Arakata

Arakata
Awal Arakata 1


__ADS_3

Aku mendirikannya bukan untuk pamer kekuatan. Tapi, untuk menjadi kekuatan bagi yang membutuhkan. Karena kami adalah ARAKATA.


***


"Arakata gimana Lang? Ada kendala?" tanya Laksmono pada Elang.


Sekarang mereka berada di gazebo kediaman Laksmono. Setelah mereka merasa lelah bermain macan tertawa yang membuat kram perut dan jantung dag dig dug karena was-was, mereka memilih rujakan sambil bersantai di gazebo.


"Sementara ini aman om," jawab Elang sambil memakan mangga yang sudah ia colek ke sambal rujak. "Gak ada yang cari ribut. Geng-geng yang join sama kita juga bertambah."


"Alhamdulillah kalau begitu." Laksmono menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega. "Kegiatan sosialnya masih sering kalian adakan?"


"Masih om." Sekarang Bagus yang menjawab, karena dia yang menjabat sebagai seksi humas. "Bulan depan kita mau mengadakan panggung amal. Sekalian mengadakan syukuran hari jadi Arakata yang ke tiga puluh dua tahun.


Acaranya diadakan di lapangan SMA Garindra saja. Saya sudah membuat proposal ke om Indra, untuk meminta ijin supaya gedung sekolahnya bisa disewa sehari untuk acara."


"Indra udah acc proposal kamu?"


"Udah om,, kalau gak di-acc, anaknya saya jadikan sandera om." Bagus melingkarkan lengannya di leher Elang.


"Emang kamu berani nyandera anak dari wakil saya dulu di Arakata?" tanya Laksmono dengan nada datar tapi membuat Bagus merinding seketika.


Dengan bodohnya dia kembali lupa bahwa Garindra Birowo yang biasa dipanggil Indra itu adalah wakil ketua Arakata pertama. Dan dengan entengnya dia ingin menjadikan Elang Sandera. Bisa habis dikuliti Indra dia, kalau


berani menyakiti anak semata wayangnya itu.


Bagus melirik Elang yang masih berada di lengannya. Elang menatapnya sambil menyeringai jahil.


"Gue aduin bokap gue, abis lo dicincang sama katananya."


"Ah elo mainnya ngadu sih Lang." Bagus langsung melepaskan lengannya dari leher Elang. "Gue kan becanda." Bagus mendorong pelan pundak Elang sok manja dengan muka yang lagi-lagi pucat. Mungkin bagi Bagus ini adalah hari terburuknya.


"Enak aja bilang becanda. Elo gak inget gimana merananya gue sama Gaung waktu dipaksa mama Melati ikutan goyang waktu itu. Gue disuruh goyang pake baju princess." Elang menekankan kata princess sambil melotot jengkel pada Bagus yang hanya nyengir kuda.


"Mendingan elo baju princess, masih bisa jalan. Lha gue." Gaung menunjuk dirinya sendiri. "Gue disuruh pake baju mermaid. Goyang sambil ngesot-ngesot. Kalau suster ngesot lihat gue kemaren, bisa diajak balap ngesot gue sama tuh suster."


Gandi dan Valerie terbahak mengingat kejadian waktu mereka belajar kelompok di rumah Bagus.


Setelah Melati memakaikan bando bunga dan selendang motif ular pada Bagus, Melati masuk lagi ke dalam kamar. Ibu dari Bagus itu membawa beberapa kostum.


Valerie diberikan kostum catwoman. Gandi diberi kostum bajak laut. Dua kostum berikutnya membuat Gaung dan Elang Shock.

__ADS_1


Tentu saja awalnya Elang dan Gaung menolak permintaan Melati. Tetapi perkataan Melati setelahnya membuat dua cowok itu tidak bisa berkutik lagi.


"Yaudah kalau kalian berdua gak mau menuruti maunya mamah," ucap Melati tersedu-sedu sambil mengusap-usap matanya. "Kalian memang gak sayang sama mamah Melati. Yang kalian berdua lakukan ke mamah itu zahat." Melati meremas dadanya mendramatisir keadaan.


Kata-kata sakti itu yang membuat Elang dan Gaung terpaksa mengenakan kostum sialan itu.


"Elo berdua baper banget sih. Valerie sama Gandi juga pake kostum, tapi mereka biasa aja. Gak lebay macam lo berdua," protes Bagus masih tidak mau disalahkan atas permintaan mamah tercintanya itu.


"Baper muka lo!" Elang melempar potongan mangga tepat mengenai kepala Bagus. "Valerie cewek, wajar dia dapat kostum catwoman. Gandi dapat kostum bajak laut, itu juga wajar karena dia cowok. Lha gue!"


"Ya udah tar gue bilang ke mamah kalau kalian gak mau kostum kemaren. Biar dicariin kostum yang lain. Tenang aja, stock kostum emak gue bejibun. Ada zoro, superman, spiderman, sailormoon."


"Enggak!" Teriakan kompak Elang dan Gaung langsung membuat Bagus kicep menutup mulutnya. Dia masih menyayangi nyawanya.


Laksmono hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd anak-anak muda di hadapannya itu.


Pria berusia lima puluh dua tahun itu merasa senang karena anak-anaknya tidak salah jalan. Mereka tumbuh selayaknya anak-anak lain yang sepantaran.


.


Awalnya ia ragu apakah bisa mengurus kelima anaknya dengan baik seorang diri tanpa bantuan istri tercintanya.


"Rencananya siapa saja yang kalian undang?" tanya Laksmono mengalihkan topik pembicaraan mermaid dan princess. Kalau dibiarkan akan panjang topik itu, bisa jadi novel entar.


"Spesial pakai telur berapa?" tanya Gandi sambil mengupas bengkoang lagi. Bengkoang yang di piring sudah amblas pindah ke perut Valerie.


"Ini lebih spesial dari telur. Gue ngundang semua anggota Arakata, mulai dari angkatan pertama sampai angkatan sekarang yaitu angkatan ke tujuh."


"Wah, seru tuh, bisa jadi kayak reunian kita. Kangen juga gue, udah lama gak ikut nimbrung sama Arakata, karena sibuk ngurusin cafè. Gue suka ide lo Gus." Tama mengacungkan jempolnya, setuju akan ide Bagus yang menurutnya sangat brilliant.


"Hemmmm, reuni ya." Laksmono menerawang mengingat kejadian tigah puluh dua tahun yang lalu. Kejadian yang menjadi awal mula semuanya.


Flashback on


Tenang dan sepi, suasana itu yang seharusnya menjadi identik ruang perpustakaan. Namun, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.


Teriakan dan bentakanmendominasi ruangan itu sekarang. Semua itu diakibatkan oleh Ryan Rahwana. Seorang mahasiswa yang menganggap dirinya berkuasa dan paling hebat di kampus itu.


"Elo itu budek apa bego!" bentaknya pada seorang mahasiswa berkacamata dan terlihat lemah. "Gue kan maunya nilai gue A, kenapa nilai gue jadi gini!!" Ryan melemparkan kertas yang berisi tugas kampusnya.


"Nilai itukan juga sudah bagus Yan. Gue kan ngerjainnya juga sudah maksimal."

__ADS_1


"Maksimal kata lo!!" Ryan menarik kerah kemeja pemuda itu dengan kasar. "Gue gak puas dengan nilai B, gue mau nya A. Gue mau nilai gue itu sempurna!"


"Kalau elo mau nilai lo sempurna, kerjain sendiri!" Jawaban itu bukan berasal dari mulut pemuda berkacamata tadi. Tapi, dari pemuda lain yang berjalan santai mendekati Ryan.


"Elo gak usah ikut campur urusan gue Laks."


"Elo lupa kalau yang elo bentak-bentak itu sahabat gue. Lepasin tangan lo atau gue yang bakalan lepasin," ucap Laksmono tenang, tapi dengan nada yang tegas. Membuat nyali Ryan menciut. Ia tahu Laksmono tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pemuda yang biasa dipanggil Laks itu tidak pernah mencari masalah. Tapi, kalau orang terdekatnya diusik, sosok tenang itu akan menjadi sosok yang berbahaya.


"Sekarang elo bisa bebas dari gue. Tapi jangan harap hidup elo bisa tenang," bisik Ryan pada pemuda berkacamata itu.


"Bisikin apa tadi dia ke elo?" tanya Laksmono setelah Ryan melangkah pergi.


"Ngg, nggak bisikin apa-apa Laks."


"Guh, udah berapa kali gue bilang, elo itu jangan diem aja kalau di injek-injek sama Ryan," tegur Laksmono. Pria itu menepuk bangku disebelahnya. Meminta Teguh duduk di sebelahnya.


"Gue gak bisa ngelawan dia Laks. Dia adek gue,,,"


"Tapi tuh bocah tengik gak nganggep elo abangnya Guh." Garindra menduduki kursi di hadapan Laksmono dan Teguh.


"Bener tuh." Alif ikut nimbrung obrolan sahabat-sahabatnya. "Elo itu jadi orang terlalu baik Guh. Gue sebagai sohib lo, gak tega ngeliat elo terus-terusan diperlakuin kayak gitu."


"Kalau elo gak mau ngelawan dia, biar gue saja yang turun tangan. Gue juga sudah eneg ngeliat tingkah Ryan sama gengnya yang semena-mena."


"Bener kata Afghi, sekali-kali mereka harus dikasih pelajaran." Alif membenarkan perkataan sobatnya itu. "Gimana Laks?? Kita bertindak sekarang apa bagaimana?"


"Gue serahin semua keputusan ke Teguh. Dia yang lebih berhak mutusin. Gimanapun, Ryan adiknya Teguh."


"Adek tiri tepatnya," sela Afghi dengan nada ketus.


"Walau dia hanya adik tiri gue, ibu gue sayang sama dia. Gue gak mau buat ibu gue sedih."


"Tapi gue sudah muak sama tuh anak."


"Afghi udah, kita hargain keputusan Teguh. Tapi elo harus janji bakal bilang ke kita kalau sikap Ryan ke elo sudah keterlaluan." Laksmono menepuk punggung sahabatnya itu. "Kita berlima sudah kenal sejak lama. Kita bukan hanya teman, tapi saudara. Kita memang bukan saudara sedarah, tapi kita semua selalu ada saat salah satu diantara kita membutuhkan."


"Makasih Laks, gue beruntung punya kalian."


"Apaan sih, malah jadi melow gak jelas gini. Geli gue lihatnya," protes Garindra sok sewot, padahal dia juga terharu mendengar perkataan Laksmono tadi.


Alif menyenggol pundak Garindra, "gaya lo nyet sok sewot, tuh air mata udah di ujung bentar lagi juga tumpah."

__ADS_1


"Apaan sih. Gue gak nangis, mata gue kelilipan," protes Garindra tidak terima.


Bukannya percaya, tapi sahabat-sahabatnya itu malah tambah mengolok-oloknya. Membuat Garindra tambah sewot dan ngedumel tidak jelas.


__ADS_2