
Beberapa hari setelah kepergian Valerie dari hidupnya, Elang Rayan Garindra mengurung dirinya di kamar. Yang pria itu lakukan hanya melamun sambil memandangi foto sang kekasih. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia penerbangan.
Jelita mengintip anaknya dari balik pintu yang ia buka sedikit, air matanya menetes. Lagi-lagi ia harus melihat sang putra kembali terpuruk karena kehilangan orang yang sama, seperti sepuluh tahun yang lalu. Yang bisa ia lakukan hanya memanjatkan doa, agar putra satu-satunya itu mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Garindra juga beberapa hari ini selalu menemani Laksmono di kediaman sahabatnya itu. Ia tahu sahabatnya yang terlihat tegar dari luar itu, sebenarnya sedang dalam kondisi yang buruk. Bagaimana tidak? Dalam waktu yang hampir bersamaan, ia harus kehilangan dua buah hati kebanggaannya. Jika itu terjadi padanya, ia pun pasti akan merasakan kesedihan yang sama.
Ketiga putra Laksmono dan keluarga kecilnya, termasuk Ceril memilih untuk tinggal di kediaman Laksmono. Mereka tidak mau jika sang ayah harus menghadapi kesedihan seorang diri. Walau kesedihan itu tetap ada, tapi paling tidak mereka bisa saling membagi perasaan itu.
Lana, putri sulung almarhum Bayu berubah menjadi sosok yang pendiam. Gadis yang biasanya ceria dan berpikir dewasa itu mengalami trauma. Setelah kehilangan sang ayah, ia harus kehilangan tante yang ia sayangi saat sedang bersamanya.
Lana selalu menyalahkan dirinya, karena tidak bisa berbuat apa-apa saat kejadian naas itu terjadi. Pemikiran itu yang kemudian membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. Gadis itu masih menjaga adik-adiknya seperti biasa, tapi sikapnya tidak seceria dulu. Ia memilih tidur di kamar Valerie, agar ia tidak kehilangan kenangan wanita tangguh itu.
"Tante, papi ... lihat, Lana dapat nilai seratus lagi," ucap gadis kecil itu sambil memandangi figura foto Bayu bersama Valerie. "Lana janji, akan menjadi orang yang hebat di kemudian hari. Lana akan menjadi orang yang kuat seperti papi dan tante. Lana juga akan meneruskan jalan kalian untuk menyantuni dan melindungi anak-anak yatim dan yang membutuhkan. Tapi, sekarang Lana juga seorang yatim, kan?" Satu tetes bening mengalir dari matanya indahnya yang sembab.
Hal itu tidak luput dari perhatian Pratama, Reyhan, dan Gerry. Tiga pria tampan milik Laksmono itu berdiri di pintu kamar adiknya itu. Mereka saling berpandangan, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Valerie.
"Lana," panggil Reyhan.
"Keponakan om kenapa nangis?" tanya Gerry, pria itu mengusap air mata yang mengalir tanpa henti yang membuat mata mungil keponakannya itu menjadi bengkak.
Gadis itu hanya menunduk, kemuadian ia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Gerry.
"Cerita sama om, apa yang bikin keponakan om yang kuat ini jadi cengeng?" Pratama berlutut di lantai, mensejajarkan tingginya dengan Lana.
__ADS_1
Lana mengangkat wajahnya, ia memandang satu persatu adik ayahnya itu. Kembali gadis itu menitikkan air matanya.
"Sekarang tinggal tiga," lirih gadis itu, yang membuat dahi ketiga pamannya berkerut bingung.
"Apa yang tinggal tiga, Sayang?" tanya Pratama kembali.
"Orang-orang tangguh yang selalu jaga Lana hilang dua, sekarang tinggal tiga ... Om Tama, Om Rey, sama Om Gerry. Papi sama Tante Eri udah gak ada." Kembali gadis itu menunduk, bahunya bergetar, tanda ia menangis. "Andai saat itu, Lana bisa mencegah Tante Eri buat pergi, pasti hingga sekarang Tante Eri masih ada bersama kita. Seharusnya saat itu Lana gak cuma ngumpet, Lana gak berguna."
"Stt, Lana gak boleh ngomong gitu, Sayang," ucap Gerry, pria itu duduk di sebelah Lana. "Lana gak boleh nyalahin diri sendiri. Ini sudah ketentuan dari takdir Allah, kalau Lana berpikir begitu, berarti Lana menentang takdir yang sudah ditentukan sama Allah."
"Lana masih punya kami, kami akan menggantikan tugas Bang Bayu dan Eri untuk menjaga Lana sama adik-adik yang lain," ucap Reyhan.
Lana mengangguk, sebuah senyuman terbit dari wajah ayunya. "Om, entah mengapa Lana merasa kalau Tante Eri belum meninggal."
"Itu juga yang kami harapkan," ucap Pratama yang mendapat anggukkan dari Reyhan dan Pratama.
***
Valerie melangkahkan kakinya mengelilingi kamar yang beberapa hari ini ia tempati. Kamar bernuansa warna hitam itu hanya terpajang satu buah figura foto sang empunya. Gadis itu berdiri di depan figura foto yang besar itu, ia memandang sang pemilik wajah. Wajah yang keras, terlihat kejam, tapi seperti menyimpan luka dan kesepian di sana.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu menjadi kejam seperti ini?" lirih Valerie.
Valerie merasa heran dengan apa yang dipikirkan pria yang telah memalsukan kematiannya itu. Kalau ia berniat menculiknya, kenapa ia bersikap baik, bahkan dia memperhatikan makanan dan kenyamanan Velerie.
__ADS_1
"Gak gue sangka, ternyata diam-diam lo ngagumin wajah tampan gue," celetuk Riki, sembari masuk ke dalam kamarnya.
"Buat apa tampan kalau berhati busuk," sahut Valerie sarkas.
Perkataan Valerie tidak membuat Riki tersinggung, pria itu malah terbahak.
"Gak masalah dibilang berhati busuk, yang penting elo ngakuin kalau gue tampan," sahut Riki, pria itu melangkah mendekati Valerie.
"Banyak orang di rumah sakit jiwa yang punya wajah tampan, tapi tetap aja ada gangguan jiwa." Valerie memandang tajam pada Riki, tak ada sedikitpun rasa takut yang ia tunjukkan.
"Hey, jiwa gue masih baik, belum ada gangguan," ucap Riki, ia meraih pinggang Valerie untuk lebih dekat dengannya.
"Kalau jiwa lo baik, elo gak mungkin dengan mudahnya mengambil nyawa orang, itu bukan tugas lo ...," sahut Valerie sambil mendorong dada bidang Riki, hingga pria itu terdorong mundur. "Dan kalau elo masih punya pikiran waras, elo gak bakal ngebiarin orang yang bakal ngebunuh lo ini tetap hidup sampai sekarang."
"Elo nantang gue?" tanya Riki, ia terkekeh. "Gue bukan orang yang berhati sabar Eri, dengan sekali gerakan gue bisa habisin elo!"
"Dan gue gak takut," sahut Valerie sambil tersenyum miring. Gadis itu melangkah mendekati Riki dengan langkah pasti, hingga tubuh pria itu tersudut di tembok. "Asal elo juga tahu, usus gue juga gak sepanjang rambutnya Rapunzel. Gue tahu elo punya siasat buat hancurin orang-orang di sekitar gue. Dan demi melindungi orang-orang yang gue sayang, gue bisa ngelakuin apapun, termasuk jadi pembunuh."
"Hahahahaha, ini yang bikin gue gak langsung bunuh elo!" Riki terbahak, ia balik mendorong tubuh Valerie dan mengunci pergelangan tangan gadis itu di belakang tubuhnya. "Kelihatannya gue bisa sedikit bersenang-senang sebelum mulai perang."
"Gue gak bakal biarin elo merasa senang apalagi menang. Gue bakal bikin lo kalah, bahkan sebelum perang. Riki Rahwana, elo salah pilih lawan main. Dan elo juga salah karena sudah ngebiarin gue tetap hidup, karena dengan tangan gue sendiri ... akan gue buat elo tutup usia, seperti apa yang elo lakuin sama Raja dan Bang Bayu."
"Gue terima tantangan lo, Valerie Livia Laksmono."
__ADS_1