Arakata

Arakata
Berlian VS Remahan Upil


__ADS_3

Elo emang lebih dari dia. Bahkan saking lebihnya, malah jadi beleber.


***


"Ahhhhhh, bosan," keluh Gandi, "gak ada Eri, berasa sepi dunia kita."


"He'em," ujar Bagus sambil mangut-manggut. Sekarang mereka sedang berada di kantin sekolah. "Kapan sih Eri balik sekolah?"


"Setuju gue," timpal Maul, "kita udah kayak anak ayam kehilangan induk."


"Lebay lo semua," sewot Amelia. Gadis itu ikut nimbrung bersama anak-anak Arakata, padahal tidak ada yang mengajak.


Semua mata langsung tertuju pada sumber suara. Tatapan tajam tidak terima karena ada yang meremehkan panglima mereka.


"Apa sih lebihnya Valerie dari gue?" tanya gadis itu dengan pongahnya.


"Elo ngerasa lebih dari Eri?" tanya Bagus yang mulai jengah dengan mulut pedas gadis itu.


"Pasti," jawab Amelia penuh percaya diri.


"Elo emang lebih dari dia." Bagus menjeda omongannya. Membuat Amelia tersenyum senang, mengira Bagus membelanya. "Bahkan saking lebihnya, sampai beleber-beleber. Karena beleber semua, jadi kosong lagi deh." Bagus menyeringai, dia mendekat ke arah Amelia. "Kalau diibaratkan, Eri itu bak berlian, sedangkan elo ...," Bagus menjeda omongannya, diketuk-ketukan telunjuk jarinya di dahi, seperti sedang berpikir keras. "Remahan upil." Bagus menyentil pelan dahi Amelia. Tapi, reaksi gadis itu berlebihan.


"Awhhhh, sakittt, elo tega bener sih sama cewek!" omel gadis itu.


"Kalau ceweknya modelan elo, gue sih tega-tega aja," jawab Bagus santai.


"Bagus!" Bentak Elang, "gak seharusnya elo berlaku kasar sama perempuan."


Bagus langsung terdiam mendengar bentakan Elang. Namun, kemudian cowok itu tersenyum.


"Gue lebih merasa terhormat elo sebut cowok kasar. Karena gue ngasarin cewek yang emang pantas dikasar. Ketimbang elo, cowok pengecut!" Bagus menujuk Elang tepat di depan wajah pria itu. Membuat Elang mengepalkan tangannya. "Udah dapat service apa aja lo dari tuh cabe, sampai segitunya elo belain dia." Bagus tersenyum remeh, membuat emosi Elang tambah memuncak.


"Elo gak tahu apa-apa!" bentak Elang, cowok itu berdiri dari duduknya dan meraih kerah seragam sekolah Bagus. "Jadi, mending elo diam aja!"


"Gue emang gak tahu apa-apa, karena elo gak pernah ngasih tahu gue apa-apa, elo terlalu sibuk sama si cabe." jawab Bagus mencoba terlihat santai, walaupun sebenarnya emosinya sudah siap meledak. "Elo nyadar gak? Kalau elo berubah semenjak elo kenal tuh cabe." Bagus menunjuk Amelia dengan lirikan matanya. "Elo jadi ngelupain Arakata, atau elo emang mau keluar--"


"Cukup," sela Gaung memotong omongan Bagus. Dia tidak mau jika Bagus mengeluarkan kata-kata yang akan mereka sesali. "Mending sekarang elo bawa Lia pergi dari sini, Lang."


Elang menarik tangan Amelia keluar dari kantin. Hal itu tidak lepas dari pandangan anak-anak SMA Garindra yang berada di kantin. Baru kali ini mereka melihat Bagus yang sebegitu marahnya terhadap Elang.


"Atur emosi lo!" perintah Gaung pada Bagus. "Jangan sampai elo mengucapkan hal yang bakalan elo sesali sendiri." Gaung menepuk punggung sahabatnya itu. Bagus mengusap wajahnya dengan gusar. "Cewek itu benar-benar keterlaluan, Ga. Gue gak terima kalau Eri direndahin sama tuh cewek cabe. Elang juga keterlaluan, dia


diam aja kayak pengecut, padahal si cabe udah menghina sahabatnya sedari kecil."


"Iya, gue paham ... gue juga ngerasain apa yang elo rasain," sahut Gaung, "tapi emosi gak akan menyelesaikan apapun, Gus. Yang ada, Amelia malah tambah senang, mengira ia bisa memenangkan perhatian Elang."


***


Di tempat lain, Valerie yang merasa gabut karena gak ada kerjaan. Gadis itu merecoki Jelita, dikuasainya dapur sang tuan rumah. Sudah ratusan kali Jelita mencegah Valerie agar tidak banyak bergerak dan tetap beristirahat.


Namun, Valerie tetaplah Valerie. Seorang gadis yang keras kepala dan sulit dicegah. Gadis itu membawa berbagai bahan makanan dari rumahnya. Jelita hanya bisa mengawasi tanpa boleh membantu kegiatan Valerie.


Jelita tersenyum meliha tValerie yang sedari tadi semangat dengan kegiatannya. Gadis itu terlihat bahagia. Ia tidak mengerti apa yang terjadi antara Valerie dan anaknya akhir-akhir ini. Yang ia tahu, Valerie sangat berharga untuk Elang. Namun, ia tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini Elang bersikap cuek pada Valerie.

__ADS_1


Namun, sebagai ibu ia pasti paham jika Elang sedang merasa tertekan. Pasti ada sesuatu yang memaksa putranya itu untuk menjauhi gadis yang sedari kecil selalu Elang jaga. Setiap kali melihat mata Elang, Jelita tahu bahwa ada luka di sana. Namun, Jelita yakin pasti Elang bisa mengatasi masalahnya sendiri. Elang pria yang kuat dan berani, seperti arti nama yang ia dan Garindra sematkan, Rayan ....


"Alhamdulillah, selesai." Valerie meregangkan otot-ototnya.


"Wah, makanan segini banyaknya mau kamu apain, Sayang?" Jelita memandang berbagai macam makanan yang sudah tersaji cantik di meja. Pizza mini, donat kentang, muffin, dan brownis.


"Mau Valerie bagiin entar di lapangan dekat kompleks, Mah. Entar sore di sana pasti banyak anak-anak yang main, Valerie mau bagiin ke mereka. Sebagai ucapan syukur atas kesembuhan Eri," jawab gadis itu dengan tersenyum manis.


Jelita mengusap lembut rambut Valerie. Senyuman tersungging dari bibir manisnya. Betapa welas asih putri sahabat suaminya ini. Pantas saja Garindra ngotot pengen menjadikan Valerie sebagai menantunya.


"Calon mantu mamah," ucap Jelita, membuat pipi Valeri bersemu merah.


"Mamah, udah kayak Papah Indra aja ngomongnya." Valerie memeluk Jelita, mereka tertawa bersama.


"Emang Eri bisa bagiin semua itu sendirian?" tanya Jelita sambil menunjuk semua makanan itu dengan dagunya.


"Tenang mah, Eri punya banyak pasukan." Valerie tersenyum sambil memukul pelan dadanya.


                                          Cowok semua, yang bukan cowok bukan anggota(5)


                                                                                   Siapa yang ganti nama grub? Kalian lupa kalo gue cewek!


Gandy


Gabus noh yang ganti, Er.


Hajar aja, nyari penyakit mulu tuh Gabus.


Bagus


                                                                                     Gue entar ada misi negara, elo semua harus bantu.


Gaung


Siap


Gandi


2


Bagus


3


Elang


4


Setelah meminta bantuan teman-temannya. Eri memasukkan hp ke saku piyamanya. Gadis itu memasukkan semua makanan yang telah ia buat ke dalam keranjang makanan yang telah ia siapkan.


***


"Woah, elu mau jualan, Er?" tanya Gandi, takjub dengan banyaknya makanan yang dibuat Valerie. "Lumayan nih kalau laku semua, untungnya bisa buat isi kuota."

__ADS_1


Pletak


Valerie memukul punggung Gandi. "Anak sultan tapi beli kuota pakai ngejual makanan gue. Medit lo ...."


"Namanya juga usaha, Er," jawab Gandi, "kalau ada yang gratis, buat apa milih yang berbayar."


"Cara berpikir pemuda bermasa depan suram," cemooh Valerie.


"Ini anak kok nongol terus, Er," tunjuk Bagus pada Robert yang berjalan di sampingnya. Mereka berjalan kaki menuju lapangan, karena letaknya yang dekat dengan perumahan Valerie. Kalau pakai motor, nanti malah repot


markirinnya. "Mau pindah ke Arakata lo!"


Robert menggelengkan kepalanya. "Gue udah cukup puas dengan kepemimpinan ketua gue. Jadi, gak ada alasan buat gue pindah dari Gester."


"Gue juga gak mau kalau elo jadi anggota gue," jawab Elang yang sedari tadi hanya diam.


"Tumben elo bisa gabung, Lang? Si cewek cabe, elo obat bius biar yang ngintilin terus?" sindir Bagus, cowok itu masih sedikit jengkel dengan sikap Elang. Jadi, mulut nyinyirnya kambuh seketika. "Elo berdua udah kayak cicak dan tai-nya."


Elangmenatap tajam Bagus. "Mulut lo lama-lama kayak cewek." Elang hendak menghampiri Bagus. Namun, Valerie langsung menarik tangan Bagus agar menjauh dari Elang. Bisa gawat kalau dua cowok itu berakhir dengan adu jotos.


"Udah." Valerie mengapit lengan Bagus. "Buruan kita ke lapangan, jangan banyak ngoceh kayak cewek. Gue yang cewek aja ogah ngoceh."


"Situ cewek?" Bagus menaik-turunkan alisnya menggoda Valerie.


"Kampret!"Valerie memukul lengan kekar Bagus, mambuat telapak tangannya memerah. "Itu lengan apa tembok beton sih, keras amat." Gerutu Valerie sambil mengusap telapak tangannya yang memerah.


Bagusmenyeringai sambil merangkul Valerie. "Ini baru lengan gue yang elo lihat. Er. Ada bagian lain yang lebih keras dari lengan gue.


"Wuaduhh!" teriak Bagus karena punggungnya di dorong secara bersamaan oleh Elang, Gaung, Gandi, dan Robert sehingga menyebabkan cowok itu nyungsep mengenaskan.


"Otak lo kotor!" umpat Gaung sambil menggandeng Valerie agar jauh dari Bagus.


"Mau gue injek tuh yang keras biar jadi lembek?" ancam Robert.


"Kelamaan jomblo jadi gak jelas lo," cibir Gandi.


"Gue gak perlu ngumpat, karena sudah diwakilin mereka."


Dada bidang Bagus naik-turun menahan amarah, wajahnya sampai memerah.


"Maksut gue yang keras itu tinjuan gue. Kenapa elo semua malah jorokin gue, kena eek ayam kan jidat gue. Jijik!" teriak Bagus.


Namun, naas ... tidak ada yang mau mendengarkan. Dengan cueknya mereka semua berjalan menuju lapangan dan menghampiri anak-anak di sana.


"Teman kampret lo semua. Gue laporin emak gue, biar elo semua disuruh pakai kostum curut!" ancam Bagus, "mamah, abang kena eek ayam." Ratap Bagus yang masih dengan posisinya yang berhadapan dengan seonggok eek ayam.


"Itu temannya, Kak?" tanya salah satu anak yang sedang menerima donat dari tangan Valerie.


"Bukan," jawab kelima orang itu bersamaan, membuat Bagus tambah menggila.


 


 

__ADS_1


__ADS_2