Arakata

Arakata
Ulang Tahun Ala Valerie


__ADS_3

Tidak masalah jika ingin memperingati hari lahir. Asal tidak dengan niat untuk merayakan, tapi dengan niat berbagi. Berbagi rejeki, berbagi makanan, dan berbagi kebahagiaan.


***


Seorang pria melangkahkan kaki memasuki sebuah panti asuhan. Ia tidak sendirian, ada sembilan anak yang mengikuti di belakangnya. Di pintu gerbang, mereka bertemu dengan seorang lelaki paruh baya, mungkin penjaga di sana. Pria paruh baya itu menyuruhnya untuk langsung masuk ke dalam.


Seperti apa yang diminta, ia dan anak-anak itu langsung melangkahkan kaki memasuki sebuah rumah besar yang terdapat plang bertuliskan Panti Asuhan Rajawali. Langkahnya langsung terhenti ketika netra tajamnya menangkap sesosok gadis cantik yang sedang bermain kejar-kejaran dengan puluhan anak-anak di sana.


Kedua mata gadis itu diikat dengan selembar kain, kedua tangannya menggapai-gapai beberapa anak yang ada di sekelilingnya. Namun, anak-anak itu berlarian kesana- kemari, hingga gadis itu belum bisa menangkap satu anak pun. Hal itu membuat anak-anak di sana bersorak dan memanggil nama gadis itu.


"Ayo, Kak Eri tangkap kami kalau bisa!" seru salah satu anak di sana.


"Awas ya kalau sampai ketangkep, Kak Eri cium satu-satu," sahut gadis itu, yang tidak lain adalah Valerie Livia Laksmono.


Sosok pria yang sedari tadi memandangnya, masih ada di sana dengan posisi yang sama. Pria itu tersenyum, ternyata di dunia ini masih ada orang yang peduli dengan sekitar. Dunia yang ia kenal selama ini adalah dunia yang keras, penuh dengan orang-orang licik. Tidak ada rasa peduli di antara mereka, yang ada hanya saling menjatuhkan untuk mendapat kuasa.


Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang kejam dan tidak kenal ampun. Namun sebenarnya ia adalah seorang pria yang mempunyai rasa empati yang begitu besar terhadap sesamanya. Di balik penampilannya yang garang, ia adalah sosok yang penyayang. Terlebih pada anak-anak yang sudah hidup sendirian tanpa keluarga. Hal itu mengingatkan pada masa kanak-kanaknya yang kelam, hingga ia bertekad untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anak yang ia asuh.


Valerie melangkahkan kaki ke arah yang salah, ia malah semakin mendekat pada pria yang sedari tadi memperhatikannya. Sampai ia benar-benar berada di hadapannya, kembali ia menggapai-gapai sekitanya dengan kedua tangan. Tangan Valerie memegang wajah pria itu, ia menepuk-nepuk pipinya.


"Lho, kok tinggi bener," ucap Valerie. Tangan gadis itu turun pada pundak sang pria, ia meraba-raba pundak lebar itu. "Perasaan anak di sini gak ada yang tinggi badannya segini."


Valerie membuka ikatan kain di matanya, matanya membulat seketika begitu ia melihat sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya itu.


"Cakra," sebut Valerie, ia masih dalam posisi yang begitu dekat dengan Cakrawala.


"Seperti janji gue, gue bawa pasukan," ucap Cakrawala, pria itu menunjuk anak-anak asuh yang ada di belakangnya.


"Kak Eri," panggil Teo dan yang lain bersamaan, mereka melambaikan tangan.


Valerie tersenyum melihat Teo dan teman-temannya benar-benar hadir di acara salah satu anak di pantinya.


"Hay, Sayang. Sini, Kak Eri kenalin sama teman-teman di sini." Valerie menggandeng tanga Teo dan mengajak mereka berkenalan dengan anak-anak di panti asuhannya. "Gue pinjem anak-anak asuh lo dulu, ya. Gak bakal gue nakalin."


"Coba aja nakalin mereka, langsung gue telen, Lo," sahut Cakrawala sambil terkekeh. Ucapan Cakrawala dijawab Valerie dengan juluran lidah, membuat Cakrawala kembali terkekeh. Entah mengapa, bersama Valerie, membuatnya sering tersenyum, bahkan tertawa.


Gadis itu selalu bisa mengembalikan mood-nya menjadi baik. Ia memang baru mengenal Valerie selama dua hari ini, tapi ia sudah merasa nyaman jika berada bersama gadis itu. Rasa nyaman yang belum pernah ia dapatkan selama bersama perempuan lain.


Ia merasa jika Valerie memiliki pemikiran yang hampir sama dengannya. Pemikiran tentang cara memandang dunia ini. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bersikap hangat juga dengan seorang perempuan. Dulu, hanya dia perempuan yang bisa dekat dengannya. Felicia, sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Namun, ia harus kehilangan perempaun itu untuk selama-lamanya setelah Felicia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

__ADS_1


Felicia patah hati oleh seorang pria yang dikenalnya saat duduk di bangku kuliah. Ia sangat mencintai pria itu, tapi ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Pria itu sudah memiliki gadis impiannya sendiri. Hal itu membuat Felicia frustasi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Setelah hari itu ia memutuskan untuk membalaskan dendam sahabatnya itu. Ia berniat melakukan hal yang sama kepada pria yang telah mematahkan hati Felicia. Ia akan membuat pria itu kehilangan wanita yang dicintainya itu untuk selama-lamanya.


Beberapa minggu yang lalu, ia bertemu kembali dengan pria itu. Niat jahatnya itu semakin menjadi. ketika ia tahu jika pria yang ia imcar sebentar lagi akan menikah. Ia tidak bisa membiarkan pria itu bahagia setelah membuat sahabatnya patah hati dan memutuskan bunuh diri.


Ia mengirimkan surat ancaman, ancaman untuk mencelakai gadis yang dicintai pria itu. Dan seperti yang sudah kalian duga, pria itu adalah Elang Rayan Garindra.


Setelah acara perkenalan yang berlangsung heboh, Valerie mengajak mereka ke taman belakang untuk memulai acara. Taman itu sudah di hiasi sedemikian rupa hingga menjadi cantik. Ada hiasan besar bertuliskan selamat mengenang hari jadimu Cecilia Anugerah.


Acara itu berlangsung meriah, meriah karena kehebohan mereka. Anak asuh Cakrawala dan anak asuh Valerie saling berbaur, tidak ada kecanggungan di antara mereka.


"Semoga mereka bisa menjadi saudara," ucap Valerie. Ia dan Cakrawala duduk di pinggir taman. Mereka duduk di rerumputan sambil menselonjorkan kaki. "Saudara yang dipertemukan bukan karena ikatan darah, melainkan karena ikatan takdir yang sama. Semoga mereka bisa saling menguatkan dan mengingatkan. Gue berharap, kelak mereka bisa hidup lebih baik dari kehidupan yang mereka jalani sekarang." Valerie mengusap tetes bening yang mengalir melewati pipinya.


"Elo sayang banget sama mereka?" tanya Cakrawala, sebenarnya tanpa ia bertanya pun, ia sudah tahu jawabannya. Karena hal itu terlihat dari binar mata gadis di sampingnya itu.


Valerie menganggukkan kepalanya. "Melebihi rasa sayang gue ke diri gue sendiri," jawab Valerie yakin. "Melihat mereka membuat gue bersyukur atas hidup yang telah dianugerahkan Tuhan sama gue. Walau gue kehilangan sosok ibu saat gue berusia empat tahun, paling tidak gue masih punya ayah dan abang-abang yang selalu ngelindungi gue. Sedangkan mereka? Mereka gak punya siapa-siapa, Kra. Mereka hanya punya diri mereka sendiri untuk bertahan hidup, mereka yang masih sekecil itu harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri. Dan gue ... gue mau mengambil sedikit beban mereka itu, biar langkah mereka terasa lebih ringan. Dan agar mereka tidak merasa sedang berjuang sendiri. Ish, cengeng banget sih gue." Valerie kembali mengusap air mata dengan punggung tangannya. Hal itu tidak luput dari pandangan Cakrawala.


Tidak sedikitpun pandangan Cakrawala teralihkan, ia terus menatap gadis di sampingnya itu. Ia menundukkan kepala, setelahnya ia tersenyum Sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun.


"Elo sering ngerayain ulang tahun anak-anak panti?"


Cakrawala menganggukkan kepala sambil tersenyum puas. Ia benar-benar menemukan sosok wanita yang sepemikiran dengannya.


"Kenapa panti asuhan lo ini namanya Rajawali?"


Valerie terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum.


"Ini bukan panti asuhan gue, ini milik Rajawali ... calon suami gue," sahut Valerie.


Cakrawala terdiam seketika, entah mengapa jawaban Valerie itu sedikit melukai hatinya.


"Elo udah punya calon suami?" tanya Cakrawala lagi.


"Raja meninggal dalam tugas tepat beberapa hari sebelum pernikahan kami," jawab Valerie, gadis itu tersenyum getir mengingat sosok pria yang sangat mencintainya itu.


"Maaf, gue udah buat elo sedih dengan pertanyaan gue," sesal Cakrawala.


"Gue gak sedih," sahut Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Gue hanya rindu, gue udah gak sedih lagi, karena gue yakin jika Raja sudah bahagia di sana. Dengan gue bersedih, hanya akan membuat jalannya menjadi sulit, dan gue gak mau itu terjadi. Dia memberikan gue tabungan, dan gue pergunain tabungannya itu untuk membangun panti asuhan ini. Semasa kecilnya, ia tinggal di panti asuhan. Jadi menurut gue, Raja gak akan keberatan jika tabunagnnya gue pergunain untuk membangun panti asuhan."

__ADS_1


"Elo cewek yang unik, entah itu karena elo baik atau karena elo bodoh," ucap Cakrawala sambil terkekeh. "Kalau cewek lain ditinggalin tabungan sebegitu banyaknya, udah pasti dibuat foya-foya. Tapi elo malah dibuat bangun panti asuhan. Pemikiran yang jarang dimiliki perempuan jaman sekarang."


"Foya-foya itu bukan gaya gue," jawab Valerie, "daripada buat foya-foya mending berbagi dengan sekitar. Lebih bermanfaat."


"Hahahahaha, nyerah deh gue." Cakrawala mengangkat kedua tangannya sambil terbahak.


"Ini gak sakit?" tanya Valerie, gadis itu menyentuh tatto yang ada di leher Cakrawala. Hal itu membuat Cakrawala terdiam seketika. Pria itu memejamkan kedua matanya, sentuhan Valerie dikulitnya membuat dadnya berdesir. Hal yang belum pernah ia rasakan dengan perempuan lain.


Selama ini banyak wanita yang sengaja menggoda dengan menyentuh tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak bereaksi. Namun, berebeda dengan sekarang ... ia tahu jika Valerie tidak bermaksut menggodanya, tapi reaksi tubuhnya berkata lain.


"Egh, Eri ... jangan sentuh gue sembarangan," erang Cakrawala, ia menggenggam tangan Valerie dan menjauhkan dari lehernya.


"Ah, maaf ... sakit ya," ucap Valerie panik, ia mengira jika sentuhannya menyakiti Cakrawala.


"Bukan sakit, Eri ... tapi nyeri. Ah elo gak bakal paham apa yang gue rasain sekarang, gue sendiri aja gak tahu kenapa dada gue berdesir waktu elo nyentuh gue," ucap Cakrawala dalam hati.


"Enggak sakit, cuma gue kaget," sahut Cakrawala, lain di mulut lain di hati, hahahaha.


"Maaf, heehehe," ucap Valerie sambil terkekeh. "Gue cuma penasaran, waktu ditatto itu sakit gak sih?"


"Enggak, gue udah kebiasa," sahut Cakrawala.


"Kenapa elo tatto'an? Manfaatnya apa?"


Cakrawala terkekeh mendengar pertanyaan Valerie.


"Gak semua hal yang kita lakuin itu harus ada manfaatnya, Eri," sahut Cakrawala.


"Kalau gak ada manfaatnya kenapa dilakuin?" tanya  Valerie lagi, udah kayak Dora nih si Valerie.


"Kalau gue bilang sih ini seni, kepuasan untuk diri gue sendiri.


"Gak masalah, sih. Selama gak ngerugiin orang lain," ucap Valerie sambil menganggukkan kepala. "Boleh pegang lagi, gak? Gue mau tahu itu gambar timbul gak sih?"


"Enggak boleh," sahut Cakrawala cepat, pria itu menggelengkan kepala dengan semangat empat lima.


"Kenapa gak boleh?"


"Gue bisa khilaf, Eri!" jerit Cakrawala dalam hati. Pria itu bangkit berdiri, ia melangkahkan kaki menghampiri Teo dan teman-temannya. Bisa bahaya jika dia terlalu lama berdua dengan Valerie, hahahaha.

__ADS_1


__ADS_2