
Rajawali pov
"Jangan bawa dia pergi!" teriakku dengan napas yang tidak teratur. Aku memperhatikan sekeliling, aku masih berada di kamar tamu rumah Livia.
"Lagi-lagi mimpi yang sama," aku mengusap keringat yang ada di dahiku.
Entah mengapa, akhir-akhir ini aku selalu bermimpi yang sama. Mimpi yang sangat menakutkan untukku. Di mimpi ku itu ada segerombolan orang berbaju hitam. Orang-orang itu ingin memisahkan aku dan Livia. Ya Allah, semoga
mimpiku hanyalah bunga tidur yang tidak akan menjadi nyata.
Aku tidak ingin kehilangan Livia. Dia gadis yang sangat aku cintai. Berkat gadis itu, aku bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Berkat gadis itu pula sikapku berubah menjadi lebih hangat dan bisa lebih memperhatikan sekitar.
Dia bagai malaikat bagi ku. Sejak kecil, aku sudah hidup tanpa orangtua dan keluarga. Aku dibesarkan oleh seorang nenek yang berasal dari Indonesia. Jadi, sedari kecil aku sudah bisa dan paham berbahasa Indonesia.
Nenek Sukma adalah seorang janda yang tidak memiliki anak. Nenek membesarkanku dengan baik dan penuh kasih sayang. Aku menutup diri ku dari dunia luar. Aku selalu menolak jika ada yang ingin berteman dengan ku.
Namun, empat tahun yang lalu, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat manis. Semenjak saat itu, kami menjadi sering bertemu.
Dia adalah gadis yang unik, berbeda dengan semua perempuan yang mencoba mendekati ku. Dia gadis pemberani yang jago beladiri. Bahkan, kami sering berlatih bersama.
Walau di luar terlihat tangguh, dia mempunyai hati yang lembut. Aku sering melihatnya membagikan makanan yang dia buat sendiri, untuk anak-anak dan gelandangan di pinggir jalan. Wajahnya terlihat bahagia ketika bisa
membantu sesamanya.
Namun, di lain waktu, dia bisa menjadi sangat galak jika ada yang bertindak semena-mena. Menurutku dia lebih cocok menjadi seorang polisi dari pada wartawan.
Suatu saat kami dekat dan menjadi seorang teman. Aku mengajaknya bertemu dengan nenek. Dengan mudahnya dia bisa mengambil hati Nenek Sukma. Padahal nenek ku itu terkenal sebagai orang yang judes dan ber'omongan pedas.
Namun, dengan Livia, nenekku bisa langsung akrab. Mereka sering berkebun dan memasak bersama. Dan masakan Livia terasa seperti masakan seorang koki profesional, sangat enak.
Semakin lama kami bersama, aku merasa ada yang lain dengan perasaanku. Aku merasa sangat bahagia jika berada di dekatnya. Tidak bertemu beberapa hari saja, aku sudah merasakan rindu. Jika melihat ada pria lain yang mencoba mendekatinya, darah ku seakan medidih. Ada perasaan tidak rela jika dia tersenyum untuk pria lain.
Suatu saat aku mengajaknya ke taman bermain. Aku mengajaknya naik biang lala, namun ia menolak. Aku memaksanya, begitu kami menaiki wahana itu, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir, dia terus bergumam 'bunda, tolong bunda ku. Jangan tinggalin Eri bunda.'
Begitu sampai di bawah, Livia kehilangan kesadarannya. Aku membawanya ke rumah sakit. Kata dokter, fisik Livia tidak bermasalah. Namun gadis itu mengalami shock, entah ada kejadian apa di masa lalunya.
Begitu dia sadar, dia bercerita tentang kecelakaan yang dialaminya bersama sang bunda ketika ia masih kecil. Dan karena kecelakaan itu, ia harus kehilangan sang bunda untuk selama-lamanya. Semenjak saat itu, ia menjadi fobia dengan ketinggian.
Aku menyesal karena telah memaksa Livia untuk naik biang lala, sehingga membuatnya mengingat kejadian yang menyebabkan ia trauma. Sejak kejadian itu, kami sering bertukar cerita. Dia menceritakan tentang Arakata dan
sahabat-sahabatnya. Juga alasan kenapa ia bisa pindah ke Korea.
Saat Nenek Sukma meninggal, Livia selalu ada bersamaku. Dia meyakinkanku, bahwa aku tidak sendiri. Karena hal itu, aku memantapkan hati untuk menyatakan perasaanku padanya.
Saat aku menyatakan perasaanku, Livia bilang jika sampai saat ini ia masih menyimpan perasaan pada salah satu sahabatnya. Namun, aku tidak menyerah. Berulangkali aku menyatakan perasaanku. Sampai akhirnya Livia menerimaku dan berjanji untuk belajar mencintaiku.
Sekarang, Livia bertemu lagi dengan sosok yang dicintainya. Dan pria itu pun juga mencintai Livia. Aku merasa seperti seorang penghambat, penghambat hubungan mereka.
Aku tahu, Livia masih memiliki perasaan pada Elang. Aku ingin melihat wanita yang ku cinta bahagia. Namun, kali ini bolehkah aku egois? Aku ingin ikut serta dalam kebahagiaan Livia. Aku ingin menjadi pria yang menemaninya sampai ujung usia.
__ADS_1
Aku terlanjur jatuh, jatuh sedalam-dalamnya dalam cinta Livia. Asal kalian tahu, aku sampai melompat kegirangan begitu tahu Livia menerima lamaran ku. Aku melamarnya di depan anak buah ku, setelah kami menangkap perampok kelas kakap.
Sebulan lagi aku akan menikah dengannya dan akan memiliki Livia seutuhnya. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu. Aku berjanji akan membuat Livia bahagia dan menjaganya sepenuh hatiku.
"Raja ...."
Aku mendengar suara Livia, membuyarkan lamunanku.
"Kamu gak papa?" Livia terlihat khawatir melihat wajahku yang agak pucat akibat dari mimpi buruk ku.
Aku menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja, Sayang," jawab ku berbohong. Aku tidak mau Livia menjadi khawatir karena mimpi-mimpiku.
"Wudhu dulu, kita shalat subuh berjamaah di bawah."
"Iya," aku menganggukkan kepala. Livia tersenyum, terlihat sangat manis dan imut. Membuat ku ingin secepatnya menghalalkannya.
***
Author pov
"Sayang, besok aku pulang ke Korea dulu, ada tugas."
"Bukannya kamu sudah cuti, ya?" tanya Valerie. Rajawali sedang memegangi tangga yang di naiki Valerie. Gadis itu sedang mengganti lampu taman yang mati.
Rajawali sudah menawarkan diri untuk menggantikan Valerie mengganti lampu. Namun, Valerie tetaplah Valerie, seorang gadis keras kepala.
"Ini tugas terakhir ku sebelum cuti. Aku gak akan lama, seminggu lagi aku kembali."
Pertanyaan Valerie sukses membuat pipi Rajawali memerah. Jangan ditanya betapa berbunga hatinya sekarang. Empat tahun mereka kenal dan setahun ini mereka menjalin hubungan, baru kali ini Valerie mengucapkan kata rindu.
Rajawali memegang dadanya yang kebat-kebit tidak karuan. Hal itu membuat tangga yang di naiki Valerie menjadi tidak stabil dan terjatuh. Dengan sigap, Rajawali menangkap tubuh Valerie. Namun, kakinya tersandung mengakibatkan ia ikut terjatuh.
Valerie terjatuh di atas tubuh Rajawali, pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Rajawali menarik tengkuk Valerie agar lebih mendekat, pria itu mengecup kening Valerie. Membuat pipi gadis itu bersemu merah.
"Untuk sekarang cukup cium kening, untuk lebih lanjutnya menunggu sampai sah," ujar Rajawali yang mengakibatkan ia mendapat tabokan maut dari Valerie.
Dari seberang ada yang menyaksikan kejadian itu. Pria itu mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ada emosi yang tertahan di tatapan tajamnya.
"Panas lo, Bang?" celetuk Gema. Entah ada urusan apa bocah tengil itu berada di rumah Elang. "Perlu gue guyur air seember, gak? Biar agak adem ati lo, Bang. Bisa bahaya kalau sampai kebakar."
"Diem atau mulut lo yang bakalan gue bakar!" ucap Elang tajam. Membuat Gema bergidik ngeri.
"Ketua Arakata angkatan tujuh emang serem," lirih Gema sambil mengusap-usap lengannya yang merinding disko.
***
Setelah mengantar Rajawali ke bandara, Valerie duduk termenung di teras rumahnya.
"Baik-baik lo, kebanyakan ngelamun entar mati kayak ayam semoknya Robert," celetuk Elang yang baru masuk dari gerbang rumah Valerie.
__ADS_1
"Mulut lo, Lang. Demen bener kalau gue lewat."
"Demen banget gue, kalau lo lewatnya di hati gue," goda Elang, membuat Valerie mendengus kesal.
"Lo sekarang jadi tukang gombal."
"Cuma elo yang gue gombalin." Elang mengerlingkan sebelah matanya.
"Dan elo gombalin calon istri orang," perkataan Valerie langsung membuat Elang terdiam, sesaat kemudian ia tersenyum.
"Kita gak pernah bisa mengontrol dengan siapa kita jatuh cinta, Er. Gue yakin elo juga tahu itu." Elang mengusap lembut kepala Valerie. Elang mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Valerie.
"Perasaan dari kemarin gue gak lihat elo berangkat kerja?"
"Gue ambil jatah cuti, baru besok gue mulai terbang lagi. Elo mau ikut?"
Valerie menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Elang tertawa.
"Sampai kapan pun elo gak bakal keluar dari rasa takut lo, kalau elo sendiri enggak mau keluar."
"Tapi, tetap aja ...."
"Gue gak maksa kok, Er." Elang tersenyum. "Gue bakal nunggu sampai elo sendiri yang minta gue buat ngajakin elo terbang. Gue gak mau maksa, terus bikin elo ketakutan dan shock. Karena itu bakalan bikin gue lebih ketakutan."
Elang tersenyum geli melihat wajah Valerie yang melongo. Memang akhir-akhir ini dia lebih terlihat romantis dan melankolis. Namun, hal itu hanya ia tujukan untuk Valerie, sahabat tercintanya.
Walau selama ini ia terlihat dekat dengan berbagai wanita, itu hanya sebatas teman dan rekan kerja. Tidak ada yang spesial, hanya Valerie yang ia anggap spesial.
"Mending sekarang elo ganti baju." Elang menarik tangan Valerie dan mendorongnya masuk ke dalam rumah. "Elo ikut gue, Gema semalam dateng ke rumah gue. Dia bilang Gester ngadain acara, kita diundang. Gaung sama yang lain juga datang."
Valerie menurut dan masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Tidak lupa ia meminta ijin pada Rajawali. Chat-nya belum terkirim, karena Rajawali masih di dalam pesawat.
Begitu selesai bersiap, mereka langsung berangkat menuju markas Gester.
"Elo masuk dulu, gue ada telepon," ucap Elang sambil memegang ponselnya. Lagi-lagi Valerie menurut. Gadis itu masuk ke dalam rumah yang telah lama menjadi markas Gester. Dia tersenyum mengingat kejadian-kejadian sepuluh tahun yang lalu di sini. Awal persahabatannya dengan Robert.
Semakin masuk ke dalam rumah, Valerie merasa semakin aneh.
"Katanya ada acara, kok sepi," gumam Valerie.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang membekap mulutnya, dengan sigap Valerie menarik tangansang pelaku dan membantingnya ke lantai.
Namun, dari arah sebaliknya ada orang yang menahan tubuhnya dengan kuat, Valerie memberontak. Tapi sia-sia, tenaga Valerie kalah telak.
"Elang!" teriak Valerie. Tapi, dengan sigap orang itu membekap mulut Valerie. Tenaganya sangat kuat, berbeda dengan orang yang membekapnya pertama kali.
"Sia-sia elo ngelawan!" bisik orang itu di telinga Valerie.
Deg!
__ADS_1
Valerie membeku seketika, ia hafal suara itu. Suara orang yang dulu pernah ia buat babak belur. Orang yang pernah ....