Arakata

Arakata
Solidaritas


__ADS_3

Persahabatan adalah aku, kamu, dan mereka yang melebur menjadi kita.


***


Setelah kejadian kekerasan yang menimpa Siti. Valerie memintanya untuk tinggal di panti asuhan, selain agar Siti mendapat perlindungan, ia juga bisa menjaga sambil menjaga anak-anak di sana. Siti juga tidak perlu bekerja lagi, awalnya Siti menolak, tapi Valerie dan segala ucapannya mampu meyakinkannya.


Valerie hendak melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan suami Siti selama ini, tapi perempuan itu mencegah. Ia ingin memberikan satu kesempatan untuk suaminya itu bisa berubah. Bukan untuk kembali hidup bersama, hanya memberi kesempatan agar suaminya itu menjadi pribadi yang lebih baik. Atas bantuan teman-teman Valerie, Siti mengurus perceraian dengan suaminya itu.


Dan pagi ini, Valerie berencana untuk berkunjung kembali ke SMA Garindra. Ia berniat membagikan kue yang dibuatnya untuk para juniornya itu. Sebelumnya, ia mampir ke panti asuhan Rajawali untuk mengirim kebutuhan Siti dan calon anaknya, termasuk vitamin dan susu ibu hamil.


Gadis itu berniat menuju ke SMA Garindra seorang diri, tapi Cakrawala menawari untuk mengantar. Akhir-akhir ini, Cakrawala terlihat semakin dekat dengan Valerie. Valero yang biasanya selalu ada untuk Valerie sedang disibukkan dengan urusan perusahaannya.


"Gak usah, Kra. Gue bisa sendiri, lagian gue bawa mobil sendiri, kok," tolak Valerie. Sampai sekarang ia masih menggunakan mobil milik Galih, sejak kecelakaan yang menimpanya waktu itu, ia belum membeli mobil baru.


"Gue tahu elo bisa sendiri, gue yakin seratus persen," ucap Cakrawala, "gue lagi gabut, gak tahu musti ngapain, Teo sama yang lain juga belum pulang dari sekolah. Jadi, mending gue ikut elo aja, siapa tahu di sana entar gue ketemu dedek gemesh." Cakrawala mengerlingkan sebelah matanya.


"Pedofil," ejek Valerie. Padahal sahabat dekatnya juga menjalin hubungan dengan anak SMA, siapa lagi kalau bukan Robert Andrew.


Perkataan Valerie membuat Cakrawala terbahak.


"Udah, jangan banyak ngomel. Mobil elo tinggal sini dulu aja, kita pakai mobil gue," ucap Cakrawala.


Valerie mengangguk setuju, kemudian ia memindahkan kue-kuenya ke mobil Cakrawa, yang tentu saja dibantu oleh pria itu.


***


Suasana pagi ini di kelas sangat tenang. Semua anak anak fokus memperhatikan penjelasan dari guru mereka, kecuali Irene.


Saking tenangnya suasana kelas, membuat Irene ketiduran. Ia menyandatkan kepalanya di meja.


Gadis itu bukan dengan sengaja tidur dan tidak memperhatikan gurunya. Tadi, dia juga menyimak apa yang disampaikan gurunya. Namun, rasa kantuknya lebih kuat menariknya masuk ke dalam alam bawah sadar.


Zulfa yang duduk di sebelahnya tidak tega membangunkan gadis itu. Karena ia tahu apa yang menjadi alasan kenapa sampai Irene ketiduran seperti ini.


Bahkan, Asel yang duduk di hadapannya, memposisikan dirinya agar menutupi Irene. Agar Irene tidak ketahuan oleh gurunya itu.


Namun, tetap saja sang guru masih bisa melihatnya. Bu wati, guru bahasa Ingrris mereka, berjalan menuju tempat duduk Irene.


"Ren," panggil sang guru sambil menepuk pelan pundak Irene.


"Emmm," hanya kata itu yang keluar dari bibir Irene.


"Bangun, ini di sekolah, bukan kamar rumah kamu," ujar bu Wati dengan tegas.


Irene mulai mengerjapkan matanya. Ia menegakkan badannya, dan betapa terkejutnya ia melihat ada guru mereka di hadapannya.


"Bu wati," lirih Irene dengan wajahnya yang memucat.


"Setelah pulang kerja, kamu kemana lagi, Ren? Sampai ketiduran di kelas begini," ucap Bu Wati dengan tegas tapi lembut.


Sekolah tahu jika Irene bekerja setelah sekolah. Valerie yang memohonkan ijin untuknya, dengan syarat Irene harus tetap fokus pada pelajaran sekolahnya.


"Saya menjaga ibu di rumah sakit, Bu. Kasihan kalau ayah yang harus jaga ibu, jadi saya yang jaga. Maafin saya, Bu," ucap Irene sambil menunduk.


"Jadi, sejak semalam kamu tidak tidur?"


Irene menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan gurunya itu.


Bu Wati menghembuskan nafas, ia tidak tega melihat muridnya itu. Tapi, peraturan harus tetap ditegakkan.


"Ibu tahu kamu tidak bermaksut menyepelekan pelajaran ibu, kamu anak yang baik. Tapi maaf, ibu harus tetap memberi kamu hukuman. Kamu mengerti kan maksut ibu?"


Irene mengangguk lagi. Teman-temannya tidak ada yang berani ikut campur. Bukannya tidak setia kawan, tapi yang dikatakan Bu Wati itu benar.

__ADS_1


"Kamu berdiri di lapangan sampai jam pelajaran saya selesai."


"Iya, Bu," ucap Irene, setelah itu ia berjalan menuju lapangan.


Lima belas menit telah berlalu, Irene masih melakukan hukumannya.


"Dua puluh menit lagi pelajaran saya selesai. Tapi, tugas yang saya berikan sudah selesai kalian kerjakan," ucap bu Wati, "jadi, kalian sudah bisa keluar sekarang. Tapi jangan mengganggu kelas lain. Zulfa, kamu ambil payung


di ruangan saya. Kalian paham kan yang saya maksut?"


"Paham, Bu. Terimakasih," jawab seisi kelas serempak.


"Saya jadi makin pengen jadi menantu ibu," ucap Abdul sambil tersenyum senang.


"Tapi saya tidak mau jadi mertua kamu," jawab bu Wati cepat, dan Abdul sukses mendapat sorakan dari teman-temannya.


Seisi kelas bergegas menuju lapangan.


Gema berdiri dibelakang Irene, agar bisa menjadi sandaran untuk Irene. Zulfa memberikan payung pada Asel, dan Asel yang memayungi Irene.


Abdul bertugas mengipasi Irene dengan kardus susu balita, entah dari mana ia dapat. Hasan memberikan minuman pada Irene.


Rama memijat badan Irene, Zulfa menyuapi Irene roti. Teman-temannya yang lain juga membawa payung dan jaket untuk saling memayungi.


Mereka memperlakukan Irene bak ratu. Irene tersenyum, dan air mata menetes di pipinya. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.


Bahagia karena dikelilingi orang-orang yang baik dan menyayanginya.


"Jangan lupa buang sampahnya di tempat sampah," teriak bu Wati dari luar pintu kantor ruang guru. "Jangan mengotori lapangan. Kasihan Mang Ujang bersihinnya."


"Siap, Bu," jawab mereka bersamaan.


Bu wati tersenyum melihat kesolidaritasan mereka.


"Bukannya kelas mereka masih pelajaran ibu?" tanya Ardi selaku guru olahraga sekaligus wali kelas 11 IPS 1.


"Ibu menghukum Irene?"


"Iya, Pak. Irene tidur waktu jam pelajaran saya. Semalaman ia harus menjaga ibunya di rumah sakit, sehingga ia mengantuk di sekolah. Tapi, peraturan harus tetap ditegakkan, kan Pak?"


Ardi menganggukkan kepalanya.


"Peraturan sekolah harus tetap ditegakkan biar moral anak didik kita tidak keblinger. Moral mereka adalah tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik. Jangan sampai mereka lulus dari sekolah ini dengan mental yang bobrok. Jika


mereka sukses dan menjadi orang yang berguna bagi bangsa, kita pasti juga akan merasa bangga."


"Apa itu bisa disebut sebagai hukuman, Bu?" tanya Ardi sambil menunjuk ke arah lapangan. Ia terkekeh melihat anak walinya berkerumun di lapangan dengan posisi saling melindungi satu dengan yang lainnya.


"Saya hanya menghukum Irene berdiri di lapangan. Saya tidak melarang jika ada yang menemaninya, memayunginya, ataupun memberinya minum. Jadi itu sah-sah saja, tidak melanggar peraturan."


"Hahahaha, terimakasih, Bu. Saya harus belajar banyak dari anda dan guru-guru yang lain di SMA Garindra ini."


"Ingat, Pak. Kita ini adalah wali mereka, pengganti orang tua mereka jika di sekolah. Jadi, kita juga harus bersikap selayaknya orang tua yang membimbingnya dengan rasa kasih. Bukan menghakiminya dan memaksa mereka untuk paham dengan apa yang kita ajarkan. Lihatlah ...," Bu Wati menunjuk ke arah lapangan. "Mereka tumbuh menjadi anak yang berprestasi, baik, bertanggung jawab, dan yang paling penting ... mereka saling peduli dengan sesamanya."


Ardi kembali tersenyum, lagi-lagi ia dibuat terpukau oleh apa yang dikatakan seniornya itu. Ia jadi semakin mencintai profesinya itu.


"Assalamu'alaikum," salam sebuah suara yang tidak lain adalah seorang gadis yang dulu pernah mengenyam pendidikkan di sekolah ini. Yap, dia adalah Valerie Livia Laksmono.


"Wa'alaikumsallam," jawab Bu Wati dan Ardi secara bersamaan.


"Valerie," ucap Bu Wati, wajah wanita paruh baya itu berseri senang melihat mantan anak didik kebanggaannya itu.


"Bu Wati, Eri kangen," ucap Valerie, gadis itu memeluk orang yang telah berjasa dalam hidupnya. Orang yang telah memberikannya pendidikkan, sehingga ia bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.

__ADS_1


Bu Wati menyambut pelukan Valerie, ditepuk-tepuknya punggung sang mantan murid. Rindu itu juga ia rasakan pada gadis ceria yang dulu selalu memberikan warna untuk SMA Garindra. Gadis tangguh yang selalu menjadi garda terdepan jika SMA Garindra ada dalam masalah.


"Ibu juga kangen sama kamu, Er. Waktu reuni itu ibu tidak bisa hadir, karena bertepatan dengan ibu yang pulang kampung. Kamu tambah cantik aja sekarang." Bu Wati mengusap rambut panjang Valerie yang terurai. "Elang gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, Elang sehat, Bu. Sekarang dia lagi sibuk sama perusahaannya, dibantu Bagus juga, Bu."


"Elang?" tanya Cakrawala dalam hati, dahi pria itu berkerut seperti sedang berpikir.


"Hahaha, ibu juga kangen sama temen kamu yang agak gak bener itu," ucap Bu Wati, membuat Valerie terbahak.


"Kalau Bagus mah bukannya agak gak bener, Bu. Dia beneran gak bener, hahahaha."


"Ish, kamu gak berubag, Er. Sukanya gibahin Bagus," ucap Bu Wati sambil memukul pelan lengan Valerie.


"Ibu juga gak berubah, selalu seneng kalau saya ajak gibahin Bagus. Iya, kan?" Valerie mengedipkan sebelah matanya.


"Betul," jawab Bu Wati cepat tanpa banyak berpikir.


"Eh, ada Pak Ardi," ucap Valerie, ia mengangkat tangannya menyapa Ardi.


"Panggil Ardi aja, saya terlihat tua kalau kamu panggil pak," jawab Ardi sambil terkekeh.


"Siap," sahut Valerie, gadis itu memberikan sikap hormat, membuat Ardi kembali terkekeh. "Bu, tuh para tuyul kenapa berjemur di lapangan?"


"Irene ibu hukum karena tidur di kelas, mereka semua sudah selesai belajarnya. Jadi, ibu perbolehin buat nemenin Irene."


Valerie menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Eri boleh nyamperin mereka gak, Bu? Sekalian mau ngasih kue ke mereka." Valerie menunjukkan paper bag yang berisi kue buatannya.


"Tentu boleh, Valerie. Silahkan," sahut Bu Wati mengijinkan Valerie.


"Terimakasih Bu," ucap Valerie, kemudian ia berlari menghampiri para juniornya di lapangan. "Woe, koloni tuyul, udah kayak di pantai aja pakai berjemur!"


"Kak Eri," seru Gema dan yang lain secara bersamaan.


"Gue bawa kue sama minuman, nih," ucap Valerie sambil menunjukkan paperbag yang dibawanya.


Wajah mereka langsung sumringah, seperti mendapat oase di padang gurun.


"Wah, Kak Eri emang penyelamat," ucap Gema, pemuda itu membongkar isi paperbag Valerie dan membagikan ke teman-temannya.


"Tau aja kalau kami lagi lapar dan haus," celetuk Abdul sambil cengengesan.


"Tahu lah, gue kan sakti," sahut Valerie sambil menepuk dadanya.


"Sini, Kak. Gue bantu nepuk dadanya," tawar Hasan yang langsung mendapat tatapan maut dari Valerie.


"Sini, gue duluan yang nepuk leher elo pakai katana," sahut Valerie sambil tersenyum miring, membuat Hasan mengangkat kedua jarinya, mengajak damai.


Setelah selesai oleh urusan Gema dan yang lainnya. Cakrawala mengantar Valerie kembali ke panti asuhan Rajawali.


"Makasih, Kra," ucap Valerie, gadis itu membuka pintu mobil dan keluar dari sana


"Eri," panggil Cakrawala, pria itu tidak turun dari mobilnya. "Elo kenal sama Elang Rayan Garindra?"


Valerie menganggukkan kepalanya. "Kenal, dia sahabat gue dari kecil. Dari orok kami bareng-bareng. Bahkan rumahnya di seberang rumah gue."


Penuturan Valerie membuat tubuh Cakrawala menegang, raut wajahnya berubah.


"Kenapa? Kamu kenal Elang juga?"


"Oh, enggak," sahut Cakrwala, "gue balik dulu."

__ADS_1


Cakrawala langsung mengendarai mobilnya keluar dari panti. Meninggalkan Valerie dengan dahi berkerut karena bingung dengan perubahan sikap Cakrawala yang tiba-tiba.


"Kenapa elo? Kenapa harus elo orangnya?" Cakrawala mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat. "Kalau begini, apa yang harus gue lakuin. Bagaimana gue bisa nyakitin elo, Er ... tapi demi membalaskan rasa sakit hati Felicia, gue harus nyakitin elo, Er. Gue harus nyakitin elo, agar Elang menderita,"


__ADS_2