Arakata

Arakata
Sosok-sosok Kejam Yang Taubat


__ADS_3

Kau sudah kembali, dan tak akan kami biarkan kamu tersesat lagi ... saudaraku.


***


"Brengsek, elo mau jadi pengkhianat, hah!" bentak Samuel pada Rama. "Harusnya tadi elo ngebiarin kita buat ngebunuh tuh bocah. Napa malah elo lindungi?"


Samuel mendorong tubuh Rama dengan keras, hingga pemuda itu jatuh terpelanting, punggungnya terbentur tembok di belakangnya. Teman-temannya yang lain tidak menolongnya, mereka hanya menyaksikan sambil tersenyum mencemooh.


"Mungkin dia mau gantiin temennya yang lemah itu, brow," celetuk Alex, pria itu membuang puntung rokok dan menginjaknya. Ia berjalan ke arah Rama berada, ia berjongkok ... menyamakan tingginya dengan pemuda yang masih terbaring itu, ia mencengkeram dagu Rama, menengadahkan wajah pemuda itu agar memandangnya. "Elo terbuai sama mereka, hm? Gue ngirim lo ke mereka buat jadi mata-mata, terus kenapa lo malah terbuai sama mereka? Elo lupa dari mana asal lo, hah? Elo itu Brutalz bukan Arakata!" Alex menampar pipi Rama, hingga ujung bibirnya terluka.


Rama hanya terdiam diperlakukan seperti itu. Ia akui, ia memang terbuai dengan Arakata, terbuai dengan ikatan persaudaraan yang mereka tawarkan, dan hal itu tidak ia dapatkan saat ia bersama Brutalz. Dengan Arakata, ia bisa benar-benar mengerti arti sebuah kesolidaritasan. Bersama Arakata ia mendapatkan sebuah ketulusan, yang tidak ia dapatkan di dalam lingkungan keluarganya sendiri.


Bersama Arakata, ia merasa dihargai ... ia dianggap sebagai anggota keluarga. Namun, jika dengan Brutalz, ia hanya diperlakukan seperti budak. Ia hanya dimanfaatkan, ia tahu jika dibelakangnya, mereka selalu mengatainya sebagai anak haram. Ia sudah terbiasa dengan julukan itu.


Terlahir tanpa kehadiran seorang ayah, membuatnya sering mendapat cemoohan dari teman-temannya sedari kecil. Dulu, ibunda dari Rama melahirkannya tanpa ikatan pernikahan. Ayahnya adalah seseorang yang berkebangsaan Korea, saat berhubungan dengan ibundanya, ayahnya itu sudah memiliki keluarga di Korea. Ibunda Rama tidak mengetahui hal itu, setelah beliau mengetahui hal itu, beliau yang sedang mengandung Rama pergi ke luar kota agar ayah Rama itu tidak bisa menemukan mereka.


Jadi, Rama tumbuh hanya dengan sang ibunda. Ibunya jarang berada di rumah karena kesibukannya bekerja. Hal itu yang membuatnya mencari keramaian di luar sana. Namun, ia bertemu dengan Brutalz yang menjadikannya salah jalan. Sampai suatu ketika ia diperintahkan oleh mantan ketua Brutalz yang tidak lain adalah Alex untuk memata-matai Arakata.


Awalnya ia kurang bisa berbaur dengan anggota Arakata yang lain. Namun, dengan mudahnya mereka bisa masuk ke dalam hatinya. Dengan mudahnya mereka bisa membuat Rama untuk menyayangi mereka. Tidak pernah sekalipun, mereka mengungkit statusnya sebagai anak haram, padahal mereka juga sudah mengetahui latar belakang keluarganya. Mereka menganggapnya sama dengan anggota yang lain, sama sekali tidak ada kesenjangan dari angkatan manapun. Semua membaur menjadi satu.


Bersama Arakata, ia mulai mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang selama ini berusaha ia cari. Kelakuan konyol teman-temannya, sikap tegas waktu melawan musuh, dan rasa kasih saat berbagi denga sesama. Semua hal itu sudah membekas di hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa menghianati orang-orang yang sudah ia anggap sebagai anggota keluarga itu? Tidak, ia tidak bisa melakukannya, karena hatinya terlanjur masuk dalam keluarga yang bernama Arakata. Ia tidak akan menyakiti anggota keluarganya, apapun resikonya.


"Brengsek! Kenapa lo diam aja, hah!" bentak Samuel, "elu udah mulai bisu!" Samuel menendang perut Rama, tapi lagi-lagi pemuda itu tidak melawan. Seandainya ia mau melawan, Rama akan menjadi lawan yang tangguh bagi mereka. Selama setahun ini, ia mendapat banyak ilmu dari Arakata, termasuk ilmu bela diri. "Terlalu lama berada di dalam Arakata bikin lo jadi gagu! Elo udah ketularan tingkah bodoh geng konyol itu, hah!"


Begitu mendengar nama Arakata yang dicemooh, pemuda itu langsung bereaksi. Dengan cekatan ia memelintir tangan Samuel di belakang tubuhnya.


"Jangan pernah sebut nama keluarga gue dengan mulut busuk lo!" ucap Rama, wajahnya yang biasa terlihat tenang, sekarang dilimuti amarah.


"Brengsek! Masih bisa sombong, Lo!" umpat Samuel, berusaha melakukan perlawanan. Tapi percuma, tenaga Rama lebih besar darinya.

__ADS_1


Alex hendak memukul Rama dengan balok kayu yang dipegangnya dari belakang, sampai sebuah suara menghentikan niatnya itu.


"Wah, katanya geng yang banyak ditakuti orang, tapi beraninya main keroyokan. Ternyata Brutalz gak lebih dari sekumpulan cowok tengil yang pengecut," ucap Valerie, gadis itu masuk ke dalam markas Brutalz dengan tangannya yang bersedekap.


"Kak Eri," lirih Rama memanggil seniornya di Arakata itu.


"Hay, Rama," sahut Valeri sambil melambaikan tangannya. "Ish, kok bisa babak belur, sih? Besok elo harus privat beladiri sama gue. Berguru sama Gandi gak bikin lo tambah kuat, malah babak belur begini." Valerie memperhatikan wajah Rama yang lebam.


"Enak aja, Lo!" seru Gandi. Pria itu  melangkah di belakang Valerie diikuti anggota yang lainnya, termasuk dari geng-geng sekutu mereka.


"Kenapa elo nongol sekarang, sih!" protes Valerie, tidak terima para sahabatnya muncul sekarang. "Perjanjiannya kan kalian muncul kalau gue minta bantuan."


"Kalau nurutin elo minta bantuan, kita gak bakal kebagian peregangan otot, Er," sahut Bagus, "enak di elo, merana di kita."


"Ck, kesenangan belum gue mulai, udah ganggu duluan kalian," decak Valerie, entah kenapa tatapan matanya terlihat lebih kejam.


"Wah, gue mencium bau-bau jiwa sadis lo bangkit, Er," ucap Roxy sambil merangkul pundak Valerie. "Gue inget betul nih pandangan mata lo yang kayak gini, pandangan mata yang lo tujuin dulu ke Choky, setelah itu lo buat ketua gue itu sekarat di rumah sakit. Satu hal yang gak bakal Choky dan gue lupain


"Posesif," cibir Roxy, "urusin aja noh cowok yang dari tadi mandangin lo, mungkin dia kangen sama bogeman maut lo sepuluh tahun yang lalu." Roxy menunjuk pada Alex yang sedari tadi memperhatikannya.


Elang langsung mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang sepuluh tahun lalu pernah hampir dibunuhnya. Pria itu tersenyum miring, jenis senyuman yang membuat mental lawan menjadi down.


"Wah, gue lupa kalau sekarang kita ada di markas mereka," ucap Elang santai. "Elo mau matahin kaki dia lagi gak, Ga."


"Boleh juga, tapi enggak ah. Gue punya ide yang lebih seru dari matahin kakinya." Gaung mengeluarkan pisau bedah dari saku jaket yang dipakainya. "Gimana kalau gue bedah aja dadanya, terus gue ambil jantungnya, gue sumbangin sama orang yang membutuhkan."


"Wah, ide bagus tuh," sahut Braga antusias. "Ah, gue ngerasa jiwa yang udah lama berusaha gue kubur, muncul lagi di permukaan, nih!" Braga terbahak, ia mulai meraskan agak pusing di kepalanya.


"Heh, awas aja kalau alter ego lo sampai keluar lagi!" seru Valerie, sambil menggeplak punggung Braga. "Kendaliin emosi, Lo! Ngelawan mereka gak perlu manggil Bryan, awas aja kalau Bryan sampai muncul."

__ADS_1


Braga kembali pada fokusnya, kemudian pria itu meringis pada Valerie.


"Iya, Er. Gue juga paham resikonya kali, ogah lagi gue dikuasain Bryan," sahut Braga.


Bryan adalah nama untuk alter ego Braga. Dulu waktu Braga masih menjadi perusuh dan belum menjadi sekutu Arakata, alter egonya sering menguasainya. Jika Bryan sudah muncul ke permukaan, tidak ada yang bisa menghalaunya. Jika Braga masih punya sisi welas asih, berbeda dengan sosok Bryan. Bryan seperti sosok yang tercipta dari pengumpulan sisi tergelap Braga.


Braga adalah sosok pria yang suka memendam semua perasaannya. Entah itu kemarahan, kekecewaan, rasa ingin berontak. Semua tidak pernah ia ceritakan secara gamblang pada siapapun. Hal itu yang menyebabkan munculnya sosok Bryan, sosok dari semua perasaan buruk yang berusaha ditahannya.


Tidak ada yang bisa menghadapi sosok Bryan, kecuali satu orang. Dengan mudah orang itu bisa menaklukkan Bryan. Siapa lagi kalau bukan Valerie Livia Laksmono. Hanya dengan Valerie, Bryan mau menurut. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Braga dan Blue Eagle bisa menjadi sekutu Arakata.


Alex, Samuel, dan anggotanya yang lain menelan ludah. Mereka tidak menyangka jika lawannya itu adalah sekumpulan orang kejam yang taubat. Dulu, Alex sudah mengalami sendiri bagaimana kekuatan Elang Rayan Garindra. Namun, ia tidak menyangka jika anggota yang lainnya juga memiliki kisah yang tidak kalah suram. Apalagi dengan sosok wanita cantik, tapi terlihat menyeramkan yang baru ia temui sekarang.


"Gak ada yang boleh nyentuh nih mantan ketua, kecuali gue," ucap Valerie sambil memperlihatkan seringaiannya itu. Membuat Alex kembali menelan ludahnya susah payah.


"Mampus, Lo! Alamat sekarat lagi di rumah sakit," celetuk Bagus, "tapi tenang aja, untuk urusan biaya bakalan diurus sama dia." Bagus menunjuk Valerie dengan dagunya.


"Rama, elo mundur aja. Bentukan lo udah mengenaskan gitu," perintah Valerie pada Rama, tapi pemuda itu menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Kak. Gue mau bikin perhitungan sama orang-orang yang selama ini udah ngerendahin gue, udah memperlakukan gue seperti binantang."


"Oke kalau gitu," ucap Valerie sambil tersenyum. "Kalau gitu gue serahin ketuanya sama elo, mantan ketua biar gue yang urus."


"Alamat dapat yang receh kita," gerutu Andi sambil manyun.


"Gak masalah, Bang," sahut Gema, "recehan kan jumlahnya lebih banyak, seru kan?" Gema menaik-turunkan alisnya.


"Bener juga lo, Thong," sahut Andi lagi.


"Kalau gitu nunggu apaan lagi? Ayo bermain." Valerie mengangkat tangan kanannya, mengomando teman-temannya.

__ADS_1


"Siap," sahut mereka bersamaan.


__ADS_2