Arakata

Arakata
Batal Nikah?


__ADS_3

Jika kau masih terus meragukanku ... berhenti, dan tinggalkan aku sendiri di sini.


***


"Kenapa elo semua jadi ikut gue?" tanya Valerie pada Elang, Bagus, Braga, Robert, dan Roxy.


Sekarang mereka ada di pasar tradisional. Valerie berencana untuk ke pasar sendiri, tapi calon suami dan teman-temannya malah mengekori.


"Gue mau belanja untuk keperluan dapur, bukannya piknik," ucap Valerie kembali.


"Kami kan mau jadi calon suami yang baik nantinya," sahut Roxy asal. "Makanya ini itung-itung belajar dulu."


"Serah kalian, awas aja ngerecoki gue, gue tuker sama kangkung entar!" Valerie melangkahkan kakinya memasuki pasar, dengan kelima pria tampan yang mengikutinya di belakang.


Kehadiran mereka mengundang perhatian orang-orang yang ada di sana. Bagaimana tidak? Jika di sebuah pasar tradisional kecil ada perempuan dan pria yang menawan seperti mereka. Banyak orang yang mengambil foto mereka, sudah seperti artis saja.


Langkah Valerie terhenti pada penjual sayur-mayur. Ia mengambil berbagai macam sayuran dan bumbu dapur. Setelah mendapatkan yang ia butuhkan, gadis itu membuka dompetnya untuk membayar.


"Berapa, Bu?"


"Tiga ratus empat puluh lima ribu, Non," jawab ibu penjual sayur itu.


"Dua ratus ribu aja, Bu," ucap Roxy, menawar harga yang diberikan sang penjual.


"Gue tabok ya mulut lo," ucap Valerie pada temannya itu. Roxy hanya nyengir sebagai respon perkataan Valerie. "Ini uangnya, Bu. Terimakasih, ya." Valerie memberikan empat lembar uang seratus ribuan.


"Kembaliannya Neng," sahut sang penjual sambil megulurkan tangannya, hendak memberikan kembalian pada Valerie.


"Buat ibu aja," sahut Valerie sambil tersenyum tulus.


"Terimakasih banyak, Neng," ucap sang penjual sambil tersenyum juga.


"Sama-sama, Bu. Permisi," pamit Valerie, gadis itu melangkahkan kaki kembali, melanjutkan kegiatannya berbelanja.


"Kok gak elo tawar sih, Er?" tanya Roxy, "kan biasanya kalau emak-emak ke pasar mesti nawar apa yang dibelinya biar dapat harga paling murah."


"Dalam transaksi perdagangan pasti terjadi tawar-menawar, dan itu sudah merupakan hal yang wajar. Namun, alangkah baiknya jika pedagang tidak melambungkan harga terlalu tinggi. Begitu pula dengan pembeli, jangan menawar dengan harga serendah-rendahnya. Hendaknya proses jual beli itu menjadi ridho rejeki bagi kedua belah pihak."


Lima pria itu terdiam sejenak mendengar perkataan Valerie.


"Gila, kok elo bisa punya pemikiran kayak gitu sih, Er," puji Bagus sambil bertepuk tangan, membuatnya kembali menjadi pusat perhatian dari para pengunjung pasar.


"Entah, gue cuma utarain apa yang ada di pikiran gue," sahut Valerie, gadis itu mengangkat kedua bahunya tanda ia pun tak paham. "Menurut gue, pedagang harus pasang harga sewajarnya, pembeli juga harus menawar dengan sewajarnya. Kan emang sewajarnya begitu."


Elang menundukkan kepala sambil tersenyum getir. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu.


***


Setelah pulang dari pasar, entah kenapa sikap Elang jadi berbeda. Pria itu langsung pamit untuk pulang ke rumahnya, padahal biasanya ia tidak akan pulang sebelum di usir oleh pemilik rumah.


Bagus yang merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu, mengikuti Elang bsampai di kamarnya.

__ADS_1


"Elo kenapa?" tanya Bagus to the point tanpa tedeng aling-aling.


"Ck, elo selalu tahu apapun tentang gue," sahut Elang sambil terkekeh.


"Anak bocah juga pasti tahu perubahan sikap lo. Elo yang biasanya nempel sama Eri kayak upil, ini malah terkesan kayak jaga jarak."


"Gue berpikir buat batalin pernikahan gue sama Valerie," lirih Elang dengan suara pelan, tapi masih terdengar oleh Bagus.


Tubuh Bagus membeku, matanya melebar, kaget dengan apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu.


"Anjir, candaan lo gak lucu, Lang!" umpat Bagus sambil melempar bantal pada Elang.


"Gue gak lagi bercanda," sahut Elang. Pria itu memeluk bantal yang dilempar oleh Bagus. "Emang wajah gue kayak orang yang lagi bercanda?"


"Gak usah gila, Lang! Pernikahan elo tinggal sebulan lagi, semuanya juga udah diurus. Jangan berbuat bodoh, apa yang kurang dari Eri hingga elo mau batalin rencana pernikahan lo sama dia?" Bagus menggelengkan kepala, heran dengan apa yang ada di pikiran Elang.


"Gak ada yang kurang dari Eri." Elang menggelengkan kepalanya. "Gak ada yang kurang dari dia. Dia sempurna, bahkan terlalu sempurna. Membuat gue merasa jadi pria pecundang. Lihat Eri, mulai dari pemikiran, sikap, hingga cara dia menatap dunia, semuanya sempurna. Jalan pikirannya selalu jauh ke depan, sedangkan gue? Sebagai seorang pria, ego gue terluka. Usaha toko roti Eri sukses, sedangkan gue? Gue aja baru resign dari profesi gue sebagai seorang pilot. Gue juga lagi belajar buat ngurus perusahaan papah, gue belum jadi apa-apa."


"Terus masalahnya apa, Brengsek! Kalau sekarang usaha Eri lebih sukses dari elo, emang kenapa?"


"Gue takut jika gue gak bisa bahagiain dia, Gus. Gue takut jika hidup sama gue, dia malah menderita." Elang menunduk, emosi dan perasaan rendah dirinya bercampur menjadi satu.


"Belum juga elo nyoba, udah ngerasa takut. Elo pria apa bukan!" Bagus mengusap kasar wajahnya, merasa frustasi dengan sikap sahabatnya itu. "Elo lupa kalau elo gak bisa hidup tanpa kehadiran Eri? Pikirin gimana nasib hati lo kalau elo beneran batal nikah sama dia?"


"Gue akan lebih sakit seandainya Eri menderita saat udah nikah sama gue!"


"Seandainya, seandainya, seandainya terus dari tadi! Elo itu hanya ketakutan sama pemikiran-pemikiran elo sendiri, yang belum tentu jelas kenyataannya!"


"Elo memang orang yang gak bisa bersyukur. Eri itu perempuan yang beda, gak semua orang bisa kayak dia. Dia wanita yang hebat. Seharusnya hal itu bisa jadi motifasi elo buat berusaha menjadi pria yang lebih hebat, bukannya malah minder dan nyerah gini. Kalau elo batalin pernikahan kalian yang hanya tinggal sebulan lagi, elo akan berurusan sama keluarga besar Laksmono. Mereka gak akan ngebiarin putri kesayangan mereka sakit hati dan menanggung malu. Begitupun dengan gue, gue gak akan maafin lo kalau sampai buat Eri sakit hati lagi. Dan jangan sampai elo nyesel jika suatu saat nanti Eri bener-bener gak bisa nerima lo lagi!" Bagus melangkah keluar dari kamar Elang, pria itu membanting pintu sebagai luapan rasa jengkelnya dengan sikap Elang.


Bagus berjalan kembali ke rumah Valerie. Pria itu terdiam sejenak melihat sahabat perempuan yang sangat disayanginya itu sedang tertawa lepas dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Tak terasa air matanya menetes, bagaimana jika gadis kuat yang sebenarnya berhati rapuh itu mengetahui jika pria yang sangat dicintainya memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.


Gadis itu telah mengalami musibah secara beruntun. Rasa sakit di hatinya belum sembuh sepenuhnya. Bagaimana ia bisa menerima luka lagi, jika luka sebelumnya masih menganga. Jika Elang benar-benar membatalkan pernikahannya dengan Valerie, gadis itu akan benar-benar terpuruk.


Langkah Bagus semakin mendekati Valerie, hingga pria itu benar-benar telah berada di hadapan sahabatnya itu.


"Bagus, elo kenapa?" tanya Valerie, gadis itu mengusap air mata yang membasahi pipi sahabat gesreknya itu.


Tanpa menjawab pertanyaan Valerie, Bagus meraih tubuh Valerie dalam pelukannya. Yang tentu saja membuat Valerie dan temannya yang lain merasa kebingungan.


"Gus, elo kenapa?" tanya Valeri lagi.


Bagus menggelengkan kepala, pria itu masih tetap terdiam. Ia tidak ingin memberitahukan apa yang dikatakan Elang padanya. Ia masih berharap jika Elang akan mengurungkan niatnya itu.


"Elo kenapa sih, Gus?" Sekarang giliran Robert yang bertanya.


"Gue lagi latihan drama," dalih Bagus sembari melepaskan pelukannya.


"Muke lo! Modus kan lo pengen meluk-meluk Valerie," celetuk Roxy sambil memukul lengan Bagus.


"Bilang aja elo iri, elo juga mau gue peluk, kan?" Bagus mengedipkan sebelah matanya, membuat Roxy merinding jijik. "Sini, Bang ... eneng dekepin." Bagus merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Roxy.

__ADS_1


"Wua, jijik Gus!" seru Roxy sambil berlari menghindari Bagus yang terus mengejarnya. Hal itu mengundang tawa teman-temannya, kecuali Valerie. Gadis itu mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang dilakukan Bagus padanya tadi. Sahabat gesreknya itu tidak akan melakukan sesuatu hal jika tidak ada maksutnya. Dan Valerie yakin jika Bagus memiliki alasan untuk semua yang dilakukannya.


***


Sudah hampir lima belas menit seorang gadis berada di taman dekat rumahnya. Gadis itu terus-terusan memperhatikan jam tangannya, mungkin ia sedang menunggu seseorang. Setelah beberapa saat, akhirnya seseorang yang ia tunggu telah datang, membuat senyum manisnya terbit di wajahnya yang ayu.


"Elang, tumben kamu ngajak ketemuan di taman?" tanya Valerie pada kekasihnya itu.


"Ada sesuatu yang harus aku sampaiin ke kamu," sahut Elang. Pria itu duduk di samping Valerie.


"Apa?" tanya Valerie lagi. Gadis itu memandang Elang dengan bola matanya yang bulat, terlihat sangat imut. "Setelah ini aku mau ketemu Firsa, buat mastiin kesiapan EO nya buat acara kita bulan depan. Aku suka deh sama konsep yang diusung Firsa sama timnya. Gak salah memepercayakan acara pernikahan kita ke dia. Kamu mau ikut sekalian? Bakalan ada Gandi juga."


Elang menggelengkan kepala. "Aku ada urusan di luar kota, ngurusin cabang perusahaan papah yang ada di sana."


"Papah yang nyuruh kamu?"


"Enggak, aku yang menawarkan diri, sekalian belajar tentang bisnis di sana."


"Tapi apa itu gak terlalu mepet, Lang? Acara pernikahan kita tinggal sebulan lagi, kamu bisa pulang seminggu sebelum acara?"


"Enggak," jawab Elang sambil menggelengkan kepala.


"Maksut kamu?" tanya Valerie lagi, gadis itu mulai merasakan tidak enak. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh kekasihnya itu.


"Aku akan tinggal di sana untuk waktu yang lama, sampai cabang perusahaan yang ada di sana kembali stabil." Elang menundukkan kepala, ia takut menatap wajah wanita yang dicintainya itu. Takut jika keputusannya kembali goyah.


"Terus bagaimana dengan acara pernikahan kita?"


"Aku ... aku mau membatalkan acara pernikahan kita, Er. Maaf," lirih Elang. Semalaman pria itu tidak bisa tidur karena memikirkan keputusan yang harus ia ambil. Dan keputusannya tetap sama, ia kalah oleh rasa takut dan rasa khawatir yang belum tentu terbukti.


Tubuh Valerie membeku seketika, telinganya langsung berdengung. Perkataan Elang langsung memukul telak perasaannya..


"Kamu bercanda kan, Lang? Kamu gak beneran batalin pernikahan kita, kan?" Valerie mengguncang puindak Elang, tapi pria itu hanya menggeleng. "Apa salah aku, Lang? Aku akan perbaiki. Jangan seperti ini, Lang." Valerie menggenggam kedua tangan Elang, tapi pria itu menepisnya.


"Kamu gak salah, aku yang salah. Aku yang gak pantas buat kamu, aku gak sebanding buat kamu. Kamu terlalu mandiri, kamu terlalu kuat, hingga bisa melakukan apapun sendiri. Aku merasa gak berguma sebagai seorang pria, aku takut jika kamu sengsara bila hidup denganku."


"Omong kosong!" teriak Valerie, membuat perhatian setiap orang yang ada di sana memperhatikan mereka berdua. "Aku gak mungkin sengsara jika bersama kamu, Lang. Aku tahu kamu pria yang bertanggung jawab. Kamu pasti bisa membuat aku bahagia. Aku percaya itu."


"Aku yang tidak percaya, Er. Aku tidak yakin jika diriku mampu membuatmu bahagia. Kamu bagai langit, terlalu jauh ... terlalu tinggi untuk aku raih.


"Ada perempuan lain?"


Dengan mantap, Elang menggelengkan kepala. "Hatiku hanya penuh dengan dirimu, gak ada tempat untuk perempuan lain."


"Terus, kenapa ini bisa terjadi, Lang? Kamu sudah tidak mencintaiku?"


"Aku mencintaimu melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Karena itu, aku akan merelakanmu. Karena aku tidak sanggup membuatmu bahagia."


"Jangan sok tahu tentang aku, jangan sok tahu tentang kebahagiaanku. Aku yang memiliki hidupku, aku yang tahu apakah aku bahagia atau tidak! Jangan pernah memutuskan sesuatu yang harusnya menjadi hak ku, Lang!" Valerie berlari dari tempat itu. Elang memandang kepergian Valerie dengan tatapan yang juga terluka.


"Maaf, ini bukan kuasaku. Aku bisa melakukan apapun demi kebahagiaanmu, tapi aku belum bisa meyakinkan diriku sendiri, aku tidak yakin bisa membuatmu bahagia. Aku tahu aku lemah, maaf Sayang. Semoga keputusanku ini merupakan jalan yang terbaik."

__ADS_1


__ADS_2