangannya. "Mupeng lo!" Elang mengedipkan matanya, menggoda sang mantan ketua geng Rajawali itu. "Kebanyakan bergaul sama knalpot dan minyak rem sih lo!"
Choky menatap tajam pada Elang, tanpa menjawab ucapannya. Takut, jika Valerie akan benar-benar melemparnya dari balkon kamar.
"Ero," jawab Valerie, yang langsung membuat wajah Elang menjadi masam. Choky tertawa geli melihatnya.
"Ngapain dia chat kamu?"
"Dia minta ijin, besok mau culik gue," jawab Valerie santai, membuat Elang, Choky, dan Azizah melotot seketika.
***
Pagi ini, Valerie berada di SMA Garindra. Untuk bertemu dengan juniornya di Arakata, Asel.
"Kak Eri ikutin aja permainannya," ucap Asel, "semalam gue juga sudah hubungin Bang Ero. Kita beruntung, karena Om Eko, yang tidak lain adalah anak buah Pak Ryan, bersedia membantu kita untuk menyelamatkan Bu Atika. Kak Eri ikut aja sama Bang Ero, buat seolah Kak Eri tidak berdaya. Kita biarkan Pak Ryan berpikir bahwa ia udah menang. Untuk urusan Bu Atika, biar beberapa dari kami dan Om Eko yang mengurusnya. Jadi, Kak Eri dan Bang Ero fokus aja untuk bermain dengan Pak Ryan. Kak Eri pasti paham, kalau kelemahan seseorang terlihat saat ia merasa menang." Asel tersenyum miring, dan sudah pasti Valerie mengerti apa yang dimaksut juniornya itu.
"Oke," jawab Valerie sambil mengangguk. "Sudah saatnya kita memberitahu Om Ryan, bahwa hidup tidak hanya berporos padanya. Bahwa ada jiwa lain yang harus dihargai keberadaannya. Bahwa hidup tidak melulu tentang uang dan kekuasaan. Bahwa kejahatan, seperti apapun bentuknya harus mendapatkan ganjarannya."
***
"Valerie Livia Laksmono, anak gadis satu-satunya Laksmono," ucap Ryan, Valerie sudah berhasil diculik Valero. Mereka menyekap gadis itu di sebuah rumah tua. "Cantik juga, kalau dijual bisa laku banyak. Hahahaha ...."
Ryan memegang dagu Valerie, meneliti wajah Valerie dengan seksama.
"Jual, jual ... elo kira gue chiki rentengan ...," gumam Valerie dalam hati.
"Salahin bapak lo yang suka ikut campur urusan orang," ujar Ryan lagi, "kalau dulu dia tidak berlaga seperti pahlawan kesiangan, nasib elo tidak akan jadi begini!"
"Itu yang dinamakan dengan kepedulian,Om," jawab Valerie santai. Dari tadi gadis itu sudah berusaha berpura-pura lemah. Namun, lama-lama telinganya terasa panas, mendengar ocehan Ryan yang tidak ada berhentinya. "Hidup memang harus begitu, peduli dengan sesama. Kalau mau bersikap masa bodoh, hidup aja di hutan, bergaul sama macan dan ular."
"Wah, berani juga anak Laks ini," ujar Ryan.
"Ayah saya ngajarin harus sopan dan menghormati orang yang lebih tua. Tapi, maaf nih ya, Om.Maaf banget, bukannya saya mau kurang ajar, tapi kenyataannya memang begitu. Kalau sama orang tua yang modelannya ngeselin kayak om. Saya jadi bingung mau hormatnya seperti gimana."
Ryan menaikkan tangannya hendak memukul Valerie. Namun, gadis itu lebih dulu menahannya. Sedari tadi Valerie meletakkan tangannya di belakang badan, seolah-olah diikat.
"Bukannya saya takut kena pukul,Om. Tapi kalau om sampai melukai saya sedikit apapun itu, bakal runyam urusannya. Bakal banyak yang murka, apalagi ayah sama calon suami saya. Bisa khilaf nanti mereka. Elo semua juga, kenapa dari tadi cuma senyam-senyum. Dapat tontonan live gratis, kan ...," ucap Valerie pada Valero dan teman-temannya, termasuk Elang.
__ADS_1
Elang dan kawanannya telah menghabisi semua anak buah Ryan. Kemudian, mereka menyamar sebagai anak buah Ryan dan berdiri di belakang Valero.
Ryan melihat ke belakang, pria itu terkejut mengetahui bahwa anak buahnya sudah tidak berada di sana. Berganti dengan pria-pria muda yang tidak ia kenal.
"Ero! Kamu berani menghianati saya!" bentak Ryan sambil mencengkram kerah baju Valero. "Kamu tahu konsekuensinya jika kamu berani melawan saya? Mamah kamu akan saya habisi."
"Jangan dihabisi, Om. Comot dikit-dikit aja biar gak cepat habis," ujar Gema yang langsung mendapat toyoran dari sang abang dan teman-temannya.
"Kenapa yang begini bisa jadi ketua Arakata, sih? Pasti kepilihnya dari hasil hompimpah," cibir Gaung pada sang adik. Membuat Gema berdecak sambil cemberut.
"Elo gak perlu khawatir sama Atika," ucap Laksmono sambil masuk ke dalam gudang, diikuti inti Arakata angkatan satu lainnya. "Adik kesayangan sahabat kami itu, sudah aman di tangan orang yang tepat."
"Long time no see, Ryan," ucap Garindra, "sebegitu kangennya elo sama kita, sampai nyari-nyari masalah begini."
"Dulu gue nahan diri buat gak bunuh elo," ucap Afghi sambil tersenyum miring. "Berharap sikap elo bisa berubah selama di jeruji besi. Ternyata elo semakin menjadi."
"Gue idem aja sama yang diomongin sahabat-sahabat gue," ucap Alif santai.
"Pak, tangkep tuh orang sama anak buahnya, ya ...," ucap Garindra pada polisi yang berada di belakangnya. "Tenang, kali ini elo gak bakal sebentar berada di sel. Karena kebejatan-kebejatan elo itu, elo dapat hadiah menginap seumur hidup di jeruji besi."
"Ah ... gak asyik ah, Om. Kalau cuma dimasukin penjara seumur hidup," protes Bagus tidak terima. "Lagian sisa umurnya juga tinggal dikit. Mending kita siksa aja, biar setimpal sama perbuatannya."
Plakkk!
"Negara kita negara hukum, jangan suka main hakim sendiri," ujar Afghi sambil memukul lengan Bagus.
Polisi menggiring Ryan dan anak buahnya yang sudah babak belur.
"Semua sudah berlalu," ucap Valerie pada Valero, "elo dan keluarga lo bisa memulai hidup baru. Hidup tanpa bayang-bayang akan ancaman Ryan Rahwana."
Valero memandang lama wajah manis Valerie. Dia beruntung bisa bertemu dengan gadis kuat yang baik hati, seperti gadis di hadapannya ini.
"Gue jadi pengen culik elo beneran, Er ...," ucap Valero sambil terkekeh. "Terus gue simpan di rumah, biar gak ada yang bisa ambil elo dari gue."
"Enak aja, Lo!" teriak Elang tidak terima. "Gue bikin babak belur lo, kalau sampai berani nyentuh calon istri gue! Awhhhhh ...."
Elang mengusap telinganya yang mendapat jeweran maut dari Garindra.
"Enak aja kamu mau bikin keponakan Teguh babak belur," ucap Garindra.
"Emang ayah mau kalau calon mantu ayah diculik sama dia!"
"Gak masalah, asal nanti dikembaliin," jawab Garindra mantap.
"Udah mulai gak bener ini bokap gue," dumel Elang sambil mengusap dadanya.
Teman-temannya hanya bisa terbahak melihat nasib Elang. Benar-benar sahabat yang baik. Hahaha ....
__ADS_1