Arakata

Arakata
Menyiapkan Perangkap


__ADS_3

"Sama sekali gak ada yang mencurigakan," gumam seorang pria. Pria itu terus memperhatikan layar ponselnya. "Komunikasi dengan teman-temannya pun hanya komunikasi biasa. Bagus, artinya dia gak sadar jika sudah masuk perangkap."


Pria yang tidak lain adalah Dito itu meletakkan ponsel di nakas sebelah ranjangnya. Kemudian ia mengambil sebuah figura yang terpajang foto seorang gadis cantik. Sambil tersenyum, ia mengusap figura foto itu.


"Andai saat itu kamu tidak menolakku, saat ini kamu masih ada di sisiku," ucap Dito sembari mengusap wajah ayu yang ada di dalam foto. "Semua di luar kendaliku, aku tak bermaksut membunuhmu. Aku hanya ingin memilikimu, tapi kamu selalu menolakku. Sampai kapanpun kamu milikku, tak ada yang bisa memilikimu selain aku, Feli ...."


Dito meletakkan kembali figura foto itu ke tempatnya. Ia bangkit berdiri dan melangkahkan kaki menuju tempat rahasia yang berada di dalam kamarnya, tempat yang hanya dia sendiri yang tahu ... bahkan Cakrawala yang sahabat dekatnya pun tidak mengetahuinya.


Dito berjalan perlahan memasuki ruangan yang dipenuhi dengan foto-foto Felicia dan Valerie. Ia mengambil salah satu foto Valerie dan memandangnya sambil tersenyum misterius.


"Valerie Livia Laksmono, seorang gadis yang disayangi banyak orang, panglima perang yang paling disegani banyak geng-geng besar. Sebentar lagi kamu akan memenuhi takdirmu, kamu harus menggantikan posisi Felicia. Kamu harus menjadi milikku, jika tidak bisa ... kamu juga harus mengalami nasib yang sama dengan Feli, yaitu mati," ucap Dito sambil menyeringai.


"Sebenarnya kamu gak bersalah sama sekali, hanya saja kamu sedang bernasib buruk. Kebetulan kamu berada di sekitar Elang Rayan Garindra, pria yang sangat aku benci. Aku terobsesi untuk memiliki semua yang dimiliki Elang, jika aku tidak bisa memilikinya ... aku akan menghancurkannya, agar Elang juga tidak bisa mendapatkannya. Cukup adil bukan? Hahahaha." Tawa Dito menggema di ruangan sempit itu, ia merobek foto Valerie yang digenggamnya. "Jadi milikku atau akan kuhancurkan."


***


"Monyong terus aja mulut elo, Lang," ucap Valerie sambil melirik pada Elang yang sedang cemberut.


Gadis itu sekarang sedang berada di ruang kerja Elang dengan ponsel Elang yang masih setia berada di tangannya.


"Perasaan itu ponsel gue, Er. Tapi kenapa chat-nya buat elo semua," protes Elang, "dari pagi tadi lho, chat-nya buat elo doang."


"Kenapa emangnya? Elo gak suka kalau gue pinjem ponsel lo buat chat anak-anak? Ya udah gue balikin, gue ke kantornya Valero aja, pinjem ponselnya dia." Valerie meletakkan ponsel milik Elang ke meja kerja pria itu. Saat Valerie hendak melangkahkan kakinya keluar dari sana, Elang buru-buru mencegahnya. Pria itu menggenggam pergelangan tangan perempuan yang sempat menjadi calon istrinya.


"Gak usah ke kantor si kutil, elo di sini aja. Pakai aja ponsel gue," ucap Elang, ia memberikan ponselnya kembali pada Valerie.


"Nah, gitu dong. Lagian gue pinjem ponsel lo juga buat hubungi anak-anak, bahas rencana kita buat ngelawan Dito. Kalau ponsel gue gak disadap sama tuh pria gila, gue juga gak mungkin pakai ponsel elo, Lang." Valerie mengambil kembali ponsel dari tangan Elang. Ia kembali duduk di sofa dekat meja kerja Elang.


"Iya, gue cuma ngerasa sebel aja ... setelah kita putus, mereka langsung gencar ngedeketin elo. Apalagi si Palelo sama Cakra, gak ada matinya nge-chat elo mulu," dumel Elang sambil memanyunkan bibirnya.


"Emangnya kenapa? Apa itu ngeganggu elo?" tanya Valerie, ia menatap Elang dengan intens, yang ditatap malah memalingkan muka, salah tingkah.


"Keganggu sih enggak, tapi ...," Elang menjeda omongannya.


"Tapi ... elo cemburu, hm?" tanya Valerie tanpa tedeng aling-aling, membuat Elang langsung terdiam.


"Setelah apa yang lo lakuin ke gue, apa lo masih punya hak buat cemburu?" Lagi, pertanyaan Valerie yang blak-blak'an membuat Elang terpojok. "Gue malah sempat berpikir buat mencoba menjalin hubungan sama salah satu dari mereka, siapa tahu kami memang berjodoh dan bisa sampai jejang pernikahan, bahkan sampai maut memisahkan."

__ADS_1


Skak Matt!


Elang mengepalkan tangannya, ada rasa tidak terima atas perkataan Valerie itu. Tapi dia bisa apa? Semua ini terjadi memang karena salahnya. Seharusnya ia tetap mempertahankan hubungan dengan Valerie, dan menjaga gadis itu dari orang-orang yang ingin menyakitinya. Bukannya malah menjadi seorang pengecut yang memilih jalan pintas untuk meninggalkan.


Semua sudah terlanjur terjadi, tidak ada yang bisa ia perbaiki. Keluarga Valerie juga sudah sangat kecewa dengan keputusannya saat itu. Jadi, akan sangat susah jika ingin mendapatkan restu mereka kembali. Jangankan restu, mendapatkan ampunan dari mereka pun sudah menjadi sebuah keberuntungan.


Itulah konsekuensi dari keputusannya, konsekuensi yang harus ia bayar mahal. Bukan dibayar dengan nominal uang, tapi dengan sebuah perjuangan, agar ia bisa mendapatkan hati perempuan yang sangat ia cintai kembali.


Ia paham dengan sifat Valerie, bahkan ia sangat mengerti. Tumbuh besar bersama gadis itu, membuatnya paham dengan sifat gadis yang dicintainya itu. Valerie adalah gadis yang mempunyai watak yang keras, semua yang sudah menjadi keputusannya akan sangat sulit untuk diubah, dan tidak ada yang bisa mempengaruhinya.


Valerie mempunyai pemikiran yang terbuka atas semua pendapat orang lain. Ia juga mempunyai toleransi yang tinggi, ia juga seorang yang bisa begitu mudah memaafkan orang lain. Namun, kesalahan yang dilakukannya kali ini sudah sangat fatal. Bahkan Valerie sampai frustasi saat itu, gadis itu sampai hampir kehilangan akal sehatnya.


"Iya, gue paham, Er. Gue udah gak termaafkan," lirih Elang, pria itu tersenyum kecut.


"Untuk sebuah kata maaf, gue udah maafin elo, Lang. Tapi untuk sebuah kesempatan, gue gak bisa memberikannya dengan mudah lagi kali ini. Udah lebih dari tiga kali elo menorehkan luka di sini, Lang." Valerie menunjuk pada dadanya. "Berulangkali juga elo melanggar janji elo sendiri. Jadi, akan butuh waktu yang lama untuk gue bisa menaruh kepercayaan lagi. Mungkin memang ini takdir kita, Lang ... tidak akan bisa bersama."


Deg!


Tubuh Elang menegang, ia merasakan sakit di hatinya. Valerie, seseorang yang selalu berpikiran positif, bisa mengatakan hal itu padanya. Valerie, gadis yang selalu optimis, bisa seputus asa itu menanggapi hubungan mereka.


Tapi memang itulah salah satu konsekuensinya, konsekuensi dari kesalahannya. Yang bisa ia lakukan? Hanya lebih berlapang dada untuk bersabar hingga gadis pujaannya itu kembali membuka hati padanya.


"Elo kebelet eek itu, makanya merinding," sahut Valerie, berusaha memecah suasana tegang di sana.


"Ck, gue kebelet eek karena lihat wajah elo," decak Bagus sambil memukul Valerie dengan map yang ia bawa.


"Ish emangnya wajah gue ******!" Valerie balas memukul Bagus dengan kepalan tangannya, yang terasa lumayan pegal.


"Auh, pukulan lo masih aja kenceng, Er," protes Bagus sambil mengusap-usap lengan yang habis terkena bogeman dari Valerie.


"Mulut gue juga masih lincah kalau elo mau gue nge-rap seharian."


"Maksih, Er. Gak usah," sahut Bagus cepat sembari menggelengkan kepala. "Kuping gue udah pengeng kalau bini gue lagi ceramah, ini malah mau lo tambahin ... kasihan kuping gue."


"Gak mungkin ah, Yulia pendiam gitu kok," sahut Elang.


"Pendiam kalau sama orang lain, kalau sama gue udah kayak burung beo."

__ADS_1


"Telepon Yulia ah, bilang kalau elo ngatain dia," ucap Valerie usil sambil meletakkan ponsel Elang di telinganya, seakan menghubungi seseorang.


"Eh kampret, Janganlah Er," sahut Bagus cepat. "Nanti gue bisa disuruh tidur di kebon."


"Traktir cilok di depan kantor sebagai penutup mulut gue," ucap Valerie, ia tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.


"Gue beliin segrobaknya kalau perlu," sahut Bagus. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Re, tolong beliin cilok di depan kantor, borong semua kalau perlu." Setelah selesai menelepon, Bagus meletakkan ponselnya kembali di meja.


"Telepon siapa lo?" tanya Elang.


"Reynald, gue minta dia beli cilok buat nih cacing kremi," sahut Bagus.


"Kampret lo, napa jadi asisten gue yang elo suruh-suruh. Elo kan punya asisten sendiri!" protes Elang tidak terima.


"Pinjem bentar, Lang. Bambang kan ada di kantor gue, kejauhan kalau gue minta tolong dia. Berat diongkos juga."


"Dasar medit," ucap Valerie dan Elang bersamaan.


"Cie, kompak nih ye," ledek Bagus yang langsung mendapat tatapan tajam dari Elang dan Valerie. "Elo kenapa pakai nomernya Elang sih? Tumben juga grup chat Arakata sepi."


Bukannya menjawab, Elang dan Valerie malah saling berpandangan.


"Kasih tahu gak nih si Gabus?" tanya Valerie pada Elang, Valerie berbisik di dekat telinga Elang, membuat Bagus mengernyitkan dahinya, merasa curiga.


"Kalau dikasih tahu, nih anak mulutnya kayak ember bocor. Bisa ambyar rencana kita kalau si lambe turah gibah kemana-mana. Tapi elo juga tahu sendiri gimana Bagus, dia bisa nambah kekuatan buat kita. Belasan orang aja dia buat terkapar, bermanfaat banget buat kita," jawab Elang juga sambil berbisik-bisik.


"Elo berdua gue tampol ya, ditanya malah pada bisik-bisik kayak pembantu komplek," ucap Bagus jengkel.


"Sini deh," panggil Valerie pada Bagus sambil melambaikan tangannya.


Dengan patuh Bagus melangkahkan kakinya menghampiri sofa di mana Valerie dan Elang duduk.


"Gue kasih tahu, tapi mulut lo jangan ember," ucap Valerie sambil membolakan matanya, mencoba mengancam sahabatnya itu.


"Iye, mulut lemes gue juga bisa lihat situasi kali, Er," jawab Bagus, pria itu duduk di tengah-tengah antara Valerie dan Elang.


"Sini." Valerie kembali melambaikan tangannya, meminta Bagus lebih mendekat padanya. "Sebenernya ... gue laper, cilok lo kelamaan."

__ADS_1


Bagus langsung memalingkan wajahnya menatap tajam pada Valerie, membuat gadis itu tersenyum lebar.


__ADS_2