
Cara menyakiti terkejam adalah dengan menggunakan orang terdekat sebagai senjata.
***
"Ergh," erang seorang wanita, ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang ada di tempat itu. Wanita itu memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia mencoba bangun dari ranjang tempat ia berbaring. Dengan perlahan, ia melangkahkan kaki di tempat yang sangat asing untuknya itu.
Ia melangkah menuju pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Ia menarik napas, merasakan hembusan angin yang segar. Wanita itu menyunggingkan senyumnya, melihat pemandangan sebuah taman bunga yang memanjakan matanya.
Ada seekor kupu-kupu yang terbang ke arahnya, ia menengadahkan tangannya, dan kupu-kupu itu hinggap di ujung jarinya.
"Apa kau juga tersesat sama sepertiku?" tanya sang wanita.
Tanpa wanita itu sadari, ada seorang pria muda yang memperhatikannya dari balik pintu. Pria itu bersedekap, sambil memperhatikan gerak-gerik wanita yang baru sehari ini ada di kamarnya.
Pria itu mulai melangkah memasuki kamar, ia menutup pintu dengan perlahan dan menguncinya. Ia berjalan mendekat ke arah wanita yang sedang berinteraksi dengan seekor kupu-kupu yang berwarna jingga terang, warna yang sama dengan gaun tidur tipis yang sedang ia kenakan.
"Apa kamu gak kedinginan?" tanya sang pria, ia mencopot jaket yang dikenakannya, dan ia pakaikan pada wanita yang ada di hadapannya itu.
Wanita itu kaget dengan kedatangan sang pria, ia membalikkan badannya, menatap wajah tampan di hadapannya. Ia mengerutkan dahinya, seakan merasa bingung.
"Elo siapa?" tanya sang wanita.
"Apa kamu melupakanku, Sayang?" Pria itu balik bertanya sambil terkekeh. Ia mengusap lembut pipi sang wanita.
Wanita itu tersenyum miring sambil menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya.
"Gue gak amnesia!" ucap sang wanita sambil menghempaskan tangan sang pria yang mengusap pipinya. "Tapi sepertinya gue tahu siapa lo. Gembong narkoba yang udah bunuh abang gue, Riki Rahwana."
__ADS_1
"Wah, gak asik," celetuk pria itu sambil terus melangkah mendekati sang wanita, hingga tubuh langsing wanita itu menabrak pagar pembatas balkon. "Gue berharapnya elo amnesia, biar gue lebih mudah buat bodohin lo Valerie Livia Laksmono." Riki mencengkeram dagu Valerie hingga memerah.
"Jauhin tangan kotor lo dari gue!" bentak Valerie, sambil kembali menyingkirkan tangan Riki dari wajahnya. "Elo yang udah ngebunuh Bang Bayu!"
Valerie mendorong tubuh Riki, dengan sekuat tenaga ia menendang kaki Riki, hingga pria itu jatuh tersungkur. ia menduduki badan Riki, hendak memberikan pukulan pada wajah pria itu. Bukannya takut, pria itu malah terkekeh, seperti ada sebuah kepuasan tersendiri saat melihat Valerie dalam keadaan emosi.
"Bukan gue yang ngebunuh, yang bunuh abang lo udah dipenjara, kan?"
"Tapi elo dalang dari pembunuhan itu! Elo otaknya, dasar brengsek!" Valerie memukul wajah Riki hingga membuat ujung bibir pria tampan itu berdarah, dan lagi-lagi Riki hanya terkekeh.
"Abang lo tidak mati di tangan gue, tapi tunangan polisi lo itu yang meregang nyawa akibat peluru yang melesat dari senjata gue," ucap Ryan dengan entengnya, Valerie membolakan matanya. Badannya bergetar, ingat dengan orang yang sempat mengisi hari-harinya saat di Negara Korea itu.
"Maksut lo?"
"Rajawali, kapten polisi yang berniat grebek markas gue di Korea. Kapten polisi yang tangguh dan mempunyai otak yang cerdas. Tapi sayang, sahabatnya berkhianat, hingga dia harus meninggalkan dunia ini dengan bantuan peluru-peluru gue."
"Gue denger kalau sahabat kapten polisi itu berkhianat karena mau dapetin calon istrinya, yang gak lain adalah elo. Gue gak heran kalau elo jadi rebutan dua sahabat itu, karena gue akui ... elo emang cantik, dan elo beda." Riki kembali mengusap pipi Valerie dengan sebelah tangannya.
"Lembut," ucap Riki lagi sambil memejamkan matanya, seakan sedang menikmati hal yang sedang ia lakukan itu.
"Jangan sentuh gue!" bentak Valerie, gadis itu menggerakkan badannya, mencoba melawan. Tapi percuma, tenaganya kalah telak. Pergerakannya seakan tidak ada gunanya, karena tenaga Riki jauh lebih kuat darinya.
Pergerakan Valerie tidak sengaja menekan tombol remot yang berada di bawahnya, sehingga mengakibatkan layar televisi di kamar Riki itu menyala. Kebetulan, stasiun televisi sedang menayangkan sebuah berita. Berita itu menayangkan tentang kasus kecelakaan mobil yang menewaskan seorang putri dari pengusaha terkenal di Indonesia, yaitu Lakmono Aji. Valerie membolakan matanya, merasa tidak percaya dengan berita yang sedang ia lihat.
"Meninggal? Gak mungkin, gue ...," lirih Valerie.
"Kenapa, Sayang?" tanya Riki, pria itu menyeringai. Ia melepaskan cengkeramannya pada Valerie.
__ADS_1
"Gu-gue ...."
"Valerie Livia Laksmono memang sudah meninggal akibat kecelakaan mobil. Ia tewas terbakar bersama mobilnya," ucap Riki di dekat telinga Valerie.
"Gak mungkin, gue masih ada di sini. Gu-gue masih hidup, gu-gue bukan hantu, kan?" tanya Valerie dengan wajah yang ketakutan, hal itu membuat Riki terbahak.
"Hahahaha, gue bukan seorang indigo yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Kalau gue masih bisa berkomunikasi sama lo, berarti lo masih hidup," ucap Riki sambil mencubit hidung bangir Valerie.
"Terus kenapa berita itu bilang kalau gue udah meninggal?" tanya Valerie, masih dengan wajah kebingungannya.
"Gue yang buat," jawab Riki, raut wajahnya kembali terlihat serius. "Gue sengaja nukar lo sama orang lain, agar terlihat elo yang tewas dalam kecelakaan itu. Gue naruh kalung yang elo pakai ke orang yang gantiin lo itu."
"Dengan kata lain, elo bikin orang yang gantiin gue itu meninggal?"
Riki mengangguk. "Gue gak ngelakuin itu cuma-cuma, gue bayar dia. Gue ngebiayain operasi ibunya."
"Sadis,"
Ucapan Valerie membuat Riki tersenyum, jenis senyuman yang menakutkan, senyuman khas psikopat.
"Sadis?" tanya Riki, ia memangku wajah dengan tangannya, ia memandang wajah ayu Valerie. "Banyak orang yang bilang gue begitu, gue udah biasa dengan kata-kata itu. Merampok, Nyiksa, Ngebunuh ... itu udah menjadi bagian dari hidup gue. Dari kecil, ayah mengajarkan gue buat tidak menaruh belas kasihan pada siapapun, karena rasa kasihan hanya membuat gue jadi lemah." Riki mengatakan semua hal itu tanpa ada beban dan terlihat tidak ada rasa penyesalan dalam sorot matanya.
"Apa motifasi lo buat bikin kematian palsu tentang gue?" Valerie memandang nyalang wajah Riki, tidak ada ketakutan sama sekali dalam netra indah gadis itu.
Riki kembali tertawa, ia merasa senang. Karena baru kali ini ada orang yang tidak terintimidasi dengannya. Biasanya jika dia berhadapan dengan seseorang, orang itu pasti akan merasa takut dan terintimidasi. Namun, gadis yang ada di hadapannya itu berbeda, gadis itu malah menatapnya dengan nyalang, seakan menantang.
"Gue mau jadiin elo sebagai senjata," jawab Riki sambil tersenyum miring. "Senjata yang akan menghancurkan Arakata."
__ADS_1