
Jangan pernah menganggap dirimu lebih rendah dari orang lain. Syukuri yang ada pada dirimu, karena itu merupakan wujud syukurmu pada yang telah menciptakanmu.
***
"Assalamu'alaikum, Elang,," salam Valerie begitu masuk ke dalam rumah Elang.
Gadis itu memang sudah sering keluar masuk rumah Elang. Semenjak lahir mereka sudah saling mengenal, membuat tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka berdua.
"Waalaikumsallam, Sayang," jawab Jelita, ibunya Elang. "Duduk dulu, Er. Elangnya lagi siap-siap.
"Iya, Tante," jawab Valerie begitu sampai di ruang tamu.
"Udah dibilang jangan panggil tante. Panggil mama aja, Sayang.Sama kayak Elang." Jelita mengelus sayang kepala Valerie.
"Hehehe ... iya, Ma." Valerie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Masih ada sedikit kecanggungan, jika harus memanggil ibu sahabatnya ini dengan sebutan mama.
"Ikut sekalian sarapan yuk, Sayang." Jelita menggandeng tanganValerie dan mengajaknya ke ruang makan. Di sana sudah ada Garindra yang sedang duduk manis, sambil menyendokkan makanan kemulutnya.
"Eh, ada calon mantu," goda Garindra, begitu melihat Valerie yang digandeng istri tercintanya. "Sini ikut sarapan, Sayang."
"Iya, Om. Kebetulan tadi Eri udah sarapan sama ayah dan abang-abang," jawab Valerie sambil duduk di kursi sebelah kanan Garindra.
"Wah, pasti kamu yang masak ya?" tanya Garindra yang dijawab anggukkan oleh Valerie. "Laks selalu banggain masakan kamu lho Er. Dia bilang kalau masakan putrinya gak ada lawannya. Om juga pengen dong ngerasain masakan kamu. Lebih enak mana sama masakannya mamanya Elang?"
"Jelas enak masakannya tante, eh Mama Jelita dong, Om. Ayah bilang begitu, karena Eri ini anaknya om, jadi di puji-puji."
"Kamu manggil mamanya Elang mama, kenapa manggil saya om? Panggil papa juga dong, sama kayak Elang. Kan kamu calon mantu papa," goda Garindra yang membuat wajah Valerie memerah karena malu.
"Mantu apaan?" sahut Elang yang baru turun dari kamarnya. Pria itu sudah lengkap dengan seragam dan tas ranselnya. "Ogah Elang punya bini yang bentukannya model cowok begitu. Berasa homo Elang, Pah."
Perkataan Elang membuat Valerie melotot jengkel. Tapi Elang cuek saja, ia tetap menyendokkan nasi ke piringnya walau mendapat tatapan tajam dari Valerie.
"Hush, Elang gak boleh gitu," sela Jelita, "cantik begini kok dibilang cowok."
"Besok-besok kalau papah tau kamu sampai ngejar-ngejar Valerie, papah ketawain kamu. Kalau perlu ampe guling-guling." Garindra melirik anaknya yang mencebikan mulut jengkel. Pria itu tersenyum tipis melihat anaknya yang mempunyai gengsi terlalu tinggi. Sama seperti dia dulu, waktu jatuh hati pada Jelita.
"Udah ah, malah tambah gak jelas ngomongnya. Elang berangkat sekolah dulu, Pah ... Mah." Elang mencium tangan kedua orang tuanya. Disusul Valerie yang juga melakukan hal yang sama.
"Eri juga pamit ya, Mah ... Pah."
"Iya," sahut Jelita, "jangan ngebut ya, Lang. Jagain calon mantu mama. Jangan sampai lecet."
__ADS_1
"Hm," jawab Elang singkat.
Orang tuanya memang selalu menjodoh-jodohkannya dengan Valerie. Menurut mereka, Valerie itu gadis yang perfect. Cantik, pintar, jago masak, sopan, jago beladiri. Emang sih, tapi ....
***
Elang dan Valerie sampai di sekolah tepat pukul setengah tujuh. Di parkiran sudah ada Gaung, Gandi dan Bagus.
"Lama lo berdua, ditungguin juga," omel Gandi yang bersender pada motor sport hitamnya.
"Ish, bukan kita berdua yang elo tunggu. Tapi ini kan?" Valerie menyerahkan paper bag berisi kotak makanan pada Gandi.
"Hehehe, elo emang sohib paling pengertian Er."
"Ishhh," gumam Valerie sebal.
Setiap harinya, Valerie selalu membawakan bekal makanan untuk Gandi. Gandi hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya. Orang tuanya sering keluar kota untuk tugas.
Menurut Gandi, masakan Valerie lebih enak dari masakan Andien atau asisten rumah tangganya. Jadi, setiap pagi cowok itu meminta Valerie membawakannya bekal.
Valerie merasa tidak keberatan dengan itu, toh setiap pagi dia selalu memasak untuk sarapan ayah dan abang-abangnya.
"Lebay," ucap keempat orang itu bersamaan.
"Aduh ...."
Kelima inti Arakata itu menengok kearah sumber suara yang mengaduh itu. Di belakang mereka, Amelia terduduk dengan lutut yang terluka.
"Elo kenapa?" Valerie menghampiri Lia dan berjongkok di hadapannya.
"Jatuh, sshh ...." erangnya merasakan perih pada lututnya yang berdarah.
"Ceroboh," celetuk Elang sambil memperhatikan gadis mungil itu. Amelia yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah.
Valerie mengambil tas Amelia yang terjatuh dan memberikannya pada sang empunya. "Gue antar ke UKS yuk, lukanya diobatin dulu. Dokter Yoga mungkin udah datang."
"Gak usah Er," cegah Elang, "elo masuk kelas aja, bentar lagi bell. Biar gue yang bawa dia ke UKS, gue sama dia sekelas kok." Elang mengalungkan sebelah tangan Amelia ke lehernya. Cowok itu memapah Amelia ke UKS.
Keempat temannya melongo menatap kepergian Elang. Tidak biasanya cowok itu perhatian dengan seorang perempuan. Biasanya Elang bersikap masa bodo dengan perempuan, kecuali Valerie tentunya.
"Elang kesambet," celetuk Bagus
__ADS_1
"Si bos falling in love," celetuk Gandi sambil memeluk paper bag nya. Takut diambil lagi oleh Bagus.
"Bagus lah kalo Elang suka sama cewek. Lha elo," lirik Gaung pada Gandi, "meluk rantang kenceng bener, peluk tuh cewek. Gue ragu kalau elo masih normal."
"Kampret lo Ga, ngaca woe ngaca. Situ juga jomblo!!" teriak Gandi pada Gaung yang berlalu dari adapannya sambil menggandeng tangan Valerie. Karena sedari tadi, gadis itu hanya bengong sambil melihat kepergian Elang.
"Cantik," celetuk Valerie pelan, tapi Gaung masih bisa mendengarnya.
"Siapa?" tanya Gaung yang bingung dengan perkataan Valerie.
Valerie terkesiap kaget, ternyata gumamannya tadi terlalu keras. Gadis itu menepuk-nepuk mulutnya yang jarang bisa direm.
"Itu, cewek yang jatuh tadi. Mungil, imut, cantik, cewek banget lah pokoknya." Valerie tersenyum getir.
Gaung memberhentikan langkahnya. Diangkatnya wajah Valerie yang menunduk untuk menatapnya.
"Elo minder?"
"Ish, apaan sih, Ga?" Valerie memalingkan wajahnya, menghindari Gaung yang menatapnya intens.
"Terus?"
"Gue cuma jadi berfikir aja, mungkin benar apa yang dibilang Elang tadi. Gue cewek, tapi penampilan kayak cowok. Melihat betapa perfectnya cewek tadi, gue jadi merasa kayak gembel. Habisnya di rumah kan cowok semua, tanpa sadar gue ngikutin style mereka. Tanpa mikir kalau gue ini cewek. Andai Bunda masih ada ...." Valerie menundukkan wajahnya. Suaranya terdengar serak.
Bagus, Gandi dan Gaung memandang Valerie iba. Gadis itu sudah kehilangan ibunya sejak berusia empat tahun.
Valerie tumbuh remaja tanpa sosok seorang ibu. Gadis itu tumbuh dikelilingi anggota keluarganya yang notabene lelaki semua. Jadi tanpa gadis itu sadari, dia meniru gaya ayah dan kakak-kakaknya yang seorang pria. Mulai dari
sikap, hingga penampilan.
"Sstt, buat gue elo itu cantik." Gaung menangkup pipi Valerie dengan kedua tangannya. "Elo cantik dengan gaya elo sendiri."
Mereka merasa heran, kok bisa-bisanya Valerie mengangap dirinya tidak cantik. Lihat saja, gadis itu memiliki tinggi badan 178cm, dengan berat badan yang ideal. Rambutnya yang hitam dan halus, walau di potong pendek sebahu. Matanya yang bulat dengan kornea berwarna coklat yang cantik. Kulit tubuhnya juga putih dan halus. Bahkan gadis itu terlihat seperti model dunia.
"Iya, Er." Bagus ikut menimpali. "Menurut gue elo itu spesial, beda sama cewek-cewek lenjeh lainnya. Kalau martabak, spesialnya elo itu pakai telur dua puluh." Busyet, gak bisulan tuh orang makan martabak telur dua puluh. Hahaha,,,
"Gak usah minder." Gandi mengusap lembut rambut Valerie. "Dengan elo minder, itu sama aja dengan mencela ciptaan Tuhan. Syukuri yang ada di diri elo, karena dengan begitu elo juga mensyukuri kebesaran-Nya. Jadi elo harus percaya diri."
Valerie tersenyum tulus pada ketiga sahabatnya. Membuat ketiga cowok itu tertegun sejenak melihat betapa cantiknya gadis itu.
Ketiga inti Arakata yang gantengnya bikin cewek-cewek pada jejeritan aja bisa terpukau hanya dengan senyuman Valerie. Jadi kenapa gadis itu harus minder?
__ADS_1