Arakata

Arakata
Gaung, Maju Terus Pantang Balok


__ADS_3

Kamu memang bukan perempuan pertama yang masuk di hatiku. Namun, kupastikan bahwa kamu adalah perempuan terakhir yang kubiarkan masuk dan tak akan kubiarkan menemukan jalan keluar lagi.


***


"Ngapain nih dokter bucin ngumpulin kita disini? Mana gak nongol-nongol batang hidungnya lagi!" omel Choky sambil mengaduk-ngaduk minumannya.


Gaung menghubungi Elang, Valerie, Gandi, Bagus, Choky, Roxy, dan Robert untuk bertemu di cafè milik Pratama. Namun, sudah satu jam berlalu, seseorang yang membuat janji bertemu belum juga ditemukan keberadaannya.


"Gue belain buat batalin makan malam bareng bini gue. Kalau sampai urusan tuh bocah gak penting, awas aja!" ancam Bagus.


"Yang baru dapat bini sombong bener," ucap Roxy sambil mendengus kesal. Karena pria yang agak kemayu seperti Bagus saja sudah mempunyai istri. Sedangkan dia? Yang katanya playboy, tapi pacar sebutir pun belum punya.


"Makanya nikah, biar tahu nikmatnya punya pasangan halal," ejek Bagus.


"Gue maunya Eri yang jadi bini gue." Roxy mengedipkan matanya.


"Ogah," jawab Valerie cepat.


Elang tersenyum puas, untung kekasihnya itu buru-buru menolak. Kalau enggak, bisa habis Roxy dibanting Elang.


"Kejam lo, Er ...," ujar Roxy sambil memasang wajah memelas minta ditampol. "Kalau Elang lagi terbang, gue siap jadi cadangan lo kok, Er." Roxy mengedipkan sebelah matanya.


"Mau gue tabrak pakai pesawat lo!" ancam Elang sambil melotot.


"Sebelum elo tabrak gue, elo duluan yang gue timbun pakai semen, gue jadiin pondasi gedung tahu rasa lo!" jawab Roxy tidak kalah ngotot.


"Gimana kalau elo berdua gue cekokin minyak rem, biar Eri buat gue aja," usul Choky, pemilik bengkel besar yang mempunyai banyak cabang di Jakarta.


"Gimana kalau kita duel di ring tinju aja." Kini giliran Robert yang memberikan usul. Gandi dan Bagus hanya geleng-geleng kepala.


"Elo semua mau gue suntik mati," ucap Gaung tanpa dosa sambil duduk di kursi sebelah Valerie, tidak memperhatikan raut kesal sahabat-sahabatnya.


"Elo yang bakalan kita kebiri duluan!" ucap semua sahabatnya, kecuali Valerie.


"Jangan, entar rencana gue buat nembak cewek gagal." Ucapan Gaung membuat semua sahabatnya terkejut.


"Jangan bilang elo mau nembak cewek gue!" ucap Elang terdengar tajam.


"Ckkk, gue anti nikung teman, walau dulu sempat terpikir mau nikung Eri dari elo, sih," ujar Gaung sambil tersenyum miring, membuat Elang berdecak sebal.


"To the point!! Elo ngumpulin kita buat apa?" tanya Choky tanpa tedeng aling-aling.


"Gue suka sama seorang cewek, gue mau ngelamar dia. Tapi bingung caranya gimana?" tanya Gaung terkesan lesu.


"Ajak pacaran dulu lah, masa langsung diajak nikah," usul Roxy.


"Umur gue sudah bukan saatnya lagi buat pacaran. Gue gak mau ngambil resiko hanya jadi pacarnya, terus setiap saat bisa aja kehilangan dia. Karena apa? Status gue hanya pacar. Kalau status gue suami, gue ada alasan kuat buat pertahanin dia."


"Gue setuju sama cara pikir lo, Ga," ujar Bagus sambil mengacungkan jempolnya. "Buruan resmiin sebelum diincar penikung."


"Tapi beneran bukan Eri kan yang mau elo lamar?" tanya Elang, ia memicingkan matanya meneliti wajah Gaung.


"Ya Tuhan, Elang, bukan Eri. Elo tenang aja, cewek itu seiman sama gue."


Jawaban Gaung membuat Elang bernafas lega. Hilang satu saingannya. Tapi, setelah melihat sekeliling, ia menghela nafas lagi. Hilang satu saingan tapi masih ada saingan-saingan lainnya yang siap menikung.


"Dokter Nita, kan?" tebak Valerie, membuat Gaung agak terkejut.


"Kok elo bisa tahu, Er?"


Valerie tersenyum miring. "Cara elo memandang Dokter Nita itu beda. Penuh rasa puja dan ... cinta." Valerie mengedipkan matanya menggoda Gaung, dan berhasil membuat wajah Gaung merona.


"Anjir, pria modelan elo bisa merah juga mukanya? Hahahaha ...," ejek Roxy, disusul tawa sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


"Temen  kampret lo semua!" umpat Gaung sambil menahan rasa malunya.


"Elo mau minta bantuan apa dari kita, Ga?" tanya Valerie, yang duluan menghentikan tawanya. Kasihan melihat Gaung yang sudah menahan malu.


"Elo kan cewek, Er. Gue mau nanya sama elo, hal apa yang paling elo sukai?"


"Hmmm ...," Valerie mengetuk-ngetuk dagunya, berlagak berpikir. Sedang berpikir tapi yang diketuk dagunya, dasar Valerie. "Yang gue suka sih banyak."


"Biasanya cewek suka bunga," ujar Gandi.


"Gue gak begitu suka," jawab Valerie.


"Biasanya cewek suka dibeliin tas branded," ucap Roxy.


"Gue gak suka, lebih nyaman pakai ransel yang beli di pasar sama bibi," jawab Valerie lagi.


"Kalau bini gue suka kalau diajak dinner romantis," ucap Bagus.


"Dinner romantis yang banyak lilin itu, ya? Itu mau makan apa ngepet, pakai lilin segala. Gak kuat bayar listrik apa!" Masih jawaban dari Valerie.


"Kalau papa gue, sering beliin mama perhiasan," ujar Robert.


"Kalau keseringan diberi perhiasan, emang bisa dipakai semua? Mau jadi toko perhiasan berjalan?" Dan ini juga masih jawaban dari Valerie.


Semua pria di meja itu memandang Valerie jengkel.


"Emang kalau elo sukanya apa sih, Er?" tanya Bagus agak jengkel.


"Gue suka berkelahi, naik gunung, dan yang paling gue suka itu-" Valerie menjeda ucapannya. "Nampol orang belagu yang suka bikin onar," jawab Valerie sambil mengepalkan tangannya ke atas. Membuat sahabat-sahabatnya


melongo.


"Elo semua lupa kalau adek gue itu cewek kayak apa," ujar Pratama yang mendengar percakapan Valerie dan


teman-temannya. "Kalau elo nanya kesukaan perempuan pada umumnya, jangan sama adek gue. Lo semua lupa kalau dia itu cewek yang gak umum? Hahahaha." Pratama terpingkal melihat wajah sahabat-sahabat adiknya yang terlihat shock.


"Gue salah tanya orang kelihatannya," lirih Gaung lemas, yang lain juga ikut mengangguk.


Valerie hanya mengangkat bahu tak peduli, sambil melenggang pergi masuk ke dapur. Melakukan hal yang biasa dilakukannya jika berada di cafè Tama. Membantu para koki di dapur cafè.


***


Hari ini Dokter Nita mendapat giliran bertugas shift pagi. Lain halnya dengan Gaung, pria itu mendapat giliran shift malam.


Siang harinya, disaat antrian pasien sudah selesai ia periksa. Ia berniat menuju tempat bermain anak-anak. Di sana ia bisa beristirahat sembari melihat pasien-pasiennya yang masih anak-anak bermain dengan bebas, walau masih


dalam pengawasan.


Ia sangat menyayangi anak-anak. Melihat mereka, membuat semua kepenatannya berangsur menghilang.


Selain anak-anak, ada orang lain yang ia sayangi akhir-akhir ini. Bersama orang ini, ia merasa nyaman. Dan bersama orang ini juga, ia merasa menjadi orang yang lebih ceria.


Hidup sebatang kara selama lima tahun ini, membuat pribadi Nita menjadi tertutup. Ia dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil beruntun lima belas tahun yang lalu.


Nita yang saat itu berusia dua belas tahun, harus kehilangan orang tua dan adik lelakinya. Nita beruntung karena saat kejadian itu, ia berhasil diselamatkan.


Namun, hidupnya berubah setelah kepergian keluarganya. Ia harus hidup sebatang kara, dan berjuang untuk keberlangsungan hidupnya.


Nita menjadi tertutup dengan teman-temannya. Ia pun menjadi pribadi yang anti sosial. Namun, akhir-akhir ini bersama pria itu ia merasakan bahwa dunianya yang dulu telah kembali. Hatinya yang membeku, kini mulai kembali menghangat.


Namun, ia tidak mau berharap lebih. Pria itu telah memiliki perempuan yang ia cintai, yaitu sahabatnya sendiri. Ia tidak mau menjadi orang yang tidak bersyukur dan serakah. Ia sudah bahagia bisa berada di samping pria itu, walau hanya berstatus rekan kerja.


Tuhan telah berbaik hati mengirimkan teman seperti Gaung yang memberikan warna lagi di hidupnya. Jadi, ia tidak boleh menginginkan yang lebih dari itu.

__ADS_1


Nita memasuki ruang bermain. Dahi gadis itu berkerut bingung.


"Tumben jam segini tempat ini sepi, kemana anak-anak?" tanyanya dalam gumaman.


Nita berjalan mendekat ke salah satu tempat duduk kecil di sana. Ia duduk di sana dan merebahkan kepalanya pada meja kecil di hadapannya. Ia memejamkan mata sejenak, mengistirahatkan badan dan hatinya.


Ia merasa terusik saat ada tangan kecil yang menepuk-nepuk pungung tangannya. Nita menegakkan badannya dan melihat ada seorang anak lelaki berdiri gagah dihadapannya.


"Rajawali," panggil Nita yang terkejut melihat mantan pasiennya ada di hadapannya.


"Hallo dokter cantik," Ali melambai-lambai kan tangannya yang mungil di hadapan Nita.


"Ali kok ada di sini? Ali ngerasa sakit lagi?" tanya Nita khawatir.


"Enggak," jawab pria kecil itu sambil menggeleng, sehingga pipinya yang tembem bergerak lucu. "Ali ke sini karena dapat tugas."


"Tugas?" Nita menjadi tambah bingung.


"He'em," jawab Ali sambil mengangguk. "Ini buat dokter cantik." Ali memberikan sekuntum bunga matahari pada Nita.


"Terimakasih." Nita mengambil bunga itu sambil tersenyum.


"Ini titipan dari seseorang, biar dokter cantik selalu tersenyum dan bahagia. Pasukan!" Ali berteriak sambil menepuk tangannya.


Di belakangnya muncul anak-anak lain yang sedari tadi dicari Nita. Nita merasa heran melihat ada teman-teman Gaung di sini. Yang paling membuatnya terkejut adalah pria yang masuk paling akhir. Dia Gaung, pria yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


Pria itu melangkah mendekat sambil membawa sebuket bunga, sebuah senyum menghiasi bibir pria itu.


"Menikahlah denganku," ucap Gaung langsung tanpa basa-basi dan tedeng aling-aling.


"Hah?" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir manis Nita. Ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Aku tahu ini terlalu cepat buat kamu. Tapi, aku serius dengan keinginanku. Aku ingin menjadi tempatmu berkeluh kesah, aku ingin menjadi tempatmu bersandar. Aku tak akan membiarkanmu merasa sendiri lagi. Karena di sini selalu ada aku, yang siap mendampingi dan menjagamu hingga saatnya Tuhan memanggil kita kelak menuju surganya yang abadi."


Tanpa disadarinya, air mata gadis itu menetes. Bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Ia tidak menyangka kalau pria yang dicintainya itu juga memiliki perasaan yang sama.


Nita mengangguk sebagai jawaban permintaan Gaung. Pria itu langsung memeluk dan memberinya kecupan di kening.


"Terimakasih, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia," ucap Gaung, membuat Nita tersenyum bahagia.


"Anjir, muka lempeng gitu bisa romantis juga ...," ujar Roxy yang mendapat tampolan dari Bagus.


"Dari pada elo, muka romantis tapi nasib naas abis," ejek Bagus sambil tersenyum miring.


"Nasib jomblo, di bully mulu," ujar Roxy sambil mengusap dada.


Setelah acara lamaran itu, mereka makan bersama, Gaung yang mentraktir.


"Makasih ya, Er. Ide lo emang cemerlang," ucap Gaung yang mendapat anggukkan dari Valerie.


"Kebanyakan perempuan pasti menyukai anak-anak. Jadi gue usulin cara ini buat momen spesial elo," jawab Valerie.


"Jadi kamu juga suka sama anak-anak, Er?" tanya Elang, "aku kuat kok bikinin kamu banyak anak." Elang mengerlingkan sebelah matanya.


"Jangan bahas soal anak, kalau ngajak nikah aja kamu belum berani!"


SKAK MAT!


Setelah mengatakan itu, Valerie berjalan menghampiri Rajawali dan anak-anak yang lain.


Elang hanya bisa melongo dan terdiam mendengar ucapan sang kekasih. Yang otomatis langsung mendapat sorakan berjamaah dari teman-temannya.


"Hahaha, mamposs lo! Huahahaha, Eri elo lawan ...," Ledekan berjamaah itu membuat Elang tambah merana.

__ADS_1


 


 


__ADS_2