Arakata

Arakata
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Waspada itu wajib ada, karena bisa jadi musuh terbesarmu merupakan orang terdekatmu.


***


Valerie menghembuskan napas jengah untuk kesekian kalinya. Sudah lebih dari lima belas menit ia memperhatikan dua orang pria yang berebutan untuk mengambilkan minumnya.


"Kalian mau bunuh gue perlahan?" tanya Valerie sambil tersenyum, tapi nada bicaranya terdengar menakutkan. "Udah lima belas menit berlalu semenjak gue minta tolong diambilkan minum, tapi kalian berdua cuma adu mulut gak jelas. Kalau kalian berdua masih mau bermesraan, biar gue ambil sendiri minumnya." Valerie hendak menjejakkan kakinya yang sudah tidak berbalut perban ke lantai kamarnya, tapi kedua pria itu mencegahnya.


"Jangan! gue ambilin aja, Er," ucap Elang cepat. "Elo diem-diem aja di sini, awas kalau ngintilin gue. Gue panggilin ayam semok gue, biar dapatuk, lo!" Elang menatap tajam pada Cakrawala.


"Coba aja kalau berani, gue bakar ayam lo," sahut Cakrawala sambil menatap Elang tak kalah tajam.


Valerie tersenyum melihat tingkah Elang dan Cakrawala.


"Kalian kelihatan begitu akrab, kalian saling kenal?" tanya Valerie yang belum mengetahui jika Cakrawala dan Elang sangat mengenal.


Cakrawala hendak menceritakan semuanya tentangnya dan Elang. Namun, mantan pilot itu sudah lebih dulu datang dengan membawa segelas air minum untuk pujaan hatinya.


"Kenapa kalian berdua jadi deiem-dieman?" tanya Elang pada Valerie dan Cakrawala.


"Eri tanya apa kita saling kenal," sahut Cakrawala.


"Gue gak kenal elo," sahut Elang cepat, membuatnya mendapat tatapan tajam dari Cakrawala.


"Lebih baik kita ceritakan sekarang ke Eri, biar Eri bisa cepat bvantu kita," ucap Cakrawala yang mendapat anggukkan kepala dari Elang, tanda bahwa pria itu setuju.


Kemudian mengalirlah cerita itu, tanpa ada yang ditutup-tutupi sama sekali. Termasuk alasan kenapa Elang membatalkan rencana pernikahan mereka. Valerie pun telah membaca buku harian Felicia.


"Jadi karena alasan ini elo batalin rencana pernikahan kita, lang?" tanya Valerie.


Elang menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Kemudia ia menunduk, tidak berani menatap wajah Valerie. Ia tahu pasti Valerie sangat kecewa padanya.

__ADS_1


"Elo dengan gampangnya mempertaruhkan hubungan kita karena masa lalu yang tidak pernah elo cari tahu kebenarannya?" lanjut Valerie, jelas ada rasa kecewa dalam sorot mata gadis itu. "Tahu gak? Semua hal yang terjadi ini, cukup bisa membuktikan bahwa elo belum bisa mempercayai gue sepenuhnya. Seandainya elo mau terbuka sama gue, kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama, Lang. Tapi ya mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, semua sudah terlanjur berantakan. Mungkin ini memang sudah jalan kita yang gak bisa bersatu."


Deg, jantung Elang seakan berhenti berdetak setelah mendengar penuturan Valerie. Apa mungkin mereka berdua memang sudah ditakdirkan untuk tidak bersama?


"Maaf, Er. Secara tidak langsung gue yang salah," ucap Cakrawala, ia iba juga melihat Elang seperti itu. Ia tahu pasti dengan apa yang dirasakan Elang.


"Memang elo yang salah," ketus Valerie, ia menatap tajam pada Cakrawala. Membuat kepala Cakrawala langsung tertunduk. Setelah mengenal Valerie beberapa minggu, baru kali ini ia melihat gadis itu semarah ini. "Kalian bertindak sesuka hati kalian, tidak memikirkan akibat dari hal yang kalian lakukan. Kalian udah dewasa, tapi cara berpikirnya masih kayak bocah! Dendam mulu yang ada di otak, memangnya setelah balas dendam, apa yang bakal didapat? Kepuasan hati? pembuktian diri? Atau hanya sebagai pelampiasan ego kalian sendiri?"


Cakrawala dan Elang hanya bisa terdiam, sudah seperti murid yang mendengarkan gurunya ceramah.


"Tuhan menciptakan otak, mata, telinga, mulut di satu tempat yaitu kepala, karena apa? Agar manusia bisa berpikir, melihat, mendengar, dan berbicara secara benar ... agar semuanya bisa bekerjasama dengan baik. Otak manusia digunakan untuk memikirkan apa yang kita lihat, mata bisa saja salah melihat dari hanya satu sudut pandang. Makanya ada telinga yang digunakan untuk mendengar penjelasan dari beberapa pihak. Dan semua hal itu diteruskan oleh mulut yang akan menyampaikan semua yang dikirimkan oleh otak, mata, dan telinga. Dan mulut yang mempunyai peranan penting untuk menyampaikan hal yang benar. Coba jika otak, mata, telinga, dan mulut kalian letaknya berpencar!"


"Kalian tahu, apa akibat dari ulah kalian? Ayah gue harus menahan malu karena acara pernikahan putrinya batal. Abang-abang gue harus menahan sakit melihat adik yang mereka sayangi sempat depresi dan hampir bunuh diri karena ditinggal calon suaminya yang hanya tinggal hitungan minggu sudah akan menikah. Dan kalian masih berharap gue bisa ngebantu kalian?" Valerie tersenyum miring, Elang dan Cakrawala menghembuskan napas pasrah. Mereka paham betul jika apa yang mereka lakukan sangat fatal. Dan wajar saja jika gadis yang ada di hadapan mereka itu marah dan enggan membantu mereka.


"Maaf, Er. Gue tahu apa yang gue lakuin ke elo itu udah keterlaluan. Gue terlalu pengecut buat menghadapi semua, seharusnya gue jujur ke elo," ucap Elang penuh sesal.


Valerie hanya terdiam tanpa menanggapi ucapan Elang.


"Gue juga minta maaf, Er. Seharusnya gue gak percaya begitu aja sama omongan Dito, dan seharusnya gue gak termakan hasutannya" ucap Cakrawala yang juga merasa bersalah.


"Hahahahahaha, wajah kalian udah pucet kayak nahan eek," ucap Valerie sambil terbahak.


Elang dan Cakrawala hanya bisa melongo, merasa heran melihat Valerie yang tiba-tiba terbahak. Padahal tadi wajahnya terlihat serius.


"Mantan pacar lo kesambet," ucap Cakrawala pada Elang.


"Gue gak nyangka, efek gue tinggalin jadi kayak gini," ucap Elang iya memiringkan jarinya di dahi, tanda bahwa Valerie mulai terganggu.


"Sialan ya lo berdua, ngatain gue udah gak waras, hm?" Valerie memukulkan bantalnya pada Cakrawala dan Elang. Setelah puas memukulkan bantal. gadis itu kembali terbahak. "Dua pria kuat dan gagah bisa berwajah semengenaskan ini, hahahaha. Foto ah ...," Valerie mengambil ponsel, ia membidik Cakrawala dan Elang dengan kamera ponselnya.


Penampilan kedua pria itu sungguh menawan, pakaian yang berantakan, rambut acak-acakan, bahkan ikatan rambut Cakrawala udah terlepas, hingga rambut gondrongnya terurai menutup wajahnya.

__ADS_1


"Ditambah sayatan cakaran kuku gue bagus, nih," jahil Valerie yang langsung ditolak oleh Cakrawala dan Elang.


"Jangan!" seru Elang dan Cakrawala serempak, yang membuat Valerie kembali terbahak. Valerie memperlihatkan hasil bidikannya.


"Kampret, bentukan gue bisa mengenaskan begitu, udah kayak diperkosa. Tapi kalau yang merkosa Eri sih gue ikhlas lahir batin, nambah juga gak papa," ucap Cakrawala sambil mengerlingkan matanya.


"Otak lo ngeres!" seru Elang sembari menabok lengan Cakrawala. "Er, elo beneran marah sama kami?"


Valerie menghentikan tawanya, ia menghembuskan napasnya. Ia mengusap perutnya yang pegal karena terpingkal.


"Marah? Kenapa gue harus marah, Lang? Gue gak berhak marah atas apa yang sudah ditentukan sama Sang pemilik hidup," sahut Valerie. Gadis itu tersenyum tulus, membuat senyuman itu menular pada Elang dan Cakrawala. "Gue hanya sedikit kecewa karena kalian sudah menyembunyikan hal sebesar ini dari gue. Apalagi elo, Lang." Valerie menatap lembut pada Elang. "Kita sudah mengenal udah dari jaman kita mulai menghembuskan napas di dunia, tapi elo masih saja menganggap gue gak berhak tahu tentang rahasia hidup lo. Padahal rahasia itu juga menyangkut hidup gue."


"Maaf," lirih Elang penuh sesal.


"Gue gak akan kasih maaf ke elo berdua," sahut Valerie tegas.


Perkataan Valerie membuat Elang dan Cakrawala menelan ludahnya susah payah. Bagaimana ini? Valerie tidak mau memaafkan mereka ... hal itu yang ada dipikiran Elang dan Cakrawala.


"Karena memang gak ada yang bisa gue maafin," lanjut Valerie, Elang dan Cakrawala memandangnya dengan tatapan bingung. "Kalau gue marah sama kalian, gue jamin kalian udah babak belur di tangan gue. Tapi sekarang kalian masih baik-baik aja."


"Apa yang bisa buat elo begitu mudah memaafkan seseorang?" tanya Cakrawala.


"Ikhlas," sahut Valerie sambil tersenyum. "Saat hati elo ikhlas menerima apapun, maka gak akan ada kemarahan, apalagi dendam."


"Ikhlas itu bukan hal yang mudah Er," ucap Cakrawala.


"Memang," sahut Valerie cepat. "Ikhlas itu gak semudah bibir kita mengucapkannya. Tapi jika udah dilakuin, hidup kita bakaln akan lebih tenang. Kalau orang jawa bilang hidup itu harus bisa menerapkan legowo dan semeleh. Legowo yang berarti kita harus menerima takdir yang ditentukan Tuhan dengan ikhlas. Dan semeleh yang berarti kita harus menyerahkan semuanya pada sang empunya hidup, bahasa kerennya berserah. Menjalani hidup yang gampang, jadi jangan lebih dipersulit dengan pemikiran yang gak penting. Rasa dendam gak ada untungnya, nambah penyakit hati iya."


Cakrawala dan Elang tersenyum mendengar penuturan Valerie. Betapa benar apa yang dikatakan gadis canyik itu. Dendam gak akan mendatangkan apapun selain kebencian.


"Terus rencana kita buat menghadapi Dito gimana?" tanya Cakrawala yang mendapat anggukkan dari Elang.

__ADS_1


"Tunggu dulu, sebentar lagi mereka akan datang," sahut Valerie sambil tersenyum penuh arti.


Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi ketukan pintu. Valerie tersenyum menyambut kedatangan mereka, sedangkan Elang dan Cakrawala melongo karena yang datang adalah ....


__ADS_2