
Inilah keluargaku, tempat ternyaman buatku. Aku tak akan meninggalkan mereka lagi.
***
"Sel," panggil Rama pada Asel yang sudah tertidur. Pemuda itu tadi bermain game seraya menunggu teman-temannya kembali. Namun, karena terlalu lama, ia jadi mengantuk dan tertidur.
Asel mengerjapkan matanya, satu wajah yang dilihatnya begitu membuka mata adalah wajah sahabat yang baru setahun ini dikenalnya, tapi sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
"Kampret, gue mimpi ketemu Irene, begitu buka mata malah ngelihat muka elo," celetuk Asel, pemuda itu memposisikan dirinya untuk duduk di ranjang, dibantu oleh Rama. "Kenapa muka lo bonyok gitu? Payah lo."
Rama terkekeh mendengar cibiran dari Asel.
"Bonyok gue masih belum setimpal sama pengkhianatan yang gue lakuin ke elo sama yang lain," lirih Rama.
Saat ini Rama, Gema, Abdul, dan Hasan berada di kamar rawat inap Asel. Valerie dan komplotannya yang lain tidak ikut menjenguk lagi, karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Bisa diusir satpam kalau mereka rame-rame berkunjung ke kamar rawat inap Asel di jam istirahat pasien ini.
"Mau gue tambahin biar jadi setimpal?" tawar Asel sambil mengepalkan tangannya. Hal itu membuat Rama dan teman-temannya yang lain mengerutkan dahi, pertanyaan apakah Asel akan menghajar Rama bersarang di otak mereka.
"Kalau itu bisa ngebuat lo bisa maafin gue, apapun gue terima, Sel," sahut Rama sembari tersenyum.
"Gue gak akan maafin elo," ucap Asel, membuat raut kecewa muncul di wajah tampan Rama. Sejurus kemudian, Asel mengarahkan tinjunya pada Rama. Begitu kepalan tangannya sampai di hadapan wajah Rama, bukan pukulan yang ia berikan, tapi sebuah pelukan. Asel meraih tubuh tegap Rama dalam pelukannya. "Gue gak akan maafin elo, karena gue gak pernah ngerasa marah sama elo. Gue udah nganggap elo seperti saudara sendiri, seperti Gema, Abdul, dan Hasan. Hal sepele seperti ini gak akan ngurangin rasa sayang gue ke elo, tapi tetep Neng Irene ya yang paling gue sayang."
"Kampret, masih sempet-sempetnya ya elo mikirin Irene," cibir Gema, pemuda itu ikut bergabung dalam pelukan Asel dan Rama, begitu juga dengan kedua temannya yang lain.
"Ya iyalah, emang elo gak mikirin Zulfa?" tanya Asel balik pada Gema.
"Kalau Zulfa mah gak hanya gue pikirin tapi juga selalu gue sebut dalam doa gue," sahut Gema sambil terkekeh.
"Ah elo berdua gak kasihan sama jomblo modelan kita bertiga," celetuk Abdul sambil memasang tampang merana.
"Makanya, elo kalau sama Starla jangan kayak kucing dan anjing. Gayanya bertengkar mulu, giliran Starla dideketin Dion, langsung kalang kabut, Lo," cibir Hasan, membuat wajah Abdul menjadi masam.
__ADS_1
"Kalau gue lihat-lihat, inti Arakata angkatan delapan pada gak laku, ya," cemooh Restu dengan wajah tengilnya.
"Emang elo laku?" tanya Gema, yang langsung dijawab anggukkan dari Restu.
"Jelas, banyak cewek yang antri buat gue pacarain," jawab Restu pongah sambil menepuk dada bidangnya.
"Terus di antara mereka ada yang elo jadiin pacar?" Kali ini ganttian Abdul yang bertanya.
"Yang penting kan yang antri banyak," kelit Restu.
"Bang Restu gak mungkin jadian sama cewek-cewek yang deketin dia, karena hatinya udah mentok sama Wina. Tapi naas, Winanya gak suka sama dia. Wina lebih milih om-om tajir yang kartu kreditnya unlimited."
"Kampret lo, Sel. Lemes bener mulut lo!" umpat Restu sambil melotot pada adiknya itu.
"Jiah, jaman sekarang masih sempet galauin cewek matre," cibir Gema, "udah gak jaman brow, nyiapin tempat di hati buat orang yang bahkan gak peduli. Mending elo buka hati buat perempuan yang tulus sama lo dan keluarga lo. Kalau mau buka hati, serius sekalian. Kalau cuma mau main-main, nyari di TK noh, banyak anak bocah yang bisa lo ajak main!"
"Gak semudah itu buat ganti posisi orang, jika sudah terlanjur sayang," kilah Restu.
"Boleh setia, tapi akal sehat juga dipakai. Jangan sampai otak elo jadi gila hanya karena dalih cinta," sahut Gema lagi, membuat Restu terdiam. Memikirkan semua yang dikatakan oleh Gema.
"Wuah, gaya lo sok bijaksana, Sel," celetuk Rama, "kemarin, siapa yang berkaca-kaca matanya saat Irene jalan sama cowok lain."
"Tiba-tiba kuping gue gak bisa ngedenger," sahut Asel masa bodoh.
"Wah, minta disiksa nih anak," ucap Rama sambil menggelitiki tubuh Asel, membuat pemuda itu menjerit histeris.
"Wua, gue lagi sakit. Gak berperiketemanan kalian, wua!" teriak Asel histeris.
"Elo memang bukan teman gue," sahut Rama cepat, membuat Asel dan yang lainnya melongo. "Elo itu sahabat gue, saudara gue." Rama merentangkan kedua tangannya, kemudian sahabat-sahabatnya memeluknya bersamaan, menyaingi pelukan teletubies.
"Gue juga mau dipeluk, dong," pinta Restu, wajahnya dibuat memelas.
__ADS_1
"Ogah," sahut Asel dan keempat sahabatnya yang lain.
"Kampret," umpat Restu sambil memanyunkan bibirnya.
***
"Kenapa muka lo asem gitu? Lupa ngangetin terus jadi basi?" ucap Valerie pada Gema.
"Asel noh, Kak! Masa dia pakai jari gue buat ngupil, jijik," adu Gema pada Valerie dan seniornya yang lain.
"Gue kan minta tolong, Ma. Tangan gue kan masih sakit," elak Asel membela diri.
"Heleh, giliran ngupil aja jari lo sakit, tuh main game bisa lancar jaya." Gema menunjuk jari Asel yang menari indah di layar ponselnya untuk bermain game.
Asel hanya nyengir sebagai respon atas keluhan-keluhan Gema.
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian Asel masuk rumah sakit. Sekarang pemuda itu sudah bisa ikut berkumpul dengan anak-anak lainnya di markas Arakata. Walfred juga sudah mulai bergabung dengan Arakata dan anggota sekutu lainnya. Samuel mulai terbiasa dengan sikap-sikap unik anggota Arakata.
Awalnya, pemuda itu sempat melongo melihat anggota Arakata yang pernah melawan mereka dengan garangnya, sekarang bersikap konyol ... konyol yang benar-benar konyol. Jika berkumpul dengan anggotanya dulu sewaktu masih bernama Brutalz, mereka sering kali menghabiskan waktu dengan merokok, balapan, minum-minuman beralkohol, bahkan sering ke diskotik. Namun, lihat apa yang dilakukan geng tersohor itu waktu menghabiskan waktu bersama? Mereka malah saling membantu membuat tugas sekolah, berlatih beladiri, ada yang buka tukang cukur gratis dadakan, tukang pijit dadakan, ada yang main petak umpet, gobak sodor, kelereng, congklak, dakon, ada juga yang buka praktek konsultasi cinta, bahkan mereka sering menyambangi panti asuhan, panti jompo, dan daerah kumuh untuk melakukan bakti sosial.
Semua hal itu memang terasa asing baginya dan anggota Walfred yang lain. Namun, ada sesuatu di sisi hatinya yang terasa tenang. Kekerasan yang selama ini ia lakukan bersama Brandalz, memang membuatnya ditakuti banyak orang. Tapi ada sesuatu yang kosong di sisi hatinya, yang terus-terusan merongrong untuk mencari kepuasan yang belum juga didapatkannya.
Namun, sekarang ia sudah mendapatkan apa yang selama ini dicarinya. Sebuah ketenangan, itu yang membuat hatinya menghangat. Hal buruk yang selama ini dilakukannya, secara tidak langsung pasti mendapat sumpah serapah dari korbannya. Tapi saat sekarang ia berbuat kebaikan, doa dari orang-orang yang ditolongnya membawa kepuasan tersendiri untuknya. Emosinya pun menjadi terjaga, rasa sabar membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Ia jadi bisa lebih mensyukuri atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Valerie tidak salah memberikan nama Walfred sebagai ganti nama Brutalz. Walfred yang berarti penguasa yang cinta damai, membuat geng mereka selalu diliputi cinta dan berada dalam jalan yang damai. Lewat Arakata, Samuel mengerti cara menghargai sesamanya, cara memperlakukan anggotanya dengan manusiawi. Hingga sekarang tidak ada anggotanya lagi yang takut terhadapnya. Namun, mereka menghormati dan menyayanginya sebagai pemimpin yang baik.
Terkadang, mendapat jabatan yang tinggi dalam sebuah organisasi atau pekerjaan, bisa menjadi cobaan yang berat bagi pribadi kita. Mendapat posisi tertinggi, terkadang membuat kita menjadi jumawa, sehingga menutup mata dan telinga atas masukan dari orang-orang yang memiliki posisi di bawah kita. Hal itu yang membuat kita akhirnya menjadi pemimpin yang otoriter.
Mendapat kedudukan yang tinggi, bisa membuat kita terus mendongak hingga lupa melihat ke bawah. Padahal itu yang bisa menjadi sandungan, hingga membuat kita terjatuh dan berada di posisi terbawah. Kenapa seorang pemimpin disebut sebagai poros? Seperti poros, ia harus selalu berada di tengah-tengah. Semuanya harus seimbang, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang ... seorang pemimpin harus bisa tetap berada di tengah-tengah segala arah, tanpa memihak dan condong ke hanya salah satu arah.
Jadilah sosok pemimpin yang disayangi, bukan ditakuti. Jika kau ditakuti, anggotamu hanya akan menuruti perintahmu jika berada di hadapanmu. Jika mereka ada di belakangmu, mereka akan mengeluh dan mencoba memberontak.
__ADS_1
Namun, jika kau menjadi pemimpin yang disayangi. Maka, anggotamu akan melaksanakan perintahmu dengan ikhlas. Mereka akan sebisa mungkin melindungimu saat ada yang ingin menghancurkanmu. Dan bagaimana caranya menjadi pemimpin yang disayangi anggotanya? Tempatkan dirimu pada posisi mereka, rasakan apa yang menjadi rasa mereka selama ini. Apa yang mereka inginkan, apa yang mereka keluhkan, dan apa yang mereka butuhkan.
Pahami mereka, maka dengan mudah kau akan mendapat rasa sayangnya.