Arakata

Arakata
Sosok Keji Itu Mulai Membuka Hati


__ADS_3

Keluarga bukanlah sekedar hitungan tahun lebih lama kita mengenal seseorang. Namun, keluarga adalah tentang seberapa pedulinya orang-orang yang ada di sekitar kita.


***


Valerie melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Statusnya memang tawanan, tapi entah mengapa seseorang yang telah menawannya itu terlalu memberikan kebebasan padanya. Mana ada tawanan yang tangannya tidak diikiat, pintu kamarnya sengaja tidak dikunci, dan tidak ada satupun penjagaan untuknya. Hanya ada sebuah tombol yang menghubungkan dengan ruangan asisten rumah tangga, jaga-jaga jika Valerie membutuhkan sesutu. Benar-benar tawanan yang dimanjakan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. tapi sosok lelaki yang telah membawanya ke tempat itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Bukan bermaksut menanti kedatangannya, Valerie hanya heran. Karena biasanya setiap pukul delapan malam, pria itu selalu menyambanginya di kamar. Dan sekarang sudah pukul sebelas malam, tapi dia belum juga terlihat.


Valerie melangkahkan kaki melewati kamar yang ada di sebelahnya, kamar yang di tempati oleh Riki selama ia ada di sini. Sebenarnya kamar yang ditempati Valerie itu adalah kamar milik Riki. Namun, ia menempatkan Valerie di kamarnya, dan dia sendiri menenmpati kamar yang ada di sebelah. Valerie sama sekali belum pernah melihat kamar itu. Padahal Riki pernah berucap jika gadis itu membutuhkannya dan tidak bisa menemukan keberadaannya, ia bisa masuk ke kamar itu untuk mencarinya. Namun, Valerie tidak pernah melakukannya.


Gadis itu terus melangkah menuruni tangga, hingga sampai di dapur rumah itu. Di sana masih ada seorang asisten rumah tangga yang sedang melakukan tugasnya.


"Non, apa ada yang Non Eri butuhkan?" tanya asisten rumah tanggayang sudah berusia lanjut itu.


"Enggak, Bi," jawab Valerie sambil menggeleng, gadis itu tersenyum ramah, membuat tawa itu menular pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya. "Nama bibi siapa?"


"Nama saya Ratmi, Non."


"Em, Bi Ratmi. Apa Riki belum pulang kerja?"


"Sudah, Non. Den Riki sudah pulang dari tadi sore. Den Riki langsung masuk ke kamar, kelihatannya lagi gak enak badan, wajahnya pucat.


"Dia udah makan belum, Bi?"


"Belum, Non."


"Tolong Bi Ratmi siapin makanannya, biar saya cek dulu bagaimana keadaannya. Nanti saya kesini lagi."


"Iya, Non," jawab Bi Ratmi sambil menganggukkan kepala.


Valerie mengetuk pintu kamar yang di tempati Riki, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Dengan perlahan ia membuka pintu, ia masuk ke dalam. Valerie meraba-raba di tembok mencari saklar lampu kamar itu dan menghidupkannya.


Matanya membola melihat banyaknya foto-foto Atika, Valero, dan Azizah di sana. Foto-foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi. Apa Riki seperti Hans yang mengambil fotonya secara diam-diam, apa yang menjadi alasan pria itu mengambil foto-foto Valero dan keluarganya.


Kembali ia melangkahkan kakinya menuju ranjang Riki. Pria itu memejamkan matanya, wajahnya terlihat sangat pucat. Keringat dingin membasahi wajah tampannya. Valerie meletakkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh pria itu.


"Panas," ucap Valerie setelah memegang kening Riki. Valerie melepas sepatu yang masih dikenakan oleh Riki, pria itu masih mengenakan baju kerja.


Valerie kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Bi Ratmi, tolong gantikan pakaian Riki, sepatunya sudah saya lepas," pinta Valerie pada Bi Ratmi. "Saya mau nyiapin kompresan dulu buat Riki.


"Iya, Non. Makanannya saya bawa sekalian ke kamar."


"Iya, Bi. Terimakasih, tolong ambilin obat penurun panas juga ya, Bi."


Bi Ratmi mengangguk, setelahnya ia menuju kamar sang majikan. Valerie menyiapkan air hangat untuk mengompres Riki. Ia juga menyediakan segelas teh hangat.


Setelah menyiapkan kompresan dan membuatkan teh hangat, Valerie kembali masuk ke kamar Riki. Pria itu sudah berganti pakaian, tapi dia masih memejamkan matanya.


"Terimakasih, Bi Ratmi. Bibi bisa istirahat sekarang, biar saya yang menjaga Riki," ucap Valerie sambil meletakkan kompresan dan teh hangat yang di bawanya ke nakas di sebelah ranjang Riki.


"Tapi apa gak Non Eri aja yang istirahat. Biar bibi yang ngejaga Den Riki."


Valerie menggeleng sambil tersenyum. "Enggak apa-apa, Bi. Dari tad Eri juga sudah kebanyakan istirahat. Nanti malah badan Eri kaku-kaku. Bi Ratmi aja yang istirahat, kan besok harus kembali bekerja."


"Baik, Non," jawab Bi Ratmi sambil tersenyum. Ia senang, akhirnya setelah sekian lama ada seseorang yang peduli pada majikannya itu. Bahkan ayahnya sendiri tidak pernah peduli padanya. Ryan hanya datang untuk membicarakan pekerjaan, tidak pernah menanyakan kabar Riki sama sekali. Semoga sebuah kebahagiaan sudi hadir kembali dalam kehidupan tuannya itu.

__ADS_1


Setelah Bi Ratmi keluar kamar, Valeri mengompres kening Riki. Ia menggoyangkan badan Riki perlahan, hendak membangunkan pria itu.


"Rik, Riki," panggil Valerie sambil menggoyang lengan Riki.


"Em," erang Riki sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Pria itu tersenyum melihat wajah ayu yang ada di hadapannya. Baru kali ini ia membuka mata ada seseorang di sampingnya.


"Bangun dulu, makan sama minum obat dulu ya, biar badan lo enakan," ucap Valerie. Gadis itu mengangkat kepala Riki dan menumpuk bantal, agar posisi kepala Riki lebih tinggi. "Aakk ...," Valerie membuka mulutnya, seperti menyuapi seorang anak kecil.


Riki terkekeh, wajah Valerie sekarang terlihat sangat lucu, membuat Riki menjadi gemas.


"Lo kira gue anak kecil," ucap Riki sambil masih terkekeh. membuat Valerie berdecak sebal.


"Ck, udah jangan banyak protes. Tinggal buka mulut doang, atau mau gue kunyahin terus gue telenin sekalian," omel Valerie.


"Itu namanya elo yang makan, dong," celetuk Riki.


"Biarin, habis elo banyak protes. Masih sakit aja udah cerewet, mulut lo ketuker sama cewek?"


"He'em, mulut gue ketuker sama elo."


"Idih, ogah gue tukeran mulut sama elo," jawab Valerie cepat.


"Gimana kalau kita buktiin kalau mulut kita ketuker apa gak."


"Gimana caranya" tanya Valerie polos, tidak sadar jika sedang dikerjai.


"Caranya gampang, tinggal tempelin mulut lo ke mulut gue. Kalau elo masih bisa merasakan sesuatu, berarti mulut kita gak ketuker," jawab Riki, pria itu menahan tawanya melihat wajah Valerie yang berpikir keras.


"Tempelin bibir?" Valerie mengerutkan dahinya, Gadis itu membelalakkan mata, begitu tahu apa yang dimaksut oleh Riki. "Kampret, Lo! Lo kira gue anak TK yang mudah dikadalin?" Mata Valerie melotot. Bukannya takut, Riki malah terbahak karenanya, padahal pria itu sedang mengunyah makanannya.


"Tawa aja terus," ucap Valerie lagi. "Kesedak tulang ayam baru tahu rasa!"


"Seharusnya gue takut sih, kan elo setan," jawab Valerie asal membuat Riki berdecak.


"Ck, gue beneran nanya, Er."


"Gue juga beneran jawab tadi, elo kira gue napa tadi, nyanyi?"


"Serah elo." Riki memalingkan wajahnya, mulai jengkel dengan gadis di hadapannya itu.


"Apa yang ngebuat gue harus takut sama elo?"


"Gue yang udah ngebunuh calon suami dan abang lo. Lo gak takut kalau setelah ini, elo yang bakalan gue bunuh?"


"Gue gak takut, tapi gue marah. Marah karena elo telah merenggut orang-orang yang gue sayang,"


"Terus kenapa elo gak bunuh gue aja sekarang? Setelah itu elo bisa kabur dari sini terus kembali ke tengah-tengah keluarga lo."


Valerie mengerutkan dahinya, seolah berpikir keras.


"Boleh juga ide lo, dengan kondisi lo sekarang, sekali tonjok aja bisa langsung sekarat," jawab Valerie sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terus apa lagi yang elo tunggu?"


"Gue nunggu otak waras lo balik," sahut Valerie dengan menyuapkan sesendok nasi pada Riki. "Gak ada untungnya gue ngebunuh elo. Kecuali, dengan ngebunuh elo bisa balikin Raja dan Bang Bayu lagi. Tapi itu gak mungkin terjadi kan? Lagipula  semua ini sudah jalan yang ditentukan Allah, gue yakin kalau pria-pria hebat gue itu pasti mendapat tempat yang terbaik di sana." Valerie tersenyum tulus, membuat pandangan Riki tidak terlepas dari wajah menawannya itu. "Maaf-maaf nih ya, kalau elo gue bunuh sekarang, belum tentu elo mendapat tempat di sana. Bisa-bisa elo malah gentayangan di bumi terus ganggu-ganggu orang. Lebih ngrepotin kan?"


Riki melongo mendengar penuturan Valerie, kemudian ia terbahak.

__ADS_1


"Baru kali ini gue ketemu perempuan yang mempunyai pemikiran nyeleneh kayak elo," ucap Riki, "kalau gitu, elo bisa kabur sekarang. Mumpung gue masih belum punya tenaga buat ngelawan lo. Kalau besok belum tahu lagi, bisa jadi elo bakalan terkurung terus di rumah gue, bahkan seumur hidup lo." Riki tersenyum penuh arti.


"Gue pantang buat kabur, apalagi ngelawan orang lemah," sahut Valerie, "elo harus sembuh dulu, setelah itu baru gue bisa ngelawan lo. Setelah itu gue bisa keluar dari rumah lo ini."


"Gimana kalau saat gue sembuh, gue bakal ngebuat lo gak bisa keluar dari sini? Elo gak bakal ketemu sama orang-orang yang lo sayang lagi."


"Ya udah, berarti itu nasib gue."


Riki melongo mendengar jawaban dari Valerie. Dengan enteng gadis itu menjawab ya udah, apa gadis itu gak mau berusaha lebih keras lagi.


"Cuma itu jawabannya lo?"


"Ya mau jawab gimana lagi? Kan tadi elo nanya gimana seandainya gue gak bisa keluar dari rumah lo ini. Terus gue suruh gimana? Kalau gue gak bisa keluar dari sini ya gue bawa aja keluarga gue ke sini, kan beres. Kalau elo gak betah sama berisiknya keluarga dan sahabat-sahabat gue, pasti elo bakal ngusir gue juga dari sini."


Lagi-lagi Riki dibuat melongo dengan jawaban unik dari Valerie.


"Sesimpel itu pemikiran lo?" tanya Riki dengan heran.


"Kebanyakan mikir yang berat-berat entar gue malah jadi gila. Habis," ucap Valerie sambil meletakkan piring kosong di nakas. "Nih minum obat dulu." Valerie memberikan segelas air minum dan sebutir obat. "Tenang, ini obat penurun panas, bukan racun. Tadi Bi Ratmi yang nyariin di kotak persediaan obat."


Setelah meminum obatnya, Riki membetulkan posisi tidurnya yang dibantu Valerie. Hal itu membuat posisi mereka tidak terkikis jarak. Riki terus memandangi wajah ayu Valerie hingga tak berkedip.


"Udah, sekarang lo istirahat, tidur. Gue bakalan di sini jagain lo," ucap Valerie sambil membetulkan letak selimut Riki.


"Elo mau tidur satu ranjang sama gue?"


"Enggaklah, pikiran lo kotor. Mau gue bersihin sama vacuum cleaner? Gue tidur di sofa." Valerie menunjuk sofa yang ada di kamar Riki. Gadis itu membawa bantal dan selimut menuju sofa, ia membaringkan tubuhnya di sana. Netra matanya kembali menangkap foto-foto yang ada di kamar itu. "Riki, kenapa di kamar lo ada foto-foto Valero sama keluarganya?"


"Mereka juga keluarga gue, Er. Orang-orang yang menjadi alasan kenapa gue masih bertahan hidup sampai saat ini."


Valerie kembali pada posisi duduk, ia menatap pada Riki.


"Maksut lo?"


Riki tersenyum, kemudian mengalirlah cerita-cerita hidupnya, dengan tulus Valerie mendengarkannya.


***


Keesokan harinya, Riki membuka matanya. Kesehatannya sudah perlahan pulih. Ia duduk di ranjangnya, kepalanya menengok pada sofa kamarnya yang kosong, padahal ... semalam ada gadis cantik yang berbaring di sana. Hanya ada Bi Ratmi yang ada di sana, membersihkan kamar Riki.


"Bi, Eri kemana?"


"Non Eri ada di dapur, lagi masak buat Den Riki," jawab Bi Ratmi, "wajahnya terlihat lelah, Den. Mungkin karena semalaman Non Eri jagain Den Riki."


Riki menganggukkan kepala, mengingat kejadian semalam saat ia bercerita dengan Valerie hingga larut malam. Gadis itu dengan tulus dan sabar mendengar semua cerita dan keluh kesahnya tentang dunia ini. Gadis itu sama sekali tidak berkomentar sinis, gadis itu hanya sesekali melempar lelucon hingga ia bisa tertawa lepas. Untuk pertama kalinya ia merasa beruntung karena sudah menculik seseorang. Beberapa saat setelah selesai bercerita, ia memejamkan mata, mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.


"Non Eri orangnya baik ya, Den" ucap Bi Ratmi, "sama bibi juga ngomongnya sopan, bahkan Non Eri juga bantu bibi bersih-bersih rumah. Udah bibi larang, tapi katanya ini sebagai bayaran kalau Den Riki sudah memperlakukannya dengan baik."


Riki tersenyum mendengar penuturan Bi Ratmi.


"Riki ke bawah dulu ya, Bi. Mau lihat gimana cewek jagoan seperti Eri bisa mengolah makanan, atau jangan-jangan dapur jadi berantakan," ucap Riki sambil terkekeh. Belum tahu dia, jika walau tomboy, Valerie jago urusan dapur.


"Silahkan, Den. Bibi udah dibuat takjub tadi," ucap Bi Ratmi mempersilahkan tuannya.


Dengan perlahan, Riki melangkahkan kakinya menuju dapur, agar tidak diketahui oleh Valerie. Riki menyenderkan punggungnya pada tembok dapur, tangannya bersedekap. Baru beberapa menit berada di sana, Riki sudah dibuat kagum dengan kecekatan Valerie mengolah bahan masakan. Bayangkan, gadis itu bisa membuat camilan, kue, dan makanan besar dalam waktu yang bersamaan. Walau jelas-jelas terlihat lelah, tapi gadis itu sama sekali tidak menujukkannya.


Sebuah senyuman terbit dari wajah tampan nan tegas Riki. Panglima perang yang kuat, gadis yang baik hati, jago masak, pendengar yang baik. Hal apalagi yang belum ia ketahui dari sosok menawan yang sedang asik di dapurnya itu.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, perlahan pertahanannya mulai melemah. Api amarah yang selama ini menguasai hatinya, mulai padam, rasa dingin yang telah membekukan perasaannya, kini perlahan mencair dan menghangat. Ia mulai membuka hati, mulai membagi cerita hidupnya dengan orang lain. Semua itu karena hadirnya seorang gadis yang awalnya ingin ia habisi nyawanya, Valerie Livia Laksmono.


__ADS_2