
(Hasil dari event Cipta Quotes anak-anak GC Arakata. Roleplayer Afghi Gahana, panglima perang Arakata angkatan pertama. IG @afghighna_)
"Angker banget mukanya, Bang?" tanya Hasan pada Cakrawala.
Cakrawala hanya melirik Hasan sebentar tanpa menjawab, setelahnya ia kembali fokus pada layar ponselnya.
"Kata guru agama gue, kalau orang yang gampang marah entar jadi temennya setan lho, Bang. Abang mau temenan sama setan? Hih, serem Bang, gak ada yang bener bentuknya. Ada yang bulunya banyak kayak kemoceng, ada yang dibungkus kayak lemper, ada yang kecil gundul kayak upin-ipin, ada yang punggungnya bolong kayak donat, hih ...," timpal Abdul, pemuda itu mengusap-usap lengannya.
"Elo semua setannya," sahut Cakrawala sambil menunjuk pada inti Arakata angkatan delapan.
"Oh, tidak bisa. Mana ada setan yang imut bin manis kayak kita berlima," elak Asel sambil mengedip-ngedipkan matanya, membuat Cakrawala gatal pengen nyolok.
"Gue colok ye mata lo," ancam Cakrawala sambil memelototkan matanya.
Bukannya takut, Asel malah beringsut mendekat pada Cakrawala.
"Mau dong dicolok abang," ucap Asel sambil mengedipkan sebelah matanya. Asel menoel-noel dada bidang Cakrawala. "Aww, dada si abang keras banget sih, jadi pengen pegang, deh." Asel berteriak sok histeris sambil bertepuk tangan.
Tangannya hendak menyentuh dada Cakrawala, tapi pria itu menyingkirkan tangan Asel dengan segera.
"Berani sentuh gue, gue tampol lo ye!" ancam Cakrawala sambil mengarahkan kepalan tangannya.
Cakrawala tambah berteriak panik saat Gema, Abdul, Hasan, dan Rama ikut menghampirinya sambil tersenyum mencurigakan.
"Ih, Asel. Ketemu yang padet gini kok gak bagi-bagi, sih," ucap Gema dengan suara yang dibuat bindeng.
"Kita bagi adil aja." Abdul ikut menimpali. "Segede gini pasti cukup buat kita berlima."
"Aduh, gemes deh lihat tattonya ... berasa pengen belai," ucap Hasan dengan sikap kemayu.
"Gue gak doyan yang keker," sahut Rama, membuat Cakrawala bernapas lega. Namun, perkataan setelahnya kembali membuat Cakrawala panik setengah mati. "Tapi gak apa-apalah, sekali-kali nyoba."
"Wuaaaa! Pergi gak elo semua, sebelum gue banting satu-satu!" seru Cakrawala histeris. "Elo berdua juga, bukannya bantuin malah ikutan ngakak." Cakrawala menatap tajam pada Valerie dan Elang yang sedari tadi sudah terbahak.
"Gue bahagia, Kra. Jarang-jarang bahkan bisa dibilang gue gak pernah lihat elo panik. Mumpung ini ada kesempatan gak bakal gue sia-siain, hahahahaha." Elang memegangi perutnya yang egal karena tertawa terus dari tadi.
"Kampret, lo!" umpat Cakrawala, masih menatap tajam pada Elang. "Gue tampol beneran ya elo berlima kalau masih ngerubungin gue!"
__ADS_1
"Udah, jangan digodain lagi. Kasihan, udah abu-abu mukanya," ucap Valerie, masih dengan sisa tawanya. "
"Elo emang paling baik, Er," ucap Cakrawala, ia sudah bisa lega karena kelima pemuda itu sudah menjauh darinya.
"Gue juga mau bikin tatto, Bang," ucap Hasan, matanya berbinar-binar.
"Mau bikin tatto apaan lo?" tanya Gema yang juga mewakili pertanyaan teman-temannya yang lain.
"Tatto suling sama kendang, kan keren tuh. Waktu ada dangdutan di kampung bisa gue pamerin ke tetangga-tetangga," jawab Hasan dengan bangga.
"Dasar, dangduters. Otanya gak jauh-jauh dari dangdutan sama biduan," gerutu Abdul, yang mendapat anggukkan setuju dari teman-temannya yang lain.
"Suka-suka gue, dong. Gue yakin elo juga pengen. Elo mau bikin tatto unta, kan?" sahut Hasan tak mau kalah.
Abdul hendak membuka mulut, menjawab perkataan Hasan. Namun, mulutnya kembali tertutup saat Elang menatapnya tajam.
"Mau bahas biduan sama unta sampai kapan?" tanya Elang santai tapi dengan nada yang tajam.
"Kami gak bahas kok, Bang ... kami cuma gibahin dikit," sahut Hasan, membela diri.
"Tau tuh! Tendang aja, Lang," ucap Cakrawala mengompori. "Kalau perlu tendang sampai Timur Tengah sono. Biar pada main pasir sama unta."
"Elo tadi diajak kemana aja sama Dito, Er?" tanya Cakrawala pada Valerie.
"Ke makam Felicia," sahut Valerie, membuat Cakrawala membolakan matanya.
"Serius?"
"Dua rius malah. Dia ngenalin gue ke Felicia, dia bilang kalau gue mirip sama mendiang Felicia."
"Wah, modus tuh," celetuk Gema.
"Iya, kayak Elo yang selalu modus sama Zulfa," sahut Asel sambil tersenyum miring.
"Koyok kulo mboten," sahut Hasan pakai bahasa jawa, yang artinya kayak saya enggak. "Elo juga selalu modusin Irene, ya."
"Gak usah pakai bahasa yang hanya elo yang paham," ucap Asel sambil berdecak. "Kalau gue pakai bahasa gue, bisa langsung tobat elo semua."
"Bahasa apaan?"
__ADS_1
"Bahasa qalbu," jawab Asel sambil tersenyum lebar.
"Gue nanya ke dia apa alasan kematian Felicia," lanjut Valerie, enggan menghiraukan omongan Asel. "Dan dia jawab kalau Felicia meninggal karena sakit. Waktu gue mau tanya lebih jauh lagi, dia bilang kalau dia gak mau ingat-ingat kejadian itu lagi. Sel, tugas yang gue berikan ke elo gimana?" Valerie mengarahkan pandangannya pada Asel yang masih cemberut karena bahasa qalbunya yang tidak dihiraukan.
"Beres, setelah ini Kak Eri harus mengatur kencan gue sama Irene," sahut Asel sembari membuka laptopnya. "Dari laptopnya, gue hanya nemuin tentang sepak terjangnya di dunia hitam. Dia lebih dari sekedar kata licik, dia kejam. Dia yang telah memalsukan data-data perusahaan almarhum kakeknya Bang Cakra hingga mengalami kerugian."
"Bangsat!" umpat Cakrawala penuh amarah. "Gara-gara itu, kakek jadi tertekan dan akhirnya meninggal. Jangan-jangan dia juga yang telah menjual saham perusahaan hingga jatuh ke tangan lawan?"
"Iya, Bang. Semuanya secara gamplang tertulis di sini," sahut Asel sambil menunjuk layar laptopnya. "Bukti-bukti ini sudah bisa membuat dia dijerat hukum."
"Apakah di sana gak ada sesuatu yang bisa membuktikan kejahatan Dito atas Felicia?" tanya Cakrawala lagi.
"Gak ada, Bang," jawab Asel sambil menggelengkan kepala. Perkataan Asel membuat Cakrawala dan yang lainnya kecewa. Namun, perkataan Asel setelahnya membuat mereka bernapas lega, seperti mendapat angin segar. "Tapi gue punya ini." Asel memutar sebuah video yang memperlihatkan bagaimana kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan Felicia jatuh ke dalam danau dan meninggal dunia.
Dalam video itu, Dito hendak melecehkan Felicia. Namun, Felicia memberontak, Dito terus mengejar Felicia, hingga Felicia terpojok di tepi danau dan terjatuh.
"Gimana elo bisa dapat video ini, Sel?" tanya Valerie, ia menatap heran pada juniornya itu.
"Selain punya banyak kaki dan tangan di luar, gue juga punya banyak otak, Kak. Banyak yang bantu gue, itu rekaman dari kamera CCTV jalan yang menghadap danau. Dito sudah pernah hancurin CCTV nya, tapi tidak dengan rekam digitalnya," sahut Asel sambil tersenyum miring.
"Wah, gila lo Sel. CCTV beberapa tahun lalu masih bisa elo lacak," ucap Gema takjub. "Gue kira di otak lo isinya cuma Free Fire doang."
Valerie tersenyum bangga, ia tahu pasti kalau Asel pasti mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Dan terbukti sekarang, Asel bisa menjalankan apa yang dimintanya lebih dari kata baik.
"Elo akan dapat bonus dari kerja lo yang bagus ini, Sel." Valerie mengacungkan jempolnya.
"Hore ... dapat bonus!" seru Asel sambil bergoyang heboh. Gema dan temannya yang lain ikut bergoyang bersama Asel, apalagi si hasan ... paling seneng kalau disuruh goyang.
"Gak nyangka gue, yang modelannya begitu ternyata otaknya jenius," ucap Cakrawala sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kan gue udah bilang ... tak perlu dongakkan kepala dan banyak gaya untuk menunjukkan bahwa kamu hebat dan punya kuasa. Cukup diam dan fokus dengan apa yang menjadi tujuanmu ... maka itulah yang akan kamu dapatkan." Setelah mengatakan hal itu, Valerie melangkahkan kaki menghampiri para juniornya dan ikut bergabung dengan mereka.
"See, welcome to Arakata," ucap Elang pada Cakrawala.
__ADS_1