
Prang!
Sudah tidak terhitung berapa barang yang dipecahkan Valerie hari ini.
"Astagfirullah, Dek. Kamu kenapa dari tadi mecahin barang-barang? Kamu lagi ada masalah?" tanya Laksmono pada putrinya.
"Eri gak tahu, Yah." Valerie menggelengkan kepalanya. "Perasaan Eri gak enak, kayak ada yang mengganjal dari tadi. Awh," ringis Valerie, ujung jarinya terkena pecahan vas bunga.
"Hati-hati, Dek. Kamu obati luka kamu aja, biar ayah yang beresin pecahan kacanya."
Valerie menganggukkan kepalanya. Kemudian gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa dari tadi rasanya gelisah banget, ya?" Valerie meletakkan telapak tangan di dadanya. Debaran jantungnya berbeda dari biasanya. Seakan ada firasat buruk tentang suatu hal. Tidak lama kemudian ponselnya berdering, ada
panggilan masuk dari Rajawali.
"Assalamu'alalikum," salam Valerie.
"Wa'alaikumsalam, Sayang," jawab Rajawali di seberang sana. "Lagi apa?"
"Ngobatin luka di jari aku," jawab Valerie sambil melingkarkan plester di jarinya yang terluka.
"Kamu terluka?" tanya Rajawali terdengar panik.
"Cuma kegores waktu beresin pecahan vas bunga."
"Hati-hati, aku gak mau kamu terluka, walau itu hanya tergores, aku gak mau kamu dalam bahaya." Petuah dari Rajawali terdengar tegas.
"Iya, gak usah terlalu khawatir. Lagian waktu ngeliput berita bareng kamu, aku juga sering terlibat bahaya."
"Itu kan ada aku, jadi bisa jagain kamu. Sekarang kamu lagi berada jauh dari aku."
"Di sini kan juga banyak teman-teman Arakata, mereka pasti ngelindungin aku. Lagian aku bukan perempuan lemah yang harus dilindungi setiap saat," protes Valerie.
"Apapun itu, intinya kamu harus bisa jaga diri di sana walau gak ada aku di dekat kamu lagi."
"Ish, omongan kamu kayak mau pisah selamanya, bentar lagi kamu juga bakalan ke sini lagi."
"Hehe, efek rindu, Sayang."
"Gombal, diabetes lama-lama aku denger omongan manis kamu. Kamu gak tugas? Di sini jam delapan
pagi, pasti di sana jam sepuluh pagi, kan? Gak tugas, malah gombal mulu."
"Gak ada yang melarang aku buat godain calon istri sendiri. Aku dapat tugas malam sayang. Target kami kali ini mafia, penyelundup obat terlarang dan senjata api."
Deg!
Badan Valerie membeku seketika. Ada rasa tidak nyaman mengusik perasaannya kembali.
"Apa gak bisa untuk kali ini saja kamu jangan melaksanakan tugas itu?" tanya Valerie khawatir.
__ADS_1
"Ini tugas, aku gak bisa nolak. Kamu jangan khawatir. Begitu tugasku selesai, aku langsung ke sana. Aku sudah pesan tiket pesawatnya. Ini tugas terakhirku."
"Tugas terakhir?"
"Iya, ini kan emang tugas terakhir ku sebelum kita nikah, kan? Setelah ini aku ngajuin cuti."
"Kamu hati-hati," pesan Valerie.
"Iya, Sayang. Nanti aku bakalan hubungin Elang sama yang lain, buat jagain kamu."
"Aku mau kamu yang jagain aku. Jangan ngelimpahin tanggung jawab kamu ke teman-temanku."
"Tapi kan sekarang aku gak lagi di dekat kamu, Sayang. Jadi ak--"
"Besok kan kamu juga bakalan ke sini. Jadi, aku mau yang jaga aku itu kamu, calon suami aku. Ini perintah, gak bisa dibantah!"
"Hahahaha, perasaan yang polisi dan sering ngasih perintah itu aku. Tapi, sekarang aku yang dapat perintah, galak pula."
"Gak usah ketawa! Aku serius!"
"Iya, Sayang. I love you ...."
"Aku juga sayang kamu."
Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana.
"Untuk kali ini saja, bisakah aku mendengar kamu bilang cinta ke aku? Cinta, bukan sayang."
"Sesusah itukah kamu bilang cinta ke aku, Vi?"
"Raja, aku-"
"Aku gak mau maksa kamu, Vi. Udah dulu ya, ada yang harus aku urus lagi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf ,Raja. Aku tahu kamu kecewa," lirih Valerie setelah menutup sambungan telepon.
***
"Elo dapat DM dari pak polisi Korea, gak?" tanya Bagus kepada teman-temannya.
Malam ini mereka berkumpul di cafè milik Praama. Mereka adalah Bagus, Gaung, Gandi, Robert
dan Roxy. Elang tidak ikut karena ia sedang tugas. Sedangkan Valerie, gadis itu bertindak aneh seharian ini. Seakan tidak mau melakukan apapun hari ini.
"He'em, tuh bucin DM gue juga," jawab Gaung sambil menyesap kopi hitam pesanannya.
"Bucan-bucin, ngaca sana!" omel Roxi, "sepuluh tahun masih stuck sama satu cewek yang sama. Itu namanya apa kalau bukan bucin."
"Gue bukan playboy macam lo. Yang cintanya nomaden, gampang banget pindah-pindah hati."
__ADS_1
"Nomaden, elo kira gue manusia purba!"
Gaung menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya hewan purba."
"Wah, ngajak perang ini bocah. Lo lupa kalau gue mantan wakil geng Rajawali?"
"Elo juga lupa kalau gue wakil Arakata angkatan tujuh?"
"Elo berdua apaan sih, malah pada pamer jabatan," sela Gandi, "kasihan Robert noh yang gak punya jabatan di Gester." Gandi menunjuk Robert dengan dagunya.
"Walau gue gak punya jabatan, paling gak gue tetep bangga bisa nyumbangin medali-medali gue buat Indonesia," sahut Robert.
"Weh, oncom lo semua!" Bagus melempar teman-temannya dengan tisu. "Gue bahas pak polisi Korea, elo pada malah riya jabatan."
"Kita kan udah jarang kumpul karena urusan kerjaan masing-masing. Jadi, gak masalah kan banggain pencapaian diri? Lagian napa sih elo semangat banget sama calon suami Eri?" tanya Roxy, "jangan-jangan elo suka ya sama tuh polisi yang namanya niru nama geng gue? Kalau mau mencong, jangan makan punya temen lah. Dibogem Eri, lewat nyawa lo!"
Pletak!!!
Roxy mengusap kepalanya yang terkena ketokan sendok dari Bagus.
"Gue pria normal, gue juga mau nikah kalau elo lupa!" sewot Bagus tak terima. "Gue yang raguin elo." Bagus tersenyum miring. "Elo ngaku playboy, tapi umur udah hampir tiga puluh belum juga nikah. Jangan-jangan karena bosen hubungan sama perempuan, elo jadi belok sama pisang?"
"Jangan nyebar fitnah lo, entar pasaran gue jatuh di depan dedek-dedek emesh," ratap Roxy.
Bagus terbahak melihat wajah nelangsa Roxy.
"Gue ngebahas Rajawali, Rajawali calon suaminya Eri, bukan Rajawali geng lo!" Bagus melirik Roxy tajam, yang hanya dibalas cengiran oleh pria itu. "Perasaan gue gak enak sama Raja."
"Bentar," potong Gandi, "Eri sukanya sama sejenis burung ya. Dulu Elang, sekarang Rajawali. Mungkin besok-besok cucak rowo kali, ya."
Pernyataan unfaedah dari Gandi, sukses mendapat hadiah tatapan tajam dari teman-temannya yang lain.
"Maksut lo, Raja bukan pria baik?" tanya Robert.
"Bukan, bukan tentang sikap Raja. Kalau itu gue yakin Raja sangat mencintai Eri, bahkan pak polisi udah sampai level bucin. Kayak dua sahabat gue di Arakata." Bagus melirik Gaung dan langsung dibalas tatapan tajam.
"Kalau ada Elang juga di sini, babak belur lo. Terancam batal nikah," bisik Roxy.
"Damai, Ga." Bagus mengangkat dua jarinya sambil meringis sok polos. "Elo semua kan tahu kalau gue punya sixth sense. Semalam gue mimpi, gue ngelihat Valerie terpuruk sambil melihat foto Raja."
"Jangan-jangan Eri di selingkuhin tuh polisi Korea," terka Gandi.
Bagus menggelengkan kepala. "Gue yakin kalau Raja setia sama Valerie. Tapi gue juga masih bingung sama mimpi gue." Bagus memijit pelipisnya. Pria itu selalu merasa pusing, jika tidak bisa memecahkan teka-teki dari semua firasat yang dirasanya.
"Elo semua ikut gue ke rumah!" Perintah Pratama, wajah pria itu merah padam dan terlihat kusut.
Tanpa banyak tanya, mereka mengekor ke mana abang Valerie itu pergi. Pasti ada yang tidak beres, karena Pratama yang biasanya tenang, sekarang terlihat panik dan khawatir.
Apakah terjadi sesuatu dengan sahabat mereka, atau ....
__ADS_1