Arakata

Arakata
Balap Keong


__ADS_3

Tidak sulit untuk melihat betapa indahnya dunia. Cukup buka mata hati dan netra, jangan hanya mendongak melihat tingginya hati di atas. Namun, sesekali perlu menunduk melihat rendahnya hati yang tulus. Maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang sejati.


***


"Jangan lama-lama, Sel," ucap Valerie, gadis itu mengusap keringat yang mulai menetes di dahinya. Sekarang, dua insan berbeda generasi itu sedang berada di ruang kerja Valerie. Sewaktu pulang sekolah, Asel mengantar Irene untuk berangkat kerja di toko kue milik Valerie. Namun, pemuda itu masih setia nemplok di sana, belum kunjung pulang ke rumahnya.


"Main beginian paling enak yang lama, Kak," sahut Asel, "sensasinya bakalan beda. Ini pertama buat Kak Eri, kan?"


"He'em," sahut Valerie sembari menganggukkan kepala. "Tapi pinggang gue udah gak kuat."


"Panglima perang Arakata paling kuat dari semua generasi kok sakit pinggang cuma gara-gara beginian," celetuk Asel, pemuda itu tersenyum miring, membuat Valerie berdecak.


"Ck, gimana gue gak sakit pinggang, dari tadi jongkok ngikutin keong balapan. Mana tuh keong larinya slow motion. Gak sabar gue, berasa pengen gue gotong aja sampai garis finish. Segila-gilanya Bagus, belum pernah dia ngajak balapan beginian." Valerie menegakkan badannya, ia memijit-mijit pinggangnya.


Dua orang itu memang sedang melakukan balap keong, Asel yang memberikan ide ajaib itu, Valerie pun menyanggupinya karena gabut. Tapi sudah hampir setengan jam berlalu, kedua keong itu belum sampai juga di garis finish yang dibuat Asel dari tali rafia.


"Hahaha, berarti Bang Bagus kurang cerdas, Kak. Masih kalah dibanding gue," sahut Asel sambil menepuk dadanya bangga.


"Gue laporin Bagus, kelar hidup lo," ucap Valerie, gadis itu tersenyum miring.


"Eh, jangan Kak. Bisa bonyok entar gue." Asel menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.


"Boleh sih, tapi ..." Valerie menghentikan perkataannya untuk sesaat. "Gue bakal diem, asal elo ngebolehin gue gendong cotcot sampai ke garis finish. Setuju?" Valerie menaik-turunkan alisnya. Cot-cot adalah nama keong milik Valerie. Sebenarnya kedua keong itu milik Asel, tapi karena Valerie yang memegangnya ya tentu saja sudah menjadi hak milik, hehehe.


Asel mengerucutkan bibirksn, sebenarnya ia keberatan dengan permintaan Valerie. Namun, bagaimana lagi, daripada ia babak belur di tangan Bagus. Akhirnya pemuda itu menganggukkan kepalanya.


"Iya, deh Kak," jawab Asel akhirnya.


"Yes," seru Valerie girang, tanpa banyak omong lagi, gadis itu langsung membawa keongnya di atas telapak tangan kanannya. Begitu sampai di garis finish, ia bersorak riang. Gadis itu melakukan selebrasi, mulai dari goyang ngebor, ngesot, hingga meliuk-liuk seperti ular dengan keong ia taruh di atas kepalanya.


Gadis itu terdiam seketika saat netranya menangkap sosok pria tampan yang menahan tawanya. Di sana juga ada Irene, anak buah Valerie itu menepuk dahi sambil geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan kelakuan bos dan teman sekelasnya itu.


"Cakra," ucap Valerie, gadis itu menganga dengan keong yang masih bergelayut di rambutnya. Hal itu membuat Cakrawala sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, pria itu terbahak sambil memukul-mukul tembok.


"Ini pasti ulah elo, kan?" tanya Irene. Gadis itu berkacak pinggang di hadapan Asel, Asel hanya menjawab pertanyaan gadis itu dengan cengiran. "Ayo, ikut gue." Irene menarik pergelangan tangan Asel, dan menggandengnya untuk lekuar dari ruangan Valerie.


"Kemanapun Neng Irene bawa Abang Asel, Abang Asel siap kok, Neng," ucap Asel, pemuda itu mengedipkan sebelah matanya.


"Elo mau gue ajak ke kali, terus gue ceburin," sahut Irene sekenanya, bukannya takut, Asel malah tambah menjadi.


"Cieee, Neng Irene udah gak sabar mau berenang bareng Abang Asel, ya?"


"Berisik lagi, gue potong mulut lo pakai pisau roti."


"Jangan, dong. Entar kalau bibir abang yang seksi ini eneng potong, gak bisa ngerayu eneng lagi."


Irene tidak menyahut lagi, gadis itu langsung menginjak kaki Asel sekuat tenanga. Membuat pemuda berwajah manis itu menjerit kesakitan.


"Jepit rambut elo bagus," ucap Cakrawala, jari pria itu menunjuk keong yang berada di rambut Valerie. Valerie langsung mengambil keongnya dan memasukkannya dalam rumah-rumahan kecil yang tadi dibawa oleh Asel. "Lho, kenapa dicopot? Bagus lho."


"Ck, lebih bagus lagi kalau gue pasang di leher lo. Di leher lo ada gambar daun kangkung kan tuh, jadi cocok sama keong," ucap Valerie.


Cakrawala terkekeh, ia menyentuh lehernya. Di lehernya memang ada tatto daun, tapi tentu saja bukan daun kangkung. Valerie saja yang mendeskripsikannya sebagai daun kangkung.


Gue maunya elo yang nemplok di leher gue. Elo kan secantik bunga, jadi cocok gabung sama daun," sahut Cakrawala, pria itu mengerlingkan sebelah matanya, membuat Valerie lagi-lagi berdecak.

__ADS_1


"Bunga apaan? bunga ******?"


"Elo sendiri lho yang bilang bunga ******."


"Gue bunga, elo bangkenya." Valerie menaik-turunkan alisnya.


"Teganya dirimu adinda," ucap Cakrawala mendramatisir. Pria itu memegang dadanya, seolah merasakan sakit di sana.


"Ck, lebay. Sore-sore begini, elo ke toko gue mau ngapain?"


"Tadinya gue mau ngajak elo makan. Eh, begitu sampai di sini malah elonya lagi joged erotis.


"Muke lo yang erotis," sahut Valerie, ia melempar buku tepat mengenai dahi Cakrawala. "Ayo, kita makan dulu, gue juga belum makan, cuma sarapan roti tadi pagi." Valerie mengambil jaket dan tas kecilnya.


"Gila, elo punya penyakit lambung tapi malah nyepelein makan. Udah jagoan lo, hm?"


"Dari mana elo tahu kalau gue punya sakit lambung?" Valerie mengetuk-ngetuk dagu dengan jarinya.


"Yang jadi masalah bukan dari mana gue tahu kalau elo punya sakit lambung, tapi elo yang gak jaga pola makan. Ayo, jangan ditunda lagi makannya." Cakrawala menarik pergelangan Valerie.


"Kan tadi gue juga mau makan, Cakra. Emang gue anak bocah, pakai digandeng-gandeng segala."


"Elo emang masih bocah, makan aja harus dipaksa, itu namanya apa kalau bukan anak bocah?" Cakrawala menghentikan langkahnya, ia menghadap pada Valerie.


"Gak usah melotot, entar ngegelinding tuh bola mata baru tahu rasa."


"Gak peduli," jawab Cakrawala cuek, pria itu kembali melangkahkan kaki dengan tangan yang masih menggandeng Valerie.


"Irene, Kak Eri mau pergi makan dulu ya," pamit Valerie pada Irene.


"Iya, Kak," jawab Irene sambil menganggukkan kepala.


"Iya, Kak. Ambil aja, gue masih punya banyak di rumah," sahut Asel sambil melambaikan tangannya.


"Elo ternak keong?" tanya Irene.


"Emang Bang Robert doang yang bisa ternak, gue juga mau ternak, dong," jawab Asel, ia menepuk dadanya bangga.


"Bang Robert ternaknya ayam, jelas bermanfaat. Ternak lo gak jelas, Sel. Keong buat apaan?"


"Buat pakan bebek, dimasak juga enak kok. Gue pernah dimasakin Kak Eri keong bukuah kelapa. Beuh, manatap sedap."


"Kalau Kak Eri mah masak apa aja jadinya mesti enak," sahut Irene.


"Ren, gue kok punya firasat buruk sama cowok yang pergi sama Kak Eri itu," ucap Asel, membuat dahi Irene berkerut bingung.


"Firasat buruk gimana?"


"Gue juga kurang paham," sahut Asel, pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Yang pasti, gue ngerasa ada yang gak beres sama cowok bernama Cakrawala itu.


"Gue juga ngerasain ada yang gak beres." Irene menganguk-angguk sambil memegang dagunya.


"Beneran?"


Irene menganggukkan kepalanya yakin.

__ADS_1


"Iya, gue ngerasa kalau otak elo itu bener-bener gak beres," ucap Irene, "udah ye, gue mau lanjut kerja. Mending elo pulang aja sono, di sini malah bikin sepet mata aja."


"Untung sayang," ucap Asel, ia mengusap dadanya. "kalau enggak, udah gue rendem di selokan."


"Asel, elo ngomong apaa" teriak Irene, ia sudah berada agak jauh dari Asel.


"Gak omong apa-apa sayang," jawab Asel juga sambil berteriak. Aman, untung Irene tidak mendengar ucapannya. Kalau denger bisa-bisa ia diputusin sebelum jadian, hehehehe.


***


"Gue mau ajak elo makan di restoran, tapi kenapa malah nangkring di warung pinggir jalan begini," protes Cakrawala.


Cakrawala dan Valerie berada di warung mie ayam pinggir jalan. Warung mie ayam yang sudah menjadi langganan Valerie dan sahabat-sahabatnya.


"Buat apa ke restotan kalau di warung pinggir jalan aja bisa ngerasain makan enak, bersih, dan yang paling penting bisa bikin kenyang. Lagian di pinggir jalan begini malah fresh udaranya. Udah buruan dimakan, jangan banyak ngoceh." Valerie memasukkan sesuap mie ayam ke mulutnya. Gadis itu menoleh ke sampingnya, ke arah pria yang masih asik memperhatikan mie ayam di hadapannya.


Tuh mie ayam lama-lama bisa jatuh cinta sama lo kalau lo pandangin terus," ucap Valerie, gadis itu mengambil mie dengan garpunya, kemudian ia menyodorkannya di hadapan mulut Cakrawala. "Aaa,buka mulut."


Cakrawala menurut, ia membuka mulut. Ia mengunyah perlahan mie ayam yang masuk ke mulutnya. Matanya membelalak, begitu menyadari rasa yang begitu enak di lidahnya.


"Enak, kan? tanya Valerie, "makanya jangan berpikiran buruk dulu sebelom elo nyobain, awas ketagihan."


"He'em, enak," sahut Cakrawala, ia mulai menyuapkan mie ke dalam mulutnya hingga tandas tak bersisa.


Begitu selesai makan, Cakrawala menghampiri ibu pemilik warung untuk membayar.


"Total semuanya berapa, Bu?"


"Mie ayam dua, es teh dua, kerupuknya dua. Total semuanya lima belas ribu, Nak," jawab sang ibu pemilik warung.


"Hah? Maaf, berapa Bu?" tanya Cakrawala lagi.


"Lima belas ribu, Nak," jawab ibu itu lagi.


Walau masih bingung, pria itu mengambil satu lembar uang lima puluh ribu, kemudian memberikannya pada sang pemilik warung.


"Kembaliannya ambil aja, Bu," ucap Cakrawala.


"Tapi, Nak ... ini terlalu banyak,"


"Gak apa-apa, Bu. Anggap aja sebagai rejeki yang dikirimkan Allah untuk ibu," sahut Cakrawala.


"Terimakasih, Nak."


"Kok harga mie ayamnya murah banget ya?" tanya Cakrawala, begitu ia kembali ke tempat duduknya.


"Bu, nih abang ganteng nanya kok harga mie ayamnya ibu murah banget?"


Cakrawala menyikut lengan Valerie, memberi kode agar gadis itu tutup mulut. Ibu pemilik warung itu tersenyum, kemudian.


"Selain untuk berdagang, warung ini juga saya jadikan sebagai lahan saya bersedekah, Nak," jawab sang pemilik warung. "Gak semua orang bisa membeli makanan jika harganya mahal. Makanya saya mematok harga yang murah, biar semua orang bisa menjangkaunya."


"Apa ibu tidak mengalami kerugian?" tanya Cakrawala lagi.


Ibu itu menggelengkan kepala. "Gak ada orang yang akan mengalami kerugian hanya untuk bersedekah. Bahkan, dengan kita bersedekah, hal itu akan membersihkan uang yang kita dapat hingga menjadi berkah."

__ADS_1


"Kelihatannya elo perlu banyak main sama gue, biar elo tahu lebih banyak hal yang selama ini gak pernah elo temui dan hadapi," ucap Valerie, "hidup itu akan mudah dan sederhana jika kita menjalaninya juga dengan cara yang sederhana. Gak usah menjadikan hidup ini sebagai beban, cukup jalani dan ingat jika kita tidak hidup sendiri, ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita."


Cakrawala tersenyum mendengar penuturan Valerie, gadis itu penuh dengan kejutan. Pemikirannya selalu jauh ke depan. Apakah ia tega menyakiti orang yang berhati mulia seperti Valerie? Hanya Cakrawala yang bisa menjawabnya.


__ADS_2