
Valerie berdiri di depan kamar Elang sudah dari sepuluh menit yang lalu. Gadis itu merasa bimbang, antara ingin masuk ke kamar sahabatnya itu atau pergi dari sana. Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu memutuskan masuk ke dalam kamar Elang.
"Assalamu'allaikum," salam Valerie, gadis itu nyelonong masuk ke kamar Elang begitu mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsallam, gak baik cewek masuk kamar cowok sembarangan," jawab Elang, pemuda itu sedang duduk di sofa balkon kamarnya.
"Elah, Lang. Biasanya juga elo gak protes. Elo masuk ke kamar gue aja, gue gak masalah," ujar Valerie, gadis itu ikut duduk di sebelah Elang.
"Hemm," sahut Elang singkat dengan masih memperhatikan ponselnya tanpa memandang Valerie.
"Chat-an sama siapa sih, Lang? Serius amat."
"Bukan urusan elo,"
Jawaban ketus dari Elang, membuat Valerie menghela napasnya. Gadis itu mulai frustasi dengan sikap Elang yang tidak jelas.
"Lang, kelihatannya kita butuh bicara deh. Lihat wajah gue, Lang." Kedua tangan Valerie memegang pipi Elang, dan gadis itu menengadahkan wajah Elang agar memandangnya.
"Gue punya salah ke elo?" lanjut Valerie.
Elang hanya menggeleng tanpa menjawab. Kedua telapak tangan Valerie masih memegang pipinya. Memaksa pemuda itu untuk tetap memandang gadis manis si sebelahnya.
"Kalau gue gak ada salah, kenapa sikap elo ke gue berubah?"
"Biasa aja," jawab pemuda itu singkat.
"Mungkin menurut elo ini biasa aja, Lang." Setetes air bening turun dari netra cantiknya, membuat Elang membeku seketika. Apakah sikapnya pada Valerie sudah keterlaluan? Sehingga membuat gadis yang selama ini ia jaga mati-matian itu menangis. Dan penyebabnya adalah Elang sendiri.
"Gue kenal elo gak hanya setahun dua tahun, Lang. Gue tahu elo, sekesel-keselnya elo ke gue, elo
gak pernah bersikap seperti ini." Gadis itu mengusap kasar air matanya.
Elang masih terdiam sambil memperhatikan wajah Valerie, walau tangan gadis itu sudah tidak menahan kedua pipinya. Ada perasaan sesak di hatinya.
"Gue berpikir, mungkin kesalahan gue kali ini udah fatal," lanjut Valerie, "seharian ini gue berpikir apa kesalahan gue ke elo, Lang. Tapi gue tetep gak ngerti! Teriak Valerie histeris, mungkin kesabaran gadis itu seharian ini telah
mencapai puncaknya.
Tiba-tiba ponsel Elang berbunyi, pertanda ada telepon masuk.
__ADS_1
"Hallo, ya Lia, kenapa?" jawab Elang ramah.
Lima menit berlalu, cowok itu masih asyik mengobrol dengan orang yang meneloponnya, tanpa mempedulikan Valerie yang berada di sebelahnya. Membuat gadis itu jengah.
"Keliatannya percuma gue ngomong panjang tadi, kalau sikap elo aja gak mau tahu gini. Sorry, udah ganggu waktu elo. Mungkin mulai sekarang gue gak bakal ganggu elo lagi." Valerie berjalan keluar kamar, menutup pintunya dengan keras. Mungkin sebagai pelampiasan rasa kesalnya pada sang empunya kamar.
Anggaplah ia keterlaluan, tapi ia juga jengah dengan sikap Elang seharian ini.
"Mah, Pah, Valerie pamit pulang dulu," pamitnya pada orangtua Elang yang berada di ruang keluarga.
"Lho, tumben cepet mainnya, Er?" tanya Jelita.
Valerie hanya menjawab dengan senyuman. Gadis itu langsung berlalu keluar rumah tergesa-gesa. Membuat Jelita dan Garindra menatapnya bingung.
***
"Kalau gak ada yang penting, gue tutup teleponnya!" bentak Elang pada Amelia, orang yang menelepon nya. Sejak tadi gadis itungoceh ngalor ngidul gak jelas, membuat Elang jengah.
Pemuda itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Tidak mempedulikan jika setelah ini, gadis manja itu akan marah atau mengomel padanya. Pemuda itu hanya butuh pengalihan dari semua pertanyaan yang diberikan oleh Valerie, yang ia sendiripun belum tahu jawabannya. Elang melempar ponselnya ke sofa, ia melangkah ke balkon kamarnya, melihat dari sana Valerie yang berlari memasuki rumahnya.
Masih terbayang jelas dalam pikirannya, wajah Valerie yang sedih dan frustasi menghadapi sikapnya yang pasti sudah keterlaluan terhadap gadis itu seharian ini.
Elang memegang dada bidangnya, ia merasakan sakit di sana saat melihat air mata Valerie menetes. Selama ini, ia mati-matian menjaga gadis itu agar tidak menangis lagi setelah kematian ibunya,
"Arggggg, sial!"
Elang meninju tembok yang ada di hadapannya. Ia tidak peduli jika tangannya akan terluka. Yang terpenting, ia bisa mendapat pelampiasan atas tingkah boohnya tadi.
Tidak lama kemudian, Valerie terlihat keluar rumah mengendarai motornya. Selama ini gadis itu jarang mengendarai motor sendiri, ia lebih sering bareng Elang, abang-abangnya, kalau tidak ya anggota Arakata lainnya.
"Mau pergi ke mana Eri selarut ini?" gumam Elang, "Semoga dia tidak melakukan hal bodoh."
Sudah dua jam berlalu semenjak Valerie pergi tadi. Elang masih berada di balkon menunggu
kedatangan gadis itu. Tapi sampai sekarangpun, ia belum pulang. Elang mulai merasa khawatir, ia mengambil ponselnya dan menghubungi wakilnya di Arakata, yaitu Gaung Armando.
"Halo Lang?" sapa Gaung
"Eri ada sama lo gak Ga?" tanya Elang to the point.
__ADS_1
"Eri? Enggaklah, ngapain semalam gini dia sama gue?"
"Ya udah kalau gitu." Baru saja Elang hendak mematikan sambungan teleponnya, suara Gaung kembali terdengar.
"Ada apa sama Eri? Gue di rumah bareng Gandi sama Bagus. Elo gak nyakitin hatinya Eri lagi, kan? Mengingat seharian ini sikap elo gak baik sama dia?"
"Valerie tadi datang ke rumah gue, ya kita ada cek-cok dikit lah. Terus begitu pulang dari rumah gue, dia naik motor gak tahu pergi kemana. Dan ini udah dua jam, tapi dia belum balik."
"Bangsat lo! Udah dua jam, elo baru nyari dia! Otak lo kemana? Valerie itu cewek, Lang. Bahaya!!"
"Lihat aja lo, besok elo bakalan abis sama kita bertiga!" Kali ini bukan suara Gaung, tapi suara Bagus. Setelah itu sambungan telepon dimatikan Bagus sepihak.
Dia pantas mendapatkannya, dia pantas di benci teman-temannya.
"Terus kemana Eri pergi?" gumam Elang, rasa khawatirnya semakin menjadi. "Kalau ke bar gak mungkin. Seumur hidup, kami gak pernah menjamahkan kaki di tempat yang katanya seru oleh anak-anak muda lain itu."
Elang mengenakan jaket dan menyambar kunci motornya, hendak mencari keberadaan Valerie ketika dering
ponselnya berbunyi. Tertera nama Lukman di layar.
"Assallammu'alaikum, Man,"
"Wa'alaikumsallam, Lang. Gue cuma mau ngabarin kalau Valerie ada di rumah gue sekarang."
Begitu mendengar kabar dari Lukman, Elang bisa bernapas lega.
"Tapi jangan bilang
ke Valerie ya kalau gue ngabarin elo. Soalnya dia udah ngewanti-wanti
gue jangan ngasih tau ke elo atau inti Arakata lain kalau dia disini."
"Iya Man, makasih. Tolong kawal dia pulangnya ya, bahaya kalau dia pulang sendirian. Bisa gawat kalau sampai ketemu geng lain yang gak suka sama Arakata."
"Iya, Lang. Pasti gue kawal kok. Udah dulu ya, takut kalau kelamaan entar Valerie curiga. Assallamu'alaikum."
"Wa'alaikumsallam."
Begitu mengakhiri telepon dari Lukman, Elang langsung menghubungi Gaung. Memberi kabar jika Valerie aman bersama Lukman.
__ADS_1
Tadinya mereka bertiga hendak menyusul Valerie, tapi ia larang. Elang mengatakan agar memberikan waktu Valerie untuk menenangkan diri dahulu.
ketiga sahabatnya itu memang menurut, tidak menyusul Valerie ke rumah Lukman. Namun, sekarang mereka bertiga malah berada disini, di rumah Elang. Dengan wajah mengerikan, siap memangsanya hidu-hidup.