
"Gimana? Sudah dapat kabar?" tanya Laksmono pada teman-teman Valerie. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, Valerie belum juga kembali ke rumah.
"Belum, Om." Gaung menggelengkan kepala. "Tapi teman-teman tetap mencari di berbagai tempat."
"Ponsel adek gak aktif, Yah," ujar Bayu yang terlihat sibuk menghubungi sang adik.
"Maafin Elang, Om," mohon Elang, sudah mulai putus asa karena belum menemukan sosok gadis yang telah ia lukai hati dan fisiknya.
"Papah kecewa sama kamu, Lang," geram Garindra, "sejak kapan kamu kasar sama perempuan! Apalagi perempuan itu Eri, Lang, perempuan yang kamu jaga mati-matian selama ini."
"Maaf, Pah," mohon Elang, wajah dan badannya babak belur karena bogeman dari Bagus dan Garindra.
"Udah, Ndra ...," cegah Laksmono, "lebih baik kita cari Eri lagi. Kasihan Elang juga, udah babak belur begitu."
"Kalau Eri belum juga ketemu, kamu tidur di kebon, Lang. Biar habis darah kamu disedot nyamuk!" Garindra menatap sinis putra semata wayangnya.
Dari luar gerbang, berhenti sebuah taxi. Seorang gadis turun dari taxi itu.
"Eri," seru semuanya yang ada di sana. Tanpa membuang waktu, mereka menghampiri Valerie. Penampilan gadis itu bisa dibilang mengenaskan.Rambut berantakan, mata sembab, hidung merah.
"Ayah," Valerie memeluk Laksmono. "Eri mau tinggal sama oma
dan opa. Secepatnya ...."
***
"Er, elo gak bisa tinggalin kami gitu aja," ujar Gandi mengekori Valerie yang berjalan kesana-kemari mengemasi barang-barangnya.
"Gue mau menemani opa dan oma gue di sana, Gan," jawab Valerie sambil memasukkan baju-bajunya ke koper besarnya.
"Kalau elo gak mau tetap tinggal demi kami, paling enggak tetaplah tinggal untuk Arakata, Er." Bagus memegang pergelangan tangan Valerie, memberhentikan kegiatan gadis itu.
"Gue gak bisa Gus, maaf ...."
"Beberapa bulan lagi ujian kelulusan, Er. Bersabarlah sampai pengumuman kelulusan." Gaung ikut angkat bicara.
"Kalian bisa tinggalin gue sama Eri berdua?" pinta Elang, "ada yang mau gue omongin sama Eri."
"Kita tunggu di ruang tamu," jawab Gaung, menggiring kedua sahabatnya keluar dari kamar Valerie.
"Kalian langsung pulang aja, besok malam anter gue ke bandara." Bagus hendak menolak tapi disela Valerie. "Gue
__ADS_1
mohon."
Ketiga cowok itu mengangguk terpaksa.
"Er ...."
"Elo diem dulu di situ, Lang," ujar Valerie sambil keluar kamar, beberapa saat kemudian gadis itu kembali lagi dengan membawa kotak obat. "Gue obatin dulu luka lo." Valerie duduk di hadapan Elang. Gadis itu menuangkan obat merah di kapas dan mulai mengobati luka-luka Elang.
"Gue sayang sama elo, Er," ucap Elang, yang membuat Valerie menegang, tangannya yang sedang mengobati luka Elang berhenti seketika. Elang meraih tangan Valerie, dan menggenggamnya. "Gue cinta elo, Er." Elang mengusap ujungbibir Valerie yang terluka karena ulahnya.
Valerie tersenyum masam. "Elo gak perlu berbohong tentang perasaan lo, hanya untuk membuat gue tetap tinggal."
"Gue gak bohong Er, gue ...."
"Perasaan manusia gak mungkin berubah secepat ini, Lang," sela Valerie, "jadi gue mohon, hormati keputusan gue."
"Gue mohon Er, percaya sama gue," mohon Elang.
"Percaya?" Valerie tersenyum miring. "Bagaimana gue bisa percaya sama orang yang selalu ngeraguin gue. Gue ingetin, baru beberapa jam yang lalu elo nuduh gue, itu karena apa? Karena elo gak percaya sama gue, Lang. Dan dengan entengnya, elo minta gue buat percaya sama elo."
Perkataan Valerie membuat Elang diam seketika. Valerie benar, beberapa jam yang lalu, ia telah meragukan Valerie karena terbakar api cemburu. Dan sekarang, dengan tidak tahu dirinya ia meminta Valerie untuk mempercayainya.
"Elang, stop!" bentak Valerie, "mending sekarang elo pulang, istirahat. Besok malam ke sini, antar gue ke bandara."
"Gue bakalan tetap di sini, sampai elo berubah pikiran. Dan membatalkan kepindahan lo ke Korea."
"Keluar Lang, atau ...," Valerie menjeda perkataannya. "Gue gak bakal maafin elo." Ancam Valerie, membuat Elang diam seketika. Pemuda itu menyerah, dia melangkahkan kakinya gontai meninggalkan kamar Valerie. Valerie menutup pintu kamarnya setelah kepergian Elang.
"Maaf Lang, mungkin ini yang terbaik untuk kita," lirih Valerie. Gadis itu meraih figura di nakas sebelah ranjangnya, diusap foto itu dengan jari-jari lentiknya. "Maaf, gue pasti gak bakal tega ninggal kalian, kalau kalian ikut nganter kepergian gue."
***
Tepat pukul sepuluh pagi, sahabat-sahabat Valerie datang ke kediaman Laksmono. Mereka bersekutu untuk membujuk Valerie agar membatalkan penerbangannya malam ini.
"Assalamu'alaikum," salam mereka bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Laksmono dan putra-putranya yang sedang duduk di teras. Wajah mereka terlihat tidak bersemangat.
"Eri sudah bangun, Om?" tanya Elang mewakili sahabat-sahabatnya.
Semalam Elang menginap di rumah Gaung bersama Gandi dan Bagus. Elang mengatakan semua alasan perubahan sikapnya akhir-akhir ini. Bagus yang terlihat paling emosi setelah mendengar penjelasan Elang. Ternyata dugaannya tentang Amelia benar. Perempuan itu harus mendapatkan balasan atas ulahnya.
__ADS_1
"Eri sudah berangkat dengan penerbangan pertama," jawab Laksmono, membuat Elang dan yang lainnya menegang seketika. "Eri meminta sama om, agar tidak memberi tahu kalian. Dia juga mengganti nomor ponselnya. Dan sekali lagi maaf, om tidak diperbolehkan Eri untuk memberi tahu kalian nomor barunya. Eri berpesan kalau dia pasti akan kembali, karena Arakata adalah rumah keduanya. Tempat dia untuk selalu kembali.”
“Ini gara-gara lo, Lang! Gara-gara kebodohan lo!” teriak Bagus sambil memberikan bogem mentah pada Elang. “Demi cewek cabe, elo udah ngelukain hati Eri segitu parahnya. Eri cinta sama elo, Lang! Dia tulus sama elo, dan elo ngebalas ketulusannya dengan cara yang kejam! Bangsat!”
Bagus kembali menghajar Elang membabi buta. Hilang sudah kesabarannya selama ini menghadapi Elang. Valerie bagai saudara perempuan untuk Bagus, sebisa mungkin ia jaga mati-matian. Dan dengan entengnya, Elang telah menghancurkan hati gadis itu sehancur-hancurnya, hingga ia memilih untuk pergi.
Gaung yang dibantu abang-abangnya Valerie berusaha menarik tubuh Bagus yang menduduki badan Elang. Mereka merasa sangat kuwalahan, karena saat ini Bagus telah dikuasai emosinya, dan akal sehatnya telah hilang.
“Bagus, sabar ...,” ucap Laksmono berusaha menenangkan sahabat putrinya itu. Didekapnya tubuh kekar pemuda yang sudah ia anggap anak sendiri itu. “Jangan seperti ini, Eri gak akan suka.”
“Elang sudah keterlaluan, Om!” Bagus terisak dalam pelukan Laksmono. “Dia udah sakiti Eri, dia menyakiti Eri kita, Om. Eri gadis yang baik, dia gak pernah neko-neko atau menyakiti hati orang lain. Bagus gak terima kalau Eri
sampai mengalami hal seperti ini. Bagus udah anggap Eri sebagai saudara, Om. Bagus ... Bagus gak tega, Bagus juga merasakan sakit yang dirasakan Eri.”
Laksmono semakin mempererat pelukannya pada pemuda yang terlihat sangat hancur dan histeris itu. Air matanya pun ikut menetes dari kelopak yang mulai mengeriput itu.
“Om paham, Bagus. Om ngerti kalau kamu sayang sama Eri, Om juga menyayangi Eri ... kita semua juga menyayangi Eri. Om juga kecewa sama Elang.”
Elang menundukkan kepalanya, pemuda itu merasa sangat bersalah. Karena kesalahannya, semuanya menjadi berantakan. Badannya bergetar antara menahan sakit disekujur tubuhnya dan karena tangisannya.
“Tapi yang kamu hajar itu juga sahabat kamu, kan? Orang yang juga sudah kamu anggap saudara?” Bagus mengalihkan pandangannya menatap Elang, tubuh sahabatnya itu sudah tidak berdaya. Untuk bisa duduk pun harus bersandar pada tubuh Gandi. “Kamu tega menyakiti saudara kamu sendiri? Dia Elang, Gus. Orang yang selalu ada jika kamu sedang ada dalam bahaya, dia sahabat kamu yang rela membuat dirinya sendiri konyol demi membuatmu tersenyum. Dia masih Elang yang sama, ia hanya tersesat. Kita harus menuntunnya kembali ke jalan yang benar, bukan malah menghakiminya. Kita Arakata, Gus.”
Bagus melangkah mendekati Elang, badannya luruh ke lantai. Ditatapnya wajah sahabatnya yang sudah penuh dengan lebam. Air matanya semakin deras menetes. Benar apa yang dikatakan Laksmono, bagaimanapun pemuda di hadapannya itu adalah sahabat baiknya ... sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat yang rela membahayakan nyawanya hanya demi melindungi dirinya.
Bagus meraih badan lemah Elang dalam pelukannya.
“Maafin gue, Lang. Gu-gue kalap, gue jadi bodoh karena kemakan emosi. Maaf ....”
“Elo gak salah, Gus. Elo hanya berusaha melindungi Eri, gue yang seharusnya minta maaf. Elo udah berulang kali memperingatkan gue, kalau Lia itu bukan perempuan yang baik. Gue aja yang bebal, hingga sekarang Eri pergi ninggalin kita. Itu salah gue ....”
“Stop menyalahkan diri sendiri. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berubah menjadi orang yang lebih baik, agar suatu saat jika Eri kembali, ia akan merasa bangga pada kita.” Bagus tersenyum sambil mengusap jejak air
matanya.
Elang mengangguk, Bagus kembali memeluk tubuh sahabatnya itu. Gandi dan Gaung ikut bergabung dalam pelukan itu. Laksomono tersenyum memandang keempat pemuda di hadapannya itu. Ia merasa bahagia karena putrinya berada dalam lingkungan orang-orang yang menyayanginya.
“Bang, gue terharu ...,” ucap Gerry pada abang-abangnya. “Gue boleh peluk kalian, kan?”
“Enggak, jijik!” jawab ketiga kakaknya serempak. Membuat pemuda itu
memanyunkan bibirnya.
__ADS_1