Arakata

Arakata
Murka Sang Pendiri Arakata


__ADS_3

"Masih belum capek juga?"


"Maksut Kak Eri, apa?"


Valerie mendorong tubuh Valero, hingga membentur mobilnya.


"Elo gak capek berpura-pura jadi cowok culun kayak gini ... Ava!"


Setelah diam beberapa saat, Valero mulai menyunggingkan senyum.


"Sudah gue duga," ucap Valero sambil melepas kacamata dan melemparnya sembarang. "Elo bukan cewek bodoh yang gampang buat gue tipu."


Valero melipat lengan kemejanya dan membuka kancing kemeja teratasnya. Pria itu mengacak rambut hitamnya yang sebelumnya disisir rapi.


"Motivasi elo apa?"


Valero terkekeh mendengar pertanyaan Valerie.


"Elo cewek yang to the point, ya. Gak mau basa-basi dulu gitu?" Valero memiringkan wajahnya menatap dalam mata Valerie.


"Gue gak suka yang basi, bikin perut mules!" jawab Valerie, tidak kalah tajam menatap mata Valero.


Lagi-lagi Valero terkekeh.


"Gimana kalau gue punya niat jahat sama elo dan Arakata?" tanya Valero sambil tersenyum miring.


"Gue juga pengennya berpikir begitu," jawab Valerie santai sambil tersenyum. "Tapi sayang, gue gak lihat itu semua di mata lo. Gak ada orang jahat yang bisa menatap sayang anak-anak yatim seperti elo kemarin. Mulut lo bisa saja berdusta, tapi tidak dengan mata lo."


"Apa yang dibilang adik gue tentang elo ternyata benar, Er ...," lirih Valero.


"Ada yang ngancam, Lo?"


Valero mengerutkan keningnya.


"Selain pintar mengatur strategi sebagai panglima perang, elo juga pintar bermain dengan psikis seseorang. Kelihatannya elo cocok jadi psikolog, Er," ucap Valero sambil terkekeh geli.


***


"Ada anggota yang terluka?" tanya Laksmono, setelah keadaan sudah mulai terkendali.


Mereka sekarang sedang berada di pekarangan depan markas Arakata. Pria-pria itu istirahat sambil duduk lesehan di atas rumput, setelah membantu petugas pemadam kebakaran dan menyelamatkan barang-barang penting yang masih bisa diselamatkan.


"Gak ada, Om," jawab Elang, "kebetulan keadaan markas kosong sewaktu terjadi kebakaran."


"Gue baru aja bicara sama petugas kebakaran," ujar Garindra, yang baru saja menemui petugas pemadam kebakaran. "Katanya, ini bukan murni kecelakaan. Ada sebuah peledak botol yang sengaja dilempar masuk ke markas."


"Brengsek!" umpat Afghi penuh amarah. "Siapa yang berani bermain-main dengan kita?"


"Ini sudah lebih dari bermain, Om ...," ucap Robert ikut menimpali. "Orang ini sengaja mengincar markas Arakata, berarti ia juga sudah harus siap menerima konsekuensinya."


"Robert benar, Om," sahut Braga, "saya mewakili Blue Eagle dan geng sekutu Arakata lainnya siap membantu Arakata."


"Terimakasih," jawab Laksmono sambil tersenyum.


"Assalamu'alaikum," salam Valerie yang baru saja datang bersama Valero.


"Wa'alaikumsallam," jawab serempak semua yang ada di sana.


"Elo mau nyebrang, Er?" tanya Bagus sambil menunjuk tangan Valero yang menggandeng pergelangan tangan Valerie. "Ati-ati aja kalau pak pilot sampai panas hati lagi."


Valerie hanya melirik ke arah Bagus, tidak berniat menanggapi omongan ngawur sahabatnya itu.


"Ada yang mau bicara dengan ayah dan om-om Arakata angkatan pertama," ujar Valerie sambil menengok ke arah Valero. Mereka berdua ikut bergabung duduk di atas rerumputan. Elang memandang kedua insan itu dengan tatapan yang tidak santai.


Semua mata yang ada di sana memandang ke arah Valero, pria asing yang belum mereka kenal.


"Ada sesuatu yang mau saya sampaikan kepada Om Laks, Om Afghi, Om Indra, dan Om Alif."


Perkataan Valero membuat para inti Arakata angkatan pertama itu merasa heran. Mengapa pemuda yang belum mereka kenal, bisa mengetahui nama mereka berempat.


"Namun, saya masih menunggu seseorang," ucap Valero kembali, "nah, Itu dia."

__ADS_1


Valero menunjuk dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka. Orang itu adalah Choky dan seorang gadis muda berhijab. Azizah, yang tidak lain adalah adik dari Valero Arbianto.


"Sini, Dek." Valero melambaikan tangan, meminta Azizah untuk duduk di sampingnya. "Sebelumnya, saya mau memperkenalkan diri. Saya Valero Arbianto, dan ini adik saya Azizah Rahwana." Valero mengusap sayang kepala sang adik yang tertutup hijab.


"Rahwana?" tanya inti Arakata angkatan pertama bersamaan.


"Kami adalah anak dari Ryan Rahwana dan Atika Wijaya," jawab Valero, membuat Laksmono dan sahabat sahabatnya membeku seketika.


"Atika Wijaya?" tanya Laksmono, "bukankah Atika itu adik sepupu Teguh, sahabat saya. Bagaimana mungkin Atika bisa menikah dengan orang yang telah membunuh kakak sepupu yang paling disayanginya?"


"Sebenarnya saya adalah anak tiri Ryan Rahwana. Ayah kandung saya bernama Handoko Arbianto, beliau meninggal saat saya berusia enam tahun." Valero menghembuskan nafasnya, seakan ada beban yang begitu besar di pundaknya. Azizah menggenggam tangan sang kakak, berusaha memberikan kekuatan untuk Valero. "Saat usia saya enam tahun, Ryan membunuh ayah di depan mata saya dan mamah. Dan, se-setelah itu ... di-dia memperkosa ibu saya." Air mata Valero lolos seketika, saat mengatakan hal itu. Seakan kejadian yang mengerikan itu terulang lagi di hadapannya.


"Bangsat!" umpat Afghi sambil mengusap wajahnya kasar.


"Dia juga memaksa untuk menikahi mamah saya, mamah selalu menolaknya. Namun, sebulan kemudian Ryan datang kembali dengan niat yang sama, yaitu ingin menikah dengan mamah. Saat itu mamah menerimanya, selain karena mamah hamil akibat pemerkosaan itu. Ryan juga mengancam akan membunuh saya, jika mamah masih menolak untuk menikah dengannya. Dengan terpaksa mamah menerimanya, setelah hari itu kehidupan kami seperti di neraka.


Ryan mengambil alih perusahaan dan semua aset ayah kandung saya. Setiap malam dia membawa wanita yang berbeda ke rumah. Saya dan mamah disuruh tidur di gudang. Bahkan setelah adik saya lahir, sikap kejamnya belum berubah. Dia juga bersikap kasar dengan Azizah, padahal Azizah adalah anak kandung Ryan. Tapi, pria kejam itu tidak peduli. Bahkan, pria iblis itu dengan teganya memperkosa Azizah." Valero mengepalkan tangannya, tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Azizah tidak bisa lagi menahan tangisnya ketika mengingat kejadian sebulan yang lalu. Kejadian yang sempat membuatnya ingin bunuh diri. Untung saat itu ada Valero yang mencegah dan memberinya kekuatan. Jika tidak, mungkin sekarang dia sudah kehilangan nyawa atau menjadi gila.


Valerie memeluk tubuh gemetar Azizah. Sebagai seorang perempuan, ia juga bisa merasakan bagaimana terpuruknya jika seorang gadis harus kehilangan kehormatannya. Apalagi yang melakukannya adalah sang ayah kandung. Betapa bejatnya seorang Ryan Rahwana.


"Aku takut, Kak ...," lirih Azizah dengan suara yang bergetar.


"Sssttttt, jangan takut Azizah, ada kami yang akan menjaga kamu," ucap Valerie, gadis itu ikut menangis melihat Azizah yang terlihat sangat terpuruk.


"Tap-tapi ... tapi aku sudah kotor, Kak. Aku berdosa, aku ...," ujar Azizah histeris sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Dengan cekatan, Valerie menangkap kedua tangan Azizah agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


"Hey, hey, Azizah ... jangan sakiti dirimu sendiri atas kesalahan orang lain. Kamu tidak kotor, kamu masih Azizah yang berhati tulus. Allah tidak akan menjadikanmu berdosa hanya karena dosa orang lain."


"Tapi, tapi sekarang, sekarang aku hamil, Kak. Aku tidak mau hamil di luar nikah, tapi aku juga tidak bisa membunuhnya," ucap Azizah sambil memegang perutnya yang masih rata.


"Ka-kamu hamil, Dek?" tanya Valero yang terlihat shock. Mungkin pria itu belum tahu keadaan adiknya yang sedang mengandung. "Kenapa kamu gak bilang ke abang?"


"Azizah gak mau nambah beban pikiran abang. Aku tahu kalau abang sedang tertekan karena sikap ayah dan keadaan mamah. Aku gak mau jadi beban abang. Aku akan jaga kandunganku sendiri, walau tanpa seorang suami, Bang."


"Gue yang akan tanggung jawab, gue akan menikahi Azizah dan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya," ujar Choky memotong ucapan Valero.


Semua mata memandang ke arah mantan ketua geng Rajawali itu. Begitupun dengan Azizah, gadis itu melihat ke arah Choky dengan pandangan tidak percaya.


"Aku serius," ucap Choky lagi, "aku akan menikahimu dan menjadi ayah untuk anak yang ada di kandunganmu. Jadi, jangan khawatir dan takut lagi, banyak orang yang peduli denganmu." Choky memandang wajah Azizah sambil tersenyum.


"Wawwww, mantan ketua gue bisa senyum gaes!" teriak Roxy girang.


"Tutup mulut lo, atau gue jejelin minyak rem setangki," ancam Choky, membuat Roxy langsung terdiam sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Percaya sama Choky, walau wajahnya terlihat seram. Dia pria sejati yang tidak pernah ingkar janji," ucap Elang sambil terkekeh, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Choky.


"Untuk sementara, kamu tinggal sama kak Eri dulu, ya." Azizah mengangguk sebagai jawaban. "Choky, tolong elo antar Azizah ke rumah gue. Ada bunda, elo bilang aja kalau untuk sementara Azizah tidur di kamar gue. Ada yang harus gue urus dulu di sini. Elo gak keberatan kalau Azizah tinggal sama gue dulu kan, Ro?"


Valero menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Valerie.


"Biasa aja, gak usah tebar pesona sama calon bini gue," ujar Elang yang menekankan kata calon bini.


Valero hanya terkekeh mendengar penuturan Elang.


"Anak lo posesife abis," ujar Afghi pada Garindra.


"Itu hak anak gue, Eri kan memang calon istri Elang. Calon mantu gue, c-a-l-o-n m-a-n-t-u," jawab Garindra pongah.


"Anak sama bapak sama aja," gerutu Afghi membuat Garindra terkekeh geli.


"Bagaimana keadaan Atika sekarang?" tanya Laksmono setelah Choky dan Azizah pergi dari sana.


"Mamah dirawat di rumah sakit jiwa, Om," jawab Valero lirih, "beliau mengalami tekanan mental karena perilaku kejam Ryan setiap harinya."


Wajah Laksmono menegang seketika mendengarnya. Setelah mendekam di penjara, bukannya Ryan memperbaiki kesalahannya, kelakuan pria itu malah semakin menjadi.


Atika adalah adik sepupu yang sangat Teguh sayangi. Dulu, sebelum Mala menikah lagi, Atika sering menginap di rumah Teguh. Jadi para inti Arakata sudah mengenal dan akrab dengan Atika.

__ADS_1


Namun, setelah Mala memutuskan untuk menikah lagi. Teguh melarang Atika untuk menginap atau hanya sekedar berkunjung lagi di rumahnya. Karena ia tidak ingin jika adik kesayangannya itu juga ikut merasakan kesengsaraannya.


"Dia menyuruh saya menyamar menjadi cowok culun, dan masuk ke SMA Garindra. Untuk memata-matai pergerakan anak Arakata."


"Anjir, jadi elo Ero, teman sekelas gue?" teriak Gema heboh, "jadi, selama ini elo deketin gue hanya buat manfaatin gue untuk dapatin informasi tentang Arakata?!"


"Maaf Gema, gue ngelakuin ini karena dipaksa. Kalau gue menolak, nyawa mamah gue taruhannya," lirih Valero, wajah pria itu terlihat sangat menyesal. "Hanya mamah yang gue dan Azizah punya sekarang."


"Ryan sudah sangat keterlaluan, tidak ada ampun lagi buat dia," ujar Laksmono dengan menahan amarahnya.


"BetulĀ  Laks," timpal Garindra, "dia sudah mengusik keluarga Arakata, jangan pernah kita kasih ampun lagi."


"Kita lawan sekarang saja kalau perlu," ujar Braga, "kami selaku sekutu Arakata siap membantu."


"Jangan kita lawan secara langsung, terlalu beresiko," ujar seorang pemuda seusia Gema. "Karena dia yang telah memulai permainan ini, kita ikuti alur permainannya. Jangan kita lawan terang-terangan, terlalu berbahaya untuk


keselamatan mamahnya Bang Ero. Kita buat seolah rencana kotornya itu berjalan lancar, setelah ia lengah ... baru kita hancurkan pria itu dari dalam." Setelah mengatakan itu, pemuda hitam manis itu melanjutkan lagi bermain game di ponselnya. Sedari tadi pemuda itu seolah sibuk dengan ponselnya. Namun, ternyata otaknya juga berputar mencari solusi dan strategi.


Valerie tersenyum penuh arti mendengar ide dari pemuda itu.


"Nama elo siapa?" tanya Valerie pada pemuda yang tengah sibuk dengan ponselnya itu.


"Maysel Vairy Akbar," jawab pemuda itu sambil memasukkan ponsel ke dalam sakunya. "Panggil saja Asel, Kak."


"Asel, ini yang gue cari," gumam Valeri sambil mengangguk-angguk. "Gue suka strategi elo."


"Asel mah gamers profesional, Mak," ujar Gema, "jadi, urusan strategi-strategi begitu, dia gudangnya."


Valerie memandang Elang di sebelahnya, Elang tersenyum sambil mengangguk. Elang mengerti apa yang ada di otak cerdas calon istrinya itu.


"Untuk sekarang, tindakan apa yang harus kita lakukan, Asel?" tanya Valerie.


"Untuk sekarang, Bang Ero pulang dulu ke rumah. Abang bilang ke Pak Ryan, kalau rencana dia berjalan lancar. Bang Ero korek terus rencana apa yang akan dilakukan ayah abang itu. Langkah kita selanjutnya tergantung dengan langkah yang akan diambil Pak Ryan. Terkadang untuk menangkap tikus, kita perlu memberikan umpan yang enak, agar dia tidak sadar bahwa telah masuk ke dalam jebakan yang akan menghancurkannya." Asel tersenyum miring sambil memandang semua yang ada di sana.


Laksmono dan semuanya mengangguk setuju dengan usul Asel. Jangan remehkan otak seorang gamers, kemampuan mengatur strateginya di game bisa berguna di kehidupan nyata.


"Bang Robert!" teriak seorang gadis dari arah depan.


Semua mata memandang seorang gadis mungil yang sedang kesusahan menyeret sebuah karung besar. Robert langsung menghampiri gadis itu, setelah mengetahui bahwa gadis mungil itu adalah kekasihnya, Eli.


"Kamu bawa apaain, sih?" tanya Robert sambil membantu kekasihnya membawakan karung besar itu.


"Jagung," jawabnya bersemangat.


"Jagung?" tanya Robert lagi dengan raut wajah bingung.


"He'em," jawabnya sambil mengangguk. "Tadi di telepon, Bang Robert bilang kalau lagi bakar-bakar di markas Arakata, kan? Jadi, Eli bawain jagung, buat tambah-tambah. Jagung bakar kan enak."


Ucapan Eli membuat semua yang ada di sana melongo. Setelah itu mereka terbahak berjamaah, menertawakan kepolosan Eli dan menertawakan keapesan Robert.


***


Malam ini mereka mengahabiskan waktu dengan mengobrol dan makan jagung bakar.


"Ya sudah, kita bikin jagung bakar aja buat teman ngobrol. Daripada jagungnya terbuang sia-sia," ucap Laksmono sambil terkekeh dengan tingkah lugu keponakan istrinya itu.


Atas persetujuan dari Laksmono, mereka nelakukan acara bakar jagung itu.


"Panas." Eli mengibas-ngibaskan jarinya yang memerah karena memegang jagung yang baru saja selesai dibakar.


"Makanya hati-hati ... ceroboh," omel Robert sambil menarik tangan Eli dan meniup-niup ujung jari gadis itu.


Valero terus melihat interaksi sepasang insan itu.


"Elo tertarik sama Eli?" tanya Valerie yang duduk di sebelah pria itu.


Valero hanya tersenyum sebagai jawabannya.


"Sebaiknya jangan, cari gadis yang lain. Eli sudah ada yang punya, yang punya galak. Bisa babak belur muka elo ditinju Robert," ucap Valerie sambil terkekeh.


Lagi-lagi Valero hanya tersenyum menanggapi perkataan Valerie.

__ADS_1


__ADS_2