Arakata

Arakata
Tahun-tahun Berganti


__ADS_3

Apapun telah kumiliki di sini, karir, teman-teman, bahkan kekasih yang sangat menyayangiku. Namun, tetap ada yang kosong di ruang hatiku, aku merindukan mereka dan juga dia, yang sampai sekarang masih bertempat agung di hatiku.


***


Sepuluh tahun telah berlalu setelah kepergian Valerie Livia Laksmono ke Korea. Gadis tomboy itu telah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik nan anggun.


Hidupnya sempurna, ia menjadi wartawan berita kriminal di sebuah perusahaan surat kabar besar di Korea. Opa dan omanya pun sangat menyayanginya, bahkan ia memiliki seorang tunangan yang sangat mencintainya. Tunangannya adalah seorang polisi, seperti impiannya semasa kecil dahulu.


Beberapa bulan lagi ia akan menikah, seharusnya ia merasa bahagia. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia merindukan kehidupannya yang dulu, kehidupannya di Indonesia. Ia merindukan keluarganya, ia merindukan sahabat-sahabat gesreknya, ia merindukan melodia, ia merindukan semuanya, semua yang telah ia jauhi selama sepuluh tahun ini.


Iya, Valerie tidak pernah memberi kabar pada siapapun, kecuali keluarganya. Ia pun meminta ayah dan abang-abangnya untuk merahasiakan keberadaannya. Sakit hatinya tertoreh terlalu dalam, ia butuh waktu yang lama untuk mengobatinya.


Namun, waktu sepuluh tahun adalah waktu yang terlalu lama. Sekarang, ia merindukan semua yang ada di masa lalunya. Ia ingin kembali, kembali bersama Arakata.


"Oma, Eri mau kembali ke Indonesia," ucap Valerie saat ia sedang duduk santai dengan neneknya di teras rumahnya.


"Iya, Nak," jawab sang nenek sambil tersenyum. "Oma tahu, raga kamu memang ada di sini, tapi hati kamu masih ada di sana." Beliau mengusap lembut rambut Valerie.


"Makasih, Oma. Oma memang paling paham sama Eri." Valerie meraih sang nenek dalam pelukannya. "Oma ikut Eri pulang, yuk." ia mendongakkan wajah memandang neneknya.


"Oma mau tetap ada di sini, Nak. Di sini banyak kenangan bersama Almarhum opa kamu, jadi oma tidak bisa pergi dari sini."" Opa Valerie meninggal tiga tahun yang lalu.


"Oma akan sendirian di sini," ucap Valerie, memeluk neneknya lebih erat.


"Nanti bakal ada suster yang ngejaga oma. Kamu gak usah khawatir."


"Tapi Eri mau ngerawat oma, Eri mau berbakti sama oma."


"Sudah cukup kamu menemani opa dan oma selama sepuluh tahun ini, Nak. Terimakasih atas kasih sayangmu selama ini. Kamu mirip bundamu, oma merasa putri oma ibu hidup kembali dalam ragamu."


"Oma jaga diri, jaga kesehatan ... jangan lupa makan, Eri gak mau oma sakit," ucap Valerie, ia terisak dalam pelukan sang nenek.


"Tunangan kamu gimana?" tanya sang nenek saat Valerie mengurai pelukannya, beliau mengusap air mata yang membasahi pipi cucu tersayangnya itu. "Apa bisa dia jauh-jauh dari kamu? Sehari gak ada kabar dari kamu aja,dia kelimpungan, apalagi ini mau kamu tinggal jauh di negara lain."


Valerie terkekeh mendengar pertanyaan sang nenek. Tunangannya itu memang posesif, tidak bisa berada jauh-jauh darinya.

__ADS_1


"Dia ikut, Ma.' Valerie mengedipkan sebelah matanya.


***


Hari ini, Arakata mengadakan acara amal di SMA Garindra. Hiruk pikuk kesibukan orang-orang terlihat di sana-sini. Begitu pula dengan empat pria inti Arakata angkatan tujuh, pria ... sekarang mereka adalah pria dewasa, bukan lagi pemuda SMA.


Mereka sekarang adalah pria-pria sukses dan mapan. Kita mulai dari Gaung Armando, pria kutub bermuka datar itu telah menjadi dokter spesialis penyakit jantung, seperti apa yang dicita-citakannya dulu.


Yang kedua adalah Gandi Cokro Wibowo, pria itu telah menjadi fotografer profesional. Bahkan, namanya ada di jajaran fotografer-fotografer terbaik di Indonesia.


Berikutnya adalah Bagus Setya Aji, pria selengekan itu menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Dia menjadi CEO bukan karena kolusi, tapi pria itu memang memiliki kemampuan memimpin yang baik.


Yang terakhir adalah Elang Rayan Garindra, pentolan Arakata angkatan tujuh itu berprofesi sebagai pilot.


Walau mereka telah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka selalu menyempatkan waktu jika Arakata mengadakan acara. Seperti saat ini, mereka sudah ada di pelataran SMA Garindra.


Arakata seakan tidak bernyawa setelah kepergian Valerie Livia Laksmono. Setelah sepuluh tahun berlalu pun, posisi Valerie sebagai panglima perang tidak digantikan dengan siapapun.


Arakata telah berganti kepemimpinan. Posisi Elang sebagai ketua digantikan oleh Gema Armando. Adik kandung dari Gaung Armando. Elang sendiri yang memilih Gema untuk menggantikan posisinya. Pemuda itu sudah sembuh dari penyakitnya. Dia mendapat donor jantung saat usianya tujuh tahun.


"Ga, ngapain adek lo, tuh?" Gandi menunjuk ke arah Gema bersama tiga inti Arakata lainnya, yaitu Hasannudin Fatih yang menjabat sebagai wakil ketua, Abdullah Rahman yang menjabat sebagai bendahara Arakata, dan Rama Restu Adi yang menjabat sebagai HUMAS Arakata.


Empat pemuda itu sedang duduk bersila di rumput halaman belakang, mereka hanya diam sambil menunduk. Entah, apa yang sedang mereka lakukan.


"Kita samperin aja yuk, jangan-jangan mereka lagi ngelakuin hal yang enggak-enggak," ajak Elang. yang lain mengikutinya.


Keempat pria dewasa itu sudah ada di samping empat pemuda inti Arakata angkatan tujuh. Elang dan yang lain mengerutkan kening, karena Gema dan yang lain hanya diam melihat ke arah bawah tanpa melakukan apapun. Di dekat mereka pun tidak ada benda-benda mencurigakan seperti rokok atau obat-obatan terlarang.


"Elo berempat ngapain?" tanya Gaung to the point.


Keempat pemuda itu menengok ke arah sumber suara secara bersamaan.


"Lagi ngejalanin tugas dari guru, Bang," jawab Abdul, pemuda yang berpawakan tegap dengan wajah Arab yang kental.


"Hah? Tugas apaan begitu, semedi?" tanya Bagus dengan wajah cengo-nya.

__ADS_1


"Kemarin kan Bu Melati nerangin tentang sejarah dunia, gue tanya ... kan Superman pakai ****** ***** di luar, itu di dalamnya dia pakai lagi apa gak? Kalau pakai lagi kan berarti pakai dua, apa gak engap anunya," sahut Gema dengan polosnya. "Terus Bu Melati jawab, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Lha ini masih ditanyakan sama rumputnya." Gema kembali mengarahkan pandangan pada rumput di hadapannya.


Jawaban unik itu sukses membuat Elang dan ketiga sahabatnya yang lain melongo.


"Astaghfirullah, Gema ... elo beneran adeknya Gaung gak sih?" tanya Gandi sambil mengusap dadanya, beristighfar.


"Terus kenapa kalian bertiga ikut-ikutan Gema?" Sekarang giliran Elang yang bertanya.


"Gue mau lihat rumput goyang, Bang," sahut Hasannudin, wakil ketua Arakata yang memiliki wajah khas orang Jawa. "Kalau nonton biduan goyang, gue takut dosa, Bang. Jadi lihat rumput goyang aja, walaupun dari tadi cuma goyang kanan-kiri, gak goyang ngebor atau goyang gergaji, gak papa lah ... yang penting judulnya goyang."


"Terus elo ngapain ikutan? Bukannya di antara mereka, elo yang paling bener otaknya?" tanya Gaung pada Rama, pemuda berkulit putih dan berwajah oriental.


Rama menjawab pertanyaan Gaung dengan mengangkat pergelangan tangannya yang diikat dengan pergelangan tangan Gema.


"Kalau gak diiket, dia udah lari dari tadi, Bang," sahut Gema sambil nyengir kuda.


"Astaghfirullah," ucap Elang, Gaung, Bagus, dan Gandi bersamaan.


"Gimana nasib Arakata, kalau pemimpinnya kayak gini," ratap Elang sambil mengacak rambutnya, frustasi dengan kelakuan juniornya itu.


"Salah elu juga," sahut Gaung, "udah tahu otaknya Gema kayak gimana, masih aja dijadiin ketua Arakata."


"Gara-gara Bagus tuh," sela Gandi, "Gema kebanyakan bergaul sama Bagus, jadi terkontaminasi kan otak cerdasnya!"


"Napa jadi gue yang elo salahin, Panjul," protes Bagus tak terima.


Gema dan teman-temannya malah melongo melihat keempat seniornya yang saling menyalahkan.


Sampai perhatian mereka teralih, saat sebuah mobil berwarna merah milik Laksmono parkir di sebelah mobil Elang. Jantung mereka seakan berhenti, ketika melihat seorang perempuan turun dari mobil tersebut.


Perempuan yang selama sepuluh tahun ini tidak mereka ketahui keberadaannya. Perempuan yang sangat mereka rindukan. Perempuan itu tersenyum manis, netranya berkaca-kaca.


"Hay, aku rindu kalian," ucap perempuan itu sambil mengusap tetesan bening di pipi mulusnya.


"Eri ...."

__ADS_1


__ADS_2