Arakata

Arakata
Maaf


__ADS_3

"Elo beneran gak inget sama gue, Er?" Bagus mendekatkan wajahnya pada Valerie, menatap sahabatnya itu dengan tatapan memohon.


Valerie pun hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan yang sudah ribuan kali dituturkan Bagus.


"Robert yang baru deket sama lo akhir-akhir ini aja, lo inget. Masa sama gue yang udah lama bergumul sama elo, elo lupa?"


Pletakk


Bagus mengusap lengannya yang terkena bogem dari Gaung.


"Bergumul? Bahasa lo ambigu!" seru Gaung dengan tatapan tajamnya.


"Itu tandanya elo gak spesial buat Eri," ujar Robert sambil mengupas buah jeruk untuk Valerie.


"Ngapain elo masih di sini!" Bagus menatap Robert tak suka. "Pulang sana, biar inti Arakata aja yang jaga Valerie," omel Bagus dengan nyinyirnya.


"Elo yang harus keluar, gue kan gak kenal elo." Perkataan Valerie membuat Bagus bungkam seketika. Pria itu memegang dadanya, seolah merasakan sakit di sana.


"Selama ini gue gak berniat cari pacar, karena gue mau fokus jaga elo, Er. Tapi lo malah lupain gue," ucap Bagus dengan muka memerah. Mungkin pria itu benar-benar merasa sedih.


"Itu karena elonya aja yang gak laku," cemooh Gandi, membuat wajah Bagus semakin suram.


Valerie tidak tega melihat wajah sahabatnya yang memelas. Mungkin ia harus menghentikan sandiwaranya sampai di sini. Sebelum Bagus benar-benar membuat kamar rawat inapnya banjir karena tangisan.


Valerie meraih Bagus dalam pelukannya. Diusapnya rambut tebal pria itu.


"Gue gak mungkin lupain elo. Elo itu udah gue anggap saudara sendiri." Valerie mengurai pelukannya dan memegang kedua pipi pria itu. "Gimana mungkin gue bisa lupa sama cowok kekar yang kemayu dan sangat menyayangi sahabatnya ini."


Bagus meraih Valerie dalam dekapannya. Dikecupnya dahi gadis itu. Membuat empat pria lainnya melongo tidak percaya.


"Awhhh," teriak Bagus yang merasakan nyeri di bibirnya, karena disentil Elang. "Awwhh!" Teriaknya lagi karena kepala, pundak, dan tangannya di tampol Gaung, Gandi, dan Robert secara bergantian.


"Gak usah modus lo, nyosor-nyosor seenaknya!" omel Gaung yang akan memukulnya lagi, tapi dapat ditangkis tangannya.


"Bilang aja kalau elo semua iri sama gue! Usaha sendiri kalau mau nyosor, jangan main nampol seenaknya," gerutu Bagus tak terima dikeroyok oleh teman-temannya.


"Otak elo ngeres!" Robert melempar Bagus dengan buah jeruk, tepat mengenai dahinya.


"Eri, sakit ...." adu Bagus sambil memasang tampang memelas yang menjijikannya itu.


Valerie mengusap dahi Bagus yang memerah. Gadis itu tersenyum bahagia. Di saat dia terbaring lemah, banyak orang yang menemani dan berada di sampingnya.


Pagi tadi sang ayah dan abang-abangnya ijin pulang dahulu. Mereka akan mengurus urusan mereka dahulu dan membawakan pesanan Valerie.


Tahu apa yang dipesan Valerie? Gadis itu meminta dibawakan PS, monopoli, kartu, dakon, bèkel dan bedak bayi. Semua permainan itu ia sediakan untuk teman-teman yang menjenguknya silih berganti, dan didominasi para lelaki. Bisa membayangkan para lelaki kekar dan pentolan geng bermain dakon dan bèkel?


Bahkan wajah Choky dan Braga sampai cemong dengan bedak bayi, karena mereka kalah bermain kartu.


"Seandainya musuh-musuh kita tahu kalau kita kayak begini, bakal anjlok wibawa kita," ujar salah satu diantara mereka.

__ADS_1


"Kita boleh saja bersikap konyol jika bersama sahabat. Tapi, kalau di depan musuh, kita tetap seekor singa yang siap mencabik mereka." Perkataan Valerie mendapat acungan jempol dari semua pria yang ada di sana.


Teman-temannya silih berganti datang menjenguk. Tapi tidak sekalipun gadis itu mengeluh lelah. Karena ia merasa senang, banyak yang peduli dengannya.


Begitu malam menjelang, hanya ada Elang yang menemani Valerie. Tadi sebenarnya ada Laksmono dan juga Garindra. Namun, Garindra sengaja mengajak Laksmono ke kantin dan membiarkan Valerie hanya berdua dengan anaknya. Entah apa yang direncanakan wakil Arakata angkatan pertama itu.


"Maaf," ucap Elang tiba-tiba setelah beberapa menit mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Untuk?" Valerie hendak duduk bersandar di kepala ranjang, tapi gadis itu merasa kesusahan karena rasa nyeri di perutnya. Elang yang melihatnya langsung membantu memapah badan Valerie sampai gadis itu mendapat posisi duduk yang enak.


"Untuk semua sikap gue akhir-akhir ini ke elo."


"Misalnya?" jawab gadis itu masih dengan nada yang sedikit ketus.


"Akhir-akhir ini gue lebih mentingin Amelia ketimbang elo. Seandainya kemarin elo ke sekolahnya bareng gue, elo gak bakal mengalami hal ini Er," sesal Elang, pria tampan itu menunduk, tidak berani memandang wajah wanita di


hadapannya.


"Itu semua kehendak Allah, bukan salah elo, Lang. Lagian gak masalah kok kalau elo lebih mentingin Lia ketimbang gue. Gue cuma sahabat elo, gue gak ada hak ngelarang elo deket sama siapa aja. Dan gue gak ada hak untuk menjadi satu-satunya perempuan yang elo prioritaskan."


Jawaban Valerie membuat Elang mendongakkan wajah menatap gadis itu. Ada rasa sakit di sudut hatinya mendengar penuturan gadis itu. Seandainya gadis itu tahu bahwa memang hanya dia perempuan satu-satunya yang ia prioritaskan.


"Karena elo itu sahabat gue, sahabat yang gue kenal sejak kecil. Seharusnya gue lebih mentingin elo ketimbang Amelia."


"Mulai sekarang elo gak perlu memaksakan diri untuk selalu ada buat gue," ujar Valerie sambil tersenyum, senyum yang jelas-jelas dipaksakan. "Elo gak perlu antar jemput gue lagi, elo bisa bebas kalau mau jemput Amelia."


"Tadi gue udah bilang sama Gaung, dia mau antar jemput gue ke sekolah."


"Tapi Er, rumah gue lebih dekat sama elo, jadi ...."


"Elo gak perlu memaksakan diri hanya karena rumah elo dekat sama gue," ucap Valerie, memotong omongan Elang.


"Er, selama ini gue gak pernah merasa terpaksa untuk melakukan sesuatu buat elo." Elang menggenggam tangan Valerie yang tidak di infus.


"Gue ngerti Lang," Valerie tersenyum, sekarang senyumnya terlihat lebih tulus. "Kita sudah terbiasa selalu bersama sejak kecil. Dari dulu kita selalu terbiasa untuk saling melindungi. Tapi gue takut kalau kebiasaan ini bisa


mengganggu kehidupan pribadi elo."


"Gue gak ngerti apa yang elo maksut, Er."


"Amelia, elo udah jadian sama dia kan? Gue gak mau jadi benalu dalam hubungan kalian."


"Gue gak jadian sama dia, Er."


"Amelia tadi chat gue, dia minta gue untuk menjaga jarak sama elo. Kalian udah jadian, tapi elo selalu lebih mentingin gue. Gue gak mau kalau rasa suka gue ke elo malah bikin elo ngasihanin gue."


Elang terkejut mendengar apa yang diucapkan Valerie. Ada rasa senang yang menjalar di dadanya.


"Elo suka sama gue, Er?" tanya Elang sekali lagi, ia tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Elo gak usah pura-pura lagi, Lang." Perkataan Valerie membuat dahi Elang herkerut. "Lia bilang kalau elo tahu bahwa gue suka sama elo. Karena itu elo menutupi hubungan kalian di depan gue."


"Er ...."


"Lang, elo gak usah peduliin perasaan gue. Elo harus lebih peduli dengan perasaan gadis yang elo cinta. Gue emang cinta sama elo, tapi bukan berarti elo juga harus cinta sama gue. Jangan kasihani gue, Lang ... biar gue yang urus perasaan gue sendiri. Jangan buat gue jadi cewek yang menyedihkan." Setetes air bening mengalir dari netra indah gadis itu, membuat hati Elang seakan tercubit.


"Er, denger gue ...," Elang memegang kedua pipi Valerie, mengarahkan pandangan gadis itu agar menatapnya. "Elo salah paham, gue juga ...." belum sempat menyelesaikanucapannya, ponsel Elang berdering. Tertera nama nyokap Lia di layarnya. Elang hendak mereject panggilan itu, tapi Valerie mencegahnya.


"Angkat aja, siapa tahu penting."


"Assalamu'alaikum, kenapa, Tante?" Elang meloadspeaker ponselnya.


"Wa'alaikumsallam, Lang. Tante mau minta tolong kamu jagain Amelia malam ini, tante mau ke luar kota. Lia sendirian di rumah."


"Tapi di rumah kan ada bi Sarmi sama mang Ikin yang jagain Lia tante."


"Tante gak percaya sama mereka, tante merasa lebih aman kalau kamu yang jagain anak saya."


"Tapi saya gak bisa tante, saya lagi jagain ....."


"Tante mohon banget. Lang. Ya sudah tante udah telat ini. Tante berangkat dulu, kamu jangan kelamaan ke sininya ya. Kasihan Lia." Tanpa salam, ibunya Amelia langsung menutup sambungan teleponnya.


Sebenarnya Elang sudah lelah dengan sikap Amelia dan ibunya yang selalu memaksakan kehendak.


Tapi dia bisa apa? Jika seorang ibu memohon padanya untuk menjaga sang anak. Tapi dia juga mempunyai kepentingan pribadi yang harus diutamakan.


"Elo pergi aja Lang temenin Lia, gue ada ayah yang bakalan jaga." Valerie mengusap kasar air matanya yang lagi-lagi dengan lancang mengalir di pipinya.


"Tapi gue mau di sini sama elo, Er." Elang hendak meraih tangan Valerie, tapi Valerie menghempaskannya.


"Udah gue bilang, jangan kasihani gue, Lang," ujar Valerie dengan tatapan tajamnya.


"Gue gak mengasihani elo, Er. Gue sendiri yang emang mau ada di samping elo."


"Pergi, Lang," lirih Valerie, tapi Elang menggelengkan kepalanya membuat Valerie frustasi.


"Pergi, Lang!" bentak Valerie, membuat Elang terkejut. "Atau gue gak bakal mau kenal elo lagi."


Final ... kalau Valerie sudah berbicara begitu, Elang bisa apa? Gadis itu tidak pernah main-main dengan apa yang diucapkannya.


"Oke, gue pulang," ucap Elang terpaksa. "Tapi, gue mohon elo jangan berpikir macam-macam dulu sebelum dengar penjelasan dari gue. Gue mohon elo percaya sama gue, Er. Gue gak pernah jadian sama Amelia. Besok gue ke


sini, jelasin semua." Elang mengusap pucuk kepala Valerie dengan sayang. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Valerie memegang kepalanya yang diusap Elang. Dari perlakuan Elang, ia merasa kalau Elang juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, semua yang disampaikan Amelia tadi membuat gadis itu tertampar kembali ke dunia nyata.


"Elang gak mungkin cinta sama gue," lirih gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2