Arakata

Arakata
Valerie dan Jangkriknya


__ADS_3

Feminim, mungil, lembut. Sosok itu sempat membuatku terpana. Tapi entah mengapa, masih tetap ada sosok tangguh itu di hatiku. Sosok yang telah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya.


***


Bel jam pelajaran pertama sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi, entah kenapa guru Fisika mereka belum juga masuk kelas. Padahal jarang sekali, atau bahkan tidak pernah bu Nuri berangkat terlambat.


Baru saja mereka berkasak-kusuk, saling menebak mengapa wali kelasnya itu datang terlambat. Pintu kelas dibuka dari luar. Masuklah Bu Nuri, guru fisika sekaligus wali kelas mereka.


Namun, yang membuat heran seisi kelas, Bu Nuri tidak datang seorang diri. Di belakang beliau berdiri seorang gadis mungil, putih, rambutnya digerai dan dijepit pita berwarna merah. Satu kata, feminim.


"Selamat pagi anak-anak," sapa bu Nuri sambil memandang seluruh anak didiknya.


"Selamat pagi, Bu," sahut seisi kelas serempak.


"Siapa tuh, Bu? bening amat. Bisa dong bu buat saya." Gandi mengedipkan matanya. Jiwa playernya bergelora.


"Enak aja, kamu kira dia barang, pakai diminta segala," gerutu Bu Nuri membuat Gandi tertawa puas. "Kalian punya teman baru, pindahan dari Semarang. Nak, coba kamu perkenalkan diri kamu."


Gadis itu mengangguk patuh, "selamat pagi teman-teman. Perkenalkan, nama aku Amelia Jelita, kalian bisa panggil Lia. Aku pindahan dari SMAN 1 Semarang. Salam kenal."


"Lia udah punya cowok belum? Bang Elang mau kenalan nih," celetuk Gandi sambil merangkul Elang yang duduk di sampingnya.


"Kenapa gue yang elo sodorin," protes Elang tidak terima.


"Tuh cewek kan tipe lo banget, Lang. Feminim, lemah lembut, ngode minta dilindungi."


Elang melirik tajam pada Gandi. Membuat Gandi meringis ngeri.


Gadis yang dimaksut hanya tersenyum sambil memandang Elang.


"Gak usah kamu jawab pertanyaan gak jelasnya Gandi. Kamu duduk sama Vibri ya. Itu yang di depannya Elang sama Gandi.


"Iya bu." Lia menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis itu berjalan menuju meja yang dimaksut bu Nuri.


"Beneran nasib baik elo, Lang. Tuh cewek malah duduk di depan kita." Gandi menyenggol Elang dengan sikunya.


"Bisa diem gak sih lo. Berisik mulu dari tadi!" omel Elang yang masih fokus membuka bukunya tanpa menoleh pada Gandi.


"Hay, aku Lia salam kenal," sapa Amelia pada Elang, begitu gadis itu duduk di kursi depan Elang. Amelia menjulurkan tangan pada Elang, tapi tidak digubris Elang. Lantas cewek itu menarik tangannya kembali.


"Udah tahu, elo kan tadi udah bilang di depan," jawab Elang cuek.


Amelia menelan ludahnya, ternyata cowok yang bernama Elang itu sifatnya dingin.


"Eh, ngapain tuh." Gandi lagi-lagi menyenggol lengan Elang, membuat cowok itu geram.


"Apaan lagi si,h Gan!" omel Elang, mulai hilang kesabaran.


"Itu lho, cacing kremi betina. Ngapain tuh ngubek-ngubek rumput!" tunjuk Gandi pada Valerie yang sedang asyik jongkok di rerumputan. Gadis itu ditemani Lukman, Faris dan Maul.


Elang langsung menengok dan mengarahkan pandangannya mencari Valerie. Dia melihat gadis itu sedang berkerumun di rerumputan bersama tiga teman cowok sekelasnya. Entah apa yang mereka cari, sesekali mereka berempat tertawa geli. Tapi anehnya, beberapa teman ceweknya malah berlari menjauh dari Valerie dan berteriak histeris.


"Ngapain lagi tuh si Valerie? Pelajaran apa sih dia?" tanya Bagus yang duduk di belakang Elang bersama Gaung.


"Pelajarannya pak Arman. Seni rupa," sahut Gaung, yang ikutan penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Valerie.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Valerie berlari menuju jendela kelas 12 Ipa 1. Dimana Bagus yang berada di dekat jendela itu.


"Ngapain lo lari-larian? Baru nyolong apaan lo sampai lari begitu!"


"Mulut lo kampret!" Valerie menepuk mulut Bagus. "Gue bawain elo hadiah."


"Beneran?" wajah Bagus seketika berubah cerah.


"Jangan keras-keras ngomongnya, entar Bu Nuri denger." Valerie meletakkan jari lentiknya di depan mulut, agar Cowok itu mengurangi volume suaranya.


"Waktu di rumah Lukman kan elo bilang suka suara jangkrik. Karena ngingetin elo sama kampung halaman nenek elo."


"He'em, terus?"


"Tadi gue nyariin elo jangkrik di sana." Valerie menunjuk ke arah kebun sekolah, dimana Lukman, Faris dan Maul masih berada di sana.


Faris dan Maul tersenyum pada Bagus. Tapi entah mengapa di mata Bagus, senyum mereka membuat perasaannya menjadi tidak enak.


"Nih jangkrik buat lo, gue cariin banyak. Sahabat yang baik kan gue." Valerie menyerahkan plastik bening itu pada Bagus.


Bagus menerima bungkusan itu. Begitu melihat isi plastik itu, seketika tubuh Bagus membeku. Gandi, Gaung, dan Elang yang ikut melihat hanya bisa melongo. Ternyata otak cerdas Valerie tidak bisa membedakan jangkrik dengan ....


"Wuaaaaaa, ini kecoa bego!" teriak Bagus heboh. Refleks, dia melempar plastik itu sembarang arah. Membuat


kecoa itu terbang ke seisi kelas. Seketika suasana tenang di kelas itu menjadi ricuh dan gaduh.


Bahkan, Bu Nuri sampai berlari keluar kelas. Valerie hanya melongo melihat hasil dari ulahnya. Dia mengira yang dibawanya tadi jangkrik.


"Huahahahaaha, bolot akut elo Er," tawa Elang, Gandi dan Gaung bersamaan. Elang bahkan sampai


terbahak-bahak melihat kekonyolan Valerie.


"Tapi, kata Faris dan Maul itu jangkrik kok." Valerie menengok kearah teman-teman sekelasnya itu. Faris dan Maul tertawa sambil menunjuk-nunjuk Valerie. Lukman hanya diam sambil menggeleng. Sebenarnya dia enggan ikut mengerjai Valerie, tapi dua makhluk astral itu memaksanya.


"Jadi itu beneran kecoa?" Valerie bertanya kembali pada Gaung, Elang dan Gandi, dan dijawab anggukkan oleh ketiganya. Sedangkan Bagus sudah lari entah kemana.


"Valerie!!" tegur pak Arman, guru seni rupa mereka. "Saya kan menyuruh kamu melukis pemandangan sekolah, kenapa malah bikin ulah di sini?"


"Aduh, ampun pak ...." Valerie mengaduh karena telinganya dijewer oleh pak Arman.


"Kamu apain tadi bu Nuri, sampai lari-larian di koridor."


"Bu Nuri lagi syuting buat film dokumenter sekolah pak," jawab Valerie asal.


"Gak usah banyak alasan, ayo ikut bapak." Pak Arman menarik kerah belakang Valerie.


"Emang saya kucing pak, di ewer-ewer gini," gerutu Valerie di sepanjang jalan. Gadis itu masih sempat melirik sengit pada Faris dan Maul.


Faris dan Maul mengangkat dua jarinya, meminta damai pada Valerie. Tapi gadis itu mengarahkan tangannya keleher seperti gerakan menggores. Habis ini, elo berdua mampus di tangan gue. Ujar Valerie tanpa suara, tapi mereka mengerti apa yang dikatakan gadis itu lewat gerakan bibirnya. Bukannya takut, kedua orang itu malah tertawa semakin keras.


***


"Itu tadi siapa?" tanya Lia pada Vibri begitu bell istirahat berbunyi.


"Oh, Valerie. Anak 12 Ips 1. Anak Arakata."

__ADS_1


"Arakata?" tanya gadis itu lagi.


"Geng yang terkenal di sini."


"Oh, anak geng. Pantes rusuh begitu."


BRAKKKK


Elang membanting tasnya di meja dengan keras.


"Elo kalau belum kenal, jangan asal nge judge seseorang!" bentak Elang, cowok itu berlalu keluar kelas diikuti ketiga sahabatnya yang lain. Gaung, Bagus, dan Gandi menatap tidak suka pada Amelia.


Gadis itu memiliki wajah lugu yang terlihat lemah, ternyata mulutnya tajam.


***


"Kampret elo berdua!!" umpat Valerie pada Faris dan Maul. "Gara-gara kalian, gue disuruh bersihin gudang." Gerutu  Valerie saat mereka berada di kantin.


"Kan kita udah minta maaf Er. Lagian kita bertiga juga bantuin elo kan." Maul membela dirinya.


"Yang bantu gue tadi cuma Lukman, elo berdua malah mabar di pojokan."


"Hehehe, Lukman kan kuat Er. Dia sendiri aja bisa bantuin elo. Jadi kan elo gak perlu kita." Faris mengedipkan matanya kayak orang cacingan.


"Ish, pokonya gue sebel sama elo berdua. Kalau ada pr, gue ogah ngajarin kalian lagi. Kerjain aja sendiri!"


Ancaman Valerie membuat dua orang itu kelabakan. Karena hanya gadis itulah teman sekelas satu-satunya yang sabar mengajari mereka yang susah paham soal pelajaran.


"Jangan ngambek, entar gue traktir ice cream Er," rayu Maul.


"Ogah, gue anti disogok!" sahut Valerie tegas.


"Ice cream sama cilok gimana?" Kini giliran Faris yang ikutan membujuk gadis itu.


"Oke," jawab Valerie cepat.


Ketiga cowok itu tersenyum geli melihat Valerie. Katanya paling anti disogok, baru dikasih umpan cilok saja langsung ditangkap. Memang cewek yang unik.


"Gila, E. Elo habis nyangkul? Mangkok bakso segitu banyaknya," ujar Gandi melihat tiga buahmangkok bakso yang kosong di hadapan gadis itu.


"Habis bersihin gudang. Laper."


"Bawang gorengnya siapa yang makan Er?" Gaung melirik mangkok Valerie yang sudah tandas tidak tersisa.


"Dimakan Lukman Ga."


"Oh," jawab Gaung singkat, ada nada tidak suka tersirat disana.


"Elo dihukum bersihin gudang sama pak Arman Er?"


"Bukan pak Arman Lang, Bu Tini yang ngehukum." Valerie menyebutkan nama guru BK mereka. "Gue dihukum karena bikin ulah di kelas kalian."


"Capek?" raut khawatir jelas tercetak di wajah tampan Elang.


"Enggak." Valerie menggeleng. "Lukman bantu gue, tuh dua curut juga ikut nemenin.

__ADS_1


"Baguslah." Elang menganggukkan kepalanya mengerti.


Lukman menatap Valerie, Gaung, dan Elang bergantian. Ada sesuatu yang tersirat di balik tatapannya itu. Pemuda itu tersenyum setelahnya. Senyum tulus untuk sahabat-sahabatnya.


__ADS_2