Arakata

Arakata
Antara Melukai Atau Melindungi


__ADS_3

Aku yang bertekad ingin menyakitimu ... malah tersakiti karena melihat kau terluka. Sesak dadaku, melihat kau tetap tertawa disaat wajahmu pucat menahan luka.


***


Pagi ini, Valerie berbaring di ranjangnya dengan telapak tangan yang diperban. Seandainya kakinya tidak cidera, tentunya ia sudah berkeliaran, tidak peduli dengan tangannya yang sudah seperti mumi. Hehehe ....


Semalam, saat pulang dari toko kue ... ada sekelompok orang yang menghadang mobil Galih yang dikendarainya. Begitu mobil yang dikendarai Valerie berhenti, sekelompok orang itu mengeroyoknya. Bahkan, mereka memukul kaca mobil Galih dengan tongkat besi hingga pecah. Awalnya Valerie sanggup melawan, hingga salah satu dari orang itu menendang Valerie dari belakang hingga ia jatuh tertelungkup. Setelah terjatuh, mereka menghajar gadis itu habis-habisan.


Beruntung, Robert dan Ardi lewat di sana, kedua pria itu baru pulang dari sasana tinju. Mereka berdua membantu Valerie, mereka membawa gadis itu ke rumah sakit. Harusnya Valerie dirawat, tapi namanya juga Valerie, gadis itu menolaknya dan lebih memilih dirawat di rumah.


Valerie berusaha meraih gelas di nakas dengan tangan kirinya yang tidak diperban. Namun, tangan gadis itu tidak bisa menjangkaunya, ia berusaha sekuat tenaga menggeser badannya. Tapi naas, ia malah terjatuh bersama gelas yang hendak diraihnya.


Lana yang kebetulan berada di dekat kamar Valerie, langsung membuka kamar tantenya karena mendengar suara berisik.


"Tante!" teriak Lana, "bentar tante, Lana panggilin opa sama om dulu." Tanpa banyak bicara lagi, putri pertama Bayu itu langsung berlari ke lantai bawah, memanggil opa dan om-om-nya.


"Lana kenapa?" tanya Laksmono begitu melihat cucunya berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Tante Eri ... Tante Eri jatuh, Opa," ucap Lana terbata-bata.


Setelah mendengar penuturan Lana, Laksmono dan putra-putranya langsung berlari menuju kamar Valerie. Mata mereka membelalak melihat Valeri jatuh tertelungkup dengan tangan kiri yang berdarah karena terkena pecahan gelas.


"Eri ... kamu ngapain, Nak?" tanya Laksmono, pria paruh baya itu memapah sang putri kembali ke ranjangnya. Ceril dan Maheswari membersihkan pecahan beling yang ada di lantai.


"Rencana awalnya mau ambil air minum di meja, Yah. Eh ... malah terjun bebas," sahut Valerie sambil cengengesan.


"Bunda obati dulu ya, Nak," ucap Diandra sambil membawa kotak P3K.


"Iya, Bunda," jawab Valerie sambil menganggukkan kepala.


"Kenapa gak minta tolong ke kami sih, Dek?" tanya Pratama.

__ADS_1


"Eri gak mau nyusahin, Bang," sahut Valerie masih dengan cengengesan.


"Dalam keluarga, gak ada yang namanya ngrepotin atau nyusahin, Dek," ucap Reyhan, "saling membantu dan saling melindungi, itu sudah menjadi hal pokok yang mendasari sebuah keluarga. Bukankah hal itu yang dulu kamu katakan pada kami?" Reyhan mengedipkan sebelah matanya, membuat Valerie terkekeh.


"Anggap aja elo sebagai putri dan kami ini pelayan setia lo," ucap Gerry, "enak kan tuh punya pelayan setia segini banyaknya. Jadi, nikmatin aja, jarang-jarang kan dapat pelayan seganteng abang?" Gerry mengusap-usap dagunya, menyombongkan diri, membuatnya mendapat toyoran maut dari Andien, sang istri.


"Iya, Dek. Jadi kalau butuh apa-apa, panggil abang kamu yang satu ini aja. Dia bisa ngelakuin segalanya kok, jadi tenang aja. Kalau kamu mau pun, sekarang Bang Gerry bisa kok ngambilin mangganya Pak Rusdi," ucap Andien penuh keyakinan, membuat sang suami meringis ngeri.


"Gak gitu juga kali, Yang," jawab Gerry membela diri. "Pak Rusdi kan galaknya minta ampun, bisa disunat nanti suami kamu ini."


"Sunat ya tinggal sunat aja," sahut Andien cuek.


"Kalau abang disunat lagi, kamu gimana?" tanya Gerry dengan wajah memelas.


"Cari yang lain lagi, dong. Gampang, kan ...."


"Jahat kamu, Yang. Tega bener sama suamimu yang manis nan menawan ini," ratap Gerry lebay.


"Entah, Bang," sahut Andien, kakak ipar Valerie itu mengangkat kedua bahunya menandakan ia tidak tahu. "Mana mungkin Andien kenal sama yang beginian."


"Ayah, Gerry dibilang beginian sama Bebeb Andien," adu Gerry pada Laksmono. Bukannya membantu sang putra, pendiri Arakata itu malah menambahi. "Memang kamu siapa? Kita saling kenal?"


Pertanyaan Laksmono membuat Gerry melongo, ia langsung menghampiri Valerie, dan meraih tubuh adiknya itu dalam pelukannya.


"Adek, semuanya jahat sama abang. Gak ada yang nganggep abang," adu Gerry manja.


"Cup, cup, cup ... abang Eri ganteng gini kok gak dianggap, sih, " bela Valerie sambil mengusap-usap punggung abangnya itu.


"Emang elo yang paling sayang sama gue, Dek," ucap Gerry lagi, bermanja-manja pada Valerie.


"Tapi tunggu deh, Bang." Valerie mengurai pelukannya, ditatapnya wajah Gerry dengan lekat, membuat pria itu menjadi bingung. "Abang ini yang jualan gorengan di depan toko kue saya, kan? Kok abang bisa ada di rumah ayah saya?"

__ADS_1


Lagi-lagi Gerry melongo dengan wajah bodohnya, hal itu membuat semua yang ada di sana tidak bisa lagi menahan tawa mereka.


"Gue bukan yang jualan gorengan," sahut Gerry dengan tidak santai. "Gue yang jualan pembalut rencengan di lampu merah! Puas kan kalian!"


"Puas banget," sahut semua yang ada di sana serempak, membuat Gerry tambah geram.


***


Bugh!


"Udah gue bilang sampai sampai dia terluka sedikitpun!" bentak seorang pria bertatto pada anak buahnya.


"Awalnya kami hanya ingin mengancamnya seperti yang Bos minta," sahut sang anak buah yang sudah babak belur karena dihajar oleh pria bertatto itu. "Tapi gadis itu melawan, Bos. Dia kuat, kalau kami tidak balik melawan ... kami yang akan babak belur."


"Brengsek! Menghadapi seorang gadis aja kenapa kalian sampai pakai kekerasan, sih!"


"Dia bukan gadis biasa, Bos," jawab salah satu anak buah pria bertatto itu. "Dia panglima perang Arakata, Bos. Panglima perang Arakata yang terkuat."


"Arakata?"


"Iya, Bos. Geng besar yang ada di kota ini."


"Eri panglima perang sebuah geng?" lirih Cakrawala dengan nada tidak percaya. Yaps, benar ... pria bertatto itu tidak lain adalah Cakrawala.


"Bos pikir sendiri, kalau dia gadis biasa ... dikeroyok oleh kami yang notabenenya berjumlah belasan orang, pasti sekarang dia sudah mati, bukan hanya luka ringan seperti itu."


Cakrawala terdiam, awalnya ia hanya ingin berniat menakuti Valerie. Ia menyuruh anak buahnya untuk pura-pura mengancam Valerie, agar gadis itu mengadu pada Elang. Tapi ia tidak menyangka jika gadis yang baru dikenalnya itu malah berani melawan, hingga membuat anak buahnya itu menjadi babak belur.


"Terus siapa dua orang yang menolongnya?" tanya Cakrawala lagi.


"Salah satu anggota geng Rajawali, sekutu dari Arakata. Kita bakalan susah nyentuh gadis itu lagi, Bos. Dia banyak yang melindungi."

__ADS_1


Entah mengapa Cakrawala malah tersenyum mendengar hal itu. Ia merasa lega mendengar jika banyak orang yang melindungi Valerie. Ia juga ingin melakukan hal itu, tapi ia sedang berada di posisi yang sebaliknya. Berada di posisi yang mengharuskannya untuk menyakiti gadis itu, gadis yang baru dikenalnya tapi sudah membuatnya jatuh hati ... Valerie Livia Laksmono.


__ADS_2