
Aku telah jatuh dalam pesona dan kebaikanmu. Walau aku tidak bisa menjadikanmu sebagai milikku. Aku akan tetap mencintaimu, dengan cara melindungimu.
***
Senyum manis terbit dari wajah tampan Riki Rahwana begitu ia melihat ada sosok wanita yang telah mencuri hatinya belakangan ini. Siapa lagi kalau bukan Valerie Livia Laksmono. Dahinya berkerut karena Valerie tidak menjenguknya seorang diri, gadis itu datang bersama dua orang pria paruh baya.
Salah satu wajah pria itu terlihat mirip dengan wajahnya.
"Assalamu'alaikum, Riki," salam Valerie. "Ini, gue bawain makanan buat lo, gue sendiri yang masak." Valerie menyodorkan paper bag yang berisi rantang makanan untuknya.
"Wa'alaikumsallam, terimakasih, Eri ...," jawab Riki, ia merasa senang karena Valerie menepati janjinya untuk menjenguk dan membuatkannya makanan.
"Sama-sama, Riki," ucap Valerie sambil tersenyum, membuat senyum itu menular pada Riki.
Ekor mata Riki menangkap salah satu dari dua pria paruh baya yang datang bersama Valerie itu, terus-terusan menatap dirinya.
Valerie menangkap wajah kebingungan dari Riki, kemudian ia memperkenalkan kedua pria paruh baya yang ada datang bersamanya.
"Riki, kenalin ... yang sebelah kanan gue Papah Garindra, ayahnya Elang. Yang sebelahnya Papah Garindra itu Om Yudhistira, rekan bisnis papah. Beliau mau ngomong sesuatu sama elo."
"Silahkan, saya siap mendengarkan," jawab Riki penuh keyakinan. Entah kenapa, ia merasa nyaman dengan pria paruh baya yang bernama Yudhistira itu. Padahal mereka baru bertemu pertama kali ini.
"Apa benar ini foto masa kecil kamu?" tanya Yudhistira, pria itu memperlihatkan selembar foto, di foto tersebut ada sepasang suami istri yang sedang menggendong seorang bocah laki-laki yang berusia lima belas bulan.
Riki membolakan matanya, ia merasa bingung kenapa di foto itu ada dirinya semasa kecil. Dan kenapa dalam foto itu ia bisa bersama Yudhistira dan seorang wanita yang mungkin istri Yudhistira itu.
"Kenapa anda punya foto saat saya masih kecil?" tanya Riki, pria itu mengamati dengan seksama foto yang ada di tangannya. "Dan kenapa dalam foto ini, saya bisa bersama anda? Anda teman atau kerabat ayah saya?"
Yudhistira menengok pada rekan bisnisnya, ia tersenyum dan senyum itu juga menular pada Garindra.
"Akhirnya, setelah penantian panjang ... saya menemukannya," ucap Yudhistira, mata pria paruh baya itu berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, saya ikut senang," sahut Garindra sambil mengangguk.
"Bisa anda jelaskan pada saya, kenapa anda memiliki foto saya saat masih kecil? Dan siapa wanita yang ada dalam foto ini?" Riki memandang wanita dalam foto, wanita itu menggendongnya saat ia masih berusia sekitar satu tahun. Dan anehnya, ia tidak memiliki foto itu.
__ADS_1
"Dua puluh enam tahun yang lalu, saya mempunyai kerja sama bisnis dengan Ryan Rahwana. Saat itu kerja sama kami masih berjalan dengan baik. Namun, selang beberapa waktu ... saya menemukan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Ryan. Bahkan, tidak sedikit uang perusahaan yang masuk ke rekening pribadinya. Saat itu saya langsung memutuskan kerja sama dengannya. Namun, ternyata ia tidak terima dengan keputusan saya itu. Dia menculik putra saya yang saat itu masih berumur satu tahun. Nama putra saya Galih Jaka Yudhistira, putra saya yang berusia satu tahun yang fotonya kamu pegang itu."
"Mak-maksut anda, sa-saya ini adalah putra anda yang diculik Ayah Ryan selama dua puluh enam tahun ini?"
"Bisa saya melihat lengan kamu yang sebelah kiri?" tanya Yudhistira.
Riki menggulung lengan baju tahanannya. Terlihat sebuah tanda lahir berwarna merah. Begitu melihat tanda itu, Yudhistira langsung bangkit dari duduknya dan menarik tubuh kekar Riki dalam pelukannya. Ia tidak bisa menahan lagi air matanya, air mata haru dan bahagia melebur jadi satu.
"Putraku, Galih anak sulungku," ucap Yudhistira. Pria itu mempererat pelukannya, seakan tidak ingin membiarkan putranya itu untuk pergi dari hidupnya lagi.
Dua puluh tahun ia dan sang istri tenggelam dalam rasa sedih karena kehilangan putra mereka. Kini, putra yang mereka cari sudah berada dalam pelukannya. Selama dua puluh tahun ini, ia dan istrinya tidak pernah berhenti untuk mencari putra sulung mereka. Dan sekarang, usaha keras mereka telah membuahkan hasil. Tidak masalah jika harus menunggu puluhan tahun, yang terpenting sekarang mereka sudah kembali bertemu.
"Tapi ayah bilang ... ayah bilang kalau beliau adalah ayah kandung saya, dan ibu saya meninggal sewaktu melahirkan saya."
"Ryan berbohong, kita bisa lakukan tes DNA jika kamu masih tidak percaya," ucap Yudhistira berusaha meyakinkan putranya itu.
Riki memandang Valerie yang juga sedang memandangnya. Gadis itu menitikkan air mata haru, kemudian gadis itu tersenyum. Ikut berbahagia atas kebahagiaan Riki.
"Lihat aja, wajah kalian kayak orang kembar," ucap Valerie, ia memperlihatkan cermin kecil yang dibawanya. "Bedanya cuma di kerutan."
"Jadi saya masih punya seorang ibu?" tanya Riki, ia menatap sang ayah dengan pandangan penuh harap.
"Iya," jawab Yudhistira sambil mengangguk. "Mamah dan adik kamu pasti senang setelah tahu bahwa kamu masih hidup."
"Adik? Saya punya adik?" tanya Riki lagi, matanya berbinar-binar. Satu hal yang sangat ia inginkan dari dulu yaitu mempunyai seorang ibu dan adik.
Yudhistira kembali mengangguk. "Kamu punya seorang adik perempuan, namanya Fradilla Gadis Yudhistira. Usianya dua puluh tahun."
Riki tersenyum bahagia, ia merasa ada beban besar yang menguap dari pikiran dan hatinya. Dan berganti dengan beribu rasa syukur atas semua kebaikan yang Tuhan berikan padanya.
"Ng, apakah boleh saya memanggil anda ayah?" tanya Riki ragu-ragu, bagaimanapun juga masih ada rasa canggung, karena mereka baru bertemu lagi setelah dua puluh enam tahun terpisah.
"Tentu saja boleh, putraku," jawab Yudhistira sambil tersenyum bangga. Kembali ia meraih tubuh putranya itu dalam pelukannya.
Valerie tersenyum melihat Garindra yang matanya berkaca-kaca. Muncul ide jahil dalam otak cerdiknya.
__ADS_1
"Boleh saya memanggil anda ayah?" tanya Valerie pada Garindra, tangan gadis itu itu terlipat di dada, matanya berbinar-binar seperti anak kucing yang minta ikan asin.
"Ogah," jawab Garindra cepat. "Berasa kayak Laksmono, kalau papah kamu panggil ayah, Er." Garindra bergidik jijik, membuat Valerie terbahak, Riki dan Yudhistira pun ikut tertawa.
***
"Jadi, Riki Rahwana itu bukan anak kandung Ryan Rahwana?" tanya Valero pada Valerie. Mereka berdua ditambah Elang, sedang berada di balkon kamar Valerie. Valerie sedang menceritakan kisah Riki pada Valero. Sedangkan Elang, pria itu tidak pernah lepas dari Valerie. Ia khawatir jika ia meninggalkan Valerie sebentar saja, Valerie bisa hilang lagi dari kehidupannya ... lebay memang pemikirannya. "Dia yang nyulik Riki dari orang tua kandungnya dua puluh enam tahun yang lalu?"
"He'em," jawab Valerie sambil mengangguk. "Orang tua kandung Riki ternyata rekan bisnis Ayah Indra. Nama aslinya Galih Jaka Yudhistira."
"Alhamdulillah, kalau Riki ketemu sama keluarganya yang asli. Gue tahu kalau Ryan Rahwana itu punya sejuta tipu muslihat demi keinginannya tercapai," sahut Valero.
"Ngobrol terus aja kalian berdua, kacangin terus aja gue," protes Elang yang dari tadi hanya jadi kambing congek, diam tak tahu pembahasan.
"Elah, ngambek nih calon suami aku." Valerie mencubit pelan pipi Elang. "Kamu gak terbang lagi?"
"Enggak, Sayang," jawab Elang sambil menggeleng. "Aku udah resign."
"Pengangguran, dong," ucap Valero tanpa tedeng aling-aling. "Elo mau punya calon suami yang luntang-luntung gak ada kerjaan, Er."
Perkataan Valero membuat wajah Elang menjadi angker.
"Mau gue pengangguran, pengjerukan, pengapelan, pengmanggaan ... bukan urusan lo!"
"Jelas jadi urusan gue, lah. Yang mau elo nikahin itu sahabat gue, gue gak mau sahabat gue ini menderita karena punya suami yang gak ada kerjaan macam." Valero merangkul pundak Valerie, membuat Elang tambah geram.
"Ga usah nyentuh-nyentuh calon bini gue!" seru Elang sambil menyingkirkan tangan Valero dari pundak Valerie. Hal itu membuat Valero tambah semangat untuk mengerjai Elang. Kebiasaan barunya sekarang adalah membuat Elang naik darah. "Siapa bilang gue gak ada kerjaan! Gue bakalan gantiin bokap gue buat ngurus perusahaan."
"Emang elo paham bisnis?" tanya Valero sambil tersenyum miring.
Elang menggeleng, membuat senyum Valero tambah lebar.
"Gue kasih tahu satu rahasia, ya," ucap Valero pelan di dekat telinga Elang. "Riki Rahwana yang sebenarnya bernama Galih Jaka Yudhistira itu juga suka sama Eri. Tambah satu lagi dong saingan lo." Valero menaik-turunkan alisnya jahil.
"Astaghfirullah, Eri. Kenapa sih kamu jadi cewek pesonanya paripurna banget," ratap Elang merana, Valerie hanya menatapnya, tidak paham dengan apa yang terjadi. "Gini kan aku harus pasang tameng baja buat jagain kamu dari Valero dan sejenisnya." Elang mengacak rambutnya, merasa frustasi.
__ADS_1
Valero terbahak melihat Elang yang merana. Memang mudah membuat Elang naik darah, tinggal goda aja calon istrinya, dijamin langsung kebakar dia. Hahahaha.