
Aku akan tetap mendampingimu, dengan atau tanpa kau minta.
***
"Hentikan semua ini, Bang ...," ucap Asel. Pemuda itu duduk bersila di hadapan Restu, mereka duduk lesehan di lantai markas The Drugs. "Gue mau elo berhenti."
"Berhenti buat nyerang geng lo?" tanya Restu.
Asel menggeleng. "Berhenti buat nanggung penderitaan lo sendirian."
Restu mengangkat kepalanya, menatap wajah adik yang sangat ia rindukan itu.
"Ada gue, papah, mamah, teman-teman lo ... kami sayang sama lo, Bang. Elo bisa berbagi rasa sakit lo ke kami."
"Siapa yang kasih tahu elo? Rahmad?"
Gema mengangguk. "Dia sangat khawatir sama lo, Bang."
"Dasar cowok mulut cewek," ucap Restu sambil terkekeh, teringat dengan sahabatnya semenjak duduk di bangku SMP itu. "Gue banyak salah sama dia, bahkan gue sempat ngelukain bapaknya."
"Dia ngerti kok, Bang. Dia paham kalau elo gak ada maksut buat ngelukain Pak Sofian.
"Kakek gue bisa ngelukain elo, Sel. Gue gak mau itu terjadi," lirih Restu, ada ketakutan dalam nada suaranya.
"Gue gak akan terluka, selama elo ada bersama gue, Bang. Kita hadapi semua ini bersama."
"Ambisi Kakek gue terlalu besar, beliau mau gue nguasain perusahaan papah."
"Gue rela nyerahin perusahaan papah, asal elo tetap ada bersama gue, Bang."
"Gue yang gak rela, Sel. Itu hak elo, elo yang anak kandung papah dan mamah, gue hanya anak titipan. Gak berhak buat apapun, jangankan buat memiliki perusahaan, buat dapat kasih sayang papah dan mamah aja gue gak berhak. Mereka orang tua elo, bukan orang tua gue." Satu tetes bening mulai mengalir melewati pipi Restu.
"Berhenti, Bang!" bentak Asel, yang sempat menyita perhatian semua pemuda yang ada di sana. Namun, mereka segera kembali pada kegiatan masing-masing. Memberikan waktu pada Asel dan Restu untuk saling bicara. "Berhenti berpikiran seperti itu. Papah, mamah itu orang tua elo, persetan mau anak kandung atau anak titipan ... yang jelas elo tetap anak mereka. Mereka tulus sayang sama elo. Asal elo tahu, Bang ... mamah sakit."
"Mamah sakit?"
Asel kembali mengangguk. "Semenjak abang jarang pulang ke rumah, kesehatan mamah menurun. Udah dua hari ini, mamah di rawat di rumah sakit, mamah nanyain Bang Restu terus. Apa itu ... orang yang elo anggap bukan mamah lo, Bang?"
"Mamah," ratap Restu.
"Habis ini kita ke rumah sakit buat jenguk mamah, ya Bang. Mamah pasti seneng kalau tahu anak sulungnya sudah kembali."
Restu mengangguk. "Maaf, Sel. Maafin gue, Dek."
Asel meraih tubuh kekar sang kakak dalam pelukannya.
__ADS_1
"Gue gak pernah marah sama elo, Bang. Jadi gue gak perlu maafin elo. Terimakasih, Bang Restu ... terimakasih sudah mau kembali dalam keluarga Akbar.
"Sel," panggil Restu, ia mengurai pelukannya.
"Hm,"
"Apa seperti ini cara perang Arakata?" tanya Restu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Restu dan Asel menatap sahabat-sahabat mereka yang sedang bermain kartu, gundu, monopoli, halma.
"Kalian perang bawanya bukan parang, katana, pisau, atau tombak gitu? Malah bawanya permainan anak-anak."
"Itu tadi gue minjem permainannya Kak Eri, Bang. Permainannya dia komplit lho, Bang. Ada dakon sama bekel juga, besok gue ajarin deh main bekel."
"Ogah, Sel. Mending gue main gundu daripada main bekel," sahut Restu cepat. Khawatir kalau adiknya itu akan mengajarinya hal yang aneh-aneh.
"Ini strategi perang dari adek lo!" seru Gema yang wajahnya sudah cemong dengan bedak, karena kalah main kartu. "Strategi penyerangan seorang gamers, gak jauh-jauh dari mainan juga."
"Tapi kalian suka, kan?" tanya Asel.
"Suka, lah," jawab semua anggota Arakata serempak yang membuat Restu terkekeh.
"Guwe salut sama Arakata, solidaritas kalian tinggi, rasa persaudaraan kalian juga kental. Melihat kalian, gue gak kayak ngelihat sebuah geng, tapi seperti melihat sebuah keluarga. Keluarga yang hangat dan penuh tawa. The Drugs boleh gabung jadi sekutu Arakata?"
"Rahmad," panggil Restu pada sahabatnya itu. Yang dipanggil pun menengok. "Gue selaku wakil ketua The Drugs, setuju dengan usulan lo untuk bergabung sebagai sekutu Arakata."
"Serius?" tanya Rahmad ragu.
"Iya," jawab Restu sambil mengangguk mantap. "Gue juga mau balikin kepemimpinan The Drugs ke orang yang seharusnya. Gue kembaliin kepemimpinan The Drugs ke elo, Mad ... ketua The Drugs."
"Hore ...," seru semua yang ada di sana.
"Wua!" jerit Hasan histeris, yang mengundang perhatian semua pasang mata di sana. "Bedak adek gue habis! Mampus gue, bisa disunat lagi sama emak gue, nih ... wua!"
"Perkara bedak aja ribut," celetuk Asel, " besok gue beliin dua lusin buat adek lo."
"Beneran ya," sahut Hasan, wajahnya kembali berseri seperti matahari pagi. "Sekalian minyak telon, minyak kayu putih, minyak goreng, beras, telur, gula ...."
"Ngelunjak!" teriak teman-temannya yang lain.
"Namanya juga usaha, tahu sendiri kalau adik gue banyak. Kalau dikumpulin bisa direntengin, terus digantungin di warung, dijual seribuan."
"Wah parah!" teriak Abdul, "gue aduin Nyak Mindun, nih. Biar abis otong lo di jepitin pintu."
"Mulut lo lemes kayak anak TK, dikit-dikit main ngadu ke enyak!"
__ADS_1
"Bodo!" jawab Abdul cuek.
***
"Gue minta maaf, Bang ...," ucap Restu pada Choky.
Sekarang mereka semua berada di kediaman Laksmono. Setelah dari markas The Drugs, Restu dan Rahmad ikut Gema dan inti Arakata angkatan tujuh lainnya yang menuju ke kediaman Laksmono. Yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Kalau pada ikut semua, Laksmono bisa di demo warga sekitar karena berisik di tengah malam begini.
"Gue bakal tanggung jawab, gue bakal beresin semua yang udah gue ancurin. Ini murni karena kesalahan gue, Bang ... gak ada hubungannya sama The Drugs."
Choky masih terdiam sambil memberikan tatapan tajamnya.
"Nah lho, si muka seram udah murka," celetuk Bagus, "nah lho, nah lho. Kalau si muka seram ngambek, baiknya bisa lama ... persis cewek lagi PMS. Aduh!" Bagus mengusap pundaknya yang terkena lemparan botol air mineral dari Choky.
"Mending lo kunci mulut lemes lo, sebelum elo dibanting sama Choky-choky bukan coklat asli," ucap Gaung sambil fokus memainkan rubignya. "Elo gak usah ngumpat gue dalam hati, gue tahu, Chok."
Choky berdecak sebal.
"Udah, maafin aja si Restu," ucap Valerie, "kasihan anak orang lo pelototin mulu."
"Ya udah, deh. Kalau Eri bilang gitu, gue ngikut," ucap Choky akhirnya.
"Kampret ya, Lo!" umpat Elang, "giliran yang ngomong Eri, elo langsung nurut. Laporin Zizah, Ro."
"OTW gue chat adek gue, biar mikir ulang buat nikah sama buaya buntung kayak elo!"
"Heh, jangan! Gue tadi bercanda, Astaghfirullah. Jangan laporin Zizah, ya Bang, ya ...," Choky menangkupkan kedua telapak tangannya, dan memasang tampang sok imut yang malah terlihat lebih seram.
"Jijik gue, Chok. Gue jadi merinding, elo panggil abang," celetuk Valero.
"Abang setan!" gerutu Choky, tapi masih bisa didengar oleh Valero.
"Mamah, abang dikatain setan sama Choky. Yang berarti Choky juga ngatain mamah setan dong, kan abang anaknya mamah." Teriak Valero, mengadu pada ibunya.
Atika, Azizah, dan Valero menginap di rumah Laksmono untuk beberapa hari. Atika belum bisa lepas dari Valerie, jadi Laksmono memutuskan untuk meminta adik almarhum sahabatnya itu untuk menginap sementara.
"Choky," panggil Atika, "Choky bilang apa tadi, Nak?"
Begitu mendengar suara calon mertuanya itu, badannya langsung menegang, wajahnya memucat. Ia tidak tahu jika Atika ada di sana.
"Berarti Mas Choky juga ngatain Zizah setan, dong. Mas mau nikah sama setan?"
Nah, suara ini yang membuat wajahnya tambah memucat, suara calon istrinya. Ambyar sudah pikirannya, pria berbadan kekar itu hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuknya.
Hal itu mengundang tawa semua orang yang ada di sana, termasuk Restu. Bersama Arakata, ia bisa tertawa, semua bebannya seakan terangkat. Ia seperti mendapatkan ketenangan, seakan semuanya bakal baik-baik saja, karena banyak orang yang akan membantunya.
__ADS_1