
Jika ada kata yang melebihi kata sempurna, itu adalah dia ... wanita terhebat yang pernah aku temui.
***
Sudah lebih dari sepuluh menit Cakrawala duduk di lantai yang beralaskan karpet sambil memandang gadis cantik yang sedang tidur di ranjangnya. Tangannya terulur, merapikan rambut Valerie yang menutupi wajah cantiknya. Digenggamnya sebelah tangan Valerie, dan dikecupnya punggung tangan gadis itu yang berbalut perban.
"Maaf," ucap Cakrawala. Ia menatap sekujur tubuh Valerie yang terdapat banyak luka. "Aku tidak menyangka jika akan separah ini jadinya. Lihat saja, setelah ini anak buah bodohku itu akan habis di tanganku.
Kembali ia menatap wajah Valerie yang masih betah dengan alam mimpinya. Wajah seorang gadis yang baru saja dikenalnya, tapi sudah mampu mencuri perhatiannya.
"Eri, kenapa harus elo yang jadi sasaran gue, kenapa harus elo yang menjadi penyebab meninggalnya sahabat gue. Sekalipun sosok itu memang elo, kenapa Tuhan mengatur pertemuan kita dengan begitu manis. Seorang gadis ceria yang peduli pada sesama. Seorang gadis yang memiliki hati yang tulus, dan seorang gadis yang telah mencuri hati gue. Baru kali ini gue ngerasain perasaan yang seperti ini, dan perasaan ini malah tertuju pada orang yang seharusnya gue hancurkan. Eri ... gue bingung, gak tahu harus berbuat apa." Cakrawala mengusap wajahnya dengan kasar, merasa frustasi dengan keadaan yang ia hadapi.
"Egh," erang Valerie, gadis itu mulai terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia melihat sosok pria yang ada di hadapannya. Bahkan, ia sampai mengusap matanya, mengira ia salah lihat. "Cakra," panggil Valerie dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Iya, Eri," sahut Cakrawala sambil tersenyum.
Valerie menapakkan tangannya sebagai tumpuan agar bisa terbangun, tapi ia malah merasakan sakit di telapak tangannya yang baru saja terkena pecahan gelas.
"Argh," jerit Valerie tertahan, darah kembali merembes dari perbannya itu.
Dengan sigap Cakrawala menopang tubuh Valerie dan membantu gadis itu untuk duduk bersandar di kepala ranjangnya. Setelahnya ia meraih kotak obat yang berada di atas nakas, ia mengambil obat dan perban. Dengan telaten ia mengobati luka Valerie yang kembali terbuka.
Cakrawala mengumpat dalam hatinya, ia tahu jelas jika luka itu adalah luka senjata tajam. Ia tidak menyangka jika anak buahnya itu berani menggunakan senjata tajam pada Valerie.
"Apa orang-orang itu menggunakan senjata tajam saat menyerangmu?" tanya Cakrawala, wajahnya terlihat serius.
"Enggak," sahut Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Luka ini baru gue dapatkan tadi pagi, gue terjatuh sewaktu ingin meraih gelas yang ada di atas nakas, dan telapak tangan gue tergores pecahan gelas itu."
"Kenapa elo gak minta tolong keluarga lo?"
"Gue gak mau nyusahin keluarga gue, Kra. Gue berasa gak guna, gue udah sering nyusahin mereka. Gue udah bikin malu mereka karena acara pernikahan gue yang batal, sekarang gue malah terbaring begini, gue ngerasa jadi beban," ucap Valerie sambil tersenyum, tapi jelas terlihat jika senyum itu adalah senyum yang dipaksakan.
Cakrawala terdiam, ia tidak menyangka jika efek dari perbuatannya akan berimbas sebegitu besar dalam hidup Valerie. Valerie adalah gadis yang kuat, makanya ia bisa tetap bertahan. Jika hal itu terjadi dengan perempuan lain, belum tentu mereka bisa sekuat Valerie.
"Seharusnya hari ini waktu kunjungan gue ke panti asuhan. Gue sudah berjanji untuk meluangkan waktu gue seharian ini buat mereka. Tapi semuanya gagal, karena keluarga gue gak ngijinin gue keluar rumah dulu." Valerie tertunduk lesu.
"Keluarga lo ngelarang buat keluar rumah, tapi mereka gak mungkin ngelarang jika anak-anak panti yang berkunjung ke sini, kan ...," ucap Cakrawala sembari tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, kamar Valerie ramai dengan anak-anak panti yang menjenguknya. Setelah mendapat ijin dari sang kepala keluarga, Cakrawala langsung pergi ke panti asuhan Rajawali untuk menjemput beberapa anak.
Valerie langsung berteriak senang begitu melihat anak-anak asuhnya berada di sana. Gadis itu hendak menjejakkan kakinya di lantai, tapi ancaman dari Laksmono berhasil menghentikan langkahnya.
"Kalau gak bisa diem, ayah bakalan ngelarang kamu buat keluar kamar selama sebulan," ucap Laksmono yang lebih terdengar seperti ancaman. Dan hal itu ampuh membuat Valerie langsung terdiam.
Hal itu membuat Cakrawala tersenyum, ternyata yang bisa mengendalikan gadis keras kepala seperti Valerie hanya sang ayah.
"Kak Eri, tadi di sekolah Ceci mendapat tugas menggambar pahlawan Indonesia. Ceci gambar ini," ucap Cecilia sembari memberikan kertas gambarnya pada Valerie.
Kertas itu berisi gambar seorang perempuan berambut panjang yang mempunyai sayap di punggungnya. Di tengah baju perempuan itu bertuliskan nama Valerie.
"Kenapa ada tulisan nama Kak Valerie?" tanya Valerie pada Cecilia.
"Karena Kak Eri itu pahlawannya Ceci," sahut Cecilia dengan semangat empat puluh lima. "Seandainya Kak Eri gak ngambll Ceci dari ayah, pasti sekarang Ceci gak sekolah dan disuruh ngamen di jalan."
Mendengar hal itu, mata Valerie menjadi berkaca-kaca. Ia meraih tubuh mungil Cecilia dalam pelukannya.
"Tapi Ceci sebel, masa Ceci disuruh gambar lagi. Kata guru Ceci, Kak Eri itu bukan nama pahlawan Indonesia," ucap gadis mungil itu sambil memanyunkan bibirnya. "Emang Kak Eri bukan berasal dari Indonesia, ya?"
"Ya dari Indonesia lah, Ceci," sahut Valerie, "tapi ... yang dimaksutnya gurunya Ceci itu pahlawan Indonesia. Pahlawan yang bertempur demi membela kemerdekaan Indonesia."
"Tapi tetap saja Kak Eri itu bukan pahlawan Indonesia, Ceci. Nama Kak Eri gak ada di buku sejarah Indonesia." Valerie mencoba menjelaskan kepada Cecilia.
"Ya udah, besok Ceci bakalan minta bu guru buat masukin nama Kak Eri dalam buku sejarah."
Valerie hanya melongo mendengar penuturan anak asuhnya itu. Hal itu membuat Cakrawala menjadi terbahak, ia merasa senang karena bisa melihat Valerie yang mati kutu.
***
Kamar Valerie kembali menjadi sepi setelah anak-anak asuhnya pulang ke panti asuhan. Sekarang ia sedang menikmati angin sore di balkon kamarnya. Cakrawala yang membantu memapah Valerie hingga sampai di balkon kamarnya.
"Eri, gue mau tanya sesuatu tentang anak asuh elo boleh?" tanya Cakrawala yang membuat pandangan Valerie yang tertuju pada langit sore teralih padanya.
"Boleh, asal jangan bilang kalau elo suka sama salah satu anak asuh dia, gue gak mau punya menantu setua elo."
"Mulut lo minta diselepet emang," gerutu Cakrawala yang membuat Valerie terkekeh. "Gimana ceritanya Ceci bisa jadi anak asuh lo? Soalnya dari yang tadi gue dengar, Ceci itu masih punya seorang ayah."
__ADS_1
Valerie terdiam sejenak, ia kembali menatap langit. Mata menerawang mengingat kejadian saat pertama kali ia bertemu dengan Cecilia.
"Ceci memang masih memiliki seorang ayah, tapi ayahnya itu tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Bahkan ayahnya itu sering memanfaatkan Ceci hanya untuk kepentingannya sendiri. Gue ketemu dengan Ceci sekitar dua bulan yang lalu di taman kota. Saat itu ia sedang berteduh di bawah pohon sambil menghitung uang dari hasilnya mengamen. Gue hendak menghampirinya tapi langkah gue terhenti ketika ada seorang pria dewasa yang lebih dulu menghampirinya ...."
Flash back on
"Udah dapat berapa kamu!" seru pria itu sambil menatap tajam pada Cecilia.
"Jangan diambil semua, Yah. Sisain buat Ceci makan, Ceci lapar," mohon gadis kecil itu pada sosok pria yang ia panggil ayah itu. Ia menyembunyikan kantong uang di balik badan mungilnya.
"Sudah berani melawan kamu!" bentak sang ayah sambil merebut kasar kantong uang itu, hingga tubuh gadis mungil itu terjatuh. Setelah mengambil semua uang yang ada di kantong itu, ia melemparkannya kembali ke arah Cecilia. "Kalau kamu mau makan, cari uang yang lebih banyak!"
Valerie yang sudah geram dengan perlakuan kasar pria itu, langsung melangkahkan kaki untuk menghampirinya.
"Lelaki macam apa yang tega berlaku kasar pada anaknya sendiri," ucap Valerie, "Bahkan seorang banci aja masih bisa berlaku baik pada anak kecil. So, elo lebih rendah dari banci."
"Siapa lo berani ikut campur urusan gue!" bentak pria itu pada Valerie.
"Saya siapa itu gak penting, yang penting sekarang kamu balikin uang yang kamu rampas dari anak kamu sendiri. Kamu itu ayahnya, kamu yang harusnya bertanggung jawab bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Bukannya malah mengeksploitasi anak sendiri demi kepentingan kamu." Valerie berucap santai tapi dengan nada tajam.
"Banyak bacot!" umpat pria itu, ia hendak memukul Valerie ... tapi dengan sigap Valerie menangkap tangan pria itu dan memelintirnya. "Awh, lepaskan!"
"Lepasin sendiri kalau bisa," sahut Valerie, ia semakin mengencangkan pelintirannya. "Kamu beraninya cuma anak kecil!" Valerie mendorong tubuh pria itu hingga jatuh tersungkur. Ia melangkah menghampiri anak kecil yang terlihat ketakutan itu. "Adik manis, nama kamu siapa?"
"Ceci, Kak," sahut gadis kecil itu.
"Ceci, kenalin nama kakak ... Eri," ucap Valerie sambil mengulurkan tangannya. "Ceci mau ikut Kak Eri pulang gak? Di sana nanti ada banyak teman yang seusia kamu. Nanti Ceci bisa sekolah juga."
"Jangan seenaknya mau membawa anakku! Aku ayahnya, aku yang berhak atas dia!"
"Hak kamu bilang?" Valerie terkekeh, ia melangkah mendekat ke arah pria itu. "Setelah apa yang kamu lakukan terhadap Ceci, kamu masih berani berbicara tentang hak seorang ayah? Kewajiban aja gak pernah kamu laksanakan, berani-beraninya minta hak. Berikan hak asuh Ceci kepada saya, kalau tidak ... saya akan membawa hal ini ke rana hukum. Dan melihat apa yang telah kamu lakukan selama ini kepada Ceci, saya yakin kalau kamu akan masuk ke sel penjara."
Flash back off
"Setelah itu, dia menyerahkan hak asuh Ceci ke gue," ucap Valerie mengakhiri ceritanya.
"Elo gak takut kalau ayahnya Ceci bakal bikin perhitungan sama lo?"
__ADS_1
"Takut?" Valerie terkekeh, "hal seperti ini udah biasa buat gue, Kra. Bahaya dan luka udah merupakan hal biasa buat gue, seperti luka ini." Valerie memperlihatkan luka-luka di tangan, kaki dan wajahnya.
"Iya ... dan luka itu ada karena gue yang buat," batin Cakrawala sambil tersenyum getir.