
Sekeji apapun kamu membalas dendam, tak akan pernah merubah keadaan. Dia tetap akan pergi, karena ini memang sudah menjadi suratan takdir.
***
"Antar Eri ke tempat biadab itu, Bang," pinta Valerie pada Pratama.
"Dek, biar pihak berwajib-"
"Antar atau Eri yang bakal cari tahu sendiri," ucap Valerie memotong perkataan Pratama.
Pratama memandang Laksmono, meminta persetujuan, Laksmono menganggukkan kepala.
"Kalian semua jagain Eri, biar ayah dan Bunda Diandra yang mengurus di rumah sakit." Ketiga putra Laksmono tersebut mengangguk, dan langsung mengikuti Valerie.
"Mau kemana?" tanya Elang, di luar kamar jenazah sudah ada Elang dan teman-temannya yang menunggu.
"Ngasih pelajaran sama sampah yang berani misahin gue sama Bang Bayu," jawab Valerie, jelas ada kemarahan dan emosi pada tatapan matanya.
"Kami ikut," ucap Elang yang mewakili semua teman-temannya.
"Enggak, kalian tetap di sini, bantu ayah jagain Kak Ceril. Biar gue sama abang-abang gue yang urus. Dengan tangan ini, dengan tangan ini akan gue buat orang itu menyesal seumur hidup, itu kalau dia masih kuat untuk hidup." Valerie mengangkat sebelah tangannya yang terdapat saputangan milik Bayu.
"Tapi, Er ...," protes Elang, masih berusaha merubah keputusan sang kekasih. Ia paham betul jika saat ini Valerie sedang dalam emosi yang memuncak. Dan Elang tahu pasti, jika sang kekasih yang biasanya bersikap tenang sampai tersulut emosi, ia akan gelap mata dan bahkan bisa kehilangan pengendalian dirinya.
Valerie menatap tajam pada pada Elang. "Nyawa harus dibalas dengan nyawa." Setelah mengatakan itu, ia kembali melangkahkan kakinya menuju tempat parkir.
"Kalian gak usah khawatir, gue sama saudara-saudara gue bakal jagain Eri," ucap Reyhan pada Elang dan teman-temannya yang lain.
"Titip Eri, Bang. Kita tahu sendiri kalau Eri sampai termakan emosi, dia bisa nekat."
Pratama mengangguk, sebagai jawaban atas permintaan Elang.
__ADS_1
"Tolong bantu ayah gue buat jagain Kak Ceril dan ngurus jenazah Bang Bayu," pinta Pratama.
"Iya, Bang," sahut Elang dan yang lainnya.
***
Tak butuh waktu lama, untuk menemukan tempat yang mereka cari. Sebuah rumah kecil yang berhalaman luas. Valerie mengetuk pintu rumah itu dengan tidak santai. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka. Mereka disambut oleh sosok pria yang wajahnya ada di foto yang dikirim oleh anak buah Bayu.
Seketika emosi Valerie kembali memuncak. Tanpa banyak bicara, Valerie langsung memberikan pukulan yang beruntun pada pria yang berusia sekita tiga puluh lima tahunan itu. Valerie mendorong pria itu masuk ke dalam rumahnya, dan kembali menghajarnya tanpa ampun.
"Ka-kamu siapa?" tanya pria itu dengan terbata karena serangan mendadak dari Valerie. Rasa sakit sudah menjalar di seluruh tubuhnya.
"Saya?" Valerie tersenyum miring. "Saya adalah adik dari seorang kakak yang baru saja kamu habisi nyawanya!"
Pria itu membulatkan matanya, mulai paham dengan apa yang terjadi.
"Dengan kejinya kamu merampas hidup kakak dan calon keponakan saya. Bahkan Kakak ipar saya masih terbaring koma di rumah sakit! Kamu harus mendapat ganjaran yang setimpal, kamu harus merasakan sakit yang juga dialami kakak saya. Bahkan, kamu harus merasakan sakit yang lebih dari itu."
"Sa-saya hanya or-orang suruhan," lirih pria itu.
Valerie kembali menendang tubuh pria itu, hingga jatuh tersungkur di lantai. Setelahnya Valerie menginjak pergelangan tangan pria itu, hingga pria itu berteriak kesakitan.
"Cukup, Dek," ucap Pratama, ia memeluk tubuh adiknya dari belakang. Agar Valerie menghentikan aksinya. "Dia udah gak berdaya, biar pihak berwajib yang menghukumnya."
"Hukuman yang pantas untuknya adalah mati, Bang. Nyawa dibalas nyawa," sahut Valerie sambil memberontak. Gadis itu berhasil lepas dari dekapan sang kakak. Valerie hendak menginjak ulu hati pria itu, tapi sebuah suara menghentikannya.
"Ayah!" teriak seorang gadis kecil yang berusia enam tahun. Gadis kecil itu berlari pada sang ayah, dan langsung memeluk tubuh sang ayah yang sudah penuh dengan luka dan darah. "Ayah, ayah kenapa?" Gadis kecil itu menangis sesenggukkan.
"Apa yang kakak lakuin ke ayah?" Gadis kecil itu mengguncang-guncang kaki Valerie. "Kenapa kakak pukul ayah, ayah salah apa?" Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya untuk menatap Valerie. Tingginya hanya sampai sepinggang Valerie.
Tubuh Valerie membeku seketika, ia memandang gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Air mata masih mengalir membasahi pipi gembul bocah itu. Bocah itu masih mengguncang-guncang kaki Valerie, tapi ia masih tetap terdiam dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari gadis mungil itu.
__ADS_1
"Kakak Jahat! Kakak udah nyakitin ayah, kakak jahat!" teriak gadis kecil itu terus-menerus.
Pratama dan kedua saudaranya yang lain hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
"Angel," panggil pria yang sudah tidak berdaya itu. Sang gadis kecil langsung memalingkan wajahnya memandang sang ayah, begitu namanya dipanggil. "Kakak itu gak salah, ayah yang salah. Ayah memang harus dihukum, Nak."
"Kalau gitu, kakak hukum Angel aja!" ucap gadis kecil itu dengan berani. "Kakak hukum Angel aja, jangan hukum ayah. Angel cuma punya ayah, kalau ayah kakak hukum terus, nanti Angel sendirian. Ayo hukum Angel." Gadis kecil itu ,menarik-narik tangan Valerie.
Pertahanan Valerie runtuh seketika, air mata gadis kecil itu kembali membawa akal sehatnya. Valerie menghembuskan napasnya, kembali mengatur emosinya.
"Bang, hubungi polisi," pinta Valerie, " kita serahin masalah ini ke pihak yang berwajib."
Pratama mengangguk, ia dan kedua saudaranya yang lain menghembuskan napas lega. Jika sudah dikuasai emosi, adik bungsu mereka itu bisa melakukan apapun, termasuk menghilangkan nyawa seseorang. Dan mereka tidak mau jika adik kesayangan mereka itu menjadi seorang pembunuh.
"Apa kau punya saudara yang bisa dijadikan tempat untuk anakmu tinggal?" tanya Valerie pada pria yang sudah menghilangkan nyawa kakak sulungnya itu.
Pria itu menggeleng. "Kami hanya hidup berdua, istri saya meninggal sewaktu melahirkan Angel."
Valerie membulatkan matanya, gadis malang itu juga memiliki nasib yang sama dengannya, harus kehilangan sosok seorang ibu. Bahkan bocah di hadapannya itu harus kehilangan ibunya tanpa sempat ia merasakan kasih sayangnya.
"Saya akan menjaga Angel, selama kamu masih ada di dalam jeruji besi," ucap Valerie, "jangan khawatir, saya akan memperlakukan Angel dengan baik."
Jatuh sudah air mata pria itu, ia tak menyangka jika orang yang hampir saja memhbunuhnya itu malah menolongnya. Ia merasa sangat bersalah, setelah ia membunuh salah satu anggota keluarga gadis di hadapannya itu, gadis itu malah menawarkan diri untuk menjaga anaknya.
"Maafkan saya," lirih pria itu. "Saya tahu saya tidak berhak mendapat maaf kalian. Tapi saya hanya disiruh, saya diancam."
"Diancam?" celetuk Valerie dan ketiga abangnya.
Pria itu mengangguk. "Saya diancam, saya harus membunuh kakak kamu. Jika saya menolak,nyawa anak saya taruhannya."
Valerie mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa ada orang yang sampai mengancam demi menghilangkan nyawa kakaknya. JIka benar, orang yang memberi perintah itu, pasti bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"Siapa orang yang mengancam dirimu itu?" tanya Valerie.
"Seorang bandar narkoba dan penyelundup senjata ilegal," sahut pria itu. "Riki Rahwana.":