
Sebulan sudah berlalu semenjak kejadian Valerie yang tertembak. Seminggu lagi adalah hari bersejarah bagi Laksmono dan anak-anaknya.
Mereka akan mendapatkan seorang istri dan bunda baru. Yang paling sibuk dan bawel mepersiapkan semuanya adalah ... Bagus.
Pria itu sudah seperti setrikaan yang kesana-kemari tanpa henti. Ada saja yang kurang berkenan,entah itu dekorasi, makanan, cincin, sampai gaun dan make-up Diandra pun dia yang mengaturnya.
Padahal sang mempelai dan keluarganya anteng-anteng aja. Bagus yang sok sibuk.
"Lama-lama elo gue tendang ya, Gus," ancam Valerie saking jengkelnya dengan kebawelan Bagus.
"Elo yang tendang, gue yang tampol, Er," ujar Robert menambahi.
Mereka bertiga berada di sebuah butik baju pengantin. Diandra sudah memesan baju di sana, mereka bertiga tinggal mengambilnya. Yang tanya kemana Elang, pria itu sedang dalam tugas. Jadi, Robert yang menggantikannya setelah perdebatan yang sangat panjang antara Elang dan Valerie.
"Gue dapat mandat dari Bu Diandra, kalau elo juga harus milih baju pesta di sini," ujar Bagus, tidak memedulikan ancaman Valerie dan Robert. "Gue gak mau kalau elo datang ke pesta pernikahannya pendiri Arakata pakai baju macam preman yang mau malak!"
"Emang kampret mulut lo!" Valerie menepuk mulut Bagus.
"Ishhhh, kenapa sih pada hobi nampol bibir seksi gue!" protes Bagus tidak terima.
"Salah sendiri punya mulut nyinyir abis! Daripada jadi pengusaha, elo lebih cocok jadi admin akun gosip!"
"Ckkk, ngatain gue nyinyir. Gak nyadar kalau omongannya juga mak jleb di hati," guman Bagus dengan suara pelan, takut jika sahabatnya sampai mendengar.
"Apa lo bilang?" tanya Valerie sambil melotot.
"Gue gak ngomong ... kuping lo salah dengar," jawab Bagus. "Heran sama tuh kuping, suara pelan aja masih kedenger." Dumelnya sambil cemberut, bikin gemes pengen nyakar-nyakar tuh muka. Hahaha ....
"Gue pakai baju yang mana?"
"Pakai ini," jawab Bagus sambil menyerahkan sebuah gaun. "Sana elo coba dulu."
Bagus mendorong Valerie menuju ruang ganti.
"Terus ngapain elo masih di sini?" tanya Valerie pada Bagus yang ikut masuk ke ruang ganti.
"Bantuin elo ganti baju," jawab Bagus santai.
Tangan Valerie mengepal hendak memukul sahabatnya itu, sebelum sebuah tangan kekar memegang kerah baju Bagus dan menariknya paksa keluar dari ruang ganti.
"Mending elo ikut gue, daripada tewas mengenaskan di tangan Eri," ujar Robert sambil menggeret kerah baju Bagus, seperti menenteng kantong kresek berisi sampah.
"Gue kan cuma mau bantu Eri," berontak Bagus, masih tidak merasa bersalah.
"Udah lo duduk diem di sini," ujar Robert sambil mendorong Bagus untuk duduk di sofa ruang tunggu.
"Allah ngasih kita mulut buat ngomong. Kalau gue diem aja, artinya gue mabazir'in anugerah dari Allah."
"Masih nyerocos terus, gue tinju ya mulut lo!" Robert membekap mulut Bagus.
"Jijik Bert ...," Bagus melepaskan tangan Robert dari mulutnya. "Tangan lo bau gituan, abis kencing kan lo!" tuduh Bagus.
"Enak aja! Gue tinju beneran mulut lo!" Robert mengejar Bagus yang berusaha lari menghindarinya.
"Ngapain elo berdua lari-larian? Mau shooting Tom and Jerry?!"
Suara itu membuat Bagus dan Robert berhenti seketika. Mereka melongo melihat gadis di hadapannya.
Bagus sampai menganga melihatnya.
Valerie mengenakan celana jeans robek dan t-shirt lengan panjang berwarna hitam.
"Ngapain lo pakai baju begituan!" teriak Bagus heboh, "elo buang kemana baju yang gue pilihin tadi? Ngapain juga tuh kaki lo naikin sofa! Astagfirullah, Valerie. Elo itu cewek, manis dikit bentuknya! Masuk lagi! Ganti sama gaun yang gue pilihin tadi. Kalau elo keluar pakai baju gak layak lagi, gue gantung terbalik ya, Lo!"
__ADS_1
"Emang lo berani?" Valerie melangkah mendekati Bagus. "Apa tadi? Gue gak denger, elo mau gantung gue?" Valerie menunjuk dada bidang Bagus sambil menyeringai.
Wajah Bagus pucat seketika, pria itu semakin memundurkan langkahnya sampai mentok membentur dinding.
"Eri cantik," ucap Bagus lembut sambil tersenyum canggung. "Tolong ganti baju elo sama gaun yang gue pilihin tadi, ya ... gue mohon." Bagus mengatupkan dua tangannya,memohon pada Valerie.
"Oke," jawab Valerie sambil masuk ke ruang ganti lagi.
Bagus menghembuskan nafas lega.
"Huahahaha, sampai hijau muka lo, Gus. Anjir ...," Robert terbahak sambil memegangi perutnya yang kram. "Gaya lo tadi bentak-bentak Eri. Begitu Eri maju dikit, langsung mohon-mohon lo. Buahahaha."
"Kampret lo, Bert. Mana berani gue sama Eri. Elo tahu sendiri gimana sikap tuh cewek kalau murka. Gue baru aja nikah, gue gak mau mati konyol. Anak gue masih kecil, masih butuh nafkah," ucap Bagus sambil berjalan keluar.
" Elo mau kemana?" tanya Robert sambil mengekor kemana Bagus pergi.
"Cari minum, gue haus ngadepin Eri."
Robert semakin keras tertawanya. Membuat Bagus dongkol.
Setelah selesai membeli air mineral, kedua pria itu masuk kembali ke ruangan tadi.
Lagi-lagi tubuh mereka mematung, mulut mereka melongo, dan mata mereka melotot melihat Valerie dan penampilannya.
Gadis itu mengenakan gaun dengan potongan sabrina yang memperlihatkan leher dan pundaknya yang mulus. Gaun itu memiliki panjang sampai mata kakai, tapi mempunyai belahan samping yang sampai atas lutut. Valerie terlihat seksi mengenakan gaun berwarna maroon itu.
"Lo berdua kemana aja? Gue sampai ngantuk nungguinnya!" ujar Valerie, sambil tiduran di sofa ruang tunggu.
"Anjir, gue mimisan, Bert ...," ujar Bagus sambil menyeka hidungnya.
Robert hanya melongo tanpa berkedip.
"Kalau sampai Elang buat ulah lagi, gak pakai lama ... bakal gue rebutsi Eri. Pasti itu," ucapnya
***
Setelah kejadian menegangkan untuk Robert dan Bagus tadi, mereka bertiga makan siang di cafè milik Pratama.
"Kak Eri," sapa seorang gadis mungil pada Valerie.
"Hai, Eli. Sini duduk di sebelah Kak Eri." Valerie mempersilahkan gadis itu untuk duduk di kursi sebelahnya. Sedangkan Bagus dan Robert duduk di hadapannya. "Kenalin ini Eli Wulan, keponakan Bu Diandra." Valerie memperkenalkan Eli pada sahabat-sahabatnya.
"Hai, Kak." Eli mengulurkan tangan pada Bagus dan Robert. "Ya Allah kak Eri," seru gadis itu heboh, membuat Valerie, Bagus, dan Robert memandang ke arah gadis itu. "Ini di surga bukan, sih? Kok ada malaikat yang super
ganteng di sini?"
"Uanjir, elo digombalin piyik Bert. Huahahaha," ejek Bagus sambil terbahak, Valerie pun ikut tertawa.
Robert hanya bisa menunduk malu.
"Kak Robert udah punya istri belum?" tanya Eli antusias.
Robert menggeleng.
"Pacar?"
Robert menggeleng lagi.
"Kak Robert temannya Kak Eri?"
Robert mengangguk.
__ADS_1
"Kak Robert dulu satu sekolahan sama Kak Eri?"
Robert mengangguk lagi.
"Kak Robert tadi ke sini sama Kak Eri?"
Lagi-lagi Robert mengangguk, mulai jengah dengan pertanyaan gadis SMA di hadapannya.
"Kak Robert mau jadi cowok Eli?"
Tanpa sadar pria itu pun mengangguk membuat Eli bersorak riang. Bagus dan Valerie pun tertawa puas.
"Hore! Berarti mulai hari ini, Kak Robert jadi pacar Eli. Iya kan Kak Eri? Kak Bagus?"
Bagus dan Valerie hanya bisa mengangguk sambil tertawa. Menertawakan nasib sahabat mereka.
"Bangsul, gue dikadalin bocah piyik," umpat Robert pelan, tapi masih bisa didengar Valerie dan Bagus.
"Selamat ya, Brow ...," ucap Bagus, "malam minggu lo udah gak kelabu lagi."
Robert melotot jengkel pada Bagus.
"He'em. Entar pas malam mingguan, Kak Robert ngapel ke rumah Eli."
"Emang kalau ngapel itu biasanya ngapain aja, Eli?" tanya Bagus jahil, pria itu penasaran dengan deskripsi ngapel buat anak selugu Eli.
"Ya ngapel," jawab El percaya diri, "entar Kak Robert bantu Eli belajar, bantu buatin PR Eli, terus kita main ke pasar malam, beli kembang gula sama ikan ******."
"Mamposssss lo, Bert! Huahahahaaha ...," Bagus terbahak sambil menggebrak meja. "Resiko punya cewek masih piyik, bisanya cuma main ikan ******, bukan ****** yang lain. Bhuahahaha, untung gue udah punya bini, jadi gak perlu main sabun lagi!"
"Kampret lo, Gus," umpat Robert sambil melotot pada Bagus.
"Eh, gak boleh ngumpat." Eli menepuk pelan mulut Robert. "Kata guru agama Eli, kalau suka ngumpat nanti di akhirat mulutnya dibakar."
Bagus, Valerie, dan Robert melongo mendengar ceramah dari Eli.
"Emang Kak Robert mau mulutnya dibakar? Kalau Eli sih ogah, mending kalau yang dibakar itu jagung, bisa dimakan."
Bhuahahahahaha ....
Pecah sudah bahakan dari Valerie yang sedari tadi ia tahan, bahkan Bagus sampai melambaikan tangan.
"Ampun. Gue udah gak tahan, perut gue pegel ... bhuahahaha."
Bagus melambai-lambaikan kedua tangannya.
"Gue ke dapur dulu, ya. Bantuin masak, cafè udah mulai ramai," ujar Valerie sambil melenggang pergi masuk ke dapur cafè. Gadis itu masih terkekeh geli.
"Gue juga mau pamit dulu, bini gue udah telepon. Katanya anak gue minta dibeliin ikan ******," ujar Bagus sambil melenggang pergi dengan senyum yang masih menghiasai wajah tampannya.
"Kak Robert anter Eli pulang yuk, sekalian beliin Eli ikan ******, siapa tahu entar bisa main ikan ****** bareng anaknya Kak Bagus." pinta Eli sambil tersenyum lebar, membuat Robert menepuk jidatnya.
"Ya Allah, hamba jomblo sedari lahir. Begitu dapat cewek, kenapa modelan piyik gini," ratap Robert.
"Apa? Kak Robert punya ayam piyik? Eli mau kak, yang pantatnya semok bin lebar ya, Kak."
"Jangankan yang pantatnya lebar, yang mukanya lebar gue juga punya banyak. Kalau elo mau, ambil sekandang-kandangnya," jawab Robert dengan tidak santai.
"Hore, dapat ayam piyik sekandangnya, Eli bisa jadi juragan ayam goreng kalau gini!" teriak Eli sambil loncat-locat, membuat seisi cafè menatap mereka.
Robert hanya menutup wajahnya yang memerah karena malu.
__ADS_1