
"Apa kamu benar-benar serius dengan keputusan kamu, Lang?" tanya Jelita pada sang putra.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sedang mengobati luka-luka di wajah dan tubuh anaknya. Luka yang disebabkan oleh Garindra dan sahabat-sahabat putranya.
Setelah Laksmono keluar rumah untuk menjemput Valerie, Garindra mengajak Elang pulang ke rumah dan menghajarnya habis-habisan. Garindra sangat kecewa dengan sikap putra semata wayangnya itu. Ia tahu jika Elang sangat mencintai Valerie, tapi entah mengapa putranya itu malah mengambil langkah yang salah.
Garindra sudah berusaha berbicara baik-baik pada Elang, tapi pria itu masih keras kepala. Selang beberapa waktu, sahabat-sahabatnya datang menyambanginya, mereka berencana untuk keluar bersama. Namun, keputusan Elang yang membatalkan rencana pernikahannya dengan Valerie membuat sahabat-sahabatnya murka.
Bagus yang sudah mengetahui hal itu hanya bisa terdiam. Pria itu berharap jika Elang tidak serius dengan ucapannya kemarin, tapi sahabatnya itu benar-benar sudah mengambil keputusan. Mereka meluapkan rasa kesalnya dengan menghajar Elang, bahkan Bryan hampir menguasai tubuh Braga karena pria itu diliputi emosi. Elang hanya terdiam menerima pukulan demi pukulan tanpa membalas. Ia tidak akan melawan, karena dalam hal ini memang ia yang bersalah.
"Berapa kalipun mamah bertanya, jawaban Elang akan tetap sama," sahut Elang.
"Kenapa kamu melakukan hal ini? Bukankah buat kamu, Valerie itu yang terpenting."
"Mah, Elang mau sendiri dulu," ucap Elang. Pria itu membaringkan tubuh di ranjangnya, dengan posisi membelakangi Jelita.
"Pikirkan kembali keputusanmu itu, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari. Eri memang berhati lapang, tapi tidak seterusnya ia akan memberikanmu kesempatan yang sama lagi." Jelita melangkahkan kaki keluar dari kamar Elang.
Setelah kepergian sang ibu, runtuh sudah pertahanannya, luruh sudah air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan. Ia memukulkan tangan ke tembok, hingga kembali menambah lukanya. Pria itu tidak peduli dengan banyaknya luka yang ia dapatkan, menurutnya luka-luka itu belum sepadan dengan luka yang ia torehkan di hati Valerie.
"Maaf ... maaf, Eri. Maafkan keputusanku, aku sendiri tidak tahu apakah keputusan yang aku ambil ini merupakan keputusan yang benar. Tapi aku benar-benar belum bisa hidup denganmu sekarang. Aku tidak bisa memasukkanmu ke dalam kehidupanku yang masih kacau."
***
"Kenapa kalian semua ngumpul di sini?" tanya Valerie pada teman-temannya yang berada di rumahnya.
Begitu sampai di rumah, Valerie dikejutkan dengan kedatangan teman-temannya. Entah apa maksut kedatangan mereka, mungkin mereka sudah tahu tentang hubungan Elang dan Valerie yang telah kandas.
"Eri," lirih Valero, pria itu bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekati Valerie. Valero hendak membuka suara lagi, tapi Valerie terlebih dahulu menghentikannya.
"Dari raut wajah kalian, pasti kalian sudah tahu tentang hubungan gue dan Elang. Gue harap, jangan ada yang ngasihani gue, gue paling gak suka dikasihani," ketus Valerie. Emosi gadis itu belum stabil, ia merasa jika semua orang menatapnya dengan pandangan iba.
Mungkin itu merupakan hal yang wajar, bagaimana tidak? Gadis itu sudah dua kali hampir menikah, dan dua kali juga gagal. Dulu, rencana pernikahannya gagal karena calon suaminya yang meninggal beberapa hari sebelum acara pernikahan mereka. Yang sekarang, calon suaminya membatalkan rencana pernikahan mereka saat satu bulan lagi acara mereka itu akan diselenggarakan.
Bukannya tersinggung, teman-teman Valerie malah merasa sedih, merasakan kesedihan yang juga gadis itu rasakan. Valero terdiam mendengar perkataan Valerie, pria itu menunduk. Valerie juga ikut terdiam, menyesali perkataannya. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu, tidak seharusnya ia meluapkan kekecewaannya pada sahabat-sahabatnya yang sama sekali tidak terlibat.
"Maaf," ucap Valerie penuh sesal. "Gue rasa gue butuh sendiri." Setelah mengatakan hal itu, Valerie melangkahkan kaki hendak menaiki tangga rumahnya. Namun, Valero memegang pergelangan tangan gadis itu.
"Gak akan pernah kami biarkan elo sendirian," ucap Valero.
"Sudah gue bilang, gue gak mau dikasihani," sahut Valerie.
"Kami bukan kasihan sama lo, tapi kami peduli," ucap Valero lagi. "Selama ini elo selalu membuat kami tertawa, elo juga selalu ada buat kami. Jadi, bagaimana bisa kami ninggalin lo sendiri? Walau kami gak bisa ngurangin rasa sakit lo, paling tidak elo gak ngerasa sendiri."
"Terimakasih," ucap Valerie, gadis itu tersenyum tulus. "Gus, elo udah tahu keputusan Elang sebelum dia bilang ke gue, kan? Makanya kemarin tiba-tiba elo meluk gue."
"Maaf, Er. Gue gak bisa ngerubah keputusannya Elang," ujar Bagus.
"Elo gak perlu minta maaf, Gus. Gue kan pernah bilang, kalau perasaan gue ke Elang itu tulus, bukan obsesi. Insyaallah, gue akan tetap bahagia jika dia bahagia, walau bukan gue alasan kebahagiaannya."
"Elo sedih?" tanya Gandi.
"Iya," jawab Valerie sambil menganggukkan kepala. "Kalau gue jawab gue gak sedih, gue baik-baik aja, berarti gue munafik. Gue bener-bener sayang sama Elang, Gan." Satu tetes bening jatuh dari netra indah Valerie, tapi gadis itu langsung menghapusnya lagi. "Gan, tolong sampaiin maaf gue ke Firsa, lagi-lagi gue nyusahin dia. Udah dua kali gue batalin acara yang dipegangnya, tapi untuk urusan undangan atau makanan yang udah terlanjur dipesan ... gue akan ganti rugi, kok."
"Elo gak usah mikirin itu," jawab Gandi, pria tampan itu mengusap lembut rambut Valerie. "Biar Firsa yang ngatur semua. Elo udah banyak bantu kami, jadi jangan pernah merasa kalau elo nyusahin kami."
__ADS_1
"Terimakasih."
"Sama-sama, Eri," sahut Gandi, pria itu menyentil hidung bangir sahabatnya.
"Pasti kalian semua udah bonyokin Elang, ya," celetuk Valerie. Teman-temannya pada kompak nyengir berjamaah. "Ish, kalian gak boleh gitu."
"Om Indra noh yang paling banyak bikin bonyok, kita-kita cuma tinggal sisanya doang," sahut Braga sambil manyun.
"Bryan muncul ke permukaan?"
"Hampir," jawab Braga sambil terkekeh, membuat Valerie berdecak.
"Gue ke rumah Elang dulu, ya. Ada yang harus gue omongin sama dia. Kalau kalian nunggu kelamaan, kalian pulang duluan gak apa-apa."
"Ngusir alus, Lo," nyiyir Bagus.
"Itu paham," ucap Valerie sambil terkekeh. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju rumah Elang.
Begitu sampai di rumah Elang, ia membuka pintu. Sudah berasa seperti rumah sendiri, keluar masuk gak permisi, hahahaha. Di ruang keluarga, ia bertemu dengan Garindra dan Jelita.
"Eri," panggil Jelita begitu melihat putri dari sahabat suaminya itu. Garindra yang duduk membelakangi pintu masuk, menengok ke arah kedatangan Valerie.
"Eri," beo Garindra, ia memperhatikan wajah Valerie yang tidak kalah kusut dari putranya. Mata gadis itu sembab dan pipinya merah, pasti gadis itu baru saja selesai menangis.
"Pah, mah ... Elangnya ada?" tanya gadis itu sambil tersenyum manis.
"Elang ada di kamarnya, Sayang," sahut Jaleita.
"Eri boleh ke kamara Elang? Ada yang mau Eri omongan sama Elang?"
"Terimakasih," ucap Valerie, gadis itu melangkahkan kaki menuju blantai dua, di mana kamar Elang berada.
Begitu sampai di depan pintu kamar Elang, Valerie memberhentikan langkahnya sejenak, gadis itu mengambil napas panjang. Ia mempersiapkan mental, ia bertekad untuk tidak menangis lagi. Orang-orang di sekitarnya mengira bahwa ia adalah gadis yang kuat, padahal tanpa orang-orang itu tahu bahwa sebenarnya gadis itu adalah gadis yang cengeng dan mudah terharu. Begitu hati dan perasaannya sudah siap, ia mengetuk pintu kamar Elang. Sunyi, tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Elang, ini aku Eri. Boleh aku masuk? Ada yang mau aku bicarakan."
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu, setelah itu pintu di buka dari dalam. Terlihat Elang berdiri di hadapannya dengan keadaan yang tidak kalah mengenaskan dari dirinya. Bahkan, wajah dan tubuh pria itu sudah penuh dengan lebam.
"Boleh aku masuk?" tanya Valerie.
Elang mengangguk, begitu Valerie masuk, Elang mengikutinya dengan tetap membiarkan pintu tetap terbuka. Hal yang selalu ia lakukan jika Valerie main ke kamarnya.
"Luka kamu udah diobati?" tanya Valerie. Gadis itu duduk di karpet kamar Elang, sedang Elang duduk di sofa.
"Udah diobatin mamah," jawab Elang singkat.
"Bagus, deh." Valerie mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mata Elang membola melihat dahi Valerie yang terluka. Saat berjalan di makam tadi, ia tidak fokus hingga dahinya tergores ranting pohon. Ia pun tidak menyadari jika dahinya terluka.
"Dahi kamu kenapa?"
"Hah?" Valerie meraba dahinya, begitu jarinya menyentuh luka goresan, ia meringis karena terasa perih. Entah kenapa dari tadi ia tidak menyadarinya.
Elang mengerutkan dahinya, ia juga seperti merasakan sakit yang Valerie rasakan. Pria itu bangkit dari sofa, ia melangkahkan kaki menuju nakasnya, ia membuka laci dan mengambil kotak P3K dari sana.
__ADS_1
"Aku obatin luka kamu," ucap Elang sembari membuka kotak P3K itu.
"Gak usah, Lang. Nanti biar aku obatin sendiri di rumah, lagian gak sakit kok," tolak Valerie. Tapi Elang tetaplah Elang yang selalu ngeyel dan melakukan apa yang ingin ia lakukan.
"Gak sakit kok meringis gitu."
"Siapa bilang aku meringis? Aku senyum kok, wlek." Valerie menjulurkan lidahnya.
Dengan gemas Elang menyentil dahi Valerie yang tergores, membuat gadis itu meringis lagi karena perih yang dirasakannya. Hal itu membuat Elang terbahak, pria itu mengusap dahi Valerie yang disentilnya, setelah itu ia mengecupnya.
Hal itu membuat tubuh Valerie membeku, begitupun dengan Elang. Pria itu langsung terdiam, ia baru menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Maaf, aku gak bermaksut," ucap Elang, suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi canggung.
Valerie menganggukkan kepalanya. Gadis itu terdiam, sementara Elang mengobati luka didahinya dan memberikan plester pada luka itu.
"Luka kamu lebih banyak, Lang," ucap Valerie sembari jari-jari lentiknya menyentuh luka yang ada di wajah pria itu.
Elang mendongakkan kepalanya, sesaat pandangan mereka bertemu. Valerie tersenyum manis, hal itu membuat jantung Elang berdebar kencang. Rasa cintanya pada gadis itu semakin hari semakin dalam ia rasakan. Hingga hanya dengan melihat senyumanya, itu sudah bisa membuat debaran jantungnya tidak karuan.
"Kamu demam? Muka kamu merah." Valerie meletakkan punggung tangannya di dahi Elang.
"Enggak," jawab Elang, ia memegang tangan Valerie dan menjauhkan dari dahinya.
"Syukurlah, aku gak mau kalau kamu sampai sakit." ucapan Valerie itu membuat ia menelan ludah susah paya, bagaimana bisa gadis di hadapannya itu masih bisa menghawatirkan keadaannya, setelah rasa sakit yang ia torehkan berulang kali ... bahkan kali ini, luka itu tertoreh lebih dalam.
"Hal apa yang mau kamu bicarakan ke aku, hm?" tanya Elang setelah selesai mengobati luka Valerie.
"Tentang hubungan kita, kamu serius mau mengakhirinya?"
Elang sudah menduga jika hal itu yang akan dibicarakan oleh gadis yang sangat dicintainya itu. Ia menarik napasnya dalam-dalam.
"Iya," jawab Elang, "aku udah yakin dengan keputusanku."
"Apa gak ada jalan lain untuk masalah kita selain kata berpisah, Lang?"
Elang memejamkan matanya sesaat, jujur jika jauh di dalam lubuk hatinmya ia tidak menginginkan perpisahan itu. Tapi ia sudah memutuskan hal itu, dan tidak bisa dirubah lagi.
"Kamu sudah tidak mencintaiku?"
"Aku bahkan lebih mencintai dirimu daripada dengan diriku sendiri," jawab Elang.
"Demi perasaan cinta kamu itu, apakah kamu tidak bisa mempertimbangkan cara lain lagi?"
"Aku memilih meninggalkanmu karena aku mencintaimu."
"Dan kamu tidak memikirkan perasaanku seperti apa setelah kamu tinggalkan?" Lagi, air bening itu menetes lagi dari netra indah Valerie, padahal gadis itu sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis lagi. Tapi untuk urusan perasaan, siapa yang bisa menahannya?
"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Elang, setelahnya pria itu terdiam kembali. Ingin sekali ia meraih tubuh Valerie ke dalam pelukannya dan ingin ia hapus air mata gadis kesayangannya itu. Tapi ia sadar jika ia sudah tidak mempunyai hak untuk itu.
"Ya sudah, kalau itu udah menjadi keputusan kamu, aku menerimanya." Ucapan Valerie itu membuat Elang mendongak, ia menatap wajah ayu yang ada di hadapannya itu. "Bismillah, aku menerima keputusan kamu untuk membatalkan rencana pernikahan kita dan mengakhiri hubungan kita. Elang, aku harap kamu akan selalu bahagia dengan adanya aku atau tanpa hadirnya diriku."
Valerie mengulurkan tangannya di hadapan Elang, Elang menyambut uluran tangan itu.
"Elang Rayan Garindra, teruslah tersenyum ... sahabatku."
__ADS_1
Air mata Elang menetes, entah mengapa hatinya terluka mendengar Valerie menyebutnya hanya sebagai sahabat. Namun, ia sendirilah yang telah memilih jalan itu, dan ia harus menerima konsekuensinya sesakit apapun itu. Gadis tercintanya bukan lagi miliknya, itu konsekuensi dari keputusan yang telah ia ambil.